
Istana Kediaman Rendra dan keluarga sekarang Ramai, semua yang mendapat kabar segera menuju lokasi. Walau Rendra mengirim undangan secara mendadak, ternyata itu tak mengurangi antusias orang untuk memenuhi undangan pernikahan putra tunggal raja bisnis itu. Bukan cuma Rendra, Tapi Ada
3 pengusaha dan satu penguasa yang anaknya turut dalam pernikahan ini.
Ini merupakan pesta paling langka tahun ini. Rendra meresmikan pernikahan 5 pasang pengantin dipesta itu. Setelah dirundingkan Fia telfon, semua sepakat menyatukan pesta disini. Untuk yang masih mau menggelar pesta dikediaman masing- masing setelah ini, itu terserah masing- masing keluarga. Penyatuan pesta ini menghadirkan banyak kejutan.
Semua pihak yang terkait dengan kelima pasang pengantin, berkumpul dirumah besar ini.
Citra terharu, ketika ia bertemu dengan seseorang dimasa lalu. Sahabat yang dulu ia tinggalkan dikota B. Mendarat dirumahnya dipagi hari pesta. Berbagai rasa menyatu dalam pertemuan tak terduga itu.
" Kau kah itu Do? " tanya Citra menatap Rafdo tak percaya.
Pria yang dipanggil Rafdo Refleks mengembangkan tangannya. Citra ingin menghambur dalam dekapan tangan kokoh dari Rafdo. Dua langkah sebelum
semua terjadi. Langkah Citra terhenti,
tatkala ia tersadar, ada sepasang mata tajam yang mengawasi mereka dengan
Aura dingin dan mencekam.
" Iya...i.. ini Aku citra...Aku datang bersama istriku Alia. Kenalkan ini Istriku Alia. " Ujar Rafdo cepat- cepat mengenalkan istrinya, karna melihat tatapan tajam dari tuan rumah, Tuan Rendra Pratama. Hati yang semula berbunga Menanti Citra seakan gugur berserakan dihantam tornado dadakan.
Senyum dan dengusan kecewa lolos dari bibirnya tanpa bisa ditutupi.
Citra menatap suaminya, tatkala melihat pandangan tertekan dari sahabatnya Rafdo. Maka dengan sangat mengerti
Citra mengulurkan tangannya pada Alia,
Wanita muda yang disebut istri oleh Rafdo. Ia melemparkan tubuhnya, untuk memeluk perempuan itu.
" Mana anggota? " Tanya Citra setelah melepas pelukannya.
" Anggota kami salah satu pengantin pria, Bayu putra kami. " Timpal Rafdo
ia lalu mengatur nafasnya kembali, mencoba tersenyum untuk mengurangi kecanggungan.
" Kau langsung menikah begitu aku pergi? " tanya Citra, tak mampu menutupi
kepenasarannya.
" Ngak... aku baru menikah lima tahun yang lalu Citra... Bayu asuhanku. Tapi aku sepertinya hanya akan memiliki Bayu saja. " Rafdo berkata seraya menunduk.
" Tidak masalah do...Anak darimanapun ia datangnya, semua anugrah Tuhan. Jangan pernah mengumpat, dan teruslah berusaha, mudah- mudahan masih ada kesempatan. Apalagi istrimu masih muda. " Citra berusaha menghibur sahabatnya.
" Entahlah...aku tak begitu berharap...mungkin ini karmaku." Gumamnya Rafdo sendu.
" Jangan bersedih dihari bahagia ini kampret! Apa kau masih ingin merasakan
lagi pukulanku? " Seru Citra yang membuat Rafdo kemudian tersenyum.
" Begitu dong...Senyum...Atau kupukul kau! " Citra lalu mengayunkan tangannya.
" Mana sanggup lagi tanganmu yang itu He...He...Sekarang tanganmu sudah menjadi seksi...ia tak seperti tangan pemukul lagi. " Ujar Rafdo terkikik melihat tangan Citra yang sudah tak seperti dulu lagi. Walau sekarang Citra sudah berhijab,dan memakai gamis longgar, tapi tetap kelihatan posturnya yang tambah Molek dan feminim.
Citra tersenyum, sengarahkan pandangannya pada Rendra. " Suamiku telah membuatku banyak melakukan perawatan kecantikan, ia bahkan tak memberi kesempatan padaku untuk memperbesar otot lagi, walau sekalipun juga. " Ujar Citra sembari menggelendot dipinggang suaminya. Rendra yang semula diam dengan tatapan dinginnya. Sekarang merangkul istrinya dengan posesifnya.
" Aku tak ingin ada orang yang berlindung
dibalik ketiak istriku lagi. Aku memutuskan istriku yang berlindung dalam dekapanku. " Sindirnya masih dengan tatapan tajam menghujam pria maskulin dan bergaya penguasa itu.
Citra mencubit pinggang suaminya.
" Jangan begitu pada temanku sayang...ia sekarang tamu kita, ia juga tidak seperti pria udik yang dulu menindihmu, karna mengagumi kotamu, ia sekarang penguasa . " bisik Citra dikuping suaminya.
" Penguasa pun dirumah ini kau perlakukan sebagai sahabatmu,
Ia juga masih memiliki perasaan yang sama padamu, Ia bahkan mengembangkan tangannya ingin memelukmu, kalau bukan segan pada istri lelaki itu, tentu bukan perempuan itu yang kau peluk." Rungut Rendra berbisik.
" Aku bukan memandang orang lain. Aku hanya semandangmu saja suami ku sayang...sekarang bukan saatnya nya menunjukkan sikap kecemburuanmu yang sangat jelek dan tak tahu tempat dan suasana itu. " Gumam Citra lirih.
" Tak Apa tuan Rendra.. Aku tak tersinggung sedikitpun dengan sikapmu.
Sikapmu menunjukkan betapa kau begitu menjaga dan menyayangi sahabatku.
Aku sangat berterima kasih dan memujimu. Tuan benar- benar hebat! Tuan bisa merubah sahabatku menjadi perempuan tercantik di dunia. Semula ia merasa ia adalah manusia tertampan didunia, kalau aku takkan bisa melakukan
sepertiga dari ini. " Ucap Rafdo tersenyum pahit. Rasa cintanya terhadap Citra, sebenarnya belumlah lekang hingga detik ini. Tidak salah Rendra menatapnya sinis.
" Alhamdulillah...Tuan Rafdo...Allah membantuku melakukan semua itu. " Rendra melunak mengingat bagaimana ia berjuang dan berdoa menaklukkan hati
" Baiklah...Ayo kita temui para pengantin baru. " Ajak Citra kemudian. Ia lalu menggamit Alia istri Rafdo untuk mengikutinya menemui Bayu dan Zahra. Hati perempuan yang tadi merasa terabaikan itu, kembali menghangat karna sentuhan lembut tangan Citra dan senyuman manisnya.
" Ia memang tak lagi seperti yang diceritakan suamiku. Perempuan cantik ini sekarang semakin anggun, sentuhan tangannya sangatlah lembut, senyumannya terlalu manis. Pandangannya terlalu lembut, aku hampir tak percaya dengan cerita suamiku, kalau
ia dulunya gadis tomboy yang tampan. Begitu pandai suaminya mengubahnya, hingga sekarang istrinya benar- benar seanggun bidadari. " Batin Alia Istri pejabat tinggi dikota B itu mengagumi Pasangan Citra dan Rendra.
" Bagaimana kau bisa mencapai ini do? " tanya Citra saat mereka menaiki tangga menuju lantai tiga.
Rafdo yang mengerti arah pertanyaan Citra langsung menjawab.
" Aku walaupun supirkan seorang sarjana Management seperti dirimu, tentu aku tidak tinggal diam dan pasrah jadi sopir saja. Sejak kepergian mu aku bekerja disektetariat propinsi. Begitu ada kegiatan pengkaderan aku ikut. Paman selalu mendukungku sampai akhir hayatnya. mulanya aku terpilih menjadi Eksekutif muda. Aku terus bergelut dibidang politik, hingga sampai ditahap ini." Rafdo berkisah sembari terus melangkah.
" Kau memang hebat dan pantas untuk memegang posisi itu, sedari dulu kau memang licin. " Ujar Citra.
" Walaupun aku licik menurutmu, tapi aku kecolongan juga dengan kekuasaan konglomerat tampan yang sekarang jadi penguasa hatimu." Rafdo terkenang masa lalu, tapi suasananya sudah mencair.
" Kalau teringat malam itu, rasanya aku ingin memasukkanmu kesungai yang banyak buayanya, seperti permintaanmu,
kala itu " Citra kemudian terkikik.
hatinya plong, tak ada Aura dendam dan kemarahan dari nada dan ekspresinya.
Rafdo lebih terkakak lagi.
" Iya ya...Andai aku mati, tentu kau akan menyesalinya. " Rafdo semakin percaya diri.
" Sepertinya kalau dua orang sekampung sudah bertemu, kita hanya jadi obat nyamuk saja nyonya. " Rendra kembali menyindir.
Alia membalas dengan senyuman.
" Biarkan mereka saling melepas rindu tuan,dari pada setelah jauh menjadi buah mimpi. "
Rendra kemudian menarik istrinya kesamping ya.
" Ternyata benar dugaanku, lelaki ini sampai hari ini masih menyukai istriku, dari penuturan istrinya, sepertinya ia tak pernah berhenti mengenang Citra. Semoga acara ini cepat berlalu. Aku tak mau pria ini terus dekat- dekat dengan istriku. " Batin Rendra kembali dilanda cemburu.
Citra yang melihat suaminya tampak gelisah, ia tersenyum sembari berkata."
Sebanyak apapun yang menyukai istrimu, tapi ia hanya mencintai suaminya saja. "
Rendra balas mengeratkan gandengannya. Citrapun meremas jemari
suaminya.
Tak terasa mereka sampai didepan pintu kamar pengantin yang lagi dirias. Suasana berubah menjadi riuh.
" Ayah sama ibu sudah datang!!!. " Seru Bayu girang. Zahra yang sedang dirias sedikit terkejut. Lalu berbisik pada perias. " Tu mertuaku datang Cing ( bibi)...Tolong dijeda dulu
riasannya, ngak enak ngak disambut. Ntar dikira mantu durhaka.
" Iya non...Berdiri sana...untung udah berbaju, bisik sijuru rias sembari menahan kikikannya.
Sebentar kemudian, suasana heboh kembali. Ketika seorang wanita sebaya Citra menyembul dari kamar 01.
" Rafdo.....Kau datang juga He!!! Rupanya
tuan Posesif itu punya nyali juga mengundangmu?. " tanya wanita itu setelah menghambur kepelukan Rafdo.
" Rafdo tersenyum, seraya menepuk- nepuk pundak Adelia.
" Iya, Del...Aku datang untuk peresmian pernikahan ini. Bayu sahabat Boy yang turut menikah malam itu adalah putraku.
Maka tuan Rendra dengan tak sengaja mengundangku. " jelas Rafdo
" Ternyata begitu banyak hikmah dari pesta ini. Semua kita bisa berkumpul disini, Cepatlah kita periksa para menantu kita. Semua pasangan tampak menggemaskan." Diseretnya Rafdo menuju kamar Boy, dengan mengabaikan segalanya.
Semua mata tertuju pada mereka.
" Kalau yang ini namanya Mak Lampir nona Alia...Ini sahabat istriku yang paling
konyol. Padanya tak usah cemburu, suaminya saja dilindesnya habis perasaannya, pria itu kehilangan rasa sejak lama, karna Istri amburadulnya itu. " ucap Rendra menatap Adelia dan Rafdo yang bergandeng enteng.
Adelia yang dikatai hanya menjulurkan lidahnya, melelet Rendra.
Sedang Alia istri Rafdo manggut- manggut.