
Menikah adalah satu jalan menuju kebahagiaan dunia, bagi setiap pasangan yang bisa sama- sama menghargai nilai pernikahan itu sendiri. Tapi tidak jarang juga menjadi siksa dunia, bila pasangan tidak bisa saling melengkapi dan bersyukur dengan pernikahan itu sendiri.
Namun bagaimanapun model pernikahan yang akan kita jalani, kita tetap saja harus menikah. Karna penikahan itu selain Sunnah, juga hakekah sekaligus berkah.
Seberapapun suksesnya seseorang dalam hidupnya, tidaklah lengkap tanpa menikah. Dan dalam pernikahan tentu harus melewati berbagai ujian. Ujian pertama tentunya adalah penyatuan dua karakter yang berbeda. Yang kedua hubungan dengan kerabat. Dan yang berikutnya adalah anak yang dititipkan Allah sebagai buah dari pernikahan.
Lahirnya anak- anak adalah bagian dari berkah pernikahan sekaligus ujian.
Terbayar sudah semua penderitaan seorang ibu selama mengandung , ketika melihat cahaya mata sudah terlahir kedunia dengan selamat.
Alfian dan Hanum tak hentinya mengagumi baby mereka, walau masih perlu diInqubator.
Hanum memompa ASI nya selama delapan kali sehari demi sibuah hati.
Kata dokter, perlu waktu dua minggu untuk Baby Aina diruangan NICU ( Neonatal Intensive Care Unit ). Bagi pasangan itu tak masalah dengan biaya ataupun waktu, yang penting sikecil sehat dan selamat.
" Kita begini cerita kelahiran sikecil kita ya Num...mudah- mudahan teman- teman yang lain bisa melahirkan normal dan baik- baik saja. " Ucap Alfian sembari membawa Istrinya melangkah pelan menuju ruang rawatnya.
" Iya...Semoga calon Daddy yang lainnya ngak harus mengalami kecemasan yang besar seperti dirimu ya sayang..." kata Hanum.
Amiin...mudah- mudahan semua aman! ."
ucap Alfian.
********
" Kita kemana sayang? " tanya Bella begitu Boy membawanya di jam istirahat kantor menuju kawasan perumahan Elit didaerah C. JKTM.
" Coba tebak ini arah mana? " tanya Boy balik.
" Ini kayaknya menuju lokasi perumahan mewah didekat JKTM kan yang! " ujar Bella.
" Betul! Bunda pintar! " puji Boy.
" Buat ninjau perumahan? Bukankah perusahaan konstruksi itu dibawah pengelolaan Daddy yang?" Bella makin kepo.
Boy tersenyum sembari mendekap istrinya yang baginya makin tampak seksi dengan perut besarnya itu.
Begitu sampai didepan sebuah rumah baru berlantai dua, Om Mamat memperlambat laju kendaraan roda empat itu.
Seorang satpam setengah baya, terburu - buru membukakan pintu gerbang pagar rumah. Setelah gerbang dibuka, Om mamat melajukan mobil pelan menuju parkiran rumah itu.
Boy menuntun Bella turun dari mobil, berjalan dengan hati- hati menuju pintu yang baru saja terbuka. Seorang perempuan berusia kira- kira kepala lima muncul didepan pintu.
" Siang tuan muda dan nyonya muda! selamat datang..." Ucap wanita itu setelah menundukkan kepalanya.
" Ini rumah siapa yang? Kok kita dipanggil
tuan dan nyonya sama bibi itu? " tanya Bella bingung.
" Masuk saja dulu sayang..." Ajak Boy.
Kemudian mereka berjalan bergandengan memasuki rumah.
" Makan siang sudah disiapkan kok nyonya. Tuan dan nyonya mau minum apa? "
" Kami periksa- periksa dulu bi Limah...Ntar kita makan siang aja langsung, ngak usah bikinin minum. " ucap Boy.
" Baiklah tuan ...silahkan. " ucap bi Limah sopan.
" Wah...rumahnya bagus yang..." puji Bella begitu mereka sudah memeriksa semua.
" Yang ini ruang lapang tempat bermain anak- anak kita! - Boy.
" Jadi ini rumah buat kita? " tanya Bella hampir tak percaya.
" Ya sayang...Ini rumah untuk kita! walau sudah ada Mension mami dan papi. Istana keluarga Kims, tapi Boy masih ingin kita punya rumah khusus untuk keluarga kita. Ini rumah kita menyambut kelahiran mereka. " Ucap Boy sembari menunduk dan menempelkan kepalanya diperut Bella.
Bella terdiam karna terharu. Meski rumah
itu tak semewah mension keluarganya, atau istana besar keluarga Boy, tapi apa yang Boy katakan benar, mereka juga perlu rumah untuk keluarga mereka.
" Gimana, kok diam saja? tak suka kebanyakan rumah? "
" Suka sekali! Ini rumah untuk keluarga kita, untuk menyambut anak- anak kita.
Walau sederhana ini milik kita. Makasih sayang sudah melengkapi kebahagiaan kita dengan rumah ini. " Ucap Bella tulus seraya memeluk suaminya.
Kriuk...Kriuk ..Bunyi perut Bella.
" He...He....Sayang...kayaknya anak kita sudah kelaparan tu, tandanya mereka pada mengapit cacing- cacing diperut bunda! " Canda Boy.
" He He......kayaknya iya yang...ayo makan siang..." Ajak Bella.
" Ayo.." Ucap Boy, kemudian membawa istrinya menuju ruang makan.
Santap siang sudah disiapkan oleh koki dan pelayan karna memang sudah janji dengan Boy akan makan siang dirumah baru mereka hari itu.
Sebagai putri tunggal, sebenarnya Bella tidak perlu rumah lagi, karna mension orang tuanya saja masih terasa sepi karna merekapun lebih suka bermalam ditempat besan. Namun untuk membesarkan hati suami, Bella mencoba
seriang mungkin menerima rumah baru ini.
"Tempat ganti- ganti suasana, sekalian untuk anak jika sudah besar. " Batin Bella.
" Aku tahu yang ada difikiranmu sayang...Mungkin Bella merasa untuk saat ini rumah ini belum perlu. Tapi percayalah yang namanya keluarga itu, perlu rumah sendiri, walah sudah ada rumah keluarga besar. Kita mungkin takkan banyak menghabiskan waktu kita
dirumah baru ini, tapi setidaknya kita bisa
melapangkan hidup sesama, dengan adanya petugas yang jaga, bersihkan dan
pekerja yang bekerja dirumah ini.
Bi Limah sudah tak punya keluarga, kaluarganya terkena longsor dikampung
setahun yang lalu. Semoga dengan bekerja disini ia tidak kesepian lagi. Uoku
dari dulu mengajarkan, kalau semua yang
bekerja dengan kita itu kita jadikan saudara, diperlakukan seperti orangtua kita jika mereka sebaya. " Jelas Boy.
" Aku bahagia kok yang dengan rumah ini, cuma karna sekarang aja belum perlu.
Kalau memang ada bi Limah yang akan jagain dan sekalian untuk buka lapangan kerjaan baru, itu ide yang baik. Berbagi rezeki dengan sesama dalam bentuk memberi pekerjaan." kemudian Bella mengangguk setuju.
Bi Limah datang sembari tersenyum.
" Apa ada yang kurang nona? " tanyanya.
" Ada bi...Bibi kenapa pergi pas kami makan, nanti diwaktu yang lain kita makan bareng saja ya, sama- sama disatu meja. " ucap Bella.
Limah menatap pada kedua majikannya, kemudian menunduk.
" Itu ngak cocok non, sayakan cuma pekerja dirumah ini." ujarnya lirih.
" Bagi kami semua yang ada dalam satu rumah adalah satu keluarga bi! Jadi mulai sekarang anggap kami keluarga bibi juga, termasuk nanti kalau sudah lahir anak- anak kami, mereka akan panggil bibi nenek juga. Apa bibi keberatan? "
Limah tak bisa menahan air matanya, senang bercampur haru memenuhi dadanya, sudah diterima bekerja dan mendapatkan tempat berteduh yang aman saja ia sudah senang, apalagi dianggap keluarga.
" Tentu saya akan merasa tersanjung nona..." Ucapnya lirih.
" Bella berdiri, kemudian menghampiri
bi Limah, mendekap orang tua itu.
" Besok- besok jangan panggil tuan dan nona lagi, panggil saja nak bela dan Bhalendra." Pinta Bella.
" Ba...baik non eh..nak Bella. " ucap bi bi Limah terdengar gerogi.
Bella mengusap punggung perempuan itu." Semoga bibi senang bersama kami."
Ucapnya lembut.
" Ya nak...mudah- mudahan anak kalian lahir dengan mudah, sehat ibu dan anaknya."
" Semoga begitu bi..." ucap Bella.
" Amiin...Seru mereka serentak.
******
Sementara Hafis juga pulang jam istirahat siang itu.
" Tumben pulang siang yang?" tanya Hanna menyambut suaminya.
" Bos sedang kerumah barunya, dan aku disuruh melihat kondisi saudarinya. Masih muntah? Ini Abang bawakan
buahan. " ujar Hafis menyerahkan kekantong mangga pada Hanna.
" Mangga yang imut- imut berwarna oranye. Mangga apa namanya bang?
" Itu namanya mangga udang, dibawa Boy dari rumah utama khusus untukmu.
Ngak kuning ya ngak matang. Kalau masih ada ijonya masih masam, bila sudah berwarna udang seperti ini baru matang. " jelas Hafis.
" Besar sekali perhatian Meraka ya bang...Sampai panen mangga dipekarangan saja teringat aku. "
" Iya yang...Bahkan setiap hari Bos tak pernah absen mengingatkanku untuk baik- baik mengurusmu. Macam - macam
model kalimatnya, sampe kupingku panas setiap waktu. Entah kucing kalian yang mana dulu pernah berjodoh, hingga ia menganggapmu adiknya. " Ujar Hafis
" Ih...kamu jangan jadi teman sekalian anak buah durhaka dong bang... Bukan masalah pertalian darah bang, tapi Kitakan menikah dirumahnya, berjodoh mengikuti acaranya. Tentu ia tak ingin aku kau buat sia- sia, apalagi akukan tak punya orang tua lagi. Tentu Boy menghawatirkanku, bila dirimu tak menjagaku dengan baik,
karna ia memang Abang yang baik." Jelas Hanna.
" Iya ya....mommy nya Boy kan orang sebrang. Disana ada istilah dunsanak batali ayia, dan dunsanak batali budi ( Saudara pertalian hubungan baik ).
Boy menganggap Hana saudari seperti itu. " jelas Hafis.
" Tu kan tahu, kenapa Sowot?"
" Ngak... mungkinkah ini bawaan bayi kali! Calon Daddy Posesive. He...He...kekeh Hafis yang langsung dipencet hidung pinokionya sama Hanna.
Bersambung...