
Boy baru saja selesai memakaikan gamis
untuk istrinya. Menyisirkan rambutnya dengan jemarinya. Menggulung rambut Bella membentuk sanggul.
Bella menatap kagum pada suaminya.
Selain tampan dan perkasa, Boy juga pandai menata rambutnya. Sanggul yang dibuat Boy terasa kencang dan nyaman.
" Bagaimana bisa melakukan ini? " tanya Bella masih dengan tatapan kekagumannya.
Boy tidak menjawab, ia hanya tersenyum, dan senyumannya sangat manis dimata Bella. Detik berikutnya ia merasakan hangat dikeningnya. Ternyata Boy telah mengecupnya. Bella tak dapat menahan
kebahagiaan yang meluap dikalbunya. Ia membenamkan kepalanya dibalik dada bidang suaminya.
" Mau disini sampai sore? " bisik Boy dikupingnya, membuat Bella tersipu malu.
" Maaf...Bella tersanjung dan terpesona,
siapa suruh jadi suami serba bisa? " tanya Bella menyamarkan pujiannya.
" Kalau suami paket lengkap, yang senang siapa? " Boy balik bertanya.
" Ya.. ya.. Aku bersyukur memilikimu yang...Benar- benar paket lengkap. Garang diranjang, lembut dikeseharian." Ucapnya sembari mengecup pipi Boy.
" Memuji atau menghina Nyonya Bhalendra?
" Tentu memujilah sayang...karna dua- duanya Bella suka." Ujar Bella mantap.
" Kalau begitu Syukurlah...Kalau sudah bersih nanti disemai lagi ladangnya ya !Biasanya berapa lama?" Tanya Boy dengan tatapan mesum.
Bella membalas dengan mencubit pinggangnya.
" Adau...Ini istri masih aja ditempilin hantu kepiting pantai.
" Ngak Ah..." Bella mulai merenggut.
" Dari pada cemberut yang bikin dahi mengerut, mending cemumut dek!( semangat ) , kan sudah selamat dari Bahaya. Bahkan orang yang berani membuat bahaya, sekarang dalam bahaya." Ucapnya sebelum memakaikan
kerudung Bella.
" Disini tak ada Cerminnya, biar mata indah sebiru langit ini saja yang jadi cerminmu ya yang.." Boy kembali berkata
masih dengan gaya narsis tingkat dewanya.
" Baiklah...Sesekali mematuhi suami siapa takut! He...He....Bella terkekeh. Tanpa terasa ketakutan yang tadi masih tersisa, hilang begitu saja.
" Mana boleh sesekali cantik...! Selamanya harus patuh, atau mau jadi istri durhaka?- tanya Boy
" Siapa juga yang mau durhaka, kalau suami berlaku baik, yang... Tapi kalau suami buruk dan jahat, istri manapun pasti berontak, sekarang Era Emansipasi. Mana boleh wanita selalu dibawah. " tantang Bella.
" Baiklah...Ayo kita pulang...Lain kali tenang saja, sesekali Bella yang diatas
juga tak apa, tapi tunggu sampai pembuahan dulu. Katanya sih kalau perempuan diatas sulit pembuahan." Bisik Boy dibalik kerudung yang sudah rapi itu.
Sadar makna mesum ucapan suami, Bella tersipu lagi. Ingin mencubit lagi,
tubuhnya sudah melayang. Boy sudah membopongnya ala Bridal stile.
Membawanya keluar, dan menuruni tangga dengan langkah besar, namun tetap dalam kewaspadaan.
Mami Anjani menangis haru, sembari memeriksa tubuh putrinya, meraba Bella
dengan tangannya yang masih gemetar. Tak Percaya putrinya kembali dengan wajah nampak segar seperti tak terjadi apa- apa. Bahkan penampilannya makin menarik.
Setelah menatap lama Bellanya. Anjani mengernyitkan dahinya.
" Sayang...kamu tak apa- apa kan? kemana bajumu yang tadi? Kenapa berganti? " tanyanya bertubi.
" Aku baik- baik saja mi...Tapi bajuku dirobek pria itu. Ya terpaksa ganti yang baru. " ucap Bella lirih. Kemudian ia teringat Frank yang sudah menyentuh bibirnya, hatinya terasa sakit, ia merasa kotor. Tak terasa airmatanya menitik.
" Sayang...Dia tidak melakukannya padamu kan?" tanya Anjani cemas melihat ekspresi putrinya.
" Tidak mi...Aku halangan, pria itu pingsan. Bahkan kalau aku tak halanganpun, ia takkan sempat melakukannya, suamiku datang tepat waktu.
" Lalu mengapa menangis begitu?tanya Anjani sembari mengusap airmata yang mengalir dipipi mulus putrinya.
" Aku ketakutan tadinya mi
...Frank orangnya kasar. I...ia juga sempat menyentuh bibirku, aku merasa jijik dan merasa diriku ternoda karna perbuatan pria itu mi..., gimana ini?" rengek Bella mencurahkan isi hatinya nya dipangkuan maminya.
" Sudahlah...Itu bukan salahmu Bella, jadi jangan merasa buruk apalagi berdosa karna itu. Masih syukur tak ada yang lebih. Lagian itu bukan ciuman pertamamu kan? Apa Boy sudah melakukannya? " tanya Anjani dengan berbisik.
" Mami!....Mesumnya sama saja kayak suamiku. " Rengek Bella sembari tersenyum malu.
Tak perlu jawaban lagi bagi Anjani, rona merah diwajah putrinya cukup menjadi jawabannya.
Setelah itu, suasana kembali normal. Dengan candaan dan perlakuan istimewa Boy, Bella akhirnya bisa melupakan hari yang buruk itu. Bahkan sekarang Bella sudah bekerja mendampingi suaminya. Menjadi sekretarisnya dikantor dan menjadi resepsionis diKlinik pribadinya, yang buka khusus hari Sabtu dan Minggu saja.
Sejak peristiwa itu, ia tak mau lagi jauh dari suaminya.
Sedang si Bocot dikembalikan Boy pada papinya. Papinya menjemput Frank
setelah tiga hari dikurung dipenjara bawah tanah milik pasukan khusus keluarga Kim T. Yang sekarang dibawah kuasa Boy.
" Maafkan Boy sedikit menghukum kesayangan Uncle. Ia sudah berani menyentuh istriku Uncle Har.
Andai tidak mengingat hubungan keluarga kita dalam bisnis dan betapa dekatnya Uncle dengan Daddy secara pribadi, aku sudah akan menyeretnya kepengadilan, atau menyiksanya sampai puas . " Ujar Boy pada Ayah Frank J.
" Maafkan ia Boy, ia masih terlalu bodoh dan suka bertindak gegabah. Tapi Uncle janji akan memberikan hukuman yang pantas baginya, agar ia jera untuk berbuat semaunya kedepannya." Mr.Har menatap Boy dengan wajah Pias menahan malu karna perbuatan putranya, Boy memang sudah menelfon nya tigahari sebelumnya, tapi minta waktu tiga hari untuk memberi sedikit pelajaran pada Frank putranya, Har pun tak keberaran.
Boy menepuk lembut pundak lelaki sebaya ayahnya itu.
lebih baik lagi kedepannya.Kalau bisa nikahkan dia dengan gadis yang pantas, gadis yang bisa mengatasinya dan mau menerimanya apa adanya. Kalau sudah menikah nanti, Cinta akan datang seiring waktu. Maaf...Boy hanya menyampaikan sedikit solusi, kalau Uncle tak paham juga tak masalah." Ucap Boy penuh pertimbangan.
" Baiklah Boy...Akan paman fikirkan. Terima kasih sudah menjaga rahasia kebobrokan anak Paman. " Har masih saja sungkan.
Boy mengangguk. Kemudian memeluk pria itu. Mr. Har lalu membawa Frank J dan anak buahnya, kembali ketanah airnya dengan jet pribadinya malam itu.
***
Boy memberikan seikat bunga Dendilion
untuk istrinya, usai makan malam disalah satu Cafe kepunyaannya.
Bella mengernyitkan dahinya. Kurang mengerti dengan makna yang tersirat dari bunga itu.
" Pengharapan, cinta, kebahagiaan dan kesetiaan! " Ucap Boy kemudian.
Bella menerimanya dan bersandar manja didada bidangnya. " Makasih...Walau Sayang bukan pria paling romantis didunia, tapi bagi Bella begini saja sudah lebih dari apapun...Bella menatap Boy lagi seakan tak pernah tak ada rasa bosan dihatinya, lalu dengan sedikit berlonjak, ia mengusap janggut yang baru tumbuh habis cukuran menjelang pesta mereka.
Bersandar didada bidang suaminya. Hatinya terasa damai, walau ada aliran listrik yang menyintak- nyintak disekujur tubuhnya, Ia tak takut lagi akan konsekwensi aliran itu.
" Kejutan- kejutan kecilmu membuat hati Bella terkesima. " Bella kembali berbisik lirih diujung leher suaminya. Hangat nafas Bella mengguncangkan jiwa kelelakian Boy.
" Benarkah? Kalau begitu Ayo buktikan. " Balas Boy berbisik balik tepat dikuping Bella. Kemudian mencuri bibirnya dengan kecupan kilat. Walau kilat, itu cukup membuat wajah dibalik cadar itu kembali merona, tubuhnya memanas, mata indahnya mengerjap penuh kabut.
" A...aku..." Bella tak dapat melanjutkan katanya.
" Baiklah...Aku rindu...Bukankah begitu yang mau diucapkan cantik! " Boy meneruskan dengan percaya diri.
Bella hanya bisa mengangguk dan pasrah ketika Boy membawanya kemobil mereka, Melarikan istrinya kesuatu tempat yang sudah disiapkannya.
" Kita jalan! perintahnya Boy pada sang sopir begitu mereka sudah didalam mobil .
_
_
_
Ruangan Presidential
Hotel R C.
Sebelum melakukan ritual yang paling dinantikan itu. Tak lupa sepasang anak manusia itu menyerahkan diri pada yang Maha pencipta, dengan Shalat dan bermunajat.
" Gimana sudah siap punya Baby? " bisik Boy setelah mereka berada ditempat tidur.
Bella tercekat karna gugup. Apalagi Boy sudah mengungkungnya. Merasakan debaran didada istri yang sudah tak karuan, tak kalah dengan debarannya sendiri. Boy pun mulai memagut bibir ranum berwarna merah muda Alami itu.
Melahap mulutnya dengan rakus, membelit lidahnya dengan hasrat yang menggebu.
Setelah nafas mereka tersegal- segal, barulah Boy turun keleher
jenjangnya, membuat banyak stempel kepemilikan disana.
Leguhan Bella memacu semangat Boy makin membara. Ia mulai membuka satu persatu kancing bagian atas Istri. Lalu menyingkap gaunnya keatas, menariknya lembut hingga lolos dari kepala Bella.
Begitu gundukan kenyal dibalik Bra berwarna merah menyala itu ada didepan matanya. Jakun Boy semakin naik turun. Bella tak mau kalah dengan Boy, iapun dengan sigap membuka kancing kemeja black dengan garis putih fertikal yang Boy kenakan.
Sejenak mereka saling menatap dalam kekaguman. Lalu Boy menempelkan bibirnya diantara dua bukit kembar yang puncaknya masih bersembunyi dibalik Bra merah menyala itu.
Ketika Bella ingin melepaskan pengaitnya. Boy menggeleng. " Jangan dibuka, biar dilorotkan saja. Warnanya sangat kontras dan membuat kulitmu tampak makin menarik sayang...." Bisik Boy sembari menggigit lembut kuping mungil Bella. Bella makin menggelinjang.
Ada gelenyar yang menjalar dalam tubuhnya yang berpusat dipangkal pahanya, itu membuatnya semakin berani membuka resleting celana dasar berwarna Black, berbahan satin yang Boy pakai.
Boy membantu Bella melucuti itu. Hingga Boy sekarang hanya memakai Underware saja.
Boy melorotkan Bra merah menyala itu, Lalu mulai menghisap Dua bukit kembar yang puncaknya sudah mulai nampak itu, secara bergantian. Bella semakin gelisah,
Sintakan - sintakan gelenyar semakin membuatnya tak tahan untuk tidak mendesah.
Oh...Sayang...Ini Grazy...Bella tak tahan...Ih....ringisnya sembari memasukkan kedua ibu jari kaki kiri dan kanan untuk melorotkan Underware Boy.
Setelah berhasil, iapun menggenggam tongkat Jelmaan yang sudah menggeliat dan mengencang itu. Menggesekkannya kelembah ajaib yang penutupnya sudah ia lorotkan sendiri.
Sayang....uh....Oh....Boy melenguh ketika
Tongkat Jelmaan kepunyaannya bergesekan dengan lembah itu. Boy kembali bermain di Puncak bukit kembar dengan gesit dan tak terhentikan. Tubuh mereka memanas karna hasrat yang membara. Mata mereka menyipit dan sayu...Tak tahan lagi, Boy mulai mengarahkan pusaka rahasianya pada lembah yang lembab itu, memejamkan matanya sambil berdoa. Masih sulit menempuh jalannya, tapi senjata Boy berhasil meleset dan membabat setiap rintangan. Membenam sempurna kedalam lembah indah itu.
Detik berikutnya mereka mulai memacu langkah, bergerak dan melenggok bersama, berjalan dari kecepatan rendah, kecepatan sedang, hingga kecepatan tinggi. Dan suara panjang keduanya beriringan meneriakkan keberhasilan mereka mencapai puncak impian. Keringat membanjiri tubuh kedua anak manusia itu menjadi saksi dan bukti pertarungan sengit itu.
" Thank you my lovely...( Terima kasih cantikku )" Bisik Boy sembari
menghujani istrinya dengan kecupan.
Bella menahan Boy diatasnya, dengan mengeratkan pelukannya dipinggang Boy.
" Katanya berat, kok tidak dilepas? " tanya Boy sembari tersenyum.
" Disitu saja dulu...Rinduku masih belum kelar. " Ucap Bella lirih. Boy pun kembali mengecup kening istrinya sembari tersenyum bahagia.
Bersambung
Ini reviev Lama banget..Ntah kelewat ngak tahu juga.
Jangan lupa pada di Like, Fote, komen sama hadiahin juga ya...
Salam thank you...