Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 130



Seorang Bocil lima tahun sedang termenung dibangku depan kelas nolnya habis makan bersama.


Beberapa menit duduk, sepasang telapak tangan kecil yang lain membekap mata Bocil itu. Membuat teman yang lain pada lari masuk kedalam kelas, mengurungkan niat untuk bermain karna takut mereka kena imbas dari perbuatan anak baru yang dengan beraninya mengganggu Gacil yang sudah terkenal dengan sebutan Diamond princess.


" Lepas!!!" Kata pendek dan penuh tekanan keluar dari bibir gacil imut.


Bocil itu bukannya melepas, malah menarik kursi yang satunya dengan tungkainya, agar bergeser kebelakang gacil, lalu ia duduk manis dibelakang Gacil imut dengan ikat rambut tinggi itu, tanpa ada rasa takut, tangan bocil masih belum sudih lepas dari mangsanya.


" Apa anak baru itu mau cari mati ya?" Tanya hati teman- teman kecil Sonia bergidik.


Anak- anak yang lain mengintip didepan pintu dengan berbisik- bisik, penasaran dengan keberanian anak lelaki itu.


" Jangan mengganggunya, apa kau tidak takut dikurung dipenjara bawah tanah oleh abangnya, berani menyentuh Diamond princess." Bisik seorang Bocil lelaki memberanikan diri mengingatkan.


" Iss...Mana ada princess di TK biasa


begini. " Batin si Bocil tak percaya.


" Anak lelaki tak boleh menyentuh anak perempuan yang bukan muhrim!" Akhirnya kalimat diplomasi bernada dewasa keluar dari bibir mungil yang sudah mulai tak sabar atas pembekapan dari pria kecil bernyali besar itu.


He...He..." Tau ini tangan lelaki ya? Hebat!!! Kalau begitu nanti aku akan menikahimu Soni! " ucap pria kecil tinggi itu, membuat teman- teman yang lain berlompatan keluar.


Cie...cie...Ada yang berani mau nikahin inces!!! " sorak anak- anak kecil lainnya.


Sonia tak sabar lagi, ia menarik paksa kedua tangan yang masih belum melepaskan wajahnya, karna baru kali ini ada yang berani menyorakinya disekolahan, karna polah Bocil ini.


" Kau membuatku malu Seno!!! " Aku akan menghukummu!!! " Teriak Sonia marah sembari berbalik badan, menarik pria kecil tinggi itu ke arena permainan.


Mata kecil Seno membulat, saat Sonia mungil mengangkatnya dan menaikkannya ke ayunan dan mengayun Seno dengan kencang.


Sedang Anak yang lain terdiam dengan mata tak berkedip menyaksikan pertunjukan pembalasan Sonia.


"Aduh...mau diapain tu anak baru ? " tanya hati mereka menyeluruh.


Sonia...hentikan!!! nanti Seno terjatuh!!! Teriak Bu guru yang baru tiba dari kamar mandi, dengan berlari kecil mengejar ayunan yang bergerak cepat itu.


Sedang Seno hanya diam, dengan berpegang kuat pada handle Ayunan.


Sonia melepas Ayunan sembari menatap tajam buguru.


Ayunan berhenti, berkat penganan Bu Nuri.


Seno turun dengan santai, walau hatinya cukup cemas tadinya, sebagai anak lelaki ia berusaha bersikap biasa, tak mau orang menilainya pengecut, itu nasehat mommy yang selalu Seno ingat dan pegang kuat.


Bu Guru menarik Seno dan Sonia menuju ruangannya. Ruangan mungil khusus tempat berkumpul guru dan kepala sekolah dalam merancang RPPM ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan )


" Duduk!!! " Titah Bu guru pada kedua Anak Paud itu.


Sonia menatap tajam pada Seno yang sudah membuatnya dalam masalah menjelang siang ini. Sedangkan Seno hanya tersenyum tipis, menunjukkan kalau ia seorang lelaki yang tak takut pada ancaman.


" Apa yang mereka lakukan bu Nuri? " tanya ibu kepala sekolah, melihat kedua anak yang akan diprotes oleh Bu Nuri.


" Dia yang duluan!!! Beraninya ia membekap mataku dengan kedua tangannya yang jelek itu!!! " Ujar sengit Sonia.


" Mana...tanganku bagus begini!!!" Sanggah Seno tak kalah sengit.


" Wekk....mana ada tangan bagus yang jahil, yang jahil itu tangan tak beradab!!! " Cibir Sonia.


" Diam!!! " Apa kalian mau berantem sampai besok! " biar ibu kurung diruang kepala sekolah ini. " Ancam bu Nuri dengan wajah merah.


" Guru TK Mana boleh bermuka merah!!!


" Tunjuk kedua anak itu membuat Bu Nuri tercekat.


Sedang anak- anak yang melongok dipintu tersenyum dengan berbisik halus.


Nuri menatap siswa kecilnya dengan sorotan peringatan, tak ingin dianggap sebagai guru yang kalah.


" Sepertinya kalian pasangan yang cocok..." Canda Nuri menyembunyikan rasa malunya.


Sepasang bocah saling pandang.


Bel tanda masuk dibunyikan oleh Bu Ceni, guru kelas B.


Ibu kepala sekolah yang dari tadi menahan Ekspresi, segera keluar ruangan, dengan tatapan magnetisnya berhasil membawa anak- anak kelas A yang mengintip dipintu, untuk mengikutinya kekelas.


" Gara - gara kau! Kita tidak bisa masuk kelas sekarang! " Sungut Sonia dengan wajah garang.


Nuri mengatur napas, menatap kedua Bocil yang sama- sama tak mau menundukkan pandangan ini bergantian.


" Benar kau mengganggu Sonia Seno? " tanya Nuri menatap bocah lelaki itu.


" Sen hanya ingin memberi perhatian Bu...Habis Soni pas makan tadi tidak berselera, Seno khawatir dia sakit." Jawab Seno tanpa malu.


" Wek....Siapa kau sok perhatian padaku? " Ujar Sonia mencibir Seno.


" Jangan begitu Nia..tak baik menyela pembicaraan orang." Ujar Nuri sembari berjalan mendekati Sonia, mengusap pundak gacil itu dengan lembut.


" Habis dia panggil aku Soni sih...Kayak manggil anak lelaki! Nia tak suka! " Jawab Mia dengan wajah cemberut.


" Dengar ngak Seno! Nia tak suka dipanggil Soni. " tukas Bu Guru menatap Bocil tampan itu dengan tatapan peringatan.


" Baik Bu...Kan Beru kenal, jadi panggilnya sesuai awal nama saja. " Ucap Seno cuek.


" Kenapa kamu marah dan mengayunkan Seno sekencang itu Nia? " tanya selidik Nuri.


" Ibu harus kasih nasehat keras pada anak cowok, jangan suka pegang anak cewek sembarangan, apalagi Soniakan Diamond princess." Ucap Sonia dengan senyum Narsis turunan.


" Cie...Baru tahu ini putri berlian! Putri berlian kok sekolah disekolah negri, disinikan kebanyakan rakyat jelata, tentu kami yang rakyat jelata ini tak tahu ada berlian dibalik debu. " Ujar Seno membuat Bu Nuri membelalakkan matanya.


" Ini anak kata- katanya bijak sekali, melampai orang dewasa. " Sentak batin Nuri.


" Ia Bu...Ini Bocah sok dewasa sekali, dia katakan mau nikahin Nia! Makanya Nia uji nyalinya dengan mengayunkannya kencang- kencang." timpal Sonia dengan tatapan menghujam pada bocah lelaki disampingnya.


" Ini lagi gacil menyeramkan, bahasa telepatipun ia mengerti, bisa tengsin aku kalau punya murid banyak yang bijak begini." Keluh Nuri dalam hati.


" Kapan kita masuk Bu...Tu Bu kepala sekolah sudah nyanyi merdu dengan teman- teman Sonia..." Rengek Sonia berubah manja, membuyarkan lamunan guru muda itu.


Nuri tersenyum..." Katakan pada ibu dulu, mengapa Nia tak mau makan? selain Seno, buguru juga tak mau Nia mogok makan. " Tanya Nuri sedikit lebay berusaha mengimbangi Gacil narsis ini.


Sonia menarik nafas kasar, kemudian mengerjaplan mata indahnya, membuat Seno menatapnya kagum. Sonia tak suka ditatapi begitu. Spontan ia menghentakkan kakinya kekaki kiri Seno.


Aww....Ringis kecil keluar dari mulut kecil Seno.


" Ada apa lagi? " tanya Bu Nuri menyelidik.


" Tak ada Bu! Ada tikus kecil menggigit kakiku. " Jawab Bocil itu .


" Kalau begitu ibu hukum kalian berdua membersihkan ruangan mini ini, setelah itu menyapu halaman! " Ujar Buguru sembari menepuk pundak kedua Bocil itu.


" Ibu!!! " Teriak protes kedua bocah.


" Salah sendiri...masih kecil mikirin nikah! " Ujar Bu Nuri sembari mengambil sapu untuk kedua anak itu.


" Kan dia yang begitu! " protes Sonia.


" Biar kalian belajar jadi anak kecil. " kata Nuri.


*****


Sonia menyapu dengan susah, karna tubuh pendeknya tak bisa mengimbangi sapu yang panjang.


Seno mengerjakan semua sembari sesekali mencuri pandang pada Gacil yang begitu menggemaskan dimatanya.


" Guru memberi hukuman tanpa tahu latar masalah muridnya. " Ucap lirih Sonia bersesungut.


" Mengapa Sonia tak mau makan? " tanya


Seno penuh perhatian.


" Daddy mengatakan kalau mereka akan kembali kepada Tuhan. " Ucap Sonia dengan cemberut.


" Setiap orang hidup pasti akan kembali Sonia...Meninggal itu keharusan kalau waktunya tiba, aku hanya punya Daddy, karna Mommyku telah kembali." Ucap sendu Seno.


" Apa Daddymu menikah lagi? " tanya Nia kemudian.


" Daddyku dijebak wanita licik, ya terpaksa aku punya adik tiri. " Jawab malas Seno.


" Maaf...tak tahu hidupmu lebih sedih. " Ujar Sonia.


Setelah ruangan selesai, mereka mulai kehalaman dan berjalan santai.


Anak- anak yang lain yang melihat sekilas dari jendela tersenyum tipis.


" Sedang dihukum Sonia dan anak baru itu tampak kompak juga. " Ujar lirih Kiki teman Sonia.


" UMM... akhirnya ada juga teman lelaki yang berani dekati inces. " ujar Mimi.


Bel berbunyi menandakan jam pelajaran kelas nol berakhir.


Doa dan nyanyi selamat jalan terdengar dari ruangan. Para orang tua mulai menjemput.


Derap langkah teratur sepatu mungil terdengar dari lantai marmar itu.


Sonia mengelap keningnya dengan Punggung tangannya. Seno mengeluarkan sapu tangannya, mengelap kening Sonia dengan lembut.


" Bawa saja sapu tangan itu untukmu. " Ujar Sonia.


Mobil lamborgini biru berhenti didepan sekolah.


" Sonia...sudah...Tu jemputan ya sudah tiba. " Tukas Bu Nuri sembari mengambil sapu lidi dari tangan Sonia dan Seno.


Sonia menyalam buguru kelas A Dan B, walau hatinya masih kesa


Ibu kepala sekolah keluar ruangan dengan membawakan tas Sonia dan Seno.


" Makasih Bu..." Ucap Sonia tulus.


" Aku juga Bu..." Ujar Seno.


Bu Rahma mengusap kepala kedua Bocil itu.


" Ya sayang...Lain kali jangan bandel lagi.


"Ya Bu..." Ucap kedua anak itu serentak.


Sonia berlari menuju mobilnya, Bang Hafis membukakan pintu.


" Mana bang Boy? tanya Sonia begitu sampai didalam.


" Ada acara disekolah Sikembar dik... " Ujar Hafis.


Sonia manggut- manggut.


" Antar aku ke Mansion mami Anjani bang." Titah Sonia kecil.


" Ta...Tapi-


" Antar sajalah, tak usah takut padanya, kalau semalam aku dirumah mami, pasti siang ini mami yang jemput, melihat aku dapat hukuman, pasti mami mempertanyakan, tidak seperti kalian para lelaki. " Umpat Sonia dengan wajah kesal.


" Mampus! Nona kecil sedang merajuk! Aku tak peka tadinya sih." Sesal hati Hafis.


Kerumah dulu ya dek...nanti biar mami Anjani yang jemput, kan maminya tinggal telfon aja, sapa tahu lagi dirumah..." Bujuk Hafis.


Sonia akhirnya mengangguk.


******


Mendengar Sonia mogok makan, akhirnya Rendra dan Citra sepakat untuk kembali ketanah air.


" Kita sudah tua yang...Entah berapa lama lagi sicilik punya kesempatan bermanja. Mending kita pulang ya...takut ia sakit. " Ajak Citra pada suaminya sekembalinya mereka dari museum seniman Frida Cahlo.


Rendra mengangguk lesu. " Baiklah..." Ucapnya lirih.


Kami juga ikut balik. " Ujar Hans teringat bisnis istrinya.


" Ho...ho...aku tahu ini musim kawin, pasti kau takut IO mu Los Job karna liburan ini. " Tebak Rendra.


" Kami juga sama...balik saja...Kangen sama cucu! Ya kan dek..." Timpal Rehan.


" Ya udah... Besok kita balik setelah balik dari Air terjun CMdC. " Ujar tegas Rendra.


" Whatt? Kirain ngak ada acara lagi??? " tanya kaget para kakek.


" Adalah..masak jauh- jauh langsung balik. " Ujar Rendra dengan nada kuasa.


Lalu Daddy itu membuat panggilan, untuk


menenangkan bidadari kecilnya disebrang.


Masih dikit lagi ya...