
Citra duduk manis menemani Chalista makan, sembari bernyanyi- nyanyi kecil
Sesekali tak lupa, mencuri pandang pada gadis itu. Uhuk...Chalis tersedak. Dengan sigap sang mommy menyodorkan minum untuknya, lalu mengusap pundaknya. " Jangan berkhayal ketika makan, itu sangat berbahaya" katanya dengan berbisik.
Gadis itu masih mencoba menyodorkan beberapa sendok lagi kemulutnya, tapi rasanya begitu kasar ditenggorokan, ia tak bisa meneruskan makannya lagi.
" Maaf mom...Chalis kurang selera makan, besok subuh diantar ke Ayam,
mommy tenang saja, itu takkan sia- sia." katanya setelah memasukkan sisa makanan kekantong, dan mencuci piring dikamar mandi.
Chalis kemudian duduk didepan Mommynya.
Sejenak keheningan tercipta, mereka hanya saling pandang. Perasaan gugup kembali menerpa hati putri pertama Rendra.
Menghadapi dosen killer saja tidak sulit bagi Chalista. Gadis cantik itu pandai membuat situasi sulit menjadi lebih santai. Entah itu dengan kepandaiannya, kecantikan ataupun dengan kelicinannya.
Tapi malam ini, dihadapan sang mommy, Chalista hanya bisa tertunduk. Menunggu
apa yang akan dipertanyakan oleh Mommynya, seperti kucing kecil yang tersuruk disudut, takut dipukul oleh majikannya.
" Jadi sekarang Amer memanggilmu dengan panggilan kesayangan, Ita?" tanya sang mommy memecah keheningan, membuat jantung Chalista Dag Dig dug tak karuan.
" Bahkan mommy mengetahui panggilan kesayangan bang Amer padaku. Sisi mana dirumah ini yang tidak ada Camera pengawasnya, apa dikamar pribadiku juga dipasang CCTV. Kalau kulihat tidak ada, setiap hari kubersihkan rasanya tak ada Camera tersembunyi." Batin Chalista menebak- nebak.
" Mommy tidak memeriksamu menggunakan Camera Ita! tapi Momy memeriksanya dengan hati mommy. Jangan terlalu canggung begitu. Mommy takkan menghukummu hanya karna kau sudah kedapatan mencuri waktu berkencan dengan Amer. Mommy hanya ingin memastikan dan membuat janji denganmu." Ucap Citra sembari menyentuh pundak Chalista.
" Ja...Jadi mommy tahu semuanya? " tanya Chalista.
" Segalanya tidak sayang...yang tahu segalanya hanyalah Tuhan. Mommy hanya tahu dari apa yang mommy lihat dan dengar saja. Sedang hatimu yang sebenarnya, hanya dirimu dan Allah yang tahu. Andai kau berkilahpun mommy tidak akan berdaya, jika Chalista jujur itu lebih baik, bagaimanapun juga Momy adalah ibumu, tempat curhat terbaik adalah seorang ibu setelah Tuhan." Ujar Citra menatap lembut putri tengahnya.
Chalista tersenyum, sembari menggolekkan tubuhnya dipangkuan sang mommy. Citra tak menyia- nyiakan kesempatan itu. Ia membelai rambut sang putri, menyentuh wajahnya dengan kasih sayang. Sejenak keheningan tercipta, Chalista memejamkan matanya, menikmati belaian kasih sayang ibunya.
" Apa yang Ita khawatirkan nak? mengapa mencintai Amer seperti sebuah
beban? Kesombongan macam apa yang ada didalam hatimu? " tanya Citra lagi. Membuat Chalista membelalakkan matanya yang tadi sengaja ia pejamkan, menikmati sentuhan mommy, sekalian bersembunyi dari tatapannya yang penuh selidik.
" Mommyku terlalu pandai untuk kukelabui, bahkan dalam keadaan mata tertutup saja, ia bisa menemukan rahasia yang kusimpan dihatiku, ia ibuku, maka tiada yang boleh kusembunyikan darinya." Batin Ita memutuskan.
Setelah ia menarik nafas, menekan kegugupannya, ia lalu berucap." Chalis hanya belum bisa menerima perasaan ini mom...Ada beberapa lelaki yang pantas yang mendekati Chalis, tapi getaran itu tidak ada, seperti Chalis menatap bang Amer. Merasa malu dan konyol saja, seperti tak pernah bergaul saja." Ucapnya
lirih.
" Hey...gadis...Emang kau kira cinta itu pandang tempat untuk jatuhnya, kalau ia pandang tempat, mana mungkin daddymu akan mencintai mommy. Parempuan yang tak ada terlihat sedikitpun seperti wanita. Tapi bahkan sebelum tahu mommy lelaki atau perempuan, daddymu sudah jatuh hati.
Berharap mommy perempuan, yang akan mendampinginya dimasa depan, bahkan sebelum tahu status ekonomi dan keturunan mommy." Kenang Citra.
" Tapi kan kisahku ngak sengit seperti kalian mom...Aku yang paling dramatis, malah jatuh hati pada yang biasa. " Chalis masih mencoba mengingkari hatinya.
" Kalau begitu artinya Ita tak menyukai Amer. Tidak masalah...mommy dan onty Adelia akan mengatur perjodohan Amer dengan Raisa, Chalis carilah yang pantas! " Ujar Citra tegas, dimatanya tidak memperlihatkan sedikitpun lelucon.
Chalista langsung terduduk dari pangkuan sang mommy, begitu mendengar penuturannya. Tiba - tiba dadanya terasa perih dan sakit, matanya sampai kemerahan.
" Kenapa? tapi Amer tak pantas! Kalau Raisa takkan menolak, ia tidak pernah mengukur pantas tidak pantasnya seseorang dari kekayaannya, seperti dirimu Ita! " Citra mengucapkan itu tampak serius, tak terpengaruh dengan hidung putrinya yang sudah masam, airmatanya yang mulai menitik.
" Mommy tega membandingkan aku dengan Raisa? memberikan apa yang aku suka padanya.." Chalis mulai terisak, ia tak dapat bersembunyi lagi.
Citra menarik putrinya kedekapannya.
Mengusap rambutnya. Lalu berbisik dikupingnya. " Kalau cinta ya bilang saja..tak perlu mempertanyakan mengapa dan bagaimana bisa adanya. Akui perasaanmu sebelum terlambat, tidak boleh meremehkan orang yang kau cintai, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya. Mommy dan Daddy tak pernah mengajarkan kesombongan pada kalian, kalaupun suamiku narsis, tapi ia tak sombong. Mommy tak suka kesombonganmu, untuk kemudian hari tolong dilepaskan." Ujarnya lirih namun maknanya pedih, cukup dalam menusuk kedalam lubuk hati gadisnya.
" Jadi mommy tidak serius mau menjodohkan Raisa dengan bang Amer kan? " tanya Chalista setelah sadar ia telah masuk kedalam jebakan Mommynya.
Citra menggeleng sembari tersenyum menatap wajah Chalista.
Tatkala Chalis membelalakkan matanya Citra menyentil hidung sang putri " Mana mungkin mommy memberikan apa yang kau suka pada adikmu cantik... setiap orang punya kisahnya sendiri. Ini kisahmu, tak perlu minta yang dramatis,
Yang penting selesaikan kuliahmu sampai akhir tahun depan. Setelah itu baru kami urus pernikahanmu. Sebelum semua tugas kau selesaikan, jangan harap curi waktu berkencan lagi. Mommy dan Onty sudah berbicara ditelfon, kalian akan dipingit selama setahun.! "
" Whatt? Kalian sepakat sekejam itu? bagaimana kalau kami rindu?" Seru Chalis hampir tak percaya.
" Boleh bertemu dengan ditemani mommy atau Onty!
"'Citra tersenyum sembari memainkan dagu Chalista. Ini keputusan dan kesepakatan dua ibu, cantikku...Bukankah dirimu meminta tantangan? ini tantangannya anak mommy. Selesaikan semua tantanganmu, baru kalian boleh berpacaran, setelah Daddymu menikahkan kalian.
" Mom...Kok kejam sekali...Ini saja Ita sudah rindu...hu..." Rengek Chalista.
" Kalau rindu ya cepat selesaikan tugasmu. Mulai besok, lebih giat kuliahnya! " ujarnya tanpa memberi toleransi. Lalu Citra tersenyum. Berdiri dan melangkah meninggalkan kamar Chalista.
Ketika tiba diujung pintu ia kembali berkata. " Jangan lupa sholat dulu sebelum tidur, kunci pintunya juga.
" Baik mom...terima kasih.." Ucapnya lirih.
***************
Pagi hari, Boy dan Bella pamit pulang ke Mension Bella. Ini sudah hari ketiga.
Citra bahkan sudah menyediakan oleh- oleh untuk dibawa mereka pulang.
" Untuk sementara, Bella dan Boy nginap disana dulu ya mom dan Daddy...Papi Willi rencananya mau keluar negri nanti sore, mami Anjani merasa sepi. " Jelas Boy sebelum berangkat.
" Tak masalah sayang...Bella putri satu- satunya, sebelumnya juga sudah dibicarakan. Kalian berangkat sana, hati- hati dijalan, jangan lupa jaga istrimu baik- baik." pesan Citra pada Boy sembari menggandeng Bella menuju tempat parkir.
Rendra juga tak mau kalah, ia menggandeng Boy mengiringi langkah para nyonya. Setelah cipika cipiki, pasangan muda itu menaiki mobil. Siap- siap untuk berangkat.
" Tenang Daddy.. Boy pasti akan terus memantau perusahaan kita, walau aku akan sibuk, dengan usaha baruku. Usaha keluarga akan terus dalam pemantauan ku. " Ucap Boy sebelum menutup pintu.
" Iya Boy...Daddy percaya padamu, sejak dulu, sekarang dan kedepannya. Jaga staminamu ya anak muda! " Ujarnya Rendra kemudian.
" Oke Mommy and Daddy.. Kami pamit dulu!...ucap pasangan itu serentak.
Kedua orang tua mereka tersenyum, sembari melambaikan tangan.
???????
Hari kedua di Mension Keluarga Willi. Boy mulai melakukan aktifitas diluar. Mulai dari pembukaan klinik barunya. Sampai peluncuran Cip canggih yang baru.
Ketika Boy break( istirahat ) sejenak, setelah louncing.
Tiba - tiba ia mendapatkan telfon dari Bella.
" Yang...boleh ngak aku dan mami pergi berbelanja? " tanya Bella setelah salamnya dijawab oleh suami.
Boy berfikir sejenak, menarik nafas berat.
Sedang Bella menanti jawabnya dengan sabar, disebrang telfon.
" Bolehlah....Tapi jangan memisahkan diri dari mami ya. Perginya juga dengan sopir. Kalau perlu selain bang Mamat, ajak Fatih juga." ucap Boy dengan hati berat, tapi ia tak mau mengecewakan istri yang terdengar bersemangat.
" Kok pake Fatih segala yang...Sebaiknya sama bang Mamat saja ya, ngak nyaman sama Fatih, diakan dulu suka sama aku. Ngak enak buatnya baper lagi. " tolak dengan alasan yang jujur.
" Baiklah...hati- hati ya yang...Suami sibuk dulu ya. Ntar kukirim yang jaga - jaga.
Bella mengernyitkan dahinya, sejenak hening. Ketika ia siap - siap untuk protes, telfon telah terputus.
" Sudah lama juga kita ngak Sopping bareng ya Mi. " Ucap Bella ketika mereka memasuki conter perhiasan, di Flaza PI.
" Iya Bel...Saking ketagihan belanja Online, jadi jarang main kesini, padahal sesekali kan seru juga. "
" Iya mi..ketempat Pakaian pria yuk..." Ajak Bella.
" Ayo..." Anjani lalu menarik tangan putrinya.
Bella memegang perutnya. Mff mi Bella kebelet nih..,cari toilet dulu ya. Mami tunggu disini. " pinta Bella.
" Baiklah...kecepatan sih tamumu datang Bella, padahal Suamimu baru saja memulai. " Anjani tersenyum melepas Bella yang terburu- buru.
Sedang Bella yang tak tahan kebelet, tak mendengar celotehan Anjani.
Bella merasa lega, setelah melepaskan sesaknya. Setelah memeriksa kerapian kerudungnya dicermin, iapun berjalan meninggalkan Toilet itu.
Baru beberapa langkah ia keluar dari pintu. Ia merasa ada yang membekapnya dari belakang dengan sapu tangan, lalu ada hawa aneh yang menjalar, hidung dan wajahnya mati rasa.Bella merasa tubuhnya melayang. Ia tak ingat apa- apa lagi.