Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 129



Tiga pasang pengantin Usang sedang Asyik menikmati sarapan pagi di Moon Palace nizuc. Seperti pasangan muda yang lagi bercinta, mereka melepaskan segala beban fikiran tentang bisnis dan ketenaran masa muda dan kejayaan dalam dunia usaha, namun urusan keluarga nampaknya tak lepas dari ingatan.


Ketika tampuk pimpinan perusahaan sudah diserahkan sepenuhnya pada yang lebih muda dan dalam ketenarannya pula, saatnya yang tua hanya menjadi penonton dibalik layar.


Rancana bersenang- senang dengan pasangan hidup dihari tuapun mereka jalani dengan sungguh- sungguh.


" Setelah menikmati keseluruhan Cancun, kita kemana lagi Bos?." tanya Hans memecah keheningan sarapan romantis


tanpa basa basi itu.


" Jangan memanggil dengan panggilan begitu lagi Hans, sekarang kita hanyalah pasangan kakek dan nenek yang bucin sampai tua. Lupakan kesibukan dan kebisingan dunia kerja yang kita tinggalkan, sisanya nikmati masa liburan panjang kita tanpa beban, apa selama ini kau tidak merasa begitu banyak melewatkan momen romantis dengan Nahda karna sibuk mengurus perusahaan dan diriku? " tanya Rendra sembari membagi suapannya dengan citra.


" Aku menjalani pekerjaanku dengan ikhlas, jadi tak ada yang menyangkut dihatiku, semua sudah menjadi candu bagiku, bekerja denganmu sudah menjadi kebutuhan pokok. Setelah Vacum nanti, tak tahu bagaimana mengisi hidupku lagi menjelang mati. " Ujar Hans.


" Segitu berartinya sang Big Bos bagimu Hans ? " Timpal Rehan Levi.


" Iya..Bahkan libur sehari karna kurang sehat, cukup membuatku linglung dirumah. " jawab Hans.


" Padahal ada bidadarimu dirumah, gimana bisa, lebih berarti ditempat kerja. " tanya bisik Rehan.


" Diakan jarang juga dirumah, apalagi sejak sibuk mengurus IO disamping bekerja sebagai bidan." Ucap Hans sembari memandang istrinya yang nampaknya sedang fokus menikmati sarapannya.


" Artinya kau kurang perhatian dirumah, hingga menjadikan tempat kerja


sebagai tempat Faforit. " Ujar Rehan membuat kesimpulan.


Hans menatap istrinya, melihat ekspresi Nahda yang cuek saja, ia tersenyum.


Sementara Rendra menatap Rehan Levi dengan tatapan peringatan.


" Bukan kurang perhatian dirumah, tapi memang perhatianku pada Hans sebagai CEO dan sahabat paling hangat didunia yang membuat dunia Hans tak bisa teralihkan dariku." Ucap narsis Rendra.


" He...He...Ia kali ya...Buktinya aku sebagai CEO dingin, tidak punya asisten sehebat dan sesetia Hans. " Kekeh Rey.


" Kau boleh selama ini jadi CEO dingin Rey, tapi untuk jadi kakek dingin, aku takkan memberi hak padamu, apalagi sekarang sudah ada bidadari pengganti dipenghujung hidupmu, sudah ada yang menghangatkan, hendaknya makin hangat dan penuh kasih." Tuntut Rendra.


" Tentu...Tanya pada putrimu, bagaimana aku sebagai ayah mertua, ini saja karna idemu, kalau tidak, bagiku berada disisi anak cucu dan menantu lebih menyenangkan ketimbang bulan madu. " balas Rey sembari mengingat Aulia kecil dalam ayunan.


" Tak perlu kutanya Rey...Melihat wajah putriku yang selalu cerah dan badannya yang makin sehat cukup sebagai bukti , betapa putramu dan diri mu telah membuat putriku dalam kebahagiaan. " Ujar Rendra.


" Tak tahu bagaimana membuat orang bahagia sebenarnya, sejak kepergian Almarhum mommy Alfiano, tapi setelah mendapatkan putri sebaik putri kalian, kehangatan ku datang dengan sendirinya, bak air yang keluar dari mata air." Ucap Rey sembari memandang istrinya.


" Sudahlah bernostalgia sedang makan!Kalau pada rindu keanak cucu, kita pangkas saja jatah liburan ini, bila merasa sudah ngak tahan, tak usah lanjut


keliling benuanya, kita balik aja buat kesisi keluarga. " Timpal Citra.


" Tidak!!! Kalau tak ada hal yang mengganggu, kita habiskan setengah bulan untuk bulan madu senja ini, semoga tak ada halangan yang berarti, bukan begitu kawan - kawan? " tanya Rendra meminta pendapat.


" Ya...Semoga semua yang kita tinggalkan pada sehat dan selamat, hingga kita bisa menikmati liburan ini dengan tenang, masak sudah sejauh ini mau pulang begitu saja, lagian waktu seperti ini tidak mudah mengulangnya lagi. " Ujar Hans.


" Kalau begitu kita telfon saja anak cucu dulu, disini pagi, berarti disana baru malam, Ayo kita siapkan sarapan dan mulai melakukan panggilan telfon, setelah hati senang, baru kita lanjutkan pertualangan. " Usul Citra.


" Oke!!! Kalau anak cucu jelas baik- baik disana, hati kita disini juga akan semakin


bersemangat. " tanggap Nahda.


Sedang Syarifah yang belum begitu akrap hanya tersenyum sembari mengangguk.


Belum selesai mereka sarapan, malah telfon mereka pada berdering.


" Wah!!! Tampaknya mereka jauh lebih merindukan kita. " Sorak Nahda setelah memeriksa layar HPnya.


Detik berikutnya, ketiga pasangan itu disibukkan dengan bertelfon ria.


" Syukurlah...disana aman terkendali. " Seru Citra dengan wajah cerah dibalik layar.


" Aman kok mommy!!! Abangkan lebih segalanya dari Daddy kalau urusan perusahaan! " Timpal Sonia kecil nongol dilayar.


" Suut jangan berkicau begitu burung Cici padi! Ntar Daddy cemberut! " Ujar Boy sembari mencolek adik kecilnya.


" Kan bicara sesuai fakta! " ujar Sonia berlagak dewasa.


" Aku tak perlu keperusahaanmu untuk memantau Sebasar mana kemajuan bisnismu tuan, cukup baca dan dengar berita saja aku sudah faham." Kukuh Sonia tak mau kalah.


" Ya....Ya...Jangan berantem dengan idolamu Sonia!!! Dan kau Boy, masak dibelain malah menjatuhkan pembelamu,


punya Advokad gratis bukannya disyukuri. " Balas Rendra dibalik layar.


" Habis aku segan sama Daddy, Advokad cilikku ngomongnya tak berfilter. " Sungut


Boy.


" Tak apa...Daddy sekarang ngaku kalah, jadi advokadmu bebas berkoar, kau memenangkan perkaranya. " Kata Rendra


dengan wajah dibuat memelas.


" Hore!!! Aku menang! Kemampuan analisaku tentang perkembangan seorang Daddy jauh lebih baik dari Abang! Berarti Sonia lebih Genius! " Sorak gadis mungil itu, membuat mommy dan Daddynya terkikik.


Sedang si Abang hanya menaikkan bibirnya sembari mengusap kepala adik kecilnya.


" Apa dia merepotkan kalian? " tanya Citra beralih pada Masalah Sonia.


" Lumayan...Diakan maunya cuma mencari tempat senang saja, baru sore ini dia kembali, ia sibuk berbelanja dengan Mami Anjani, semua dibeli, barangkali kalau mami terus memanjakan Cici padi ini, ntar warisan Bella berangsur- angsur habis." Ujar Boy.


" Ih...dasar abang pelit! Kak Bella saja ngak keberatan, Mami belanjaan aku semau- mau." Sungut sicilik dengan mencibir.


" Udah...jangan melawan Abang sendiri, ntar Daddy ngak ada, siapa yang bakal ngurusin nikahanmu sicilik? " Cegat Rendra yang membuat kedua adik beradik itu terdiam dengan wajah yang sama- sama masam.


" Ngak asyik Daddy! Ujar Sonia sembari berlari.


Melihat adiknya berlari, Boy segera tak sengaja memutus sambungan, untuk mengejar Sonia.


Sedang Rendra tercengang mengapa layarnya menjadi gelap.


" Kok mereka main putuskan telfon sembarangan sih? " sungutnya sembari menyerahkan benda pipih itu pada Citra.


" Tentu ia sayang...Kan Daddy bahas soal


mati selagi mereka senang, pasti keduanya cemberut. " Tebak Citra.


" Ngak sopan sekali, padahal aku masih ingin bicara, bukankan apa yang kukatakan itu pasti terjadi. " Rendra memunggungi istrinya karna kesal dengan putra dan putri ciliknya.


Citra memeluk Rendra dari belakang, kemudian mengecup tengkuknya.


" Apa yang Daddy katakan itu memang benar sayang...tapi ngucapinnya disaat yang tidak tepat. Sedang mereka sudah cukup khawatir dengan keberadaan kita yang jauh dari mereka saat ini. " Jelas Citra menenangkan rajanya nya yang sedang marah.


Kedua pasangan lain yang baru saja menyelesaikan telfon dengan keluarga turut tercengang dengan adegan mesra dadakan didepan mereka.


Tiba- tiba timbul ide jahil Rehan, difhotonya adegan itu. Dikirim ke Instagram dengan Caption " Kakek nenek bucin.


Rendra mengernyit bingung melihat Rey yang cengengesan dengan telfonnya. Ia pun spontan bergerak untuk merebut benda pipih milik Rey.


" Dasar kakek Lucnut!!! ngapain dipublikasikan kemesraan kami! " protesnya begitu melihat foto yang baru beberapa detik dikirim sudah mendapat ribuan like dan followers.


" Tidak masalah Viral setelah tua dong Besan! saat mudakan malas berhadapan dengan Camera. Sebelum masa berakhir, kita bisa beri sedikit inspirasi buat


muda- muda yang lagi sibuk berkarya. " ucap Rey sembari menepuk pundak Rendra.


Rendra menggidikkan bahunya. " Sudahlah...Kalau sampai aku dikejar- kejar media, dan kehilangan kebebasan berkencan dengan istriku, gara- gara perbuatanmu ini, akan kubuat kau dan istrimu ikut susah juga! " Ujar Rendra mengintimidasi.


" He...He...benar- benar bucin sampai tua! sedang sewot aja masih mikirin kencan." Cibir Rey.


" Sudah...jangan banyak khawatir, Ayo kita lanjutkan picniknya. Bukankah setelah ini kalian bakal berlibur panjang, jadi tidak masalah punya kesibukan baru jadi selegram tua. " timpal Hans menengahi.


" Kau selalu bisa membuatku tenang kawan. " Puji Rendra pada mantan asistennya itu.


Sedang yang dipuji hanya tersenyum tipis.


Dalam perjalanan menuju museum Frida Cahlo, Citra menghubungi Bella, untuk memastikan keadaan anak cucu dan menantunya itu. Hatinya belum tenang sebelum menantu mengapsen semua anggota keluarga menjelang tidur.