
Malam itu, sehabis magrib, Chalista turun
dan berjalan menuju dapur. Ia bermaksud
memeriksa apa ada yang sudah berkumpul dimeja makan.
" Belum ada yang ngumpul untuk makan malam ternyata. Apa semua masih pada ngaji Ya? " Tanya batin chalista.
" Malam non Chalista. " Sapa para pelayan yang lagi sibuk menyiapkan makan malam. Begitu melihat Chalis datang, mereka menghentikan sejenak kegiatannya, untuk menyapa dan memberi hormat pada nona muda mereka.
" Apa mommy masih mengurung diri dikamar Bi? " Tanya Chalis pada bi Ipah.
" Nampaknya masih non...Paling yang turun makan Pak dokter, Tuan muda sama nyonya muda. Tuan Rendra paling jemput makanan buat nyonya Citra, trus mereka makan dikamar. " Jelas Sen kepala koki.
Chalis teringat kembali apa yang dikatakan Bella sore tadi. Memang Chalista tidak tahu betul keadaan meja makan tiga hari ini, karna ia selalu keluar rumah dan makan diluar.
Mommy begitu tersiksa sejak aku cuekin, ini tak benar. Aku harus segera menemui mommy. " Batin Chalis.
" Bisa antar mempan kekamar mommy sebentar lagi bi Ipah?...Malam ini biar Ita yang akan menggantikan Daddy buat makan dikamar bareng mommy. Mudah- mudahan setelah ini Momy udah mau makan bersama lagi. " Ucap Chalista.
" Beres non...Makanan akan segera menyusul dalam sepuluh menit. " Jawab Asisten rumah tangga itu girang.
" Kayaknya non Chalis sudah menyadari kesalahannya, senang deh...kalau Non Citra ngak dibuat baper lagi. " batin Ipah Cemumut.
" Jangan menghayal bi...Setelah aku nyampe dikamar Momy, hendaknya makanan menyusul. " Ujar Chalista sembari menghentikan langkahnya.
" Tenang aja non...Temui saja dulu nyonya besar. " selebihnya biar bibi siapin menu spesialnya, telat dikit ngak apa ya? yang penting perfeks kan? " usul Sang Bibi sedikit centil.
" Terserah deh... Aku permisi dulu. " ucap Chalis.
" Waduh...kayaknya non baru dapat hidayah tuh, pake pamit segala pada bibi!" Batin Ipah berseru senang.
Chalista berjalan santai menuju kamar pertama dan yang paling utama lantai dasar diIstana itu. Apalagi kalau bukan
kamar orang tuanya.
Dulu Almarhum Kims sengaja meletakkan cucu menantunya ini dilantai dasar dan kamar pertama, karna mengingat Citra yang datang sudah dalam keadaan perut buncit. Ditambah kepercayaannya, kalau pernikahan pertama disebuah rumah pengantinnya sebaiknya diletakkan dikamar pertama.
Ia sengaja pindah kamar hanya untuk menyambut Citranya. Ia sudah merancang pernikahan mereka dan meniatkan kamar itu untuk tempat cucunya memadu kasih dengan istrinya sepanjang hidup. Apa yang diniatkan ternyata terjadi dan berjalan seiring dengan kehendak takdir.
Citra dan Rendra tak pernah tahan lama meninggalkan kamar ini. Pergi kemanapun Rendra melakukan perjalanan bisnis, seakan kamar ini memanggilnya untuk cepat kembali, walau itu pergi dengan Hans atau bareng dengan istrinya. Kamar itu menjadi tempat paling terfavorit bagi pasangan yang sudah tak bisa dikatakan muda lagi itu. Bahkan sicicit yang enam bulan lagi akan hadir kedunia ini, kalau sehat dan selamat, juga diproses dikamar penuh cinta ini.
Setelah mengetuk pintu dan dapat jawaban, barulah Chalista mendorong pintu agar terbuka.
Rendra menyambut putrinya kedepan pintu. Melihat raut wajah sang putri tak lagi berkabut, hati Rendra jadi tenang. Ia tak segan- segan lagi memamerkan senyumannya dihadapan sitengah yang terkenal paling judes diantara kedua putrinya. Mungkin Chalis mewarisi sifat keras sang ibu sebelum benar- benar jatuh cinta pada Rendra, Citranyakan tak kalah pedas kalau bicara.
Tapi ternyata setiap wanita punya sisi terlembutnya, walau ia mengingkari keberadaan dirinya sebagai perempuan biasa, tetap saja seorang lelaki yang pandai bisa menemukan sisi terlembut dari wanitanya.
Sekeras apapun seorang perempuan , mereka tetaplah mahluk yang rapuh dan butuh kasih sayang. Karna perempuan diciptakan dari tulang rusuk, Mereka bukan untuk diInjak karna bukan dari tulang telapak kaki kaum bapak, bukan pula untuk dipertuan, karna mereka bukan dari tulang tengkorak. Yang namanya wanita, tetaplah letakkan sesuai asal kejadiannya. Letakkan mereka dalam hatimu, dekap mereka didadamu. Luruskan mereka dengan kasih sayang karna mereka tercipta dari tulang yang bengkok. Jangan paksa mereka, karna yang bengkok akan patah, jika yang punya memaksakan untuk meluruskannya.
Perempuan tak perlu dipaksa, karna mereka akan mengikut dengan sendirinya jika hati mereka telah kalian bawa. Sesuatu yang berasal dari dirimu, bagaimana bisa kau menyakitinya? Bagaimana tidak bisa kau menjaganya?
Rendra telah berhasil membawa hati Citra padanya.
" Lalu siapa yang bisa membawa hati putriku?" tanya hati Rendra.
Rendra masih berfikir siapa yang telah mengembalikan senyum putrinya , ketika sang putri memeriksa wajahnya dengan lipatan kening dibawah jilbab yang sudah berganda. Gemas melihat sang Daddy yang terpaku didepannya dengan senyum yang Chalis tak faham maknanya. Chalis segera menarik tangan sang Daddy dan mengecupnya.
" Sudah memelototiku Daddy... kayak ngak pernah lihat aja, Apa wajahku kayak hantu, atau bedakku ada yang menumpuk? " tanya Chalis sembari berlari menuju cermin rias mommynya, karna merasa tidak percaya diri, bahkan sudah dikecup tangannya sang Daddy masih terdiam.
" He...He..Hantu paling cantik kali ya! " ujar Rendra sebelum Chalis sampai didepan cermin.
Chalista berbalik tak jadi menatap cermin.
" Daddy nyebelin...Bikin Chalis Salting aja dengan Ekspresinya. " Protes sang putri kemudian.
" Setelah Daddy pasti sudah ada yang lebih bisa buat Chalista Salting bukan? " tanya Rendra tanpa sengaja lolos dari bibirnya.
Membuat pipi sang putri jadi memerah.
" Astaga...Berarti mommy dan abangku belum cerita soal bang Amer. Ternyata mereka tidak seember diriku. Aman...Biar Tuan Takur ini tahu nanti setelah kami siap untuk membuat pengakuan, dan setelah Gelar sarjanaku ada ditangan. " Batin Chalista terlonjak riang.
Ketukan dipintu menyelamatkan Chalis dari pertanyaan sang Daddy yang masih bermakna rancu itu.
Bi Ipah masuk membawa mempan dengan senyum mengembang. Setelah meletakkan dinakas, iapun menunduk dan segera meninggalkan ruangan itu.
" Jadi rencananya mau makan bareng mommy dikamar kami? " tanya Rendra bernada protes.
" Iya...Daddy sana makan didapur bareng kakek, kasihan kakek makan sendiri hanya ditemani para pelayan. " Ujar Chalista berlagak Bos.
" Emang Abang sama kakakmu ngak makan dimeja makan? " tanya Rendra lagi, mencoba memancing emosi putri tengahnya, sengaja menahan langkahnya
dari kamar itu.
" Namanya juga pengantin baru, paling mereka juga makan dikamar berduaan. Daddykan udah beberapa hari ini makan berduaan sama mommy kayak pengantin
baru. Sekarang temani tuh ayah mertua makan, jangan cuma nyayangin putrinya saja. Malam ini giliranku makan berduaan bareng Mommyku." Cerocos Chalista sembari berjalan menuju peraduan mommy.
" Baiklah...Daddy akan menemani kakekmu makan, sekalian tidur juga. Chalis boleh nginap dikamar ini khusus malam ini. " ucap Rendra lirih, seperti seorang yang sedang teraniaya.
" Idih...segitunya Daddy takut jauh dari mommy, kayak tubuh kehilangan jiwa. He...He..." kekeh Chalista sembari menatap sang ayah yang berjalan menuju pintu dengan langkah sengaja dilemah- lemahkan.
Detik berikutnya ia berbalik. Menatap Chalista, lalu mangedipkan matanya pada Citra.
" Tidak lama lagi kau pun akan merasakan betapa beratnya dijauhkan dengan orang yang dihati putri cantikku..." Ujar Rendra yang membuat Chalis tersentak. Dadanya mulai berdegup tak karuan, ditatapnya mommy sebagai penguat hatinya.
Setelah Rendra benar- benar berlalu dari ruangan itu. Chalis menarik nafas beratnya.
" Mom...apa Daddy sudah diberi tahu tentang hubunganku dengan Bang Amer? " tanyanya dengan wajah cemas.
" Ngak...Mommy , abangmu dan Ontymu sengaja menyembunyikan ini dahulu dari para ayah, biar kalau waktunya tiba Amer sendiri yang akan datang melamarmu pada Daddy." Jelas Citra.
Sejenak hening. Chalis memainkan Bros
jilbabnya.
" Apa Ita inginnya Daddy tahu sejak sekarang? tanya Citra memecah keheningan dikamar itu.
" Ngak mi...biarkan kuselesaikan kuliahku
dulu sesuai tantangan mommy. Tak ingin masalah ini merusak semangatku, apalagi mengganggu konsentrasiku.
Kalau sudah selesai urusan study, baru urusan hati kuperjuangkan. " Ucap Chalista mantap.
" Baguslah sayang...mommy senang gadis mommy punya prinsip yang kuat. Pertahankan komitmen batinmu! " Citra.
" Iya mom...Chalis janji takkan ngeyel lagi sejak sekarang." Ucapnya sembari menyentuh tangan Citra, menariknya lembut menuju hidung bugirnya.
" Maafkan anakmu yang kurang pandai menyikapi permasalahan belakangan ini ya mom..." Ucapnya lirih.
" Sudahlah...lupakan saja yang kemarin, jangan sendu- sendu, mommy ngak mau lihat orang nangis! " Ujar Citra melihat mata putrinya berkaca- kaca.
" Mommy juga salah sayang...Mommy terlalu mengabaikan diri sendiri. Tapi kita terima saja ya kehadirannya dengan lapang dada, mudah- mudahan ia bisa menjadi penambah kelengkapan kebahagian mommy sama Daddy dihari tua, disamping kalian kebanggaan kami." Urai Citra sembari menatap Chalista dengan tatapan penuh harap.
" Iya mom...Untuk menyambut dia, biar Ita suapin mommy ya." Usul Chalis.
" Cie...cie...Sudah lengket nih kayaknya panggilan kesayangan. He...he..."Kikik Citra sembari menyentil hidung putrinya.
Chalista tersenyum malu, digoda Mommynya, ia kemudian beranjak menuju nakas untuk mengambil mangkok makan malam yang akan ia suapkan pada mommy untuk menguatkan calon adiknya.
Suasana dirumah Istana keluarga Kims, kembali hangat.
Boy dan Bella kembali bekerja dikantor dan diklinik mereka. Setiap hari dilewati dengan kasih sayang dan kebucinan.
Sampai suatu pagi ketika mengadakan meeting dengan klien dari Brunai, tiba- tiba saat presentasi berlangsung, Bella terdiam dengan wajah memucat dan keringat dingin merembes dari pori- pori kulitnya.
" Sayang...Kamu kenapa? tanya Boy segera berdiri kedekat sang istri.
Suara Boy terdengar kecil ditelinga Bella. Ingin menjawab lidahnya terasa berat, telinga kanannya berdengung, pandangan matanya menjadi gelap. Kemudian ia tak ingat apa- apa lagi.
Tekan jempolnya ya say...Jangan lupa gendong- gendong juga karya ini He...He... Dengan cara yang sama Like, fote, komen , tekan love bagi yang baru masuk. Kalau udah siap urusan pengisian Rafor anak - anak kita akan hadirkan karya baru
yang idenya sudah menggelepar- gelepar didada Autor. Hi...hi...Itu yang disamping ngak dari hati idenya, jadi susah lanjutnya, Alon, alot dan bikin mumet.
Kalau yang bakal meluncur di Awal 2022 Insya Allah Bisa up 3 bab perhari. Doain aja kita semua sehat dan selamat sampai tujuan. Amiin...