Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 49



" Ada apa kakek tampan? " tanya Rendra setelah berhenti dari tawanya. Yang membuat lawan bicaranya mengerutkan dahinya.


" Besar juga nyalimu ya cucu Kim? Katanya, kemudian memberi kode pada anak buahnya Untuk menangkap Rendra dan Hans.


" Tak usah pakai pemaksaan kakek...


Katakan saja apa maumu. " kata Rendra saat anak buah tuan Carlos mengikatnya. Hati Hans panas, melihat sang big Bos, diam dan mematuhi anak buah lelaki tua bertongkat itu.


Hans tak hentinya berdoa dihatinya, agar pasukan khusus tuan Kims segera datang memberi pertolongan.


" Kok lama? Apa kakek kurang sehat? tanya batinnya, hatinya mulai khawatir.


Lalu pasrah mengikuti langkah orang- orang yang menyeretnya kemobil Silver itu.


" Kalau tidak mau mati! duduk dan diam disitu. " kata Lelaki tua itu. Rendra dan Hans heran, mengapa tidak terlalu jauh mereka dibawa. Baru beberapa menit, sudah diturunkan. Saat penutup matanya dibuka. Rendra menemukan mereka sudah didalam ruangan serba putih.


Rendra mengerjapkan matanya untuk menetralisir pencahayaan yang masuk kemata coklat kebiruan miliknya.


Mereka lalu diikat paksa diatas tempat tidur klinik


itu.


" Apa kau seorang profesor yang mau melakukan percobaan genetika padaku kakek? " tanya Rendra Mulai membayangkan Film- Film America yang menceritakan percobaan genetika yang mengerikan. Tiba- tiba ia teringat istri dan anak- anaknya.


Mendengar pertanyaan Rendra, membuat Hans juga berfikiran yang sama.


" Jangan sampai Tuhan! nasip hambamu yang tampan ini, harus berakhir jadi bahan percobaan. " kata batinnya, walau dalam ketakutan, jiwa


narsisnya masih bergelora.


Sementara di Istana tuan Kims kacau balau. Tim medis sibuk memberikan pertolongan pada tuan Kims . Sedangkan Citra baru saja melahirkan babynya dengan selamat. Tapi ini kelahiran yang sangat berbeda bagi Citra. Ia merasakan kecemasan luar biasa paska melahirkan putri keduanya, saat mengetahui kakek sedang kritis, sedang suami dan anak lelakinya tak ada dirumah.


" Katakan pak Joko! Ada apa dengan suami , Hans dan putraku Boy? " Tanyanya dengan wajah memelas. Dengan berurai airmata ia menatap Joko, yang nampak enggan berkata jujur. Mengingat keadaan Citra yang masih dalam kondisi labil.


" Tenang sajalah non Citra, dan jangan lupa berdoa,


tak usah banyak fikiran. Ingat, ada tiga anak yang butuh momynya, jangan sampai nonapun sakit. " kata dokter menenangkan.


" Iya nak...setiap masalah, kita atasi dengan tenang, jangan panik ya sayang..." kata Dokter Rinto mencoba menenangkan putrinya.


" Bagaimana anakmu ini bisa tenang ayah, sedangkan Suamiku dan putraku jelas dalam masalah. " katanya.


" Iya sayang...tapi tetap harus tenang ya. Apa ada no pasukan khusus tuan Kims diHPmu? tanya Rinto kemudian.


" Ada apa ayah, kalau ngak salah Minggu kemarin kakek memberikannya padaku. Katanya untuk jaga- jaga.


" Syukurlah..Ayo hubungi, kata Rinto seraya menyerahkan HP Citra pada putrinya itu.


Citra memeriksa, lalu mulai menyentuh kontak yang diberikan sang kakek.


" Tuan besar sakit, Tolong temukan suami, sekretaris dan putraku Boy. " kata Citra begitu telfon terhubung.


" Baik Nona! " Kata suara disebrang sana. Joko segera meminta telfon Citra, kemudian mengirim pesan keterangan lokasi, dimana Hans terakhir menghubungi tuan Kims.


Citra beruraian aimata, saat memberikan ASI pertamanya pada sikecil.


Diusapnya kepala Chalista yang duduk bingung dekat sang Momy.


Gadis kecil itu memijiti tangan Momynya,belum mengerti apa yang akan ia lakukan untuk menenangkan Momynya yang tampaknya sedang


banyak masalah itu. Mau bertanya, ia khawatir Momy makin sedih. Ia hanya berdoa dalam hati semoga Abang dan Dady segera kembali.


" Ya Allah...Kembalikan Abang dan Dady, tolong sehatkan uo juga..." doanya dalam hati.


" Sudah menangisnya sayang...Coba lihat putrimu bingung begitu. Tak baik untuk perkembangannya.


Tenanglah..." nasehat Rinto lagi. Citra segera mengusap airmatanya.


Di klinik pribadinya. Carlos memerintahkan ahli forensip untuk mengambil darah Rendra untuk tes DNA.


" Beri makan kedua orang ini dengan baik, jangan biarkan lepas! Segera laporkan hasilnya DNA Rendra Pratama. Kalau tak cocok. Segera bunuh dan amankan mayat kedua lelaki ini. " kata Tuan Carlos pada tim medis dan anak buah, kemudian beranjak dari tempat itu.


Adelia tak sabar untuk segera menemui sahabatnya. Sudah hampir dua tahun ia tak bertemu dengan nyonya bos yang selalu rutin menelfonnya sekali seminggu itu.


Begitu misscall ke seratusnya ia lakukan.


Sahabat baiknya itu belum juga menelfonnya.


membayangkan perut gendut Citra.


Hubungan mereka tak pernah terputus. Ibu centil itu akan miscal- miscal, setiap kali Citra terlambat menghubunginya. Bagai orang yang tak pernah punya pulsa, Adel selalu pandainya CUMI ( Cuma Misscall)


" Kapan sih kamu bisanya jangan cuma miscal, sih Del. Sesekali apa salahnya gunakan paketmu. " kata Citra hampir setiap kali. Tapi yang namanya Adel, emang tak mampan dikata- katain. Paling ia dengan cueknya bilang.


" Rugi kale, orang cantik duluan nelfon. Seharusnya nyonya bos bersyukur, dapat Misscall dari calon mama mertua Chalista. " katanya dengan gaya lebay setengah pingsan, ala Zaman dulu juga.


" Pa...pokoknya kita harus terbang ke Jakarta pagi ini juga, cepat pesan tiket Online. Aku kangen betul dengan Momynya Boy. " kata Adelia Rahma Wati pada Arif suaminya.


" Aduh...bakal sudah lagi aku. " kata batin Arif memikirkan kalau sudah sampai ditempat Bosnya.


Kalau sudah ketemu Citra kebiasaan jelek Adel, lupa anak sama suami akan kambuh.


Tapi kalau ngak mau, bisa berabe, ntar kayak taun lalu, Adel sampai setengah bulan tak mau ngomong dengan Arif.


Arif mulai membuka Aflikasi, untuk pemesanan tiket, sembari berdoa, semoga sesampai di Jakarta,


Amnesia musiman istrinya tak kambuh lagi.


Tepat pukul dua siang, mereka sampai dirumah besar itu. Adel menatap sekeliling, nampak sepi diluar.


" Tak biasanya sepi gini. " batinnya bertanya sembari menatap Papa Amer yang lagi menggendong sang putra.


" Kok sepi ya? " Arif akhirnya buka suara. Saat mereka bertemu dengan seorang pengawal yang baru datang dari dalam yang langsung menundukkan tubuhnya, karna sudah kenal dengan Adel.


" Kemana semua pengawal dan pelayan? kok pada Sepi? " tanya Adel tak sabar.


" Anu...non...Gawat! Kacau! pokoknya nona Adel masuk saja, semua sibuk. Bos besar sakit karna tuan muda diculik dan tuan kecil ada didalam mobil


tuan muda, sekarang keberadaannya belum jelas.


" kata pengawal gugup.


Tak urung membuat Adelia langsung menjatuhkan tasnya, lalu berlari kencang menuju gerbang utama rumah itu.


Bagai dikejar setan, ia masuk kekamar Citra dengan nafas ngos- ngosan. Mukanya memucat, saat menyaksikan Sahabatnya itu sedang termenung, sembari menatap anak dan bayinya.


Adel dengan sigap menggendong Chalista.


" Sayang...Adiknya sudah lahir ya? " katanya sembari mencerna keterangan pengawal tadi.


Adel menurunkan Calista, lalu Adel kemudian memeluk Citra.


" Ini adalah cobaan sayang...Jangan berfikir buruk


untuk hari esok. Mari kita berdoa, semoga suami dan putramu kembali dengan selamat. " kata Adelia sembari mengusap punggung sahabatnya itu.


" Untunglah nona datang, sedari tadi non Citra tak hentinya menangis. " kata Bu Bidan yang baru keluar dari kamar mandi.


" Bagaimana aku hidup tanpa mereka Del? Bahkan membayangkannya saja aku tak sanggup. " Curhat Citra pada sahabatnya itu.


" Jangan membayangkan yang buruk sayang...fikirkan yang baik- baik saja, semoga semuanya menjadi baik. " kata Adel kemudian.


Sekeluar dari klinik, tuan Carlos tertegun, saat tongkatnya dipegang oleh seorang bocah lelaki


berusia enam tahun.


" Tolong kembalikan Dadyku Grand Father...Kasihan Momyku mau melahirkan adikku. " kata Bocah itu dengan tatapan memohon. Lelaki tua itu terpana dengan tatapan bocah itu.


" Siapa anak kecil ini? dari mana ia datang? " tanya batin Carlos.


" Hey...Boy...Who is your name? " tanyanya tiba- tiba penasaran dengan bocah tampan itu.


" My name Is Boy. " kata Boy yang membuat Carlos mengerutkan dahinya.


" My name Is Bhalendra Boy Cen. " Ulang Boy, kali ini dengan menyebutkan nama panjangnya.


Bersambung...


Up lagi nih say .. Mat membaca...Dan next buat hari


berikutnya. Ikuti terus ya...jangan lupa like, fote, komen dan Faforitkan karya kita ini bagi yang baru mampir.


Salam kangen dari penulis. Semoga semua sehat dan semangat terus. Amiin... Wassalam...💓💓💓