
" Selamat siang jelang Sore abangku sayang...baru pulang ya?
Cepat sini, aku mau mengenalkan seseorang padamu. " kata Calis menyeret Boy yang baru datang.
" Apaan sih Calis, Abangmu masih capek habis bantu Dady dikator. Datang- datang langsung diseret, kasih minum atau apa gih, bukannya begitu
menyambut orang yang pulang kerja. " kata Rendra
mengingatkan putrinya.
" Ngak apa- apa kok Dad, Boy ngak terlalu capek, lagian nih Adik kalau ngak segera diikuti arahannya, ntar ngambeknya bisa menahun. " kata Boy sembari menatap jenaka adik tengahnya.
" Siapa yang kau bawa untukku cantik? seperti apa temanmu yang kali ini, sampai sicantik berlari- lari ditangga untuk segera menjemput abangmu yang ganteng ini. Apa temannya masih senorak yang waktu itu?" tanya boy sembari mengacak rambut Calista.
" Abang...kok tega amat buat rambut indah adikmu kusut ! Padahal tadi sudah capek- capek Zahra rapiin. " kata Calista protes.
" Makanya, kalau keluar kamar pake tutup kepala.
Kalau ditutupkan kan ngak bakal dijahilin. " kata Boy sambil berhenti sejenak untuk merapikan rambut adiknya. " Jadi yang ini namanya Zahra? " tanyanya kemudian.
" Uhm...Zahra doang. " jawab si adik.
Mereka lalu berjalan menuju lantai tiga.
" Bang...
" Uhm....Apa lagi neng?
" Besok kan Minggu, kita libur. Pagi kita latihan Silat, sorenya latihan menembak Ya. " kata Calis menyampaikan rencana liburan besok.
" Nampaknya adik mau acara besok DRS saja nih?
" tanya Boy.
" Apaan tuh Drs? " tanya Calis mengerutkan dahi.
" Daerah Rumah Saja." jawab Boy langsung.
" O Gitu, kirain gelar untuk Sarjana lama. Soalnya pak Johan penjaga pustaka Calis, masih punya gelar kayak gitu.
" Udah tua ya dik penjaga pustakanya? " tanya Boy seraya menarik Calis yang hampir terpeleset, karna
cengar- cengir, membayangkan bagaimana
perkenalan Zahra Next dengan abangnya.
" Awas hati- hati!...Untung ada Abang. " kata Boy
Yang hanya dibalas senyum oleh adik centilnya.
Begitu mereka sampai didepan pintu kamar Calista.
" Zahra manis...Lihat nih, aku bawa siapa! " teriak Calis girang. Tak ada jawaban, yang terdengar hanya dengkuran. Calis mau mencoba melindungi
pemandangan yang bakal buat tuan muda ferfeksionis bakal Ilfil. Tapi ia terlambat.
Up....
Boy melongok kepintu. Tak ayal, ia menyaksikan bocah perempuan yang sedang tidur mendengkur,
dengan mulut ternganga, tidur dengan posisi sembarangan, ditambah bunyi dengkuran yang cukup mengusik telinga. Liur bersemburan keluar.
" Apa ngak salah? " tanya Boy pada adik tengahnya.
" Salah apanya? tanya Calis pura- pura tak tahu.
" Di kutip dari mana nih manusia langka? " tanya sang Abang sembari menggeleng- galengkan kepala.
" Jangan ngomong gitu dong, ntar tidurnya tipis, ia mendengar ucapan Abang, jadi tersinggung. " kata Calis mengingatkan.
" Mana ada tidur tipis sudah ngorok gitu. Mana tidur kayak perang lagi. " gerutu Boy mulai melangkah turun.
" Kalau sering- sering tuh cewek kau ajak kesini, bisa hancur tuh tempat tidurmu." kata Boy lagi.
Calis cepat - cepat menangkap tangan abangnya.
" Bang...
" Biarkan Calis mengambilkan minum dan makan Abang dulu. " kata Chalis sembari menggandeng abangnya turun.
" Calis sih berharap, sama Zahra Abang bisa temanan, jadi adik perempuan pun tak apa-apa dulu, mau ya bang....Ia gadis yatim piatu, sekolah ditempat Calis, dibiayai Ibu asuhnya.
" jelas Calis sembari merengek.
" Kenapa sih, adik Abang ini makin hari makin cerewet, dan kebanyakan ngurus? padahal
Abang sudah kasih nama cuma sicantik yang manis. Eh...dapat orangnya malah banyak urusan. " kata Boy mencubit hidung kecil adiknya.
" Caliskan pengen suatu saat, punya calon kakak ipar. " kata Calista malu- malu menyampaikan hajatnya.
" Kalaupun suatu saat adik Abang ingin calon kakak ipar, tentu Abang akan berikan yang ngak norak apalagi pemalas kayak temanmu itu sayang..." kata Boy sembari membelai rambut halus adiknya.
" Dia bukan pemalas, ini memang jam istirahat, ia kecapean, emang Abang, yang tak tahu capek dan tak kenal jam istirahat? Kami manusia biasa. " kata Calis bersesungut.
" Abang juga manusia biasa sayang...Kita semua manusia biasa, tu bibir baik- baikin aja, jangan dijeding- jedingin. " ntar cantiknya hilang. " kata Boy membujuk sitengah.
Sebentar kemudian, seseorang memanggil.
" Nak Boy diminta nona dan tuan turun, makan siang bersama. Non Calis sama tamunya juga. " kata Joko yang masih betah bekerja dirumah mereka.
" Kalau aku mau bobok cantik dulu om Joko,kan tadi sudah duluan makan. " kata Calis seraya berbalik.
Joko hanya manggut- manggut.
"Oh ya, karna Momy sudah balik, izinkan adikmu ini bolos dari janji yang tadi ya bang. Bilang sama Momy Calis mau tidur siang dulu. Sampai jumpa nanti malam, kami turunnya Dinner saja, sore kursus, adap menghadapi calon Momy mertua dulu untuk Zahra. " kata Calis masih belum patah harapan.
" Baiklah...terserah. " kata Boy segera turun.
" Berarti ada harapan dong...Yes! yes! Yes!
" kata Calista girang, ia lalu melambaikan tangan pada abangnya, kemudian masuk kamar.
Sedangkan si abang memijiti keningnya, berdiri sejenak ditangga, karna kepalanya lumayan puyeng. " Masak usianya masih 10 tahun,
sedang abangnya ini masih 14, sudah sibuk cari kakak ipar, mana teman yang Ia bawa yang konyol- konyol semua. Apa adikku benar- benar khawatir karna aku yang tidak punya teman sebaya ya? " tanya Boy bicara sendiri.
Setelah dirasa kepalanya rileks, baru ia bergegas turun, menemui Momy , Dady diruang makan.
" Sesampai diruang makan, ia segera mengecup pipi perempuan cantik yang sudah melahirkannya.
" Gimana mom, sekolah sibungsu? " tanyanya sebelum mengambil kursi disamping kiri Momy, sedang disamping kanan Momy sudah duduk tuan besarnya, siapa lagi, kalau bukan tuan Takur, eh salah maaf,...bukan He...He...maksudnya tuan Rendra, Dady tersayang.
Raisa baik sayang... ia sibungsu yang uniq, ia malah makin gemuk tinggal diasrama. Bareng teman- teman dari berbagai suku. Ia bahkan tak menangis waktu Momy mau balik.
" Anak kita kayak permen nano- nano ya sayang. Satu senang bekerja, yang tengah suka bermain. Eh sicicit malah masih kecil sudah mau mengasingkan diri dari keluarga, sekolah asrama, belajar bersama, makan bersama tidur bersama, shalat bersama, patuh dan taat dibawah bimbingan guru. Sedang Sisulung ditakuti sama gurunya. "
He...he...Citra terkekeh membaca karakter ketiga buah hati mereka.
" Yang penting mereka berkembang tidak diluar kodrat Allah, sayang...Biarkan mereka jadi apa yang mereka mau, yang penting mereka sadar, bahwa mereka tetaplah manusia biasa yang butuh agama sebagai petunjuk hidup. Oh ya, Calista mana? " tanya Rendra teringat sitengah yang belum muncul
dimeja makan.
" Dia titip salam sama Momy dan Dady. katanya ia mau bobok siang, ntar Dinner, baru bareng. Sore - sore ini, ia mau kasih kursus sama teman barunya yang ia bawa tadi. " Cerita Boy.
" Bawa teman baru lagi dia? " tanya Citra.
Boy menjawab dengan anggukan.
" Terserahlah.. yang penting ia sehat, dan selamat. Ntar Momy intip keatas. Sekarang ayo kita makan! " kata Citra mulai mengisi piring tuan suami. Sedang Boy seperti biasa, ia lebih senang melakukannya sendiri, hanya kalau ada Calista saja ia suka manja, dengan tujuan , untuk melatih
sang adik agar rajin mengerjakan pekerjaan perempuan.
Setelah berdoa mereka bersantap siang, seperti biasanya, Setiap sabtu Rendra sengaja menutup kantornya lebih awal, agar diri dan karyawannya tidak melewatkan momen makan siang dirumah bersama keluarga tiap akhir pekan. Apa ada banyak Bos lain sebaik Dadynya Boy, mudah- mudahan yang lain pada nyusul ya.😄😄😄
Bersambung....Baru nongol nih Say...
Tapi jangan kapok ya, baca terus karya ini, minta doanya juga agar penulis sehat dan bisa lebih semangat lagi lanjutkan cerita ini. Doa Autor selalu
buat keselamatan dan kesehatan pembaca setia semua.
Jangan lupa dukung terus karya ini, like,fote, komen, kasih bintang, hadiah dan Faforitkan bagi yang baru mampir.
Salam kangen untuk semua 💓💓💓🥰🥰🥰