Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 40



" Hamil ? Tanya Tuan Kims hampir tak percaya dengan yang ia dengar. Setelah Empat tahun menunggu datangnya keajaiban Tuhan, akhirnya Tuhan mendengarkan doanya. Tuan Kims sangat berharap rumah besarnya lebih ramai dengan anak- anak Rendra. Hingga kelak bila ia menghadap yang kuasa, Rendra tak kesepian seperti dirinya waktu dulu. Bagi Tuan Kims, punya anak satu belumlah cukup, tapi jika Tuhan maunya begitu, apa mau dikata, kita hanya bisa menerima.


" Sebenarnya kakek sudah lama berharap, kalian nambah baby. Tapi melihat kalian bahagia dan sudah akur, kakek ngak maksakan juga, apalagi Boy memang butuh perhatian penuh, sampai ia semandiri saat ini. Ternyata Rencana Tuhan memang jauh dari jangkauan kita manusia lemah ini. Boy punya adik diwaktu yang tepat. Saat ia sudah siap untuk menjadi seorang Abang. " kata Tuan Kims berkaca- kaca karna bahagia.


" Kita doakan saja supaya adik perempuan boy sehat dan cepat lahir pak tuo. " kata Boy yang barusan pulang dari tempat kakek Rinto.


" Emang boy mau adiknya perempuan? " tanya Rinto pada cucunya.


" Iya dong kek...biar bisa dimanjain dan dibimbing. " kata Boy.


" Emang Boy mau ngajarin apa sama adik ceweknya? " Tuan Kims pula yang menginterogasi.


" Diajarin Ngaji, Berdoa, memasak, main pazel,


latihan Silat,nangkap maling, sama ngurus perusahaan Dady. " katanya yang membuat semua orang tertawa.


" Kok pake nangkap maling? " tanya Rendra menimpali.


" Iya dong Dady..Maling kan bukan cuma maling ayam doang, tapi maling tu dalam banyak versi, maling File, maling rahasia negara, dan maling- maling lainnya.


" Nangkap Boy juga dong...Kan Boy jago maling


/ aliyas pembobol Situs. " kata Rendra.


" Kalau Abang namanya Hacker White hat Dady...Kemampuan membobol jaringan untuk pengembangan, perbaikan dan pemprograman. Bukan untuk merusak atau menghancurkan usaha orang.


Untuk menangkap pencuri, seorang harus jago mencuri. " Jelas Boy, yang membuat semua manggut- manggut.


" Oke deh...Terserah Abang mau ajarin adiknya apa, yang penting untuk tujuan baik. " kata Dokter Rinto kakeknya Boy.


" Iya ya kek...Semua perbuatan tergantung pada niatnya..." kata Boy.


" Anak Momy memang Smart! " puji Citra saat mualnya agak berkurang setelah minum resep yang diberikan dokter Obygennya.


" Siapa dulu Momy? " kata Boy mengembalikan pujiannya.


" Berarti Momy sendiri yang Smart dong! " kata Rendra seraya memasang wajah cemberut.


Boy lalu melompat memeluk kaki sang Dady.


Kan Asal dari bapak...Usul dari mamak! Kalau anaknya hebat ya karna Asal dan usul itu" kata Boy


yang membuat semua orang tersenyum malu.


" Boy...Boy..." kata mereka seraya menggelengkan kepalanya.


Boy memang memiliki kemampuan dan Pemikiran yang jauh lebih dewasa dari usia sebenarnya. Kalau sudah mendengar Boy membicarakan hal yang berhubungan dengan orang dewasa, Citra suka khawatir karnanya. Tapi sebagai ibu bijak, ia berusaha mengarahkan kemampuan anaknya kearah yang positif.


Hari berganti, bulan bertambah... Kandungan Citra kian besar. Perutnya makin gembung, maklum tiap punya kesempatan sang Dady rajin nabung biar celengannya kian menggunung. Sedang yang bawa celengan tak mau, maksudnya tak mau nolak. He...He..


Hamil kali ini Citra dilimpahi kasih sayang oleh suami tercinta dan orang- orang disekelilingnya. Selain manja, Citra juga sangat bergairah, cerewet dan suka membuat kue dan cemilan untuk keluarga. Kadang ia buat kue kering dan kadang kue basah.


" Sayang...kalau ketagihan ngemil kayak gini, bisa- bisa dokternya nanti salah kira yang mana yang mau lahiran. " kata Rendra


sembari mengusap perutnya yang mulai membuncit.


" Makan sih boleh- boleh aja sayang ...tapi rajin olahraga" kata Citra.


" Kan olahraga tiap malam. " kata Rendra , yang spontan dapat hadiah cubitan panas dari Citra.


" Itu sih bukan olah raga kesehatan namanya. " protes Citra.


" Trus olahraga apa lagi yang lebih nyehatin dari itu? hati senang bertabur bintang, jiwa melayang, tubuh keringatan sebesar rimbang.


Bukankah olahraga itu gerak badan untuk melatih kekuatan, kelenturan, keseimbangan agar sehat jasmani dan rohani? Menurut suami limitit editionmu ini, itu adalah olahraga paling top mar kotop Cintaku! " kata Rendra seraya mengecup perut gendut istrinya.


" Ih... Dasar tua- tua gandum! Makin tua makin mesum " kata Citra.


" Mesum- mesum kan disayang Istri. " kata Rendra penuh percaya diri.


" Tau aja." kata Rendra singkat.


" Kalau ternyata ngak sayang gimana?


" Kalau ngak sayang ya ngak gini. " kata Rendra seraya mengelus buncit Citra.


" Ngak gini apanya? " tanya Citra pura- pura ngak ngerti.


" Kue dibuatin, makan disiapin, minum disediain,


Bobok diboboin. Mandi ditemanin, anak ditamnahin. Trus nikmat apa lagi yang mau diingkari dari pemberian sang bidadari. " Ucap Rendra sembari membuka bajunya.


" Kok buka- buka baju disini, mau mandi tuh dikamar mandi !" kata Citra pura- pura Sowot.


" Mandi peluh dulu ya sayang...baru mandi! " kata Rendra kemudian mulai memijiti kening Citra. Dari kening, tangan, kaki, trus sekalian kusuk sebatangan.


Kalau sudah dapat pijitan dari tukang urut profesional, Citra bakalan melek sendiri, mau dijadiin apa saja sama suami , ia pasti nurut.


Kalau urusan mengalahkan Citra dalam berdebat dirumah, Rendra sudah tahu, pijitan ajaibnya bakal jadi senjata paling ampuh mengalahkan emosi sang Istri.


Bagaimana ia tak tahu? belum nikah saja, Ia sudah tahu, Citra suka pijitannya.


Bahagia, membuat orang jadi sehat dan kuat menjalani rintangan apapun didunia ini. Demikian juga dengan wanita hamil itu. Limpahan kasih sayang Dady boy yang luar biasa, membuat citra hampir tak ada keluhan dalam menjalani masa sembilan bulannya. Hingga tiada terasa, hari yang dinantikan pun tiba.


Waktu itu jam istirahat siang dikantor pusat GNN group. Citra yang terbalik makin possessive selama


hamil, masih saja memaksakan untuk mendampingi suami bekerja. Tepat jam Dua belas


siang, Citra mengalami kontraksi. Ia meringis dan merengek kesakitan. Rendra dan Hans dengan sigap melarikannya, ke Rumah sakit terdekat.


" Aduh....Sakitnya...Cepat dong...ngak tahan nih." Rengek Citra, yang membuat Hans terpaksa menambah laju Kendaraan.


" Tahan ya Sayang...tunggu dikit lagi kita nyampe kok. " kata Rendra seraya mengelapi peluh yang mulai menitik keluar dari pori- pori wajah Citra.


" Aku udah ngak tahan sayang..." kata Citra kemudian menarik bantal, membaringkan tubuhnya yang dibantu Rendra. Kemudian ia memberi kode, agar Rendra waspada. Tanpa bisa dihindari, dorongan dari Baby, membuat Citra mengedan. Rendra panik bukan kepalang.


" Bagaimana ini Hans ? Nampaknya Babyku pengen segera bronjol. " kata Rendra.


" Masih Satu Km lagi Bos. Nona tahan dulu ya. " kata Hans.


" Beberapa detik kemudian, muncul dorongan kedua.


" Uha....Uha....Uha...suara baby Citra menangis keras. Hans terpaksa menepikan mobil. Sedang Rendra tanpa sadar, sudah menjadi bidan bagi putrinya sendiri. Ya Tuhan...Sayang...Anak kita perempuan. Kamu baik- baik sajakan ? ," tanya Rendra seraya mulai membalikkan Baby dan menutup tubuh baby dengan kain selendang, yang memang sudah disediakan oleh Citra didalam mobil, selama seminggu ini.


Citra mengangguk sembari tersenyum.


Syukurlah.. Cepat bawa ketempat bidannya Hans! akukan ngak pande ngurus ni tali pusat. " kata Rendra bingung.


" Baik bos! " kata Hans mulai tancap gas lagi.


Sesampainya di klinik bersalin, Citra langsung ditangani oleh Dokter. Baby nya pun diurus oleh perawat. Seperempat jam kemudian, Dua perempuan yang sangat berharga dalam hidup Rendra itu sudah tampak segar, cantik dan bersih.


" Ya Allah...Betapa sempurnanya kedua bidadari Dady. " kata Rendra, saat perawat menyerahkannya


pada Rendra. Kabarkan berita gembira ini kerumah Hans. Ini kajutan besar bagi Boy dan semua. " kata Rendra.


" Oke...akan aku kabarkan juga, kalau selain tukang pijit, Dadynya juga berbakat jadi dukun beranak.


Rendra Pratama! CEO muda, tertampan dan terkaya dinegri ini jadi bidan untuk putrinya sendiri." kata Hans seraya tersenyum geli.


" Namanya juga Ayah siaga, pastilah multi talenta! Kalau dia yang bidani kan aku rela. Tapi kalau dokter pria yang lakukan itu, aku tak mau, Babyku ngerti kali permintaan Momynya." kata Citra memuji suaminya. Yang dipuji hanya tersenyum malu, karna dokter dan perawat nampak membelalakkan mata ,karna bingung bercampur takjup.


Bersambung...


Mampir terus yuk...jangan lupa tinggalkan bingkisan berupa like, fote, komen, hadiah indah juga faforitkan karya kita ini.


Salam kangen selalu dari penulis.❣️❣️❣️