Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Capter 128



Tinggi Tinggi terbang bangau


Pulangnya pasti kekubangan juga


Sejauh- Jauh orang merantai, pulangnya kekampung halaman juga.


Pepatah itu yang membuat Raisa memilih kota kelahiran mommynya sebagai tempat melanjutkan hidup setelah berumah tangga.


Setelah Syah sebagai suami istri, bukan keluar negri tempat bulan madu yang diimpikan Raisa. Padahal suaminya konglomerat muda yang tidak akan merasa rugi, jika Raisa meminta bahkan keliling dunia.


Alfiano tidak banyak protes, dengan mampu memenuhi syarat dari pemilik hatinya, dan diterima sebagai suami, lebih berarti dari pencapaian apapun yang pernah ia raih dalam hidupnya.


Raisa yang cuek dan dingin, ternyata setelah Syah jadi miliknya berubah lembut dan hangat. Tatkala mereka sudah dikamar berdua, Alfiano yang taktahan sebak dihati karna teringat mommy yang sudah tiada, menangis didalam kamar.


" Akhirnya Al menikah mom..Semoga mommy merestui dari sana. " batin Alfian


sendu.


Raisa mengusap bulir bening yang menetes dipipi suaminya.


" Sayang teringat Almarhum ya? " tebaknya sembari meraih suaminya supaya berbaring dipangkuannya.


Alfiano dengan patuh merebahkan tubuh dipangkuan istri. Memejamkan mata menikmati kenyamanan, saat Raisa membelai lembut rambutnya.


Tak cukup hanya itu, melihat air mata masih bersileweran dari sudut mata suami, Raisa tak segan- segan mencium- cium pipi Alfiano.


Alfian membuka matanya, untuk menatap istrinya. Sekarang wajah cantik, manis dan simpatik milik Raisa, terpampang jelas didepan matanya.


" Pantas tadi lembut dan hangat sekali, ternyata kecupan itu tanpa pembatas. " Batin Al mengagumi betapa bersih dan bercahayanya wajah istrinya yang sudah tidak tertutup itu.


Sungguh selama ini, Al mencintai Raisa hanya dari tatap matanya saja, tidak pernah mengira kecantikan istri berkali- kali lipat dari bayangannya.


" Sangat cantik! " Serunya spontan sembari menatap Raisa tanpa berkedip.


Raisa tersenyum menunduk dengan pipi kemerah- ketahan menahan malu, membuat aura keanggunannya makin terpancar. Al segera duduk menghadap istrinya. Dilingkarkannya kedua tangan kokohnya dipundak istrinya. Ditatapnya lekat lagi wajah itu. Kemudian matanya tertumpu pada benda kenyal berwarna merah dengan taik Lalat dibelahan bibir bawah itu, menambah sensual bibir istrinya.


Sebelum Raisa mampu berkata, Al sudah


melabuhkan kecupan hangat dibibir manis itu.


" Terima kasih sudah mau dihalalkankan olehku manis..." Bisik Al setelah mengurai pagutannya.


Raisa mengangguk, dengan senyum malu, ia menundukkan wajahnya. Al kembali mengusap lembut wajah Ica, melihat bibir istrinya bergetar ia berkata. " Jangan takut..Abang akan menahannya sampai kita tiba dirumah baru kita. " Janjinya pada istri.


Ica menatap suaminya dengan berbinar.


" Benarkah? " tanyanya dengan tatapan menyelidik.


Al mengangguk, membawa Ica kedalam pelukannya. " Ayo bersuci, setelah menjalankan kewajiban biar kita istirahat. " katanya.


Ica melepaskan diri dari pelukannya, lalu menggeser badan turun dari ranjang, iapun berjalan keruang mandi


******


Hari ketiga setelah pernikahan, pasangan pengantin baru beserta Daddy Rehan dan


Sopri sang sopir Alfiano sampai dikota P


pukul Dua lewat.


Mereka disambut oleh Abby asisten pribadi Alfiano yang sudah duluan membereskan pekerjaan dikantor cabang.


Setelah semua barang bawaan diatur dimobil, merekapun meluncur dengan disopiri Abby.


Raisa menatap takjub rumah baru dengan cat hijau muda disamping gedung sekolah itu.


Ia memang sudah dikirimi Al fhoto sekolah dan rumah saat baru dirampungkan Enam bulan yang lalu.Tapi sampai disini langsung tentu rasanya beda.


" Benarkah ini rumah kita bang? " tanya riang Ica menghentikan langkahnya ditaman depan rumah.


" Selamat datang tuan muda dan nyonya . " Sapa tukang kebun sembari menghentikan aktifitasnya merapikan bunga- bunga, untuk menyambut tuan dan nyonya rumah.


" Ini ayah kami, tuan besar rumah ini! " Ujar Raisa mengenalkan ayah mertuanya pada tukang kebun itu.


Seorang perempuan setengah baya tergopoh- gopoh keluar dari dalam rumah. " Ini ibu Syarifah, yang selama ini bekerja membersihkan rumah kita, selanjutnya dia akan terus menjadi bagian dari keluarga kita, Ibu ini akan


membantu adik rumah ini." Jelas Alfiano.


Raisa dan Rehan mengulurkan tangannya bersamaan, bibi Syafifah tersipu malu ketika menjabat tangan Rehan, karna Rehan menatap lekat wajah bibi itu.


" Alfi kok milih ART semanis dan seterawat ini sih." Batin Rey mengagumi Syarifah.


Ehem...deheman keras dari Al melepas genggaman tangan kedua orang itu.


" Kalau akhirnya akan memutuskan akan menjadi orang sini, kita urus setelah didalam. " Sindir Alfiano melihat Daddynya tertarik pada bi Syarifah.


" Ti- tidak! Seru Rehan cepat, lalu buru- buru kedalam rumah. Raisa dan Al tersenyum saling pandang, sedang Bi Syafifah menunduk masuk mengikuti langkah majikan mudanya.


Sesampai didalam rumah, Ica takjub dengan dekorasi rumah. Rumah ini hanya Sembilan ruang. Ruang pertama Ballrom yang lumayan luas. Disana sudah terhampar karpet permadani.


" Seperti akan ada perjamuan. " Batin Raisa.


" Tuan Alfiano telah mengintruksikan akan acara syukuran malam ini, semua sudah disiapkan, siap magrib pendoa bakal datang." Jelas bi Syarifah.


Ica tak dapat berkata apalagi, semua sudah diatur suami dengan rapi. Belum sempat ia membuka mulut, dari dalam tiba- tiba keluar pasukan ibu- ibu menyerbu.


"Selamat datang non Ica.. Kami sudah mengacak- acak dapurmu. " Seloroh salah seorang ibu yang mengulurkan tangannya pada Raisa.


" Tidak masalah...Yang penting kita bisa makan besar setelah ini. " ujar Ica yang mencium Aroma masakan Minang.


Ica kemudian dikerumuni oleh ibu- ibu yang tubuh mereka beraroma bumbu.


" Sudah...cepat salamannya, nona butuh istirahat. " Ujar Bi Syarifah, yang melihat Ica sampe keringatan


Semua mengantri dengan baik, Raisa berasa jadi seleb dadakan. Setelah semua selesai, ica pun pamit kekamar.


********


Raisa dan Alfiano, dianugerahi seorang bayi lelaki yang tampan.


Kedua pasangan ini, juga sudah membaur dengan masyarakat MK. Sekolah mereka maju pesat. Walau mesti bolak- balik Jakarta Padang untuk urusan bisnisnya, tidak masalah bagi Alfiano.


" Ummi Ica...Pilihan hati Abi, bagaimana melewati hari ini? Masih gembira bukan? tetaplah bersemangat memupuk cinta kita, jangan pernah surut, walau usia makin lanjut. " Rayu Alfian setiap malam kebersamaan dengan istrinya.


" Ica akan menyambut suaminya dengan senyum terindahnya, setelah menidurkan anak, mereka akan memupuk cinta dengan gelora yang makin membara.


Sementara Boy dan Bella juga semakin bahagia. Adik perempuan Bahar Juga telah lahir dan berumur dua bulan.


Anjani merasa hidupnya makin sempurna, dengan tiga cucu dan satu putri kecil Sonia.


Setelah sebulan berlibur dikota P,


Citra dan Rendra mewujutkan bulan madu impian mereka kenegri asal mommy Rendra.


Bella kembali menggigit bibir bawahnya memandang pesawat mengudara.


" Aku masih jadi ibu mom...Aku masih belum bisa berlibur. " Batin Bella sembari mengusap kepala babby mungilnya.


" Waktu itu mereka juga begitu sayang..mereka juga doyan buat anak kayak kita. Baru sekarang mereka bebas! Jadi biarkan mereka menikmati bulan madu yang tertunda. " Ujar Boy dengan seringai nakal.


Mengambil babby Girl yang sudah terlelap dari Bella dan meletakkan hati- hati di Box bayi.


" Pagi begini ngak Kerja? " protes Bella ketika Boy sudah mulai mencumbuinya.


" Ngak....Ada Hafis yang menangani, sudah janji dari kemaren, bakal berlebaran aku hari ini. " Bisik licik Boy.


Detik berikutnya, dua anak manusia itu sudah bergumul ditempat tidur. Hingga matahari mulai meninggi, keringat bercucuran, barulah pergulatan itu Usai itupun karna teriakan dua jagoan didepan pintu.


" Tidak sama nenek? " tanya Boy menyambut keduanya.


" Ngak! Nenek lebih sayang sama Onty Sonia. " Ucap Bahar memberenggut.


" Mana ada begitu sayang...Nenek sayang semua! " timpal Bella.


" Ngak Kalna itu kok bunda..Cuma kami ngak mau jauh saja sama adik kecil. " Ucap Bahri menengahi.


" Itu baru boleh jadi alasan. " Ujar Boy sembari menggendong kedua jagoannya bergantian.


*****


Sesampai di Cancun, Tiga pasangan lanjut usia ini tak ada bosannya menikmati indahnya malam dipantai.


" Kalau kalian mau bersenang- senang diResort silahkan Han... Kami sepertinya lebih senang menikmati udara malam." Ujar Rendra membuat kedua sahabatnya sama- sama menoleh.


" Maksudku Rehan, kan mereka yang pengantin baru. " Ulang jelas Rendra.


" Iya ya... Kitakan pasangan usang. " Ujar Hans bersamaan dengan istrinya Nahda.


" Uis....Sama saja, Walau baru nikah kami juga pasangan senja, ngak ada program lagi selain menikmati hari tua saja. " Ujar Rehan Levi sembari menatap istrinya Syarifah.


" Kalau begitu, kita lomba gendong pasangan lari dipantai saja. " Usul Rendra.


" Trus yang kalah gimana? " tanya Hans antusias.


" Yang kalah ia yang bakal traktir jamuan makan selama kita liburan. " Ujar Rendra.


Ketiga lelaki senja itu menyatukan tangan mereka.


" Syah!!! " Seru mereka serentak. Sedang para bidadari senja hanya tersenyum mengikuti permainan para Daddy.


" Tenang diboncengkan kawan!!! Seru para bidadari senja diatas punggung suami mereka yang sedang berpacu dipinggir pantai.


Gelak tawa riang dan pekik asyik para istri mengahkan deburan ombak.


Tapi sayang, saat sedang asyik- asyiknya diboncengan, para suami terbatuk, bak Honda bebek yang businya kesembur air.


Dengan terpaksa ketiga perempuan cantik itu turun dari boncengan.


" Sa- saat masih muda, sibuk berbisnis dan membesarkan anak. Setelah bebas begini, tulang pula tak sanggup lagi. " Ucap Rendra sembari menatap lepas kepantai, setelah mengatur nafasnya yang sesak.


" I- Iya ya Bos...Ternyata umur kita memang


sudah senja, tinggal menunggu giliran saja. " Balas Hans yang tak kalah ngos- ngosan.


Citra mengusap keringat suaminya dengan sapu tangan merah mudanya.


Sarifah dan Nahdapun mengikuti apa yang dibuat Citra.


" Tapi kalaupun kita harus menutup mata,


ada bidadari yang akan memangku kita. " Ujar lembut Hans sembari menatap Nahda.


" Itulah alasanku mengambil bidadariku ini, tak mau merepotkan putri mengurusku menjelang sakarat nanti." timpal Reyhan Levi menatap Syarifah.


" Kalau begitu, Ayo kita istrirahat ke resort, Esok pertualangan dilanjut, jika masih bisa membuka mata. " Ajak Rendra.


" Insya Allah...Semoga kita bisa menikmati bulan madu tertunda ini, dan kembali kesisi anak cucu dengan Selamat. " Ujar Hans.


" Amiiin. " Ujar semua serentak.


Kemudian mereka berjalan bergandeng menyusuri pantai, menuju Resort.


Maaf ya pembaca semua...Beberapa hari ngak sempat Up, Maklum...Penulis lagi berkunjung keplanet lain..He...He...


Disini terjadi kerusakan jaringan, jadi kesemua cerita Penulis Stop Up beberapa hari ini. Mau pulang cari jaringan sibuk pula disekolah urusan terima tamu dari puskesmas untuk Vaksin anak sekolah...


Pas orang puskesmasnya balik, langsung meluncur dengan jet pribadi babang Rendra He...He..., baru nyampe habis magrib, nulisnya cuma bisa begini, merasa kurang Feel maklumin aja ya say...


Salam maaf dan kangen selalu dari penulis 🤭


Untuk cerita ini mungkin ini Finalnya, tapi sengaja belum autor kirim kesistem Endnya, masih mikir bakal buat karya baru apa gimana.


Untuk yang belum pernah mampir kekarya Kita Jalan Menuju Syurga Syafir