Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 47



Tuan Kims memeluk kedua cicitnya bergantian. Ia benar- benar takut saat merasakan getaran gempa


dari kamar hotelnya waktu itu. Ia bukannya khawatir akan dirinya, tapi ia takut terjadi halangan diperjalanan rombongan orang terkasihnya. Boy mungkin merasakan kekhawatiran uonya, makanya ia tak bisa tidur, sebelum jaringan pulih dan ia bisa menghubungi tuan Kim.


" Besok mungkin kita akan balik kek, tadi. Hans menelfon, katanya ada masalah dipabrik.


Apa kakek sudah cukup istirahat. Kalau kakek belum siap, kita tunda sehari lagi. " kata Rendra memecah keheningan, saat anak - anak dan uonya


melepas rindu itu.


" Kalau kakek siap Ren, kan dua hari cuma bersenang- senang Suilte room ini. Nanti dipesawat rebahan lagi. Apa susahnya sih? " kata Tuan Kims.


Kalau begitu Syukurlah, besok siang kita balik ke Ibukota. " kata Rendra.


" Sip deh! " Jawab sang kakek sembari mengacungkan jempolnya.


Rendra membalasnya lalu kembali kekamar mereka dengan menggendongnya gadis kecilnya. Yang digendongnya menurut saja. Tampaknya Chalista mengantuk lagi, hingga ia menempelkan kepalanya di leher sang Dady.


Sepeninggal Rendra , Boy segera angkat bicara.


" Ada dua kejutan hari ini uo! " katanya bersemangat, layaknya selebritis yang mau konferensi pers. Boy mulai cek soun suaranya.


" Ehem..Boy mengatur suara sebelum cerita.


" Ada apa sayang? " tanya Kims tak sabar.


" Pertama...ternyata Momyku Rich lady uo. Total isi


Rekening hasil perkebunannya mencapai 3 Trilyun Rupiah kebih uo. " kata Boy sembari tersenyum lebar.


" Uo tahu kok sayang..." kata Mr Kims.


" Tahu dari mana? Tanya boy heran.


" Tahu dari kakeknya." kata tuan Kims yang membuat Boy makin bingung.


" Kan kakek Momy sudah tiada. Bagaimana ia memberi tahu uo, tidak mungkinkan ia bangkit hanya untuk cerita. " tanya Boy lagi.


" Tolong Ambilkan foto saku ransel itu, yang kutemukan dikamar Almarhum H. Roeslan ko! " kata tuan Kims pada Joko.


Joko segera mengambil Fhoto Yang masih berlatar


sederhana itu.


" Coba tebak lelaki muda yang ada disamping pria putih tinggi ini." kata tuan Kims pada Boy.


" Boy meraih Fhoto itu dan menelitinya sejenak.


" Boy tahu...Ini tuan sipit waktu muda. " kata Boy kemudian.


" Kau ini..Ikut- ikutan pula omongan Dadymu yang suka mengolok uo ya? " kata tuan Kims sembari mencubit hidung mancung Boy.


" Iya lah uo...namanya juga anaknya, sedikit banyak pasti menurunlah Dadynya dalam diri Boy mu ini. Tapi walau suka mengolok, kan Dady sayang sama uo. " kata Boy membela tokoh idolanya.


" Iya lah...yang punya ayah, pasti dibela. " kata tuan Kims seraya menggelitik Boy.


" Ampun uo...boy ngak lagi deh...niru- biru Dady. " kata boy menyusun sepuluh jarinya.


Ternyata dunia ini sempit sekali ya uo.. Kakek Rinto , dokter uo ternyata Ayahnya Momy. Sedang uo Haji, kakeknya Momy, mantan teman masa muda uo. Pantas secara tak sadar, Momy langsung


sayang sama uo, sejak awal jumpa. " kata Boy membuat kesimpulan.


" Iya sayang...Semua memang seperti itu.Uo pernah kekampung itu, waktu pak uo Haji masih merintis usaha perkebunannya.


Mungkin pertemuan Dady dan momymu memang jalan untuk mengumpulkan kembali semua kenangan masa lalu uo. Dipenghujung masa uo, uo dianugrahi nikmat yang besar, dengan adanya kalian dan bangkitnya cerita masa muda uo.


" Masa muda yang menyenangkan bukan? ngak ada masalah dendam masa lalu seperti di Novel- novel kesukaan Momy itu kan? " tanya Boy sedikit bimbang.


" Ngak sayang...Semua tentang keluarga ibumu adalah kenangan manis buat uo.Kakek dan neneknya orang baik, pernah uo bercita- cita menjodohkan kakekmu dengan putrinya, tapi kemudian kami kehilangan kontak. Pun kakekmu jatuh cinta pada gadis asal Amerika itu. " kenang tuan Kims.


" Umur anak- anak kami sama- sama pendek ternyata. " kata tuan Kims lagi. Kali ini ia tak menangis lagi, karna Boy baginya lebih dari cukup sebagai Anugrah terindah yang Tuhan berikan sebagai Chen generasi terbarunya. Ia kembali memeluk Boy dengan segenap perasaan haru birunya.


" Boy bakalan punya adik lagi kayaknya uo. " kata boy.


" Benarkah? Ya Robby...luar biasa! ternyata kejayaan dan kekayaanku baru terasa menjelang pintu kubur." kata tuan Kims tak sengaja.


Boy merenggut mendengar uonya bicara seperti itu lagi.


" Udah ah...ngomong soal mati, Boy ngak suka. lebih baik uo bicara yang asyik- asyik. Ni yang seram terus yang dibilangin. " kata Boy bersesungut.


" Maaf...tapi memang itu sesuatu yang pasti sayang...Kita tak dapat menghindari. " kata tuan Kims.


" Iya uo...tapi setidaknya jangan sering- sering diucapkan. Kata itu adalah doa, untuk saat ini mintak yang manis- manis saja dulu sama Allah.


Biar kita diberi yang baik- baik pula. " kata Boy seraya menatap uonya dengan penuh harapan untuk bersama lebih lama lagi..


" Iya sayang...Andai masa uo telah habis, uo pasti kembali dengan tenang, karna kalian sudah memberikan hari- hari yang indah untuk uo selama ini. " katanya sembari mengecup kening cicit kesayangannya itu.


" Syukurlah kalau uo bahagia. " kata Boy kemudian.


Setelah menempuh perjalanan udara selama satu jam setengah, akhirnya Rombongan tiba didepan Istana mereka kembali. Semua pelayan bergegas, membawa bawaan tuannya. Rinto menggendong Chalista. Rendra dan Joko membawa tuan Kims.


Sedang Citra melenggang santai tanpa beban, ia hanya memegangi perutnya, seraya mengusapnya


lembut.


" Nikmat yang mana lagi yang bisa hamba ingkari Tuhan? tak ada lagi, tuntunlah hamba menjadi manusia yang lebih bersyukur dan rendah hati. " Doanya dalam hati. Ia ingin segera tiba dikamarnya,


Dilihatnya jam iPhone nya menunjukkan pukul Tiga belas siang.


Sampai dikamar, ia langsung membersihkan diri, lalu menjalankan kewajibannya pada Allah.


Citra tidaklah berasal dari keluarga yang terlalu Fanatik, tapi untuk kewajiban, kakeknya tak membiarkan bolong. Untuk yang Sunnah, berpulang pada kekuatan hati masing- masing.


Yang penting harus Istiqomah.


Rendra Juga sama, sebagai anak yang diasuh oleh perempuan yang Istiqomah, ia juga tahu kewajibannya. Sang ibu asuh mendidiknya sejak dini, hingga tak ada pemaksaan dirumah ini. Tapi setiap orang tahu cara bersyukur pada sang Khalik, dan itu sudah tertanam dihati mereka sejak dini.


Tuan Kim masih menganut budaya lama, juga tak pernah dipermasalahkan oleh cucunya.


Hanya saja sekarang Rendra dan Citra lebih banyak membawa tuan Kims agar makin dekat pada Tuhan, dengan Shalat bersama dan mengadakan pengajian dirumah, untuk mengukuhkan jiwa lelaki berusia lanjut yang mereka cintai itu.


Citra juga sekarang makin lembut, penuh kasih, jarang marah. Entah karna bawaan baby, atau memang dirinya sendiri yang dapat hidayah. Hanya


Tuhan yang tahu.


Masalah diperusahaan sudah dapat dipecahkan oleh Boy dan Dadynya. Ternyata ada yang menggelapkan uang perusahaan. Setelah diusut, ternyata Staf itu korupsi untuk biaya pengobatan istrinya yang sakit akibat parasit yang menggerogoti tubuhnya.


Setelah dapat informasi lengkap dari rumah sakit. Rendra malah memutuskan untuk membantu stafnya yang sudah gelap mata karna masalah keuangan itu.


" Masalah akan selalu datang dalam hidup setiap


manusia pak Sam. Tak ada manusia yang tak punya masalah, juga tiada pula yang luput dari salah. Setiap kita pernah salah dan dapat masalah,


sekarang kembali pada kitanya, Bagaimana cari solusi yang lebih baik. Semoga kedepannya lebih baik. " kata Rendra pada stafnya yang bernama Samuer.


" Maafkan saya tuan Rendra. " kata pria itu kemudian.


" Sudah saya maafkan kok pak, saya sebagai pimpinan juga minta maaf. Mungkin saya kurang peka selama ini. Jadi jangan sungkan...Kita sama-


sama manusia, manusia tak luput dari kesalahan, yang terpenting kedepannya, jangan jatuh kelobang yang sama. " kata Rendra lagi.


Bersambung...


Akan banyak problema dalam hidup kita, tapi tetap ikhlas menjalani hidup, jangan pernah lari dari masalah, karna masalah bukan untuk dihindari, tapi perlu diselesaikan.


Tetap setia dengan cerita kita ya say...jangan lupa selalu dukung terus dengan cara like,fote, komen and tambahkan ke karya faforitnya.


Salam kangen selalu dari penulis...💗💗💗 for You semua.