
Jet pribadi Rendra kembali lepas landas, Ia akan membawa keluarga besar dan para pelayan
terbang menuju tanah asal sang nyonya rumah. Hati Citra berbunga- bunga. Dengan bismillah, ia memulai perjalanan Udara itu.
Ini adalah kali ketempatnya Citra menaiki si Amoy. Usai pesta Adelia sahabatnya, inilah pula baru ia terbang lagi.
Jet jenis Emraer liniarge 1000E milik Pengusaha muda ini memang sering mengudara, hanya untuk membawa Perjalanan bisnis sang big Bos kadang sering juga, sengaja disewa Rekan bisnisnya.
" Syukurlah...Perjalanan kita aman- aman saja. " kata Rendra saat mereka sudah mendarat di Bandara Tabing. Rendra melihat jam tangannya menunjukkan pukul 10: 10 WIB.
" Gimana kek? Ngak kenapa- kenapa kan? " tanya Citra pada Mr Kims yang baru terbangun ditempat tidur. Maklum tubuhnya memaksa sang kakek istirahat selama dalam perjalanan.
" Aman cantik! " jawabnya, anak- anak juga tak ada yang mabuk bukan? " tanya kakek itu.
" Ngak Uo, Abang dan adik sehat walafiat, aman dan nyaman." Jawab Boy senang. Ia tak pernah ngantuk sedikitpun selama 1.5 jam lebih perjalanan. Ia Sibuk dengan Camdig nya selama penerbangan. Inipun ia sudah mulai mengambil gambar lagi.
" Lihat uo...Abang akan abadikan setiap momen yang kita alami selama pulang pergi dan bertamasya dikampung Momy. Boy sengaja minta ini pada Dady, karna dipesawat tak boleh mengaktifkan HP.
" Baiklah anak pintar uo, Selamat berkarya! " kata tuan Kims.
" Thank you uo..." Kata Boy senang.
Cek Lek...Cek Lek...ia mulai ambil gambar lagi.
" Kalau begitu Alhamdulillah, mudah- mudahan semua aman..." kata Citra kemudian.
" Oh ya, Ayah aman juga kan? " tanyanya teringat sang Ayah.
" Kalau ayah masih Fit, kayak motor Supra fit. " katanya senang, putrinya sekarang makin perhatian pada Rinto. Apalagi sejak istrinya meninggal Dua tahun yang lalu. Rinto lebih banyak menghabiskan harinya dengan anak dan cucunya.
Tak ada lagi keinginan yang lebih dari pada itu melihat anak cucu bahagia. Kalaupun naik haji, nampaknya saat ini keberangkatan masih ditunda.
Rendra sudah memberikan paket haji dan umroh pada sesuai janjinya pada mantan dokter pribadinya, yang sekarang jadi bapak mertua itu.
Hanya keberangkatan sudah dua tahun ini tertunda
lagi.
Hari pertama Sampai diKota tercinta, Rumah keluarga Citra dipadati oleh tetangga dijalan melati.
Setiap tetangga yang tahu Citra pulang, pesan dari mulut kemulut terus sambung menyambung. Hingga seharian dihabiskan hanya untuk bertamu.
Orang- orang seakan tak peduli dengan larangan berkerumun. Mendengar Citra pulang dengan penampilan dan Status yang berbeda, orang kian penasaran.
Senyum Citra tak ada habisnya menyambut tamu, rasa rindu pada tanah tumpah darahnya terbayar sudah dengan kedatangan para tetangga dan sahabat lama. Bu Rahma tentunya orang no satu menyambut Citra, karna sebelum berangkat
Citra sudah Caling Bu Rahma. Lagi pula ibu inilah yang menyimpan kunci Rumah Citra.
" Sayang...benarkah ini Citra kami? " tanya Bu Citra hampir tak percaya. Ditatapnya Momy muda dua anak itu dari atas sampai bawah berkali- kali. Cantik! anggun! pokoknya Citra yang dulu tak nampak lagi, Citra sekarang seperti yang kami harapkan jadi kenyataan.
" Aduh ..Anakmu...satu tampan dan satu Cantik dan imut.
Ya Alah...Mak Jang...Udo Haji...Alhamdulillah...Citra kita sudah kembali...Ia kembali membawa semua impian mu jadi kenyataan.
Selamat berbahagia dialam sana Udo...
Cucumu sudah Taubat, dan taubatnya membawa berkat. Sekarang Udo sudah punya cicit yang gagah Jo rancak. " kata Bu Rahma.
Citra tersenyum sembari menyalami orang tua itu dan mengecup punggung tangannya.
Anak- anak dan Ayahnya mengikuti apa yang
dilakukan sang Momy. Apalagi Boy, Boy kan sangat suka berteman dengan orang dewasa. Mendengar tutur Bu Rahma yang berbeda saja, makin membuat Boy penasaran pada wanita yang kata Momynya dipanggil nenek itu.
Sampai hampir jam sebelas malam masih ada tamu. Citra tak membiarkan satu tamupun pulang dengan tangan kosong. Para pelayan yang sengaja ikutlah yang membagikan Amplop yang sudah disediakan untuk tamu Citra.
Selain dapat Amplop, tamu juga dijamu makan, khusus untuk hari itu Citra pesan Dari AA Catering, melalui Bu Rahma seminggu sebelum hari ini.
Setelah tamunya sepi, Citra mulai mengeluarkan bantal untuk tidur satu hamparan diruang keluarga. Sedang khusus untuk kakek Kims dan Joko dikamar kakeknya.
" Walau hanya duduk, bercanda dan menyalami tamu, cukup melelahkan juga ternyata. " kata Citra
seraya meluruskan pinggang.
" Capek lah mom...tuh adik aja sampai mendengkur karna kecapean. " kata Boy seraya menyelimuti Chalista.
" Iya sayang...Boy juga pake kaus kaki tidur ya, ntar menjelang Subuh, angin laut Akan sangat kencang berhembus, dinginnya akan menusuk tulang, Boy kan suka tanggal selimutnya, kalau pakai kaus kaki, tak pala masuk angin " kata Citra mengingatkan putranya.
" Oke mom, tenang saja, Boy sudah siap sedia kok." katanya membuka Ranselnya. Ia mulai memakai kaos kaki sesuai perintah momnya.
Citra mengecup kening kedua buah hatinya.
" Have a nice Sleep sayang...Besok Insya Allah, kita akan menjelajahi setiap sudut kota ini. Lusanya ketempat lain yang lebih seru, jadi mom harap Boy usahakan tidur yang nyenyak malam ini." kata Citra.
Ia tahu putranya jarang tidur, kalau di Ibukota, ada saja yang ia kerjakan malam hari.
Boy menjawabnya dengan senyum termanisnya. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya.
Walau sulit terpejam, ia berusaha melupakan
keinginan untuk buka leptop, demi hari esok dan menuruti pesan Momy. Mau membangkang juga tak bisa, soalnya Momy tergelung dekatnya dan sang Adik.
Menjelang tengah malam, usai bercerita diruang tamu, dengan anak lelaki Bu Rahma, Rendra masuk kamar seraya menyusup ditempat tidur.
Dinginnya malam membuatnya taktahan untuk tidak memeluk tubuh indah istrinya.
" Khusus malam ini tidur diluar sama yang lain! Sesekali bos tidur sehamparan dengan pelayan apa salahnya? Besok baru kita Happy- happy tidur di hotel.Sekarang Sana! Usir Sang istri seraya menyodorkan selimut dan bantal pada Rendra.
Dengan senyum Kecut, terpaksa Rendra bangkit dan kembali keruang keluarga.
" Ternyata Momy cuma pura- pura tidur. Untung Boy tak buka leptop, kalau sampe ketahuan, bisa disemprot juga kayak Dady." kata Batin Boy.
Pagi yang cukup indah..Mereka mulai Rekreasi. Sebelum mengunjungi tempat- tempat indah dikota kelahirannya. Citra terlebih dahulu memperkenalkan keluarga barunya terhadap Ibu nenek dan kakeknya ,Haji Roeslan Di TPU Tunggul itam.
" Inilah Citramu ibu...kakek..nenek Sekarang Citra kalian sudah berubah sesuai keinginan kakek. Hampir semua Cita- citamu tentang cucumu ini sudah tercapai.
Aku datang mengaku kalah kek..
Ini Kakek Kims dan Cucunya sudah membuat Citra kalah dalam pertaruhan kita.
Sekarang Citramu sudah jadi perempuan sesungguhnya. Ini Anak bujang dan anak gadisku sudah membuktikan kekalahan ku.Yang bujang
Bhalendra dan yang gadis Chalista.
" Selamat kakekku sayang...Tuhan mendengarkan Doamu. Semoga Ibu dan dirimu tenang dialam Barzah. " kata Citra layaknya orang berpidato.
Ia menangis, kemudian tersenyum juga. Rendra memeluk sang istri untuk menguatkannya.
" Restuilah hubungan kami bunda dan kakek, walau
kami terlambat memintanya. " kata Rendra mewakili sang Istri. Karna pidato sang istri kehabisan bahan, habis ditelan Isak tangisnya.
Kemudian mereka menabur bunga, lalu berdoa.
" Ayo kita lanjutkan perjalanan Ayah..." ajak Citra saat sang Ayah masih tertunduk dimakan istrinya.
Mata sang Ayah sudah sembab, karna terlalu banyak menangis.
" Sudahlah yah...Semua sudah berlalu, semoga Arwah bunda tenang dialam sana. " katanya seraya menggamit tangan dokter Rinto.
Perjalanan selanjutnya kepantai ! Ayo kita ke Taman, ntar sore ke pantai Carolin. " kata sang tour Guide.
" Okey mom!..." kata boy riang, seraya
mengeluarkan Camera digitalnya.