
Mata Bella berkaca- kaca, rasanya ia ingin teriak, agar sebak didadanya yang menyesak dapat berkurang.Esok Boy akan pergi, tapi sikapnya masih cuek dan terkesan mengabaikan Bella.
Pantai Ancol menjadi Saksi, Bella mencurahkan seluruh isi hatinya, yang selama ini ia tahan.
" Aku mencintaimu Bella..Aku tahu itu, dan aku tidak bisa memungkiri itu" Boy berkata dengan suara penuh getaran. Lalu ia berjongkok. Mengeluarkan telunjuknya, membuat tulisan diatas pasir. Membuat coretan- coretan tak berarti. Yang Bella tak tahu apa artinya.
Bella mengikutinya, berjongkok disisinya.
Meraih tangan yang membuat coretan dipasir itu, menyatukan dengan yang satunya, lalu menggenggam keduanya.
" Tatap aku Boy...Katakan kau mencintaiku sekali lagi, jangan menatap pasir. Apa pasir di pantai ini lebih menarik dari wajahku ini? " tanya Bella lirih, nyaris hilang ditelan angin laut.
Hatinyanya mengecil, melihat Kekasihnya menyatakan cinta tidak layaknya seperti lelaki lain yang menyatakan perasaan dengan sangat romantis.
" Kalau dirimu ingin mendapatkan pria yang hangat dan romantis. Tentu kau harus mencari yang lainnya Bella, bukan diriku. " Boy mengalihkan pandangannya dari Bella. Menatap matahari yang berwarna keemasan diufuk barat.
Bella tersenyum pahit, mendapatkan isi hatinya terbaca oleh Boy, baginya sudah biasa, ia tak malu lagi sekarang. Andai Boy mengeluarkan isi jantungnya sekalipun, Bella sudah siap.
" Mengapa kau tak mau menatapku Boy? Apa karna aku sudah salah, berani menculikmu dan membawamu kesini? " tanya Bella.
Boy menggeleng tanpa menatap Bella.
Bella kian merasa bersalah. Ia memang terlalu berani dan bersemangat untuk mendapatkan Boy.
" Jangan merasa bersalah Bella..Boy tidak menatap dirimu dengan matanya, tapi dengan hatinya. " Boy melepaskan tangannya dari genggaman Bella.
Membuat hati Bella jatuh bangun karna perkataan Boy yang tak senada dengan perbuatannya.
Dengan lemas Bella berdiri, menatap kekasihnya yang sepertinya nya bicara pada angin laut, bukan pada dirinya.
Dalam hal ini, Boy kalah dari Daddy. Daddyku mampu memalingkan wajahnya dari wanita, sebelum ia bertemu dengan Mommyku, tapi aku sesungguhnya tak mampu memalingkan pandangan mataku dari wajahmu Bella.." Boy mengucapkannya dengan sangat lirih, nyaris tak terdengar, ditelan deburan ombak, disapu angin laut.
Tapi telinga Bella telinga lintah, sejak mencintaimu Boy, naluri nya makin tajam,
kupingnya kian menipis, hatinyapun makin rapuh.
Bella melonjak menatap Boy, tak mampu menahan diri, ia berjingkat dan mengalungkan kedua tangannya ditengkuk Boy dengan susah payah, karna Boy sekarang semakin tinggi.
Dengan lembut Boy menarik kedua tangan Bella yang bergelayut ditengkuknya. Membawa kedua tangan Bella dalam genggamannya, meremasnya sembari menunduk menatap wajah indah Bella. Jarak mereka sangat dekat.
Boy menggelengkan kepalanya. Ia tak dapat membendung debaran didadanya.
Apalagi Bella. Bibir merah mudanya memucat, karna perasaan aneh yang mengalir ditubuhnya, bagai sengatan listrik yang menyintak jantungnya.
Bella memejamkan matanya, mengatasi debaran dadanya karna tatapan mata elang laut itu.
" Jangan berharap lebih sayang...Jangan membuatku melanggar janjiku pada Mommyku." Bisik Boy dengan suara parau.
Bella yang sudah memejamkan matanya, tak kuasa menahan sebak yang menyesak didadanya. Airmata Bella Bercucuran. Esok kita akan berpisah, kau akan pergi jauh dariku. Tidakkah bisa aku mendapatkan satu kecupan saja, sebagai
tanda cintamu? " tanya Bella dalam Isak tangisnya.
Boy tertawa pahit, hati Bella makin sakit.
" Kau bisa tertawa diatas penderitaan ku.
Kau begitu pandai mengangkat dan menjatuhkan hatiku. Sejak jatuh cinta padamu, hatiku berantakan, sebentar bahagia, sebentar terluka. Tidak kurang banyaknya aku menangis selama tiga tahun ini, belum karna gadis- gadis yang mengejarmu, ditambah lagi dengan sikap
cuekmu, yang menganggapmu hanya angin lalu saja. Kau pria Jahat! kau Mafia cinta!" Bella menumpahkan semua isi hatinya, yang ia tahan selama ini, karna Boy tak pernah memberi kesempatan padanya.
" Hey perempuan cengeng!!! Kalau tak tahan mencintai pria tampan, kau cari saja yang jelek, agar tak ada yangkan menatapnya selain dirimu saja. " kata Boy sembari terkekeh.
" Tu kan kau tertawa lagi.. kau senang tertawa diatas lukaku. " kata Bella sembari memukuli dada Boy.
Boy menangkap tangan Bella, membalikkan tubuh Bella membelakanginya.
" Aku tak mau melihat wajah cengengmu".Bisiknya seraya mendekap tubuh Bella erat.
" Kau bisa merasakan debaran dadaku Bella? kau boleh membandingkannya dengan ombak itu. Aku pastikan gemuruh dadaku lebih besar dari deburan ombak itu. Sebab itulah aku tak mau menciummu. Aku takut dengan perasaanku sendiri. Kalau kau mencintaiku,kau harus menjadi wanita yang tegar dan sabar. Boymu tak bisa menjanjikan apapun padamu, biar takdir dan waktu yangkan menjawab semua.
Kalau Bellaku sabar dan kuat, maka hari itu akan tiba. Dimana Bhalendra Boy Chen akan menjadi milik Bella seutuhnya.
Untuk hari ini, hanya ini yang bisa kuberikan padamu, kalau kau merasa ini tak cukup, berarti kau tak mencintaiku." katanya sembari mengecup tengkuk Bella dengan lembut.
Seluruh tubuh Bella bergetar, diremasnya jemari Boy yang melingkar di pinggangnya.
Boy menjatuhkan telaga beningnya ditengkuk Bella.Bellapun tak kuasa menahan tangisnya, ia terisak sembari masih meremas jemari kekasihnya.
" Ayo kita kembali, magrib telah tiba, hantu bergerayangan. Apa kau tak takut!
Boy melepas dekapannya. Sembari memperagakan tawa mengerikan.
Hi......hi......Ha....ha... " Katanya sembari berlari meninggalkan Bella.
" Dasar pria Kutis Jelek! " kau selalu mematahkan hatiku! " teriak Bella mengejar Boy.
Begitu sampai dimobil, ia mulai menghujani seluruh tubuh Boy dengan cubitan.
" Ampun deh...sakit...Kan benar,,," kata Boy menggantung ucapannya.
" Benar apaan?" tanya Bella.
" Kau sudah kerasukan siluman kepiting laut, capitanmu, menodai kulit PUBER ku.
" Boy tersenyum narsis, seraya memamerkan kulit tangannya yang memerah karna bekas cubitan Bella.
Tak urung bang Mamat yang menunggu dari tadi dibelakang kemudi tertawa terpingkal- pingkal.
" Iya tuan muda! Lebih sering lebih baik,
Biar ngak suka ngambek dan nangis - nangis yang ngak jelas. " kata Bang Mamat setelah menghentikan tawanya.
" Bang Mamat!!! awas ya!!! Ancam Bella sembari memelototkan matanya.
" Tuh kan tuan...kambuh lagi! " kata bang Mamat.
" Ayo jalan bang.. tolong berhenti dimesjid terdekat. Ntar kalau kambuh lagi habis sholat mangrib, baru kita minta Ustadz yang menaganganinya. " kata Boy dengan wajah serius. Sedang Bella memilih bersembunyi didada bidang pria yang beranjak dewasa itu. Boy memainkan rambut Bella sampai mereka tiba didepan mesjid.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Bella bebaring tengadah sembari mengusap dadanya, merasakan debaran yang masih tersisa dari kebersamaannya
dengan Boy tadi. Senja memang mengisahkan perpisahan dan kesedihan,
tapi bagi Bella senja itu, menjadi senja yang akan membuatnya siap untuk menanti malam berganti pagi.
" Aku berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku, aku akan menjadi perempuan terkuat yang mencintaimu Bhalendraku...
Mereka mungkin mencintaimu juga, tapi mereka takkan sekuat aku. Bagi mereka kau hanyalah bunga cinta masa remaja. Tapi bagi Bella, kau adalah masa depanku, dan hanya dirimu saja di hati Bella.
" Sakit memang menahan rindu...tapi aku akan kuat, karna aku tahu kau juga sama terhadapku. Sejak hari ini aku percaya, dan aku siap menanggung segalanya." katanya lirih berbicara sendiri.
Bella tersenyum, menyelipkan jemari kanannya kebelakang, meraih tengkuknya. Lalu ia memejamkan matanya.
" Bagiku ini sudah cukup. Kau memang Kutis ( kurang romantis ), tapi itu sengaja kau lakukan, untuk menjagaku dari kebejatan cinta. Aku percaya kau sulit menahan dirimu, sama seperti Bella." katanya lagi.
Sementara dikamarnya, boy juga berbaring dengan posisi yang sama.
" Dasar perempuan sok romantis..Beraninya kau menculikku dan melarikanku dari pesta perpisahan dengan teman- temanku. Untung aku masih bisa menahan diri, kalau tidak, aku sudah pasti membekapmu semalaman dikamar Resort Daddyku, bang Mamat tahu apa, kau hanya bawa bang Mamat sebagai pelindungmu. Satu kali sentil saja bang Mamat pasti sudah menyerah dan berlutut, didepan mantan Bos kecilnya ini.
" Awas kalau kau berani bermain - main dengan pria lain, seperti mempermainksnku. Aku pastikan hidupmu takkan bahagia." kata Boy dengan tatapan dingin membunuh, seolah ia sedang didepan Bella.
"Aku takkan mau, juga takkan mampu! Hanya kau saja yang bisa membuatku segila ini." jawab Bella seolah mendengar
ancaman Boy dikupingnya. Mereka diruang dan tempat berbeda, namun hati dan perasaan mereka saling berkoneksi,
seperti mereka saling bicara dalam jarak lima Sentimeter.
Boy tersenyum lagi. Ia teringat sekali, ketika ia bertanya pada pria posesif itu.
" Hey...Pria tampan zaman Old!!! ( tua/ dulu ) Lelaki paling mempesona zaman Now ingin bertanya sesuatu padamu. " katanya sembari menepuk pundak Rendra ( Dadynya )
Rendra tersenyum seraya mengacak- acak rambut Boy.
" Boleh...Apa yang ingin kau pelajari dariku wahai Juniorku? " tanyanya tak mau kalah dari Putranya.
" Aku ingin tahu wahai Senior yang sudah kalah pamor." Boy lebih tak mau mengalah.
" Tentang Apa?
" Tentang Cinta.
" Bagaimana kau mengikat cintamu Daddy? agar ia tak bisa melupakanmu saat kau pergi darinya untuk tujuan bisnis? Kesan apa yang kau berikan sebelum meninggalkannya?" tanya Boy
dengan pipi kemerah- merahan menahan
malu.
" Tahu malu juga tuh anak. " Batin Rendra menatap boy.
Kemudian mengusap pipi putranya yang sekarang seperti seorang teman baginya.
" Sayang...Kau kan tahu aku tak punya cinta yang lain selain istriku dalam hidupku, Hanya Citraku saja.
Kalau aku menjawabnya kau pasti tidak akan bisa melakukannya, kau belum menikah! " kata Rendra mengernyitkan dahinya.
" Oh ya anak muda..sekarang pria paling jenius didunia sudah paham maksudmu."
Rendra tersenyum bangga pada penemuannya.
Boy Menyibak kupingnya, untuk mendengar penjelasan Dadynya.
Lalu Rendra terkikik, melihat tingkah Boy.
Setelah menuntaskan tawanya, barulah ia
berkata." Sebelum aku mendapatkan hati Mommymu, aku pernah melakukan ini, setelah itu, ia terus merinduiku siang malam. Ya seperti kami sampai hari ini, kau bisa menilainya sendiri anak muda. " kata Rendra, kemudian membisikkan sebuah trik dikuping Boy.
Citra yang datang ketika anak dan Daddynya itu sedang berbisik. Hanya geleng- gelang kepala tak mengerti.
" Untung Daddy berbisik, kalau tidak nyonya pasti protes. " kata Boy terkikik.
" Sorry momm...Rahasia para pria tampan." katanya masih tak lekang dari gaya Narsis turunannya.
" Ya deh...mommy tak ikut campur. " jawab Citra
sebelum berlalu dari kedua pria narsis kesayangannya.
Tekan jempolnya Say...Kebanyakan nih isi bab ini...Ntar disambung ke bab berikutnya.