
Hhem....Sit...Jangan dibaca bagi yang kurang Usia. Apalagi yang jomblo.
Ngak suka skip aja jangan dilapor- lapor, kasihan penulis, udang puyeng semalaman. semoga lolos reviuw.
🌺🌺🌺
Tatkala sitampan yang nakal berhenti diladang pepayanya, Ia menatapnya takjub, Entah kapan lahan itu dibuka oleh mereka, yang jelas sekarang nyata didepan matanya.
Tampilan yang ini sungguh menakjubkan. Masih mengkal pepaya kembar ini. Warnanya putih kekuningan, ujungnya masih samar. Itu berwarna merah muda.Tak kuasa hanya menatapnya saja, kedua tangan besarnya meremas buah yang masih mengkal itu.
Boy membuka mulutnya, menjepit ujung yang berwarna merah muda itu dengan bibirnya, lalu memainkan lidah nakalnya.
" 'Ah......Boy....sebuah lenguhan panjang
lolos dari bibir mungil berwarna merah muda itu. Membuat pipi putih Bella berganti warna dengan kemerahan. Telinga kecilnya juga sudah seperti udang rebus.Bella mengalihkan tatapannya, ia sungguh malu.
Boy memindahkan satu tangannya kedagu istrinya, menariknya menghadapnya. " Sayang...jangan memalingkan wajah indahmu dariku. " bisiknya dibawah kuping kecil yang kemerahan itu. Tubuh Bella menghangat,
apalagi hatinya. Pujian dan sentuhan yang menyatu, membuat aliran listrik menyentak- nyenyak disekujur tubuh Bella. Pipinya makin merona, rasanya masih ingin sembunyi dari tatapan mata Elang itu.
" Cantik ku...oh....jangan malu...lepaskan saja...Teriak saja...kamar kita kedap suara. Hanya ada kau aku dan Tuhan kita. Boy melanjutkan perjalanannya. Menyusuri setiap sisi ladang kesayangannya. Menyentuhnya, mengecupnya dan mengesap setiap bukit lereng dan lembah. Hingga sampailah ia di hamparan lembah lembab nan indah, dengan rumput - rumput kecil.
Jemari Boy menyisir rumput rumput kecil yang tumbuh dilembah itu. Boy....Ah....Bella melayang...tatkala Dengan nakalnya Boy memainkan lembah itu dengan tangannya, mengukur lebar lahannya, lalu membenamkan wajahnya dibalik rerumputan. Memainkan lidahnya dibintil kecil berwarna putih kemerahan.
Oh...cantik...ini sungguh wangi..." Gumamnya lirih. Bella tak tahan, kedua kaki jenjangnya reflek terangkat. Paha putihnya menjepit. Kedua tangannya terulur, melingkar dileher Boy. Detik berikutnya, ia secara alami mengesap telinga Boy, melampiaskan perasaan yang entah bagaimana sangat luar biasa,
Bella memejamkan matanya, menikmati sensasi yang tak pernah ia duga.
Boy masih betah bermain disitu. Berkali - kali menghirup wangi lembah Ajaib itu.
" Tampan..Bella tak tahan...Akhirnya kata itu meleset dari bibir mungil nan manis itu. Boy menatapnya sejenak. mengecup bibir itu sekejap. Lalu meraih tangan Bella. Menurunkan tangannya kebawah, menyentuh benda keras berwarna putih kemerahan, yang menjulang diantara hutan belantaranya.
" Tongkat Jelmaan yang mengerikan.Apa ia akan menyakitkan? " batin Bella berkecamuk.
Hatinya sungguh bersiteru., tapi gelenyar ditubuhnya memintanya untuk merasakan benda itu. Tanpa sadar, ia mengusapnya, hingga menjadi basah.
Oh...Manisku...apa sudah siap? " tanya Boy berupa lenguhan. Boy menggelengkan kepalanya. Mengerjapkan matanya berkali- kali, ketika ia dipermainkan balik oleh kekasihnya. Boy kembali keladang pepayanya, mengesap dan menggigitnya.
Lalu detik berikutnya ia merebut senjatanya dari Bella. Siap untuk mengarahkannya.
" Bismillah...Allahumma janibbas syaitana, wajanibbis syaitona.
Marazaqtana..( Dengan nama Allah...Jauhkanlah kami dari Syaitan dan jauhkan Syaitan dari Rizki yang Engkau anugrahkan kepada kami)
Kemudian Ia mulai berjuang, menuruni lembah basah itu. Sungguh sangat sulit, dan Boy sampai keringatan, tapi ia dengan sabar menyusurinya. Sedang Kekasih halalnya mulai meringis, menggigit bibirnya, meremas kasurnya.
Tatkala ia berhasil melalui jalannya, itu benar- benar menyakitkan buat Bella. Titik darah menetes melewati dinding lembah itu, lolos menyentuh seprai mereka. Boy menatap Bella dengan iba, merasa putus asa telah menyakitinya.
" Maaf sayang...apa ini begitu perih? tanyanya lirih? Bella mengangguk lemah, namun tangannya menggapai tangan suaminya , menyatukan kedua telapak tangan mereka. " Apa aku harus keluar? Tanyanya lagi, tak tega melihat tatapan lemah kasihnya.
Hati Bella berkecamuk, Ia menarik leher suaminya, Kedua pahanya menjepit.
" Sudah sampai disini, sakit sungguh teramat, bisa- bisanya kau ingin berlalu.
" Batin Bella
Boy tersenyum...perempuan impianku...kau sungguh uniq, sudah tahu sakitnya, masih melawan juga. " Katanya.
Ia mulai melanjutkan peneyusurannya, menuruni lembah kecil yang sudah dirintisnya. Mengayunkan senjatanya, melawan setiap rintangannya, menepis tiap halangan. Bella mengikutinya, memberi sedikit gempa kecil, diarea ladangnya. Ayunan kecil dari dasar bumi, menghadirkan kecepatan yang melesat.
Boy makin bersemangat memacu langkahnya, mendaki puncak Asmara.
" Sayang...Aku...Ah...oh....lenguhan terbata meleset dari bibir keduanya,
seiring semburan lava dan magma menyembur bersamaan. Merontokkan daun- daun. Melayukan rerumputan sekitarnya. Boy tersungkur, terhempas diatas ladangnya, Jiwa mereka melayang jauh, terbang ke langit ketujuh. Air mata, titis darah suci, dan keringat yang membanjiri, menjadi saksi penjelajahan dan pertarungan itu.
Lama mereka saling diam. Boy berteduh dibalik ceruk leher Bella. Setelah nyawanya terasa kembali, ia mulai mengecupi kening kekasihnya berkali- kali, lalu pindah ke pipinya. Kemudian ia berbisik padanya, tepat dibalik kuping mungilnya. Terima kasih...sudah menjaganya untukku. Maaf...tak tahan menunggu bulan madu. " Senyum manis tersungging dari bibir tipis menawannya.
Bella membalas senyumnya dengan pipi yang kembali kemerah- merahan.
" Masih malu? padahal sudah begini? " Goda Boy masih disana.
Bella mencubit pinggangnya. " Bukan cuma malu ! tapi kau sungguh berat! tak tau berat kok masih disitu." Gerutu Bella kemudian memberi gelitikan.
Boy terkekeh...
" Sekarang baru ngeluh, tadi kok mau? " Goda Boy kembali, setelah menjatuhkan diri disisi Bella.
" Tadi aku tak mau! " bisik Bella.
" Tidak mau kan sudah jadi! " balas Boy.
" Maksudnya tak mau berhenti!"
He...He...mereka terkikik berdua.
Tiba- tiba setelah tertawa. Bella teringat ekspresi terakhir Boy, sebelum menumpahkan segala hasrat mereka.
" Sayang...tadi gumam apa, sebelum itu? tanya Bella penasaran.
Maksudnya sebelum meleleh? " tebak Boy.
Bella mengangguk.
" Hanya sebaris doa, andai membawa anak dari itu, ia jadi anak Sholeh dan Sholeha.
" Amiin...
" Harus sempat dan ingat, sedarurat apapun juga. Siapa coba yang nuntut calon imam yang baik?"
" Siapa pula yang tak ingin punya imam yang baik. Aku terutama, orang lain mungkin sama. " ujar Bella lirih...
" Insya Allah...kita sama- sama belajar lebih banyak ya sayang..." Boy lalu mengecup kening istrinya.
" Baiklah...Insya Allah...
Boy lalu duduk, menarik piyamanya yang tercecer, untuk menutup dirinya, kamudian meraih piyama Bella dan memakaikannya tanpa Underwear.
Bella hanya menurut, ketika ia memakaikan semuanya. " Kita bersuci ya...Dengan air hangat tak apa, sekalian biar cepat sembuh. Biar aku gendong, kan dikamar katanya tak apa! -Boy
Bella tersenyum malu, tapi ia mengangguk.
Detik berikutnya, tubuh Bella melayang
dalam gendongan pria perkasa pasangannya halalnya.
" Niatnya bisa? tanyanya setelah Bella diaturnya dibathtup dengan air hangat kuku.
" Uhu...sudah belajar juga." jawab Bella.
" Istri pintar! " pujinya sembari menghadiahi kecupan.
Keesokan paginya,Bella terbangun agak kesiangan. Matanya menatap sekeliling. Melihat Boy yang baru saja melipat sajadahnya.
" Aku terlambat, kenapa tak membangunkanku sayang..." rengek Bella bergegas duduk.
" Tak apa, masih jam Enam. Kan sudah mandi, tinggal wudhu oke! " Boy mengatur sajadahnya lagi. Lalu membimbing Bella kekamar mandi.
Boy menemani Bella shalat subuh. Dengan duduk dipinggir tempat tidur.
Setelah selesai, Bella mengulurkan tangannya, Boy menyambutnya, mengecupnya, lalu menariknya kembali berbaring diatasnya.
" Hey...apa lagi? tanya Bella dengan pipi memerah.
" Masih ada waktu sejam lagi sebelum sarapan pagi, aku masih ingin berjalan- jalan ke ladangku, sekalian senam pagi, cari keringat, biar mandi lagi. " bisiknya enteng, kemudian menarik mukena Bella.
Satu jam kemudian. Bella benar- benar kehabisan tenaga. Ia tak kuat kebawah untuk sarapan habis mandi. Boy sendiri yang turun, lalu meminta pelayan mengantar sarapan keatas. Semua mata tertuju padanya, ketika Boy menarik satu kursi untuk duduk sarapan.
" Biar aku yang mengantar makanan untuk mantuku, sekalian memeriksanya! " Adelia berdiri menghampiri Bibi, mengambil mampan yang akan dibawa untuk Bella.
" Arifin hanya menggeleng melihat istrinya. Sedang Rendra takmampu menahan protesnya. " Ngapain kesana? Biar Bibi saja!
" Jangan banyak protes! Ini urusan perempuan." katanya mulai berjalan
dengan hati- hati.
" Berarti pagi ini ia sudah merasa perempuan Ya? Kemarin- kemarin bukan, memang semaunya. " Gerutu Rendra.
" Memang susah akurnya ya, kalau orang bermadu, walau itu yang asli atau yang palsu. " Tiba - tiba Rinto turut berkomentar, menatap Rendra dan Adelia yang pergi dengan cuek.
Yang lain menyunggingkan senyum, lalu Saling pandang.
" Menantu cantik...Mertua kedua datang
bawa sarapan!!! " teriaknya didepan pintu. Bella yang masih lemas tersentak, lalu mencoba duduk, ingin berdiri susah.
Ia pasrah menyandar di headboard.
Adelia mendorong pintu, lalu masuk, menyapu habis wajah Bella dengan tatapannya. Bella malu, tatkala matanya singgah dilehernya. Dengan panik, ia menutupnya dengan tangan. Karna bergolek, lupa pakai kerudung, kerudung ada dilemari, mana sempat ia mengambilnya.
Adel tersenyum, lalu meletakkan mampan dinakas.
" Sayang...tak usah malu... ini ulah putraku, aku takkan mengetawainya. Ia Bringas juga ya? " tanyanya setelah duduk disisi Bella. Menyoroti leher Bella dengan mata bulatnya.
Bella makin tersipu.
" Apa ia menyakitimu? Nanti akan ibu jewer kupingnya.
Bella menggeleng." Tak usah Bu...Bella yang menggodanya, ia tak salah." gumam Bella makin tersipu.
" Selain cantik kau juga sangat membelanya ya sayang...Putra kami beruntung memilikimu! " Katanya memuji Bella. Bella kian tersipu malu. Dengan gemas Adel menggoyang dagunya. Lalu
Adel mengambil sarapan. Bubur biji bunga matahari yang sengaja disediakan Citra untuk puding pengantin, masih hangat dimangkok.
" Suka? " tanya Adel?
Bela mengangguk.
Izinkan ibu menyuapimu, nanti sore Ibu dan keluarga bakal terbang kembali ke Bandung dengan pesawat uncle Rendra." jelas Adelia.
Bella mengangguk. " siapa yang tak mau dimanja mertua? " Ucapnya lirih, namun wajahnya sungguh cerah. Ia tak canggung lagi. Adel mulai menyuapi Bella.
Ketika Boy sampai dikamar. Bella selesai makan.
" Anak nakal!..Kau benar - benar membuat menantuku tak berdaya, sampai susah berdiri. Sebelum membawanya berbulan madu, kau sudah mencakarinya. " Adelia menjewer Boy hingga kuping putihnya memerah.
" Ampun Onty...Kan sudah halal...Boy menyusun jarinya didepan Adelia.
Sedang Bella hanya menggelengkan kepalanya.
" Benar- benar ibu yang uniq, sebentar dia
memanjakan ku, detik berikutnya ia menyiksa putranya. " Batin Bella meringis geli.