Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 6



Citra tak bisa membendung airmatanya, ia benar- benar merasa sakit mendapatkan keadaannya yang sekarang.


"Maafkan aku kakek... Parcuma saja aku belajar bela diri padamu selama bertahun- tahun, kalau tahu akhirnya diriku akan dilecehkan juga.


Hu...hu...Hu.." tangisnya mulai pecah. Angin subuh yang menusuk tulang menjadi saksi kehancuran hatinya.


Citra berjalan dengan tangis yang semakin kuat, ia sudah tak peduli lagi dengan istilah macho yang selama ini ia sandang. Ditumpahkannya semua rasa dengan menangis histeris. Seakan alam mengerti rasa sedih yang dirasakan gadis itu, dengan perlahan hujan mulai mengucur bumi, disusul kilat dan petir yang sahut- sahutan.


Seiring dengan semakin kerasnya tangis Citra hujan kian deras mengucur bumi, mencoba membasuh tubuh Citra yang bernoda. Citra seakan tak peduli dengan hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya, ia bahkan tak berfikir untuk mencari tempat berteduh. Ditatapnya langit yang kelam dan kilat yang berkilau- kilau dilangit.


" Ya Tuhan...Ya Robby...Apa salahku hingga aku tak bisa menjaga semua milikku untuk bersamaku. Bahkan diriku sendiripun tak bisa kumiliki sendiri.


" Ayahku...ibuku...nenekku...kakekku...Semua telah


pergi dariku dengan menipuku . Aku masih bisa menerima dan berharap bisa memiliki diriku sendiri. Bahkan diriku sendiripun pergi dengan tipuan! ... Ternyata hidupku ini memang tak ada artinya. Hu....hu....tangis Citra kian pilu, kemudian ia terduduk di trotoar, meninju trotoar dengan sekuat tenaga, berkali- kali, sampai darah mengalir dari buku jarinya, punggung tangannya lecet, tapi ia


tak peduli, sampai sepasang tangan kasar menarik tangannya, menarik tangannya dan meletakkannya didada pria itu.


" Jangan pukul lagi trotoar itu Cit, nanti tangan indahmu hancur. Pukul saja ini, karna inilah yang salah yang membuatmu seperti ini. " kata Rafdo yang akhirnya berhasil menemukan Citra, setelah setengah malam ia mencarinya.


" Citra tak tanggung- tanggung marahnya saat matanya beradu dengan mata Rafdo. Tubuhnya yang menggigil kedinginan mendadak memanas mendapatkan pria didepannya.


" Penghianat ! tega sekali kau mencampur obat tidur dan obat perangsang dimakananku, dan menjualku pada pria itu! " kata Citra menarik Rafdo berdiri, mencengkram Krah baju Rafdo lalu kemudian memberi tamparan, cakaran, berganti dengan tinju yang tak jelas hitungannya. Sedang Rafdo hanya pasrah menerima segala ungkapan kekecewaan Citra.


" Bu...bu...nuh saja aku Cit...tapi sebelum a...ku


mati ku...mohon dengarkan aku..." satu kali saja. " kata Rafdo dengan pandangan pasrah sambil berlutut.


Citra menghentikan pukulannya. Menatap Rafdo dengan tatapan penuh kekecewaan.


" Kau musuh dalam selimut! menggunting dalam lipatan, apa lagi yang bisa kudengar dan kupercaya darimu Hey! " hardik Citra mencengkram Krah baju Rafdo yang sudah kuyup sama seperti dirinya.


" Maafkan aku Cit..." katanya dengan tatapan penuh sesal.


" Apa kau kira maafku saja bisa mengembalikan diriku yang sudah hancur! Hu....hu....hi...Citra terduduk dengan hati yang kian sakit. Airmatanya kembali mengucur.


Rafdo memberanikan diri mengusap muka Citra, kemudian ia turut menangis bersama Citra.


" Mengapa kau menangis? bukankah seharusnya kau tertawa ha...ha....ha...karna misimu untuk menghancurkanku berhasil. " Berapa pria itu memberimu uang untuk harga kesucianku. Nampaknya ia pria kaya yang royal, apa ia sudah mentransfer uang satu milyar untuk tarifku malam ini? " tanya Citra menggocang tubuh Rafdo dengan geram.


" Aku tak tak tahu pria yang mana yang Citra maksud. Dan aku tak pernah menerima uang dari siapapun seperti yang kau tuduhkan Cit. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dan izinkan aku menjelaskan peristiwa semalam sebelum Citra menghilang dari kamar. Setelah itu kau boleh membunuhku dan membuangku kesungai itu Cit. " kata Rafdo menunjuk jembatan yang berjarak sekitar 50 meter dari mereka.


" Benarkah kau tidak menjualku pada pria itu? tanya Citra lagi.


" Maksudmu pria yang mana? tanya Rafdo tak mengerti.


" Pria yang pernah berantam dengan kita, dihari pertama kita diIbu kota. " jawab Citra lirih.


" Ja....ja...jadi dia yang sudah menculikmu dariku? " tanya Rafdo kesal bercampur sesal.


" Iya...dia yang sudah merenggut diriku, menodaiku, sekarang hidupku tak ada lagi gunanya. Mau jadi apa diriku setelah ini? Airmata Citra kembali meluncur bebas dipipi mulusnya.


" Dan kau yang memasukkan obat itu dimakananku, sehingga aku tak sadarkan diri dan bahkan kau juga mencampur obat perangsang, hingga saat tersadar dari tidurku, aku menyerah pada pria itu.


" Kau jahat do...kau penghianat! " Citra kembali tersulut emosi dan kembali memukuli Rafdo. Tangannya terhenti ketika azan subuh berkumandang.


" Apa salahku ya Allah...hingga orang yang kuanggap sahabat menghianatiku. Tangis Citra meledak lagi.


" Aku memang mencampur obat dimakananmu, itu sudah lama aku siapkan untuk mendapatkan Citra menjadi milikku. Tapi dalam mimpipun aku tak pernah berniat untuk memberikanmu pada pria lain, apalagi menjualmu Citra.


" Aku...aku mencintaimu...Dan itu sudah sejak lama aku pendam perasaan itu. Saat kau memutuskan tidak akan menerima cinta dalam hidupmu, aku kecewa Cit. Makanya aku merencanakan untuk memilikimu


dengan cara menidurimu terlebih dahulu. Aku tahu


kau akan marah, tapi aku berharap aku akan bisa meredakan kemarahan mu dan segera menikahimu.


" Sekali lagi maafkan aku Citra...Aku hanya ingin memilikimu, tak pernah terbayang kalau pria itu akan menculikmu dariku dalam keadaan tak sadarkan diri. Aku memang bodoh dan ceroboh.


Citra terdiam mendengar penjelasan Rafdo, apapun yang dikatakan Rafdo baginya sama saja, toh ia memang akan ternoda malam ini, tidak karna


Pria itu, Rafdo ternyata juga berniat menghancurkan mahkota yang selama ini ia ingkari keberadaannya.


" Betapa mirisnya nasipku. " jerit batinnya.


" Ayo kita cari tempat berteduh, aku sudah membawakan tas dan dokumenmu, kita berteduh dan ganti baju. Mari kita Sholat subuh Citra, setelah Sholat kau boleh memutuskan mau melakukan apa padaku. Membunuhku, meninggalkanku, itu terserah padamu." kata Rafdo dengan tatapan memohon.


Walau hatinya tak cukup baik, tapi ia mengikuti Rafdo, berjalan menuju tempat dimana Rafdo menyimpan tasnya. Dan mereka menuju ke Mesjid yang tadi mengumandangkan suara azan.


Setelah Citra mengulangi mandinya dan berwuduk, Citrapun menunaikan Sholat subuh dimesjid itu.


Tak ada berapa orang yang sholat diMesjid itu, hanya ada Garim dan mereka makmumnya. Maklum hujan masih deras diluar sana, sedang cuaca baik saja orang enggan pergi beribadah dizaman sekarang, apalagi harus melintasi hujan sederas ini.


Sementara...


Dikamar hotel, Rendra terbangun jam 05: 00 Pagi. Kepalanya masih terasa berdenyut, akibat terlalu banyak minum semalam, ditambah pergulatan semalam yang berputar- putar dikepalanya, sampai terbawa kemimpinya.


Rendra menggeliat beberapa kali, kemudian ia terkejut saat tangannya dikembangkan kekiri dan kekanan tempat tidurnya tak ada hambatan.


" Astaga...Dimana Citra...Semalam ia sampai pingsan dan tubuhnya panas. " tanya hati Rendra saat tersadar tak ada gadisnya disisinya.


" Mana gadisku? tanya hatinya, ia segera duduk dan mencoba mencari Citra diseluruh ruangan.


Dikamar mandi, bahkan dikolong tempat tidur. Saat


tersadar kunci pintu sudah terbuka dan kunci ada disana Rendra panik.


Diraihnya Smartphone miliknya, dihubunginya no Mex.


"Citra menghilang dari kamarku! Cari ia dimanapun


berada!" teriaknya cemas.


" Tapi...Diluar hujan deras bos. Kata Hans ikut nimbrung bicara karna telfon Mex di loapspeker.


" Sejak kapan kalian takut sama Hujan, apa masih kurang jumlah mobil yang kuberikan padamu Hans? " tanya Rendra berteriak.


" Sejak kapan bos senang berteriak? " tanya mereka serentak saat telfon sudah terputus.


" Sejak mengenal dan jatuh Cinta pada gadis tomboy itu. " kata Jeki teman Mex.


" Han manggut- manggut. Merekapun bersiap-siap menuruti perintah.


Berlanjut....Jangan lupa dukung karya ini ya Readerku tersayang. Thank you before.