
Perjalanan bisnis Rendra Ke Ibukota Inggris ini dilewati dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Terbukti ketika melakukan meeting kadang ia gagal fokus. Pengalaman yang langka ini, membuat rekan bisnisnya tersenyum
heran. Seperti meeting terakhirnya, Rendra teringat
kembali dengan dosanya pada Citra.
" Hello Mr Rendra, Are you okey? " tanya Mr Jhon.
Perpanjangan tangan Rendra untuk perusahaannya yang ada di London City.
" I am sorry , Our big bos..Now have many problem.I Will Explain with you about next planning we company future( Saya minta maaf, Bos kita, sekarang sedang dalam masalah. Saya akan menjelaskan tentang rencana kedepan perusahaan kita ) . " Kata Hans menengahi ketika Rendra terlihat masih ngak konex.
" Oke Mr Hans. We understand Mr Rendra young Man.( Baiklah tuan Hans, kita mengerti,Mr Rendra adalah pria muda) I think He fall in love ( Saya kira ia sedang jatuh Cinta ) ." Bisik lelaki setengah tua itu pada Han. Han hanya tersenyum, tak ingin orang lain terlalu jauh masuk dalam kehidupan pribadi tuannya.
Akhirnya acara meeting pengembangan bisnis mereka dihari terakhir, dituntaskan oleh Hans, Beruntung Hans memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Pengalaman bersama bos Smartnya selama 5 tahun cukup membuat Hans makin berisi, kian cekatan dalam berpresentasi dan negosiasi.
Ketika Mr. Jhn menyarankan untuk membawa bos Galaunya untuk bersenang- senang dan minum- minum. Hans menolaknya dengan halus. Musim panas dikota besar ini menjadi alasan yang kuat bagi Hans untuk tidak melakukan minum minum.
" Sorry Mr Jhon, I am promise in winter season next year, We can Drinking . Okay.
( Maaf tuan Jhon, saya berjanji, musim dingin tahun depan , Baiklah kita akan minum-minum ).
" Okay Mr Hans..I' m Waiting for your promise. " Jawab Mr Jhon dengan senyum rilexs. Kemudian mereka berjabat tangan.
Rendra benar- benar merasa sepi dalam keramaian,
kalau ia tahu begini rasanya memikirkan seorang 'gadis, pasti ia takkan pernah ia berharap hal ini akan terjadi dengannya. Tapi yang namanya hati manusia sudah ada yang mengatur, kapan sang hati bergetar, dan untuk siapa getaran itu datang
adalah rahasia sang Pencipta.
Kali ini Rendra benar- benar merasa kalah, entah karna hatinya atau karna dosanya yang menggelisahkan hatinya. Setiap terlintas peristiwa malam itu, ia tak dapat berkonsentrasi.
" Dimanakah dirimu sekarang Citra, kapankah kita bisa bertemu lagi, agar aku dapat menembus semua dosa ini?
Makanan yang kumakan terasa hambar, minuman yang kuminum bagaikan duri yang menyangkut ditenggorokanku.
Aku tak yakin bisa melanjutkan hidupku dengan baik tanpa dirimu. " tunjukkan ia padaku Tuhan..., walau sebenci dan semarah apa ia padaku, aku akan menerima dengan segenap jiwa.
Seburuk apa cacian dan umpatan yang akan aku terima darinya, aku siap ya Tuhan, asal Engkau mengizinkanku untuk bersamanya dan menjaganya." doa Rendra sepanjang perjalanan Udaranya dari London ke Jakarta.
Berkali- kali Rendra memejamkan matanya, tapi ia tak bisa tertidur barang sekejappun. Hans merasa kasihan dengan kondisi tuan mudanya. Kalau tahu bakal seperti ini, Hans pasti akan memaksa tuannya untuk naik jet pribadinya, agar perjalanan lebih nyaman, dan tuannya bisa tidur nyenyak.
" Baiklah bos..Sesampai ditanah air, aku janji akan menyiapkan tim khusus untuk mencari nyonya Citra keseluruh penjuru." Janji Hans memberanikan diri menepuk- nepuk pundak tuannya.
" Terus saja tepuk Hans, kalau bisa sampai kepunggung. Aku merasa perutku mual, ngak biasanya aku pusing dan mabuk pesawat seperti ini. " kata nya sembari memijat keningnya dengan ujung ibu jari dan telunjuknya.
" Barangkali bos masuk angin karna kurang tidur. Makanya kalau melakukan perjalanan next time, kita naik jetnya bos Rendra saja, biar bisa lebih santai tidur.
" Bukan kendaraan dan tempat yang membuatku tak bisa tidur Hans. Tapi hatiku sendiri yang bermasalah. Tak peduli tempat dan fasilitas, kalau hati kita lagi baik, semuanya akan tampak menyenangkan. Suatu hari kau pasti merasakan juga apa yang aku rasakan saat ini Hans. Ini hanya
soal waktu dan rencana Tuhan. Dulu aku tak pernah bermimpi akan mengalami hal seperti ini, apalagi saat aku tahu kakekku Mr Kims menjadi pria sedingin Es, sejak kehilangan nenekku, cinta pertama dan terakhirnya.
" Dalam silsilah keturunan bos, kalian tipe orang yang sulit jatuh cinta, namun ketika cinta datang, kalian tipe setia, bahkan saat cinta itu sudah tak bersama lagi, kalian tetap setia pada pasangan pertama.
" Kalau kakek seperti itulah kisahnya Hans. Semoga cintaku nantinya tak meninggalkanku seperti kakek.
Kalau bisa dipilih siapa yang pergi duluan menghadap Yang kuasa, aku akan memilih duluan. Agar aku tak merasakan sakitnya ditinggalkan seperti yang dialami kakekku.
Kakek sangat menderita Hans, apalagi saat Momy dan Dadyku juga pergi bersamaan, untung ada aku yang tertinggal sebagai pengobat hati kakek.
Setitik bening meluncur dari telaga bening milik Rendra, mengenang kisah keluarganya.
" Ini bos." Hans menyodorkan sapu tangan biru untuk menghapus airmata Tuan tampannya.
Hans bertekat akan membantu tuan mudanya itu untuk mendapatkan kebahagiaannya. Ia pasti akan
mencari Citra bagaimanapun caranya. Dan mudah- mudahan dengan kembalinya gadis tomboy yang sudah berhasil merebut hati sang tuan muda, bisa menggantikan kasih sayang yang selama ini tak
pernah ada dalam hidup tuan mudanya, yang dari bayi sudah yatim piatu.
Waktu 16 jam lebih terbang dengan Singapore Air line. Perjalanan yang melelahkan ini berakhir juga,
ketika pagi hari mereka mendarat di bandara Soekarno Hatta.
Hans mempersiapkan segalanya, saat mereka sudah sampai dengan bandara, Sopir sudah menunggu. Rendra mual- mual sesampainya di mobil.
" Setelah ini akan saya panggilkan dokter untuk bos Rendra. " kata Hans.
" Aku tak butuh dokter Hans, yang ku butuhkan adalah dia. " jawab Rendra jujur.
Hans hanya bisa diam, tak tahu harus ngomong apalagi, untuk berjanji lagi tak ada gunanya, yang penting adalah bukti kesetiaannya pada tuannya.
Di kota B.
Citra mulai menikmati pekerjaan barunya dikantor, ia bekerja di bagian management pemasaran PT. P Y N cabang kota B. Dengan bekerja, sedikit- demi sedikit ia bisa menepis bayangan malam yang menyakitkan itu. Ia tidak tampil tomboy, tidak
pula feminim.
Rafdo mengusulkan penampilan
elegan dengan stelan jas dengan warna- warna soft, dipadu celana. Citra tak menolak penampilan barunya. Walau kini tampil nyata sebagai seorang gadis, tapi penampilannya yang sekarang cukup membuatnya nyaman bergerak.
Untuk menghemat biaya, Citra tinggal ngontrak rumah dilokasi yang tak jauh dari tempatnya ia bekerja, daerah sekitar jalan Soekarno Hatta kota B.
Pukul 17 :00 sore hari.
Rafdo sudah menunggu kepulangan Citra didepan kosnya.
Tap...tap...tap...Terdengar langkah Citra diteras kos. Senyum Rafdo mengembang, saat melihat batang hidung orang yang ditunggunya sudah terlihat.
" Selamat datang nona cantik! Gimana kantor barunya, nyaman? " tanya Rafdo.
" Ih lebay kamu do..Lumayan sih, nampaknya aku cukup bisa adaptadi ditempat itu." jawab Citra sambil membuka pintu rumah.
" Tamu hanya boleh sampai teras ya, ngak boleh masuk kerumah! " katanya.
" Aduh...tuan rumahnya cantik tapi sadis. " kelakar
Rafdo.
" Sadis sedikit ngak apa, baik- baik jadi korban penipuan. " jawab Citra yang membuat Rafdo tersenyum kecut, akibat sindiran manis sahabat cantiknya itu. Mau protes bisa apa, emang ia sudah
menipu Citra. Citra masih mau menganggapnya teman dan sama- sama kekota ini, itu saja sudah cukup membuat ia bersyukur, setidaknya ia masih
dapat kesempatan menembus dosanya pada Citra.
Mudah- mudahan Tuhan mengampuninya.
Bersambung...
Jangan lupa kasih dukungan yang banyak
dengan tangan manisnya ya say...