
" Nak Raisa dipanggil tuan besar kebawah! Ada tamu istimewa katanya. " Ujar bi Ipah didepan pintu kamar Raisa.
" Astagfirullah...Bi...main sembur aja tanpa ada Aba- aba! " Protes Raisa yang terkejut, karna bi Ipah mengejutkannya yang sedang melipat sajadahnya, sehabis magrib.
" Sory nak manis...Bibi ampun deh...Sebenarnya bibi pingin salam dulu, tapi ngak jadi karna melihat nak Ica Alon kali lipat- lipatnya, entah lagi ngayal ntah Zikir, jadi ambigu dech! Ya bibi kejutin aja. " Ujar Bi Ipah cengengesan.
Raisa tersenyum balik menatap bi Ipah yang menunggu dipintu, setelah berhasil menetralisir hatinya.
" Iya ya...bi Ipah benar, aku barusan sepertinya lagi unfokus. Pantas terkejut.
Astagfirullah..." batin Raisa.
" Baik bi....Ica bersiap sebentar. " Ucapnya lembut. Bi Ipah mengacungkan jempolnya, menunduk pamit, lalu berbalik
dan turun.
Raisa mengenakan gamis coklat susu, kerudung dan cadar senada, sedikit memeriksa penampilan didepan cermin.
Setelah merasa Oke, iapun melangkah anggun menuruni tangga, dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya.
Boy dan Chalista penyuka warna cerah dan nyentrik, menggambarkan kepribadian mereka yang penuh semangat dan blak- blakan.
Sedangkan Raisa gadis Rendra yang anggun, yang lebih suka menyembunyikan kelebihannya, ia lebih suka berdamai dari berdebat, Lebih senang berunding daripada bertanding.
Tapi kalau untuk calon imam, ia lebih suka pria petanding yang tangguh.
" Begitu sampai diruang tamu, Raisa menyilangkan tangannya untuk menyalami papi mertua, tanpa menatap anak bujangnya, kemudian Raisa duduk menggelendot disisi mommy Citra.
Rendra tersenyum menatap putri, mantu, serta calon besan dengan wajah sumringah.
"Sepertinya canda masa muda sebentar lagi akan menjadi fakta ya Ren.. Begitu aku menjadikan putrimu menantu, maka harus kau lepaskan sifat posesivemu jadi milikku, aku akan mengikuti putri dan putra kemanapun mereka pergi, karna hanya mereka hidupku kedepannya. " Ujar Rehan berani, melihat senyum sahabatnya.
" Jadi begitu saja caramu melamar putriku, untuk putramu. " tanya Canda Rendra.
" Trus gimana lagi? Putraku sudah berjuang, aku hanya menikmati hasilnya saja. Bukankah aku sudah terlalu tua untuk banyak bicara? Hidupku juga merana berapa tahun ini, dengan memberiku cucu secepatnya akan membantuku bangkit dari kesendirian ini. " Ucap Rehan dengan wajah dibuat memelas, hingga Rendra melempar sahabatnya itu dengan roti.
Sedang Rehan dengan sigap menangkap dengan mulutnya.
Up...Ia menangkap dan melahap rotinya tanpa segan, bak seekor cicak menangkap nyamuk.
Ger...semua tertawa, menatap akrobat gratis itu.
Raisa dan Alfiano yang tadinya malu jadi ikut tertawa.
" Apa yang sudah kau buat untuk merebut hati putriku anak muda, bukankah kau bilang akan menunggu putri kecilku, tapi dengan curangnya kau malah diam- diam menemui putriku yang lain. " Ujar Rendra.
" Alfiano tersenyum, Bukankah mengambil hati seorang kakak dengan cara menyayangi adiknya om. " Ujar mantap Alfiano.
" Aku jatuh hati pada ketiga putri Om, tapi demi yang ini aku berani menyelam lautan api. " ujar lebai Alfiano yang mendapat kerlingan peringatan dari Raisa.
" Apa yang kau minta sebagai syarat pada anak muda ini Raisa? " tanya Rendra menatap putri berganti pada calon menantunya.
Raisa tersenyum tipis, menatap Daddy, Abang dan Afiano bergantian. "Cinta itu tanpa syarat Daddy, ia mendatangi hati kita tanpa memandang tempat, dan waktu. Tapi untuk yang akan jadi imamku aku hanya memintanya untuk tidak menggangguku, begitu ia datang padaku, tapi pria ini, tak menyerah seperti yang satunya.
Daripada ia menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu, kuminta ia merenungkan Aqidahya, ditahun kedua ia masih kembali padaku, kuminta ia memperbaiki ibadahnya. Kupikir ia kapok dan takkan kembali, karna kukhususkan guru besar untuk mengujinya perkembangannya disetiap kedatangannya.
Ditahun berikutnya ia masih datang padaku, kuminta ia menghafalkan satu JuZ untuknya. Kufikir ia takkan datang lagi. " Jelas Raisa, Kemudian ia terdiam.
" Trus bagaimana? " tanya Rehan yang penasaran. Sedang Rendra dan Boy hanya senyum- senyum saja.
" Dia datang penuh percaya diri dengan hafalannya. Senyum dibalik cadar Raisa makin lebar, membuat Rehan dan Citra makin penasaran.
" Trus? " tanya Rehan tak sabaran, karna selama ini ia tak pernah tahu kalau putranya sampai menghafal, karna Alfiano tidak suka menghafal, ia hanya suka membaca dan menuntaskan bacaannya dengan sigap.
" Dia hafal satu Juz. Tapi...
" Tapi apa? " Timpal Citra yang tak sabaran.
" Ia datang pada Guruku dengan JuZ 30 ditambah Ummul Qu' an, Surat Abaqarah , Annisa dan Yasin. " Ujar Raisa yang membuat semua melongo.
Alfiano langsung dapat pelukan bergantian dari Empat pria istimewa.
" Ya Tuhan...Daddy saja yang sudah tua belum bisa sampai segitu. " Ujar kagum Rendra yang diikuti yang lainnya.
Sedang Citra memeluk Raisa. " Selamat ya sayang..." bisiknya senang, karna Raisa menemukan imam impiannya dalam masa penyelesaian Studynya, Tampa perlu sibuk berpacaran seperti gadis lainnya.
Untuk ukuran orang umum yang berasal dari keluarga yang tidak memiliki latar agama yang kuat, Alfiano termasuk pria yang sangat keras dalam belajar agama.
" Tidak hanya sampai disitu. " Ucap tenang Raisa.
" Trus apa lagi? " sekarang kakek Rinto yang menimpali, karna dari tadi ia hanya menahan nafas.
" Setelah itu ia membuatkan rumah mini Impian kami, Sekolah Dasar dan Menengah Pertama Islam untuk kami dikota kelahiran mommy. Ia membuka cabang perusahaannya disana, karna aku ingin hidup sederhana jauh dari kota besar ini. " ujar Raisa yang membuat semua melongo kecuali Alfiano, kakek Rinto dan Citra.
Melihat Senyum indah menghiasi bibir manis istrinya, Rendra kemudian berdiri dan menjabat tangan Alfiano.
" Baiklah anak muda, kau memenangkan hati putri, istri dan sekaligus ayah mertuaku, aku kalah dan pasrah.
Malam ini aku menerimamu sebagai calon menantu." Ujar Rendra sembari memeluk Alfiano sekali lagi.
Setelah Rendra melepaskan pelukannya Alfian mengeluarkan kotak cincin dan berlutut dihadapan Raisa .
" Bersediakah adik Raisa menjadi pasangan hidupku untuk selamanya? Kalau bersedia, menikahlah denganku. " Ucap Lamaran Alfiano.
Raisa menatap orang terkasihnya satu persatu, setelah semua mengangguk, Raisapun mengulurkan tangannya untuk menerima cincin itu. " Bang...kita pakai besok cincin ini setelah halal ya, " Ucap lembut Raisa.
" Untuk menambah berkah acara lamaran ini, kita tutup dengan makan malam. " Ujar Citra sembari berjalan yang diikuti oleh semua.
Diruang makan Sen dan keempat koki tengah flating hidangan makan malam.
Mendengar derap banyak langkah beraturan, mereka bergegas.
******
Boy, Bella dan Hafis sibuk mengurus persiapan pernikahan Raisa.
Mommy Anjani bermain dengan Ketiga balitanya.
Sedang Mommy Citra mendatangkan salon wanita untuk perawatan putrinya.
Hingga tanpa terasa haripun berlaku dengan cepat.
Malam itu Alfiano datang dengan rombongan.
Setelah para penghulu dan pegawai KUA duduk bersimpuh diaula nikah. Alfiano dengan gagah duduk berhadapan dengan H. Rendra Pratama sang wali nikah.
Raisa turun diantar Chalista dan Sonia.
Semua mata terpana menatap bidadari dibalik cadar itu, tidak terkecuali dengan calon pasangan hidupnya.
Begitu semua sudah bersimpuh.
Pak Penghulu dan pegawai KUA bergantian menyampaikan pengantar.
Setelah kedua calon pengantin menyatakan persetujuan. Aqadpun dimulai dengan wali dan pengantin pria berjabat tangan.
" Ananda Alfiano Rehan!
"Ya Daddy...
" Saya nikah dan kawinkan Putri ku Raisa putri Rendra Hapsar bagi dirimu, maharnya Seperangkat pakaian sholat dibayar tunai...Saya terima nikah dan kawinnya Raisa putri Rendra Hapsar bagi diriku, maharnya seperangkat pakaian sholat dibayar tunai".
" Syah!!! Seru para saksi.
Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan).
Doa bersama itu diteruskan dengan Zikir bersama.
Sebelum Acara makan, Raisa membuka kotak sepasang cincin berlian itu dihadapan semua orang. Alfiano memasangkan dijari manis istrinya. Kemudian Raisa memakaikan pasangan cincin itu dijari manis Alfiano.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat dikening bidadari bercadar itu.
Semua orang bertepuk tangan dan tersenyum bahagia.
Hanya seorang pria tampan yang termenung disudut ruangan.
" Jangan menangis ya bang...Bukankah kau sendiri yang tidak mampu memenuhi syaratnya? Dari pada belajar, bagimu lebih penting dengan bunga- bunga yang mengintarimu. " Ujar Yuli pada abangnya.
Pria itu tersenyum pahit," Iya! mana aku bisa berkonsentrasi Yuli? Sedang dia tak pernah memberi motivasi. Aku salut dengan pria itu. " Ujar Jabri mengaku kalah.
" Lagian mana bisa Pengajar biasa sepertiku, membangun sekolah semegah
yang dibuat pria itu. " ucapnya lagi.
" Emang Abang sudah memeriksanya?" tanya Yuli berbisik.
" Ya...Sekalian jalan- jalan dengan Anggina. " Ujar Jabri Tampa dosa.
" ISS...Itu sebabnya kau tak pantas! " Ejek Yuli.
Kemudian telfon Jabri berdering. Yuli menarik abangnya keluar dari Aula.
" Tuh kan bunga lagi! Nikahi tu bunga satu diantaranya, sebelum semua pada layu. " Ujar kesal Yuli melihat abangnya sudah sibuk ditelfon.
Pengumuman!!!
Hallo Say...Sory ya...Kalau pertanyaannya
Ambigu gitu..Tapi Penulis senang atas komentarnya. Salah dan benar bagi penulis ini suatu cara untuk bantu penulis tetapkan jodoh buat Raisa.
Untuk tujuh Komen ini penulis jadikan pemenang dihati penulis, Jadi bagi yang mau hadiah kecil dari penulis, Cat WA , Tolong dalam 12 jam dari sekarang disave,( ) karna ni no akan dihapus, takut nyebar juga. He.. He. Untuk yang tak mau, tak masalah, boleh kirim catt untuk berteman saja, ( Khusus Perempuan )
Nurhayati
Sama Lia.
Dewi Ndel
Atin Maulana
Yuli
Olivia Combat
Asahel Rahel.
Ditunggu pesannya ya say..