
Sakit menahan rindu tak ada obatnya selain bertemu. Saat orang yang kita rindukan sudah didepan mata, barulah raga dan jiwa sehat kembali.
Melewatkan waktu 6 hari sangatlah terasa lama
bagi Citra dan Rendra.
" Gimana sikecil sayang...Apa ia sehat? " tanya Redra melalui telfon Vidio.
" Memang sikecil saja yang ditanya, momynya ngak? " kata Citra memasang wajah cemberut.
" Kalau momnya kan sudah nampak. Tuh tambah cantik dan ngangenin ! " kata Rendra merayu istrinya.
" Kangen- kangen katanya, kalau kangen kok lama?" Momy muda itu memasang ekspresi kesal.
" Besok kalau cuaca baik, bakalan lepas landas kekasihmu ini sayang. Apa sudah tak tahan ya
kangen sama babang Rendra yang tampannya
jauh diatas Emre likilcim. " kata Ren penuh percaya diri.
" Artis Turki itu? Ih... kok ngak nyambung? orang demam Korea. Yang ini malah bangga dengan cambangnya itu! " kata Citra.
" Emang suamimu ini kental baratnya kok sayang...
Jadi istri senangnya yang sipit dan mulus ya?Pantas lebih sayang sama kakek ketimbang suami sendiri. " kata Ren balas pasang emot cemberut.
" Siapa yang ngak demen sama yang bening dan mulus sih sayang...Kakek mulus dan bening, tak kalah dengan Limin ho.
Tapi ngak usah terusin busuk hatimu sama kakek.
Bukankah kau rasakan bagaimana istrimu memanjakan wajah tidak mulusmu itu? " tanya Citra seraya mengusap wajah berjambang Rendra dari balik layar. Membuat Rendra makin tak tahan
menunggu esok.
" Aduh...kangennya sayang...Nih jambang mendadak gatal mintak dibelai sama tangan halusy a my Engel..." kata Rendra seraya memejamkan matanya. Membayangkan saat Citra mengusap wajahnya malam itu.
" Makanya cepat balik. Kalau terlambat kami duluan ke B! " no belaian no sayang- sayangan! " ancam Citra.
" Mana boleh begitu? Tak ada pake acara kabur- kaburan lagi. Kalau coba kabur dapat hukuman yang berat! " ancam balik Rendra.
" Hukuman apa? " tanya Citra.
" Pokoknya stay in the home sampai suami pulang!Bukankah itu aturan umum bagi setiap perempuan yang sudah jadi istri? " kata Rendra mulai unjuk gigi.
" Itu sudah jadi sifat umum lelaki. Kalau sudah disayang aturannya akan segudang. Sebelum disayang sibuk berjuang. Eh giliran dah dapat, eh malah ditindas dengan berbagai aturan. " kata Citra.
" Aku suami yang istmewa sayang...Itu tidak akan sama dengan suami pada umumnya. Yang penting
tak ada acara pergi tanpa suami. Jadi takkan ada penindasan, tapi pemuasan. " kata Ren dengan senyum menggoda, seraya menjilat bibirnya.
" Ih...dasar pria DDMJ!!!
" Apa itu?
" Diam- Diam Mesum Juga. " kata Citra.
" Yang kutahu selama ini Diam- Diam menghanyutkan. " Protes Rendra.
" Terserah aku dong...kan yang punya istilah aku. " kata Citra tak mau kalah.
" Terserah deh...Biarlah mengalah, yang penting dapat jatah. " kata Rendra menatap wajah dibalik layar dengan tatapan mendamba. Membuat citra segera memutus telfon karna tak tahan dengan rindu yang kian menggebu dikalbu.
Syukurlah....Rendra dan Hans tiba di depan Istana tuan Kims dengan sehat dan selamat tanpa kurang satu apapun. Begitu melihat dari jendela, kalau Si Moy, Jet pribadi milik keluarga sampai di Bandara pribadi kakeknya. Citra tak bisa menahan diri untuk tidak menyambut pacar halalnya itu. Tanpa memakai alas kaki, Citra berlari menyambut Rendra. Membuat para pelayan tercengang dengan
perkembangan baru nona muda mereka.
Tak urung dan tak Alang, dua insan yang sedang dilanda asmara itu melepas rindu dengan berpeluk dan bercium didepan semua. Keduanya tak sadar, kalau Mega Ection film India yang mereka peragakan membuat banyak pasang mata terpaksa membuka menutup menyensor Action mereka.
" Memang kalau orang lagi jatuh Cinta dunia terasa milik berdua ya? Yang lain hanyalah menompang saja! " Kata Hans yang membuat mereka tersadar dan saling pandang, lalu keduanya tersenyum malu-malu. Tapi bukannya berhenti ia malah menggendong istrinya lalu membawanya menuju rumah istana itu, dengan disaksikan banyak pasang mata Rendra bak penculik yang ketahuan melarikan istrinya menuju kamar mereka. Yang diculik hanya tersenyum bangga seraya mengalungkan tangannya di leher sang pencuri hatinya.
" Apa ngak capek? " tanya Citra seraya memijiti tubuh suaminya saat ia sudah dibaringkan ditempat tidur oleh Rendra. Rendra memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan bidadari tak bersayap miliknya.
Beberapa detik kemudian ia membuka bajunya. Lalu menatap Citra dengan tatapan menuntut.
" Katanya kangen anak kita, kok ngak nengokin dia duluan dikamar kakek. " kata Citra sembari menepis tangan nakal suaminya.
" Dia sehat kan sayang?..." tanya Ren parau.
" Syukurnya anak kita tangguh sayang...Ia selalu ceria dengan old Dadynya tak terlalu baper mikirin
Younges Dady." kata Citra.
" Asal momynya ngak ikut- ikutan gitu ngak masalah. " kata Rendra mengecup istrinya tanpa ampun. Sedang yang dikecup membalas dengan mempermainkan jambang tuan muda yang sedang
kelaparan itu.
" Pasti akan disalon dulu Cantik..." tapi serfisnya yang ini dulu ya! " katanya seraya menggesekkan benda yang mengeras itu ketubuh bagian bawah istrinya. Yang membuat yang punya badan terpaksa buka tenda.
" Apa kau tak malu menculikku didepan semua orang, lalu mengurungnya dikamar. Bahkan ada yang protes ngak digubris. " kata Citra berpura menolak rayuan cabul suaminya.
" Biarin...salah sendiri kelamaan mikir, ngapa ngak
nikahin Nahdanya. Biar bisa kayak kita.
" Belum tiba detik jodohnya kali yang...
" Ngak dinikahi ya ngak jodoh dong! kalau udah gini
kan jodoh. " kata Ren seraya menindih tubuh istrinya.
" Sakit tahu menahan rindu seminggu, ketimbang memikirkan soal malu pada mereka.
Ia pantang menyerah menyerang istrinya. Yang diserang cuma sok jual mahal, tapi hatinya berkecamuk. Tanpa sadar ia telah membuka sendiri gordennya. Membiarkan suaminya mengekspos semua keindahan tubuhnya. Selanjutnya santap siang paling lezat didunia tak dapat dielakkan oleh Citra.
" Makan dengan karbo menambah energi, tapi makan yang ini menguras energi. Sampai batrey benar- benar low bat, barulah dua insan itu berhenti. Emang Robot pake batre? He...He....
Usai percintaan penuh sensasi itu, Rendra memberi
kecupan sayang yang bertubi dikening sang istri.
" Ada yang mesti dituntaskan sebelum kita ke B sayang..." kata Rendra menatap istrinya.
" Apalagi? " tanya Citra balas menatap lekat sang suami.
" Ayah sakit usai menikahkan kita. Aku sudah berulang kali menjenguknya. Tapi ia merindukan dirimu dan anak kita sayang..." kata Rendra mengusap dadanya lega setelah berhasil menyampaikan maksudnya.
" Pria penghianat itu maksudmu? " tanya Citra.
" Berhentilah berbicara begitu tentang ayah sayang...Aku tahu begitu banyak duka yang sayang
alami sejak ditinggalkannya. Tapi percayalah, tak ada maksudnya untuk meninggalkanmu sayang... Iya dipaksa menikah oleh orang tuanya, agar perempuan itu merawat orang tuanya.
Tapi ia tak melupakan kalian, ia berlali- kali balik kesana mencari kalian. Tapi pasca gempa itu, tak ada yang tahu kemana kalian pindah. Dia terus berulang tiap
tahunnya mencari kalian. Terakhir pencarian bertemu alamat baru kalian. Tapi ibu mengusirnya, karna merasa dikhianati. Ia mencari penginapan malam itu. Saat esok pagi ia kembali, rumah itu sudah dikosongkan.
" Jangan ulang kesalahan dimasa lalu yang membuat anak kita tak punya kesempatan punya kakek sayang...Seperti ibu yang membuat keputusan yang membuat cintaku ini harus hidup tanpa ayah." kata Rendra seraya mengecup puncak kepala istrinya.
" Gimana kau percaya padanya? " tanya Citra menyelidik.
" Aku tak punya siapapun selain kakek. Ayahmu yang jadi dokter pribadiku dari kecil. Bi Sumi pengasuhku. Aku masih 3 bulan sudah yatim piatu.
Aku sudah menganggap pak Rinto ayahku, karna ia memang satu- satunya sahabat ayah yang rela merawatku sejak kecil. Bahkan tengah malam pun ia akan datang, kalau aku kurang sehat sedikit saja.
Air mata Rendra bercucuran, mengenang kedua orang tuanya.
" Maafkan aku sayang...aku jadi mengingatkanmu pada mereka. " Kata Citra memohon, seraya menggenggam erat tangan suaminya, lalu mengecupnya.
" Maafkan juga ayah kita ya...Izinkan ia menyampaikan alsannya padamu sayang...Bukalah pintu maaf sebelum terlambat dan berakhir dengan sesalan " kata Rendra lagi.
" Baiklah sayang...bawa aku dan Boy kerumah ayahmu itu. " kata Citra, walau kedengarannya aneh, tapi Rendra bahagia, misinya sudah berhasil 75 persen. " Rendra tersenyum penuh kemenangan.
Akhirnya Suami siaga itu sukses mempersatukan anak dan ayah yang bertahun- tahun dalam kesalah fahaman itu.
Dokter Rinto bercucuran air mata saat dipanggil ayah oleh putri semata wayangnya. Istrinya Rinto meminta maaf pada Citra. Boy bergelayut manja pada nenek dan kakeknya.
Semua menangis bahagia
Boy bertepuk dan tertawa,kemudian mengacungkan jempolnya pada sang Dady.
Rendra membalas acunan jempol putranya dengan
kecupan sayang.
Kehidupan yang kian lengkap membuat Boy tumbuh kembang kian gemilang. Ia berinteraksi dengan semua penuh perhatian. Menguasai setiap yang ia dapatkan, mengatasi rintangan dan masalah sejak dini.
Bersambung....
Next to 3 Tahun berikutnya.
Jangan lupa mampir terus ya, nantikan aksi sang Hacker cilik mengatasi setiap masalah dikeluarga dan kerajaan bisnis Dadynya.
Jangan lupa kasih dukungan terus pada karya ini.
Karna setiap dukungan pembaca adalah sumber spirit dan inspirasi penulis.
Thank untuk semua...