Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 20



Rendra duduk termenung dikamar, diatas jet yang akan membawanya dan Hans menuju Canada. Ia memijit keningnya karna kepalanya terasa pusing. Akhir- akhir ini Kepala Ren memang sering dilanda pusing. Baik itu kepala atas maupun kepala


bawah. Segalanya serba Rumit buat tuan muda yang ketampanannya diatas Rata- rata itu.


Pria tampan Keturunan Campuran Cina, Jawa dan Meksiko itu saat ini dilanda perasaan yang berkecamuk. Sebenarnya keberangkatannya menuju benua asal momynya itu sangat berat bagi Rendra. Mengingat Ibu dari calon anaknya tinggal menghitung hari untuk segera turun mesin, maksudnya akan segera lahiran.


" Kenapa masih galau sih Ren? " tanya Hans yang sekarang mulai membiasakan diri memanggil Rendra diluar jam kerja. Karna itu sudah lama diminta oleh sang big bos.


" Gimana ngak pusing aku Hans. Aku bisa melihat dan menyentuhnya, tapi ngak bisa memilikinya. " Kata Rendra masih memijiti keningnya.


" Jadi ceritanya bos besar lagi pusing pala ingin meledak atas bawah nih? Ha ..ha...ha..." Hans terkekeh sampai matanya berair.


" Ledekin saja terus!!! Akhir- akhir ini tingkahmu ngelunjak, ngak ada segan- segan nya ngeledekinku. Untung aku bukan bos kejam, kalau aku bos kejam, sudahku buang kau jauh- jauh.


" Ngak bakalan tega bos buang Hans, mau kemana


coba cari asisten sepintar, sejujur dan sesetia aku? " kata Hans mulai ketularan lebaynya Adelia karna keseringan ngobrol dengan cewek centil alay and lebay itu, untuk urusan Citra dan tuan Kims. Karna sejak dua perempuan itu tinggal diIstana Tuan Kims, tak boleh lagi Hans menampakkan batang hidungnya diIstana itu.


" Mengapa aku tak boleh kerumah kakek Ren?Akukan kadang rindu juga dengannya. " protes Hans, saat disuruh menunggu didalam mobil saja.


" Kamu tahan saja rindumu dulu sama kakekku sampai rencanaku berhasil. Aku tak mau kalau ia sampai mengenalimu dan merusak rencanaku. " kata Rendra saat itu.


Kini sudah dua bulan ia tak pernah mampir dan bercekrama dengan mantan Kaisar di dinasti bisnis Rendra itu. Hans sedikit kesal karna rencana konyol tuan muda yang super aneh itu telah menghalanginya untuk bertemu dengan pria tua bermata sipit yang dulu telah mengangkat kehidupan orangtuanya yang sulit, dengan mempekerjakan ayahnya dan menyekolahkan Hans


sampai Perguruan Tinggi.


Setelah menarik nafas panjang ia berdoa,semoga Rencana Rendra berhasil, dan semua bisa berjalan lagi sebagaimana biasa.


Tadi aku yang termenung, sekarang malah kau yang ketularan. Kena tu lah kau! Habis suka sekali sih ngeledekin bos sendiri. " kata Rendra seraya menepuk pundak Hans. Sontak membuat Hans tersentak dari lamunannya.


" Gimana ya bos,? apa misinya berhasil? Habis aku sudah kangen sama kakek Kims, biasanya akhir pekan kan kita ngajaknya jalan- jalan." tanya Hans sekalian menuntut.


" Sebentar lagi anakku akan lahir Hans. Mudah-mudahan ia bisa lahir di hadapanku. Aku takut ia keburu lahir pas kita masih diCanada." kata Rendra khawatir.


" Ngak mungkinlah bos...Kitakan cuma satu Minggu. Citrakan, kata Adel usia kandungannya baru genap delapan bulan. " kata Hans menenangkan tuan mudanya.


Justru karna sudah delapan bulan aku khawatir, apalagi perutnya sudah turun sekali pas kemarin aku sentuh. " kata Rendra mengingat saat kemarin.


" Nona...Apa boleh Stefi mendengarkan detak jantung baby nona? " tanya Stefi dengan tatapan memohon. Ia tak tahan sudah dua bulan ia rutin mengurut perut Citra tanpa bisa mendengarkan langsung detak jantung baby-nya.


Citra mengerutkan dahinya. Kemudian menatap Stefi dengan tatapan curiga.


" Kenapa pula kau mau mendengar detak jantung anakku segala, ayahnya saja sampai hari tak pernah ada kabar, apalagi punya niat untuk mendengarkan detak jantung anaknya. " kata Citra


mulai meneteskan airmata. Yang membuat Stefi hampir lepas kendali. Karna tak tahan melihat airmata Citra bercucuran.Ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan keinginan untuk memeluk gadisnya, menyatakan kalau iapun tak pernah berhenti memikirkan mereka.


Saat tangannya ingin mengembang, dan bibirnya mau terbuka ia kembali berfikir.


" Belum saatnya, aku tak mau kalau aku buru- buru, ia kembali menghilang dari hidupku, aku tak mau itu terjadi lagi " kata batinnya seraya mengelus dada. Kemudian ia izin kekamar mandi pada Citra.


" Dasar aneh...tiap kali ngusukku, ia selalu kebelet, dan kekamar mandi , mana lamalagi? Kata kakek ia impotent, tapi kok keringatan dan terpipis- pipis gitu ya? " gumam Citra seraya menggeleng- gelengkan kepalanya.


Sebenarnya ada rasa takut dan curiga setiap kali kusuk berduaan saja dikamar dengan Stefi. Tapi entah mengapa tubuh Citra sendiri dan Baby-nya merasa nyaman dan senang dikusuk sama Stefi.


Setelah Stefi keluar dari kamar mandi, ia kembali duduk disisi pembaringan Citra. Ia kembali mengutarakan keinginan yang tak bisa ia bendung.


Kali ini ia menggunakan kelemahan Citra untuk mendapatkan keinginannya itu.


" Malam ini aku mau mengundurkan diri kerja jadi tukang urut untuk Nona. " katanya seraya menatap wajah cantik perempuan hamil itu, dengan tatapan memelas.


Saat tersadar tubuhnya jadi tontonan gratis orang didepannya, ia langsung melepas tangannya dan bergegas menarik kain sarungnya dan mengikatkannya diatas dada.


" Tak apa- apa! Kita kan sama. " kata si Stefi.


" Kau bilang kita sama. Mengapa aku lihat itumu menonjol saat tubuhku tersingkap? " kata Citra yang membuat wajah Stefi memucat.


" Kampret! Ini si elang kok pake nongol segala. " Rutuknya seraya menyentuh Elang sakti kepunyaannya yang memang sedang menukik mencari mangsa itu.


" Tidur!...tidur! " kata hatinya memberi perintah pada elang yang tak tahu aturan itu.


Citra lalu tertawa keras, bagai orang yang kesambet saat melihat wajah pucat Stefi.


" Kamu lucu stefi ! Citra cuma becanda kok sampe sepucat itu. Lagian mana Sudi Citra menatap itu segala. " katanya setelah menghabiskan tawa cekikikan nya yang membuat perut buncitnya naik turun


, pun airmatanya sampai keluar, sedikit lagi pipisnya juga mau meluncur.


" Ayo angkat aku kekamar mandi, ntar aku pipis celana nih, habis kamunya lucu. " Rengeknya pada Stefi yang membuat Stefi terkejut. Ditatapnya Citra dengan tatapan ragu.


" Cepatlah! aku tak tahan berdiri sendiri , ntar pipisnya meledak. " katanya menggelinjang.


" Tolonglah, tak tahan nih. Nanti biar aku bolehin dengarin detak jantungnya boy ku. " Janjinya sembari mengalungkan kedua tangannya dileher Stefi, membuat si Elang Stefi makin menukik.


" Ya Ampun...kuatkan aku. " doanya dan dengan segera menggendong tubuh Citra kekamar mandi.


Lalu tanpa merasa berdosa Citra langsung pipis dihadapannya, karna memang tak tahan.


Setelah kembali keperaduan ya, Citra memenuhi janjinya, membiarkan Stefi mendengarkan detak jantung baby-nya.


Tak tanggung betapa senang hatinya bisa menikmati momen yang sudah lama ia idamkan itu. Masalah sielang biarkan ia menukik sendiri disarangnya, Pria itu mengabaikannya demi anaknya.


" Stefi aneh juga ya, kayak punya ikatan batin dengan si boy. " kata Citra sambil mengelus perutnya. Ah...biasa aja lagi, yang namanya orang hamil, kalau dikusuk memang itulah obat yang paling mujarab." fikirnya setiap ada rasa curiga yang menyelinap dibenaknya. Tak sadar ia kalau ia kalau hati dan raganya telah bergantung pada Dady dari calon baby-nya itu walaupun dalam wujud lain. 😀😀😀


" Sampai segitu bos???" tanya Hans membayangkan bagaimana tersiksanya tuan muda


sekaligus sahabatnya itu menjalani profesi konyolnya jadi tukang urut untuk perempuan yang sedang mengandung bayinya itu.


Perempuan nomor satu yang telah membuat mata hati Rendra mau menatap manusia yang berjenis perempuan didunia ini. Ya Citra sigadis tomboy yang berakhir diranjang nya, telah membuat lelaki yang tak mau mengenal wanita ini rela melakukan apapun untuk mendapatkan hatinya.


Walaupun sekarang bos menderita sakit kepala atas sama bawah, tapi Hans fikir, misimu sudah sukses, ibu dan anaknya sudah ada dalam dekapanmu walaupun bos dalam wujud lain " kata Hans kemudian.


" Kampret kau! Emang kau kira aku siluman! " kata Rendra menepuk pundak Hans.


" Lebih jelek dari Jejadian! " kata Hans seraya menunjukkan Foto penyamaran Rendra jadi Stefi.


" Astaga...Aku sendiri sih tak sempat becermin. " kata Rendra kemudian mereka tertawa sembari cakar- cakaran.


" Salah sendiri sih, ngapain bos besar buat nemuin calon nyoya besar pake acara begini segala. Ngapain ngak pura- pura ketemu diacara meeting perusahaan saja, kayak cerita- cerita novel itu. " kata Hans. Jadi ngak perlu pake hampir pipis celana segala." kata Hans kembali meledek Rendra.


" Tapi katamu ngak enak yang instant, makanya ibu


Sumi ngusulkan yang begini. " jawab Rendra Ia tersenyum senang, sedikit beban sakit kepalanya berkurang setelah berkeluh kesah dengan pria yang dulu pendiam berubah jadi tukang ejek ini.


Bersambung....Misi selanjutnya get to Mr Kims.


Mampir terus yok...Jangan lupa kasih like, love, fote and komen yang bijak, saran yang manis Reader tersayang...jangan ada yang tersinggung kalau ada kata yang tidak berkenaan, karna penulis ngak ada maksud apa - apa selain menghibur pembaca tercinta.


Siapapun, dimanapun, yang pentingnya yang udah dewasa boleh merapat yok!...Muah..💗💓💗