
Didepan ruang operasi, semua gelisah. Air mata Ayah tiga anak itu tak henti- hentinya bercucuran. Ia tak peduli kalau ada yang menilainya banci.
Rendra tak sanggup menahan kepedihan dan ketakutan yang ia rasakan saat ini. " Tolong selamatkan Istriku Tuhan...aku takkan sanggup bila harus kehilangannya secepat ini. " batinnya menjerit mengadu pada penguasa jagat raya.
" Tolong selamatkan Momy Ya Allah...Boy takkan bisa memaafkan diri Boy kalau sampai terjadi sesuatu dengan Momy." kata Boy menghentakkan keningnya Kedinding. Joko menarik Boy kepelukannya. " Jangan melakukan itu tuan muda..Jangan menyakiti diri sendiri, Tenangkan diri dan berdoalah, lihatlah kedua adik perempuanmu, jangan buat mereka makin khawatir. " kata Joko kepala pelayan.
" Apa yang kan kukatakan pada kakek yang sedang sakit Pak, kalau terjadi sesuatu dengan Momyku. Tadi pagi saja, berkali- kali ia memintaku menjaga momy.
" Tenanglah...Semoga dokter berhasil mengeluarkan pelurunya tepat waktu, dan nona Citra selamat. " kata Joko menenangkan Boy.
" Bagaimana Boy bisa tenang Pak, sedangkan Momy sedang bertarung didalam sana. " Entah bagaimana keadaannya. " kata Boy berurai air mata. Joko menepuk- nepuk lembut pundak
majikan mudanya itu.
Sementara Calista dan Calina terduduk dilantai, seraya menangis sedih. " Raisa takut kak... Raisa tak siap kehilangan Momy...Rengeknya. Calista tak menjawab, hanya airmata a yang bercucuran. Calista menempelkan pelipisnya dikening adiknya. Momy pasti baik- baik saja Rai..Ia sudah janji mau
menjaga kita anak gadisnya, sampai kita besar dan punya anak. " kata Calista menenangkan adik sekaligus dirinya sendiri.
Tiga jam kemudian...
Pintu ruang operasi terbuka. Semua menghambur mengejar kepintu.
" Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya. Untung tidak mengenai jantung Nona. Pertolongan pertama berhasil menghentikan laju darah keluar, hingga nona tak sempat kehilangan banyak darah. Operasinya alhamdulillah sukses. Tapi pemulihannya membutuhkan waktu. Teruslah berdoa, semoga nona secepatnya sadar. " kata Dokter begitu sampai dipintu ruang operasi.
Semua keluarga tak sabar ingin segera melihat kondisi sang Momy. " Mohon tenang, jangan ada yang menyentuh bekas lukanya. " kata Dokter mengingatkan, sebelum pergi.
" Baiklah dokter...Terima kasih..." kata Rendra segera menuju istrinya, diikuti yang lain.
Sesampai disisi pembaringan Citra, Renda menggenggam tangan Citra lembut, lalu mengecupnya. " Siapa yang sudah berani mempermainkan nyawamu dengan sengaja sayang...Siapapun orangnya, aku pasti akan memberikan hukuman yang berat. Bagaimana bisa ia berani ingin memisahkanmu dariku dan anak- anak kita? " Tanya Rendra. " Giginya gemerutuk menahan kemarahan.
" Aku pasti menemukan pelakunya Dady. Siapapun ia, pasti aku akan membawanya kehadapan Dady." kata Boy menatap sendu Momynya yang terbaring belum sadarkan diri.
" Kapan Momy bisa bicara dengan kita Dady? " Tanya Raisa masih dalam ketakutannya.
" Sebentar lagi sayang...Ayo berdoa untuk kesembuhan Momy kalian.
Sementara diluar rumah sakit, ribuan masa dan wartawan, sedang menunggu kabar kondisi Nona Bos yang baru Go publik itu. Selama ini Rendra tak
pernah publikasikan keluarganya. Baru saja muncul, langsung mengundang tragedi.
Ketika Boy keluar untuk menyelidiki penembakan Momynya, ia diuru oleh massa dan wartawan .
" Bagaimana operasinya tuan muda, apa ibumu berhasil diselamatkan? " tanya mereka beruntun.
" Alhamdulillah...Momy baik- baik saja, mohon kasih jalan, aku ada urusan! ," kata Boy, tentu saja tak menghentikan mereka. Baru setelah seseorang menarik tangan Boy dan melarikannya kemobilnya.
" Takkan aman lama- lama berada diantara massa sebanyak itu. " kata seorang lelaki sebaya Rendra saat Boy sudah berada di mobilnya. Detik berikutnya pria itu sudah melajukan mobilnya
membawa Boy menjauh dari wartawan dan masa yang masih mengejar mereka setelah dalam mobil.
Boy menatap pria yang memegang kemudi, saat mereka mulai menjauh.
" Om Alden? Apakah tadi om yang kupaksa mengantar Momy kerumah sakit? tanyanya hampir tak percaya.
" Iya sayang...sebenarnya om juga ingin ikut kedalam, tapi melihat Dadymu datang, Om memutuskan menunggu diluar, sambil berdoa.
Boy kan tahu, Dady tak suka melihat Om. " kata Alden.
Terima kasih... karna sengaja atau bukan, dari dulu om selalu menjadi dewa penolongnya Momy. " kata
Boy menatap Alden.
" Takdir om hanya sebatas dewa penolong untuk
Citra Boy. Tapi bagi Om, bisa menyelamatkan momymu adalah anugrah terindah. Om tak menyalahkan Dadymu yang mencemburui om, karna sampai hari ini, hanya momymu perempuan yang paling om sayang setelah almarhum momy. " kata Alden jujur.
Boy tahu itu om, tandanya om selalu ada disetiap acara Momy. " Ucap Boy kemudian.
" Om heran, siapa musuh momymu ya? selama ini Momymu tak pernah cari masalah. " kata Alden bingung.
" Itulah yang akan kucari om, Aku ingin memeriksa CCTV di TKP. " kata Boy.
" Baiklah...Om akan menjadi asisten sekaligus sopir
pribadi Sitampan untuk hari ini. " kata Alden mencairkan suasana. Mereka lalu tersenyum tipis.
" Aku berani keluar, setelah dokter menyatakan operasinya sukses. Kalau tidak aku tak kuat berdiri om. " Curhat Bhalendra.
" Tentulah begitu sayang...Om saja orang jauh, begitu takut kehilangan momymu. Apalagi Boy, kesayangannya. " Kata Alden, seraya mengusap puncak kepala Boy saat mobil mereka sudah sampai didepan kantor Rendra.
Citra mengerjapkan matanya beberapa kali, saat ia tersadar diruangan yang terlihat serba putih itu.
Dipandanginya satu demi satu anggota keluarganya. " Mana Boy? " tanyanya lemah pada suaminya ketika ia tak melihat putranya diruangan itu.
" Tenanglah sayang...putra kita baik- baik saja, ia sedang memeriksa kasus ini. Ia yang sudah melakukan pertolongan pertama dengan sigap,
putramu mengerti bagaimana mengatasi luka tembak. Ia juga yang melarikanmu kerumah sakit secepatnya, sedang suamimu ini begitu panik, kalau bukan karna putra kita, tidak akan secepat itu kau terselamatkan. " kata Rendra mengakui kekalahannya dari sang putra.
" Nona tenang saja, Tuan muda tak pergi sendiri, ada den Alden yang menemaninya. " kata Joko yang tadi sempat melihat kepergian Boy dibantu Alden.
" Mobilnya lah yang membawaku kerumah sakit ini sayang..." kata Citra mengingat kalau ia sempat melihat Al, waktu dimobil sebelum ia tak sadarkan diri karna mabuk darah.
Rendra mengerutkan dahinya.
" Sudahlah Dady, bersyukurlah pada Allah...dan berterima kasihlah nanti pada om Al. Karna secara tidak langsung om Al ikut menyelamatkan Momy. " kata Calista.
" Mengapa selalu saja dia ya? " tanya Rendra masih
merasakan sakit, setiap istrinya selalu dikaitkan dengan Alden. Tapi ia tak dapat memungkiri, memang selalu Alden dewa penolong Citranya.
" Takdir momymu selalu terikat dengan pria itu. Walau Dady yang jadi jodohnya.
" Tenanglah Bos...takdirku hanyalah sebagai dewa penolong. Tak lebih dari itu. Tapi bagiku, asal orang
yang kusayang selamat dan bahagia, itu lebih dari cukup. " kata Alden yang baru datang dengan Boy.
" Aku menemukannya Dady. Ini fotonya. Ia ternyata bukan penembak profesional." kata Boy menyerahkan beberapa lembar Foto perempuan yang sedangenarik pelatuk.
" Wanita ini? Diakan..." Rendra sengaja menggantung katanya, ia takut menyinggung perasaan putranya.
Bersambung...