
Kampus Massachutts Institute Of Tecnologi ( MIT ) AS adalah tempat yang Bhalendra pilih untuk menimba ilmu. Boy mengambil Departemen Brain+Cognitive Science.
Jurusan yang membuat Citra sang Mommy mengerutkan dahi ketika ia menyampaikan keinginannya mengambil
Departemen itu. Ia mulai dengan sungguh - sungguh menjalani kuliahnya sebaik mungkin. Dalam hati Boy bertekad, akan menyelesaikan sampai
pasca sarjana dalam waktu 5 tahun ini.
Bhalendra Boy Chen Hapsari tak mau terlalu lama, membiarkan tanah tumpah darah, berikut orang tercintanya terlalu
lama menunggu.
Ia masih terbayang, betapa mommy begitu berat melepasnya.
" Kenapa tidak jurusan Ekonomi atau management bisnis sih sayang? " protes Citra kala itu.
" Kalau jurusan itukan ada yang dekat mom, dan bisa belajar online lagi... ngapain aku harus terbang sampai ke Amerika meninggalkan mommy dan orang - orang yang kucintai, kalau hanya untuk sekolah Bisnis.
Bukankah bisnis dan management adalah bakat Alami yang sudah Boy warisi dari Kedua raja bisnis dari timur ( Mr. Kims. ) dan Barat ( Mr. Carlos ).
Dan mommy dan Dady sendiri sudah mengakui kamampuan Boy dalam berbisnis,
sejak dari kelas 1 SMP sudah terjun langsung." Ucapnya panjang lebar memberi pengertian pada Citra tentang pilihannya.
Sebagai seorang ibu dari putra tunggalnya, berat sekali bagi Citra
melepas kepergian Boy. Itulah sebuah alasan mengapa ia meminta putranya mengambil jurusan management Busines. Agar Boy berfikir untuk kuliah didalam negri saja.
Jika kedua lelaki tercintanya sudah kompak, kalau Boy harus melanjutkan kuliahnya dibenua asal Grandma ( neneknya) Boy. Dan sekolah Tinggi Swasta Tecnologi Internasional terkemuka itu sudah menjadi pilihan mereka . Sedang untuk jurusan, Rendra membebaskan Boy putranya untuk memilih sendiri, dan ternyata Boy memilih Bagian dari Ilmu psykologi itu.
Menurut Bhalendra, faktor Fisikologi adalah hal yang banyak memicu menurunnya tingkat kesehatan orang dewasa ini.Dan ia ingin mendalami penelitian dibidang ini.
Apalah daya Citra, kalau Raja dan pangeran dihatinya sudah membuat maklumat yang sama, sebagai ibu, ia hanya bisa menerima. Menanggung derita rindu atas konsekwensi dari keputusan kedua orang penting dalam hidupnya itu.
๐งก๐งก๐งก
Lima bulan sejak Bhalendranya sudah berada dinegri Paman Syam.
Citra sengaja menemui Bella, untuk melihat keadaan Gadis yang disayangi putranya ini. Tak lain dan tak bukan untuk mengobat rindunya pada sang putra, dengan berbagi rasa dengan calon mantu.Sedari dulu, Citra memang paling enggan menatap wajah dibalik layar saja.
Citra sengaja menemui Bella dikampus Trisakti. Setelah menanyakan fia telfon,
Citra langsung meluncur ke kampus dengan sopir, bi Ifah dan 3 orang pengawal pribadi.
Ini tidak mudah baginya. Mesti berjuang keras semalaman merayu suami sendiri agar mengizinkannya keluar menemui calon menantu yang ia sayangi juga.
Sejak Citra mengalami insiden penembakan yang nyaris merenggut nyawanya, Rendra tak pernah membebaskan istrinya untuk bepergian
sembarangan, apalagi tanpa pengawal, walau sang istri seorang mantan Jawara Silat.Rendra tak yakin lagi sekarang, pada kemampuan jawara yang yang sering jadi korban salah sasaran. Karna alasan ini sikap posesifnya makin meraja.
" Seorang Istri mesti tetap nurut sama suami dong sayang... walau suami sudah
mulai ubanan... " Rendra berkata dengan nada Posesif namun tetap diplomatis.
" Pasti lah cinta...tapi istrikan ingin juga sesekali memiliki waktu khusus untuk bertemu seseorang yang dirindui dengan frivasi ( rahasia).
Sayang kan tahu, kalau Bella kerumah ini, Calista kurang suka, lagian Calista juga tak tahu kalau Boy akhirnya memilih Bella.
" Walau zaman telah berubah, ngak baik juga cewek yang mendatangi cowok. Lebih etis cowok yang menemui cewek. Akukan mewakili putra kita sayang...Boleh ya?...Rengek Citra disertai alasan yang menurut Rendra dibuat- buat saja.
Rendra terdiam beberapa saat sembari menatap langit- langit kamar.
Membuat Citra berfikir untuk meminta dengan lebih manis lagi.
Diraihnya dagu Rendra,lalu
ditatapnya tuan suami itu intens, kemudian tak lupa pula ia mengusap bekas cukuran jambangnya yang sudah mulai bercampur warna.
Rendra memejamkan matanya, merasakan kelembutan sentuhan Citranya.
" Sayang...Boleh ya...aku tidak akan kerumahnya, aku ingin melihat gimana pergaulan Bella dikampusnya. Aku akan membuat rencana dan akan datang sebelum waktu perjanjian, agar bisa memeriksanya dari jauh. Plis...izinin dong say..." Citra merengek lebih manja lagi.
Rendra meletakkan kedua tangannya diatas kedua tangan nakal istrinya, menarik lembut kedua tangan itu, menggenggamnya beberapa saat, lalu menempelkannya kebibirnya.
Entah siapa yang dahulu, hingga sekarang mereka sudah saling berpadu, dibawah temaramnya lampu tidur, ranjang yang sama, yang tak pernah berani menyampaikan keluhannya, atas penganiayaan yang kerap dilakukan oleh sepasang insan yang selalu dimabuk asmara.
Rendra makin cemerlang membuat Citranya pintar bergoyang. Tarian mereka
kian mengikuti irama, diiringi Nada- nada
syahdu. Siapapun yang mendengar pasti ngilu. Untung kamar itu kedap suara. Kedua pecandu itu takkan pernah lupa mengunci pintu, sebelum memulai aktifitas bercumbu.
Usai mendaki gunung Semeru, menyelami laut biru, Hinga terdampar dipulau Candu, barulah Rendra memberi izin untuk istrinya menemui siapa yang ia sebut sebagai calon mantu itu.
" Esok bolehlah pergi, tapi ingat! jangan jalan sendiri, termasuk kekamar mandi.
" Trus kalau kekamar mandi aja tak boleh sendiri, apa aku perlu pakek pempers biar kalau kebelet ngak susah.
Malu juga sih sayang.. pake popok celana, sedang wajah Masih cantik muda belia begini,lagian ntar nih bokong yang jelas tebal makin tampak gempal " kata Citra sengaja menggoda sikap posesif suaminya.
" Baiklah Raja Rendra...hamba turut perintah saja. " jawab Citra seraya mengecup kening suaminya. Kemudiaan
Rendra mengusap rambut istrinya, setelah memeluk Citra didadanya.
" Ini permaisuri paling licik didunia, kalau sudah ada maunya, pasti banyak intriknya, dasar mantan kekasih kaisar licin !" kata Rendra sembari tersenyum, mengingat mantan saingan yang sekarang sudah disisi yang Kuasa.
" Kau kira dengan ia sudah tiada, akan hilang pula ajarannya terhadapku.Bagaimanapun juga aku lebih dahulu mengasihi dirinya ketimbang dirimu tuanku. " Ucap Citra sengaja memanasi suaminya
" Iya aku tahu...segigih apapun diriku, aku selalu kalah darinya dan dirimu." Rendra kembali mengungkung istrinya. Membalikkan posisi semula.
" Mau apa lagi?" tanya Citra curiga.
" Apalagi kalau bukan ngintipin istri sendiri sampai pagi. Kalau yang lain mana aku Sudi." katanya enteng. Lalu mulai bermain digaris strart.
" Tega amat sih sayang...Gimana kalau aku besok terkantuk- kantuk didepan menantu. " protes Citra.
" Suut...jangan membantah. " katanya kemudian mengawali garis starnya dengan menjilati bekas luka tembak istrinya.
Citra hanya bisa mendesah dan mengalah, ketika sang raja sudah menunjukkan tongkat saktinya, didepan singgasananya.
๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค
Setengah jam Citra terkantuk - kantuk menunggu Bella bubar dari ruang kelasnya.
Bella berjalan anggun mencari mommy yang katanya menunggu ditaman.
Tatkala Bella mengulurkan tangannya.
Citra terpana menatap pandangan lembut bidadari dibalik cadar berwarna biru, senada dengan gamis indah bertahta mutiara yang membalut longgar tubuhnya.
" Sayang...Kau? Citra terbata saking takjub dengan pemandangan indah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia masih teringat penampilan Bella ketika
bersimbah air mata, meninggalkan syukuran Kelahiran 17 tahun Bhalendranya. Saat itu Citra mencegatnya diam- diam.
" Sayang kenapa menangis? " tanya Citra seraya mengusap airmata Bella yang mengalir bagai hujan deras.
" Iya menolak semua gadis yang menyukainya." Curhat Bella sembari menyerahkan kertas tulisan tangan Boy
pada citra.
Citra membacanya lalu tersenyum. Sedang Bella mengerutkan dahinya. Tangisnya suruk melihat senyum manis mommy mertua yang mengembang.
" Ini artinya putraku bijak. Ia tak mungkin memilih salah satu dari kalian, lalu membuat yang lainnya pulang dengan patah hati. Biar semuanya patah hati.
Bersabarlah sayang...Putraku tahu apa yang terbaik, dan ia sudah membuat keputusan yang tepat. Kalau kau sabar, saatnya akan tiba, ia akan menjemput gadis pilihan hatinya.
" Tapi bukan aku pilihannya mommy..rengek Bella dalam pelukan Citra.
" Apa menurutmu begitu Bella? Kau pasti merasa, bagaimana putraku memperlakukanmu sejak remaja. Aku tau ia bukan pria yang romantis. Tapi terhadapmu kurasa ia berbeda. Percayalah...tanya pada hatimu sendiri nak...apa yang kau inginkan. " kata Citra kemudian. Lalu mengantar Bella kemobilnya, membisikkan sesuatu pada sopir Bella, entah apa itu,Bella tak tahu.
" Pulang dan istirahatlah sayang..." Citra mengusap kepala Bella setelah Bella duduk dimobil, dan memasangkan sabuk pengaman untuk Bella. Bella membalas perlakuan lembut sang mommy, dengan menggenggam tangan Citra, lalu menciumnya. " Thank you mom. " katanya lirih.
Citra mengangguk, lalu menutup pintu mobil.
Sekarang gadis cengeng itu bagai bidadari yang membuat citra sulit mengedipkan matanya, dari tatapan teduhnya.
" Mommy sudah makan? Ayo kita makan, Bella bawa bekal. " katanya sembari mengeluarkan Tupperware berbentuk hati dan tabung minum karakter lucu dari ranselnya. Meletakkan dimeja taman, tempat mommy menunggunya.
" Momy sudah makan sejam yang lalu. Tapi melihat kotak makanmu mommy tertarik juga. Ayo duduk didekat mommy. " kata Citra sembari mengatur kursi didekatnya untuk Bella.
Bella duduk anggun disisi Citra seraya membuka kotak makannya.
" Dia yang menghadiahkan kotak makan ini untukku mom..." katanya dengan sorot mata yang menunjukkan kalau ia sedang tersenyum manis dibalik penutup wajahnya.
" Sekarang sudah percaya kan dengan ucapan mommy? " tanya Citra.
" Iya mom...aku tahu kalau hati kecil sebenarnya tak pernah salah. Hanya saja kita manusia sering mengingkari hati kecilnya. " ucap Bella sebelum menyendokkan makanannya untuk Citra.
Citra mengucap doa dengan lirih, sebelum sebelum membuka mulutnya.
" Tak sia- sia aku berjuang semalaman, untuk kejutan seindah ini. " Batin Citra mengucap syukur.
Lalu ia membuka isi tasnya. Mengeluarkan kotak makan berbentuk sama, dengan warna yang berbeda.
Lalu ia menghadap Bella untuk menutupi
calon mantu. lalu membuka penutup wajah Bella, dan mulai balas menyuapi Bella.
" Masya Allah...betapa menakjupkan pemandangan ini..." kata seorang pria tampan tukang menguntit, berdiri dibawah pepohonan, berjarak sekitar 10 meter dari kedua bidadari itu.
" Kenapa kalian jauh- jauh dari nyonya? tanya pria itu yang membuat, para petugas yang diminta menjaga citra terkejut.
" Maa...maaf..tuan, nyonya bilang pembicaraan dengan calon mantunya adalah frivasi, ia meminta kami mengawasi dari jauh saja. " bi Ipah menjawab gugup.
" Ya udah.. tak usah takut bi, aku tahu pasti ia yang bandel. Dari dulu memang begitu istriku. " kata Rendra lirih.