Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 107



Sekarang giliran para pelayan yang meski menegup siliva menyaksikan kemesraan pasangan muda itu.


Begitu ditinggal pergi, oleh mami dan papi, Boy langsung menggendong istrinya menuju meja makan.


" Yang...kan udah sehat...malu sama pelayan..." Rengek Bella.


Boy hanya tersenyum saja menanggapi keluhan istrinya. Kali ini dengan gaya gendong yang berbeda, bak balita disengkang dipinggang ia membawa istrinya, disaksikan oleh para pelayan mension itu dengan senyum dikulum.


Bi Miftah yang melihat mereka tiba didekat meja makan besar itu, dengan segera mengatur kursi untuk tempat duduk tuan muda dan nona mudanya itu.


Sedang berbagai menu sudah tersaji dengan Flating indah dan menggugah selera.


" Suka semua menunya? tanya Boy ketika ia akan mengisi piring untuk Bella.


" Iya yang...aku suka semua...Syukurlah kehamilan ini tak merusak seleraku. Semua jenis makanan yang halal menggugah seleraku, bahkan aku selalu ingin nambah.


" Setiap kehamilan itu beda yang...Ada sebagian kehamilan yang bahkan membuat ibunya tak bisa makan apapun. Atau bahkan ada kehamilan yang malah dirasakan sang ayah siksaannya. Tapi kayaknya baby kita anak yang baik, ia mau kompromi sama ayah dan bundanya, tidak ingin membuat kita begitu sulit. Hanya satu yang luar biasa..." Kata Boy menggantung kalimat terakhirnya.


" Apa? " kejar Bella sebelum memulai suapannya.


" Bundanya makin Doyan makan, baik sama mulut atas atau bawah." Bisik Boy yang membuat Bella langsung terpekik sembari meninju lengan suami.


Pugh...satu hadiah yang lumayan keras mendarat dilengan kanan Boy.


" Yang Ah !... " pekik Bella yang membuat bi Mifta tercengang.


" Ada apa tuan muda dan nona muda? apa ada rambut? " tanya Bi Mifta.


" Ng...Ngak...Bi cuma kaki saya tak sengaja terinjak sama suami." kilah Bella sembari tersenyum malu.


" Hati- hati Bos ...Nanti kepala nona muda pusing lagi. " Canda Bang Mamat yang baru datang.


" Ngak sakit kali kok bang Mamat...Cuma terkejut aja. " ucap Bella.


" Karna om mamat sudah tiba, coba panggil semua koki dan pelayan, biar kita makan bersama. Mumpung ngak ada yang harus dilayani. Ngak apa kan sayang? " Tanya Boy sembari menatap Bella untuk meminta persetujuan.


" Makan bersama lebih bagus, mumpung ngak ada Tuan besar Bar- bar disini dengan segala macam protes dan cerca, mending kita makan besar, kayak hajatan


kawinan dikampung." Ujar Bella sembari tersenyum.


Mamat memanggil para pelayan para koki dan tukang kebun. Lalu setelah semua berkumpul, mereka makan bersama di meja makan besar itu.


Tak ada lagi suara yang terdengar, hanya senyuman yang menghias wajah mereka masing- masing. Juga tatkala tuan dan nona muda memperlihatkan adegan suap- suapan dan usap- usapan, mereka hanya nyengir sembari menikmati hidangan dipiring masing- masing.


Sehabis makan, Boy mengelap bibir Bella dengan tissu, sedang Bella mengusap perutnya.


" Yang... Besok pagi kita bantuin mas Jun dan Bang Alfin buatin kroketten ya buat dibawa kekantor buat ngemil, bahan- bahannya ada dikulkas kan bang Jun." tanya Bella, mengarahkan tatapannya kepada Juna, kepala koki dimension ya.


" Iya non...ada kok..kan baru belanja kemaren, ngak usah repot- repot non Bella sama tuan ngebantuin, tinggal perintah aja apa yang disuka, subuh- subuh kami buatkan. " Ucap Juna sembari memandang anggota tim dapurnya.


" Tapi sekalian Bella mau makan poulet basquise ( semur ayam ala Prancis ) dan maunya masak bareng suami dibantu sama tim bang Jun, besok pagi ya..." ucap Bella dengan tatapan memohon pada Boy kemudian dialihkan pada kepala kokinya.


" Beres non...pokoknya nona tenang saja, kebetulan bahan- bahannya ada kok, kalaupun tuan muda dan non Bella ngak terbangun, begitu mau sarapan pagi, semua makanan yang non reques akan segera tersedia. " Ucap Juna mantap.


Sedang Bi Miftah yang agak kurang faham jenis makanan yang diinginkan Bella, hanyalah cengar- cengir.


" Ini Bu mil baru makan udah mikirin makan lagi, biasanya orang hamil trisemester satu biasanya susah makan makanan yang berat kayak gitu, paling yang masuk cuma buah- buahan, ini kayaknya predator klas kakap yang bakalan bronjol." batin Bayan, anggota tim masak Juna sembari mencuri pandang pada Bella.


" Tenang saja.. aku pasti cepat bangun untuk membantu kalian menyediakan hidangan pesanan istriku, jadi jangan ada


yang mendongkol didalam hati. " Ujar Boy.


" Tidak Tuan muda! kami akan melakukannya dengan senang hati! " Seru Juna dan Alfin. Sedang Bayan tertunduk, karna merasa dikuliti oleh tuan muda Bhalendra itu.


Boy tersenyum sembari menatap Bayan yang berusaha menghindari tatap tajam mata biru kecoklatan milik Boy.


" Baiklah...kalau begitu kami pamit kembali keatas. Sampai jumpa menjelang subuh! " Ucap Boy sebelum menuntun istrinya meninggalkan meja makan.


Bella memang semangat dengan segala yang berhubungan dengan makanan. Begitu sampai didepan tangga, Boy kembali menggendong istrinya. " Nanti dikamar dibuatkan susu untuk sidedek. "


Ucap Boy sembari menanjak.


" Emang ada susu ibu hamil dikulkas kamar kita? " tanya Bella.


" Adalah...tadi sudah dibeli sama tuan suami. Tapi kita sama- sama minum susu ya? Soalnya, selain baby, Ayahnya juga butuh Empat sehat lima sempurna. " Bisik Boy dengan seringai licik begitu sudah sampai dilantai dua.


Bagi Boy, setiap janji akan disertai dengan bukti. Setelah membersihkan diri, mereka shalat Isya berjamaah.


Boy membuatkan susu SGM bunda rasa coklat untuk istrinya, usai minum susu, Boy benar- benar menagih SGM Ayah rasa Cinta. He...He...


Setelah meletakkan gelas dimeja nakas, Bibir Boy sudah menempel dibibir Bella yang masih tersisa bekas susu coklat itu.


Entah bagaimana hingga Bella selalu setuju dan menyambutnya bahkan lebih ganas dari suami. Bibir mereka saling melahap, lidah mereka saling membelit, mengabsen setiap inci didalam rongga mulut pasangannya sampai napas mereka tersegal- karna oksigen yang mulai menipis, barulah lepas pagutan itu.


Begitu suami sudah turun untuk meneguk


SGM Vanilanya. Bella yang sudah mulai gelisah menahan gelenyar yang mulai menjalar disekujur tubuhnya yang bermuara dipusat kota. Bella sedikit tersadar lalu berbisik. " Ntar ia yang mulai, kita juga yang dikatai doyan makan. " Ucapnya parau.


Boy tersenyum, sembari berusaha keras menghilangkan kesadaran istrinya dengan semakin gencar menggempur setiap sisi dan sudut sensitif ditubuh bidadari hatinya. Hingga penolakan tak ada lagi, yang ada adalah perlawanan dan perburuan, hingga lenguhan panjang mereka lolos bersamaan , tatkala kedua pemburu itu menembak tepat sasaran.


" Terima kasih untuk SGM bunda rasa coklatnya ayah gagah.... " bisik Bella.


" Makasih juga untuk SGM vanila rasa cintanya bunda sayang..." balas Boy sembari menghujani istrinya dengan kecupan.


***


Begitulah pasangan itu melewati setiap kebersamaan mereka dengan perdebatan- perdebatan kecil yang akhirnya diselesaikan dengan kebucinan.


Sejak hari itu, Boy tak membiarkan lagi istrinya sampai kelelahan, apalagi sampai pingsan, ia lebih telaten menjaga makanan, dan minuman demi cintanya dan calon buah cinta mereka.


Bella juga makin hari makin posesif. Ia takkan membiarkan suaminya jauh barang sekejabpun.


Syukurnya fisiknya kuat dan tidak mengalami morning siknes seperti wanita hamil pada umumnya. Hanya selera kulinernya yang makin besar, seiring dengan bertambah besarnya sang cabang bayi.


Hari ini mereka mendapatkan tamu seorang CEO cantik dari SJ Group Tokyo. Begitu melihat Wanita berpenampilan seksi itu memasuki ruangan Bhalendra, untuk meneruskan pembicaraan mereka mengenai peluncuran produk komuikasi tercanggih lagi.Hati Bella mulai dirasuki cemburu.


Ia mulai memeriksa penampilannya dengan menambahi riasannya, seakan tak mau kalah dengan tamu cantik suami.


Bella kemudian berjalan menuju pintu. Ketika sampai didepan pintu, ia membuka cadarnya, sebelum mendorong pintu.


" Aku datang untuk bertanya, mau minum apa nona cantik? " tanya Bella berusaha semanis mungkin.


" Hhem...Gadis itu mendehem, sembari menatap perut Bella yang mulai menonjol.


"Misu Yama... Kono josei o shokai suru watashi no tsuma Bella Maharani putri William Anjani (Nona Y.. Kenalkan Ini istri saya). " Ucap Boy sembari menarik lembut Bella kesisinya.


Bella tentu tak menyiakan kesempatan itu. Ia melingkarkan tangan kirinya dengan posesif kepinggang suami. Boy kemudian merangkul pundak Bella.


Lalu Bella mengulurkan tangannya.


Sempat terdiam Nona Sonia Yama, dengan senyum kecut ia menjabat tangan Bella.


Lalu dengan suara agak serak nona Sonia Y berkata." Waka Madura Bhalendra Chen...Anatano tsuma wato temu utsuku sidesu. ( Tuan muda Bhalendra Chen...Istri anda sungguh cantik ). " Ucapnya kemudian.


" Mochiron! Kono wa watashi no me to ko ko ro no nakode mottomu utsukashi joseidesu. ( Tentu! ia adalah perempuan tercantik dimata dan hatiku ) " Ujar Boy mantap, membuat Nona Sonia Y. manggut- manggut.


Bella tersenyum sembari menatap lekat pada gadis yang masih belum melepas tangannya. Merasa senang karena suaminya membanggakannya, Bella bermaksud berlalu untuk membuatkan minuman, begitu tangannya dilepas.


Boy yang mengerti ada sirat keraguan Dimata istrinya, ia segera memperkuat pegangan tangannya. Menuntun istrinya menuju sofa, lalu mempersilahkan nona c


Y pindah duduk disofa disamping istrinya. Kemudian ia kembali kemeja kerjanya dan membuat panggilan untuk Hafis, asisten pribadinya.


" Minta pegawai dapur mengantar Milk tea Empat gelas untuk kita. Kau sekarang bawa berkas File perjanjian dengan Nona Sonia Y. " Ujar Boy Di Earphone.


" Oke Bos! pesan dicopy. Ucap Hafis dari telfon.


" Hhum...Segeralah..." kata Boy sebelum memutus sambungan.


Kemudian Boy bergabung disofa, duduk disisi perempuan yang sedang asyik berbincang melanjutkan perkenalannya dengan tamu dari Jepang itu.


" Nampaknya suasana hatinya sudah membaik. " batin Boy sembari meremas jemari Bella.


Kalau suami menjaga sikap, tentu istri akan baik- baik saja. " Ucap Bella dalam hatinya.


Nona Yama mulai menyukai pasangan itu. Mereka terus berbincang dengan gembira sampai ketukan terdengar dipintu.


Tok...tok...tok...