
Citra terbangun ketika pesawat sudah mendarat di bandara Khusus. Berkali- kali ia mengedipkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Didepan Bandara itu terpampang bangunan indah bak istana. Dengan pagar dan puluhan pengawal lengkap dengan seragam dan senjata.
" Kita Dimana ini? " tanya Adelia bingung. Ia memegang tangan Citra erat. Perasaan cemas mulai menggerogoti hati sahabat Citra itu.
Lalu dengan sigap Adelia menelfon Arifin.
" Hey mas! apa kau menjual aku dan Citra? " tanyanya begitu telfon tersambung.
" Kalian sudah sampai sayang? Gimana asyik naik pesawat jet komersial yang hanya bisa dibeli oleh orang- orang top negri ini? Mas jangankan naik ngelihat aja baru tadi. " cerocos Arifin yang tak paham dengan tuduhan kekasihnya.
" Hey Hantu belau! orang nanya kok malah nanya.
Kenapa kami sampai didepan rumah istana seperti ini, kan janjinya Citra mau kerja kantor, jadi wakil direktur, kok diantar ketempat seperti ini? Siapa pemilik istana ini? Apa mas sengaja nipu kami , membuang kami untuk jadi pembantu atau jadi pemuas ***** yang punya istana ini? " tanya Adelia bertubi - tubi, hatinya kesal bukan kepalang membayangkan dikhianati oleh tunangannya sendiri.
" Hus...ngomong sembarangan, apa kau kira mas mu ini anggota silikat mafia jahat seperti cerita yang sering kau baca di Aflikasi novelmu itu.
Ini dunia nyata manis... Turun saja dulu dari jet itu, atau mau tinggal disitu saja selamanya? " tanya Arifin kemudian.
" Kami takkan turun sebelum mas cerita mengapa kami harus berada di istana yang jauh dari pemukiman umum ini. " Kata Adel celingak - celinguk memandang sekeliling.
" Oke...atur nafas, jangan marah- marah lagi, ntar naik tensinya, storoke muda mau? " goda Arifin.
" Ngak! 'Cepat cerita, biar kami turun, tuh sibumil sudah keringatan berdiri menunggu. " cerocos Adel lagi.
" Itu Rumah Mr Kims. Ia kakeknya Bos besar, ia sudah lansia dan mengharapkan Citra yang menjaganya. Kalian akan tinggal disana sampai siBoy lahir, disana lengkap fasilitasnya, termasuk dokter, perawat dan alat- alat medis. Citra akan bekerja dengan diantar sopir. Sedang sicentil, jagain Citra ditempat kerja dan diistana itu. Aliyas jadi Asisten, tenang saja gajimu kata bos tiga kali lipat dari gaji disini.
Udah penjelasannya neng? Sekarang jalani dulu kehidupan barunya ya, jadi Putri mendadak. Awas jangan norak sama malu - maluin mas. Okey.
" Kan katanya Dady si boy. Dady siBoy jangan norak ya. Selamat jadi tukang sisir permaisuri Firaun! " kata Arifin terkekeh sembari menutup sambungan telfon. Adel melotot mendengar ucapan terakhir Arif, saat ia menyambungkan telfon lagi, tak ada jawaban, kemudian Datang pesan.
Ayo turun Dady manis, masak dibiarkan ibu sama baby-nya berdiri lama. Kan ayah Solehah. Ha....ha...
Tuh kasihan pelayan yang dari tadi menunggu kalian turun. Bunyi pesan itu. Adel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian membawa Citra turun.
" Butuh dibantu Nona? " tanya seorang pramugara
yang dari tadi menunggu persitegangan lewat telfon itu usai.
" Ngak usah...kami bisa. " Jawab Citra, karna melihat wajah Adel yang masih keriting, kayak bakwan mi yang baru matang.
" Ini kata mas tunanganku yang sinting itu rumah kakeknya bos besar. Kita akan disini sampai bayimu lahir. Kita sekalian menemani kakek reyot itu sepulang kerja.
" Kakeknya bos maksudmu Del? Aduh senangnya, kalau ada kakek disini, aku dan babyku pasti makin semangat dan kerjaanku pasti makin lancar. I love Grandpa!
Aku bisa merawatnya seperti aku merawat kakekku dulu. Aku suka! Suka! " katanya yang membuat Adelia kian bingung.
" Dasar aneh, orang senang sama pria tampan, ia senangnya sama kakek- kakek." Gerutu Adelia dalam hatinya.
" Kan tadi takut dijual, nih dah jelas yang huni rumah kakek- kakek kok masih salah juga buat you.
Kalau Citra memang suka sama kakek - kakek Del!" Apa ada salahnya menyayangi orang tua yang tulus yang sudah membesarkan kita, aku menyukai kakek- kakek, karna yang membesarkan diriku adalah kakekku. " kata Citra memprotes habis isi hatinya Adel.
" Sory...Aku lupa kalau akhir- akhir ini kau makin ahli membaca hati dan fikiran orang. " kata Adel kemudian.
" Aku juga minta maaf Del, hanya untuk menjaga Citra, Adel sampai salah sangka segala sama tunangan baikmu itu.
" Mudah- mudahan Dady betah jagain Momy dirumah konglomerat ini. " kata Citra menggoda Adel seraya tersenyum jenaka.
" Sut...Jangan maluin Dady dihadapan mereka. " bisiknya.
Mereka sudah sampai dipintu Utama Rumah. Para pelayan Mr Kim menyambut mereka dengan berbaris, bagai menyambut para putri diistana raja.
Seorang pria tua yang duduk dikursi roda yang diiringi oleh empat pelayan datang menyambut mereka.
" Selamat datang Calon direktur Gruop kita! " katanya langsung tanpa ada yang ditutup- tutupi.
Tapi bagi Citra dan Adel itu hanyalah kata sambutan biasa, mengingat Citra akan menjadi wakil direktur diperusahaan Mr Kims yang bergerak dibidang konveksi dikawasan JS. Jadi mereka fikir Mr. Kims hanya salah omong.
" Maklum sudah tua, mungkin kakek ini ngak konex
Tiba didepan Mr. Kims, bagai terhipnotis, Citra langsung bersimpuh dikaki tuan yang masih tersisa wajah tampannya diusia menjelang kepala tujuh itu. Citra reflek menangis pilu sembari mengecup
kedua tangan Mr. Kim. Mr. Kims terpaku dengan sikap belas kasih yang diperlihatkan oleh calon cucu menantunya ini.
" Mudah- mudahan sikapnya ini tulus, bukan karna
apa yang aku miliki. " fikirnya didalam hati.
" Kakekku sebaya dengan Anda tuan, ia sangat tampan seperti anda walau pun ia sudah tua. Bedanya mata anda sipit mata kakekku lebar. " kata
Citra yang membuat mata sipit Mr. Kims melebar.
" Rupanya bocah kampret itu belum bicara apa - apa pada calon cucu menantu soal aku. Berarti sikap yang ia tunjukan barusan memang tulus karna ia teringat pada Almarhum kakeknya?
Untung tadi ngak keceplosan banyak. " kata Mr. Kims. Ni orang juga ngak kasih kode apa- apa sebelumnya. " Celutuk sang kakek mengumpati Rendra cucu kesayangannya didalam hati.
" Apa boleh Citra memeluk kakek, untuk mengobati Rindu Citra pada Almarhum kakek H. Roeslan, orang yang sudah membesarkan Citra. " tanya Citra
dengan tatapan memohon, membuat Mr. Kims tersentak dari lamunannya.
" Ba....baiklah cantik! dengan senang hati. Oh ya apa sudah USG jenis kelaminnya babymu? tanya Mr. Kims mengatasi kecanggungannya.
Citra memeluk orangtua itu, hati Mr Kims bergetar. Dibelainya kepala gadis yang sekarang sedang mengandung calon pewarisnya.
" Tak perlu USG untuk menentukan jenis kelaminnya kek, bahkan sejak masih dua bulanan
ontynya Adelia sudah memanggilnya dengan sebutan Boy, akhir- akhir ini setelah di Cek ternyata dugaannya tak meleset. Anakku lelaki kek." kata Citra sembari mengalihkan pandangannya pada Adel.
" Ini teman sekantor, sahabat sekaligus Antenya si boy. " kata Citra mengenalkan Adelia pada orang tua yang sudah langsung membuat nya jatuh hati walaupun baru bertemu. Demikian juga sebaliknya.
" Terima kasih sudah menjaga mereka" kata Mr Kims mengulurkan tangannya.
" Sama- sama tuan. " jawab Adelia kemudian menjabat tangan orang tua itu.
" Aku mohon, tak ada yang boleh manggil tuan lagi, siapa diantara kalian masih manggil tuan dapat hukuman memijiti kakek.
" Baik tu...eh kakek! " kata Citra dan Adel bersamaan.
" Gitu baru enak didengar. Kalian pasti capek, ayo istirahat dikamar. Para pelayan akan mengantar kalian, apa saja yang kurang jangan segan bilang sama mereka. " kata Kakek Kims.
" Baik kek. " kata mereka patuh.
" Oh ya sayang...Kapan- kapan kalau ada waktu masakin kakek masakan Padang ya, dulu waktu muda kakek punya teman orang sana, ia selalu manjakan kakek dengan masakan istrinya, kalau
kakek sedang ada perjalanan bisnis kekota tercinta itu. " kisah Mr Kims, saat mengikuti mereka menuju
kamar yang akan mereka tempati.
" okey kek. " jawab Citra.
" Ya sudah...kakek sampai sini saja ya, nanti kalau ikutan masuk bisa bangkit jiwa muda kakek lagi, jadi gawat. " Kelakar nya kemudian tertawa terkekeh- kekeh.
" Sampai dipintu saja baru , kakek udah muda sepuluh tahun. " jawab Citra balas menggoda pria usia senja itu.
" Kalau begitu gawat nanti, ntar ia kalah saing. " kata Sang kakek kemudian menutup mulutnya, takut keceplosan lagi.
Citra dan Adel menaikkan bahu mereka, menunjukkan rasa bingung dengan tutur sang kakek yang mereka anggap aneh. Kemudian Adel menutup pintu. Lalu melompat kekasur, loncat- loncat disana kayak anak balita yang baru dapat mainan baru.
" Ingat kata Mas Arifin???" tanya Citra seraya membelalakkan matanya.
" Jangan norak dan malu- maluin. " kata Adel sembari tersenyum dikulum.
Bersambung....
Baru Up nih say...Jangan lupa kasih like, love and Fotenya. Salam sayang dan kangen selalu for you pembaca setia. Mu....ah.
Thank you so much be for.