
Malam dipantai Nusa Dua.
Pasangan Doble date sedang makan malam R B Restauran. duduk berdampingan berhadap- hadapan dengan senyum manis terus mengembang dibibir mereka.
Menunggu pesanan diantar, Hafis membuka pembicaraan.
" Besok jam 08 : 30 kita ada meeting dengan pengusaha Baja dari Kota C Bos, ia kebetulan sedang Berlibur di Bali. Begitu kuhubungi, ia bersedia meluangkan waktunya untuk kita esok pagi.
" Bagus! Ini kebetulan yang cukup menguntungkan. " Kata Boy sembari mengetuk- ngetuk lembut meja didepannya.
" .Siangnya pertemuan dengan para manager Hotel dan Kafe kita, untuk menyampaikan laporan sekaligus rancangan pengembangan kedepan. " Hafis mengigatkan lagi setelah membuka note booknya.
Pria ini masih rajin menulis, walau ia sudah memiliki alat tekhnologi canggih ditangannya, ia masih saja membuat catatan dinote book. Kalau - kalau HP hilang atau tak sengaja jatuh dan rusak, ia masih punya catatan. Itulah prinsip lelaki manis, teman Masa SMK Boy, jebolan UI ini yang ia angkat jadi asistennya ini. Selalu membawa note book dan pulpennya kemanapun ia pergi.
" Berarti kalian kesini buat kerja dong..jadi Aku dan Hanna besok ngapain? " Tanya Bella yang tiba - tiba merasa sebal dan sedikit merenggut, karna dua lelaki itu nampak begitu senang dengan rencana kerja mereka besok. Berbincang berdua seolah melupakan para wanita.
" Tentu bersamalah yang...Kan acaranya cuma pertemuan ringan. Kalau rapat siang, para nyonya boleh ikut, boleh juga istirahat divilla. " Jelas boy sembari memainkan dagu istrinya dengan telunjuk.
" Iya Bel...Kitakan udah janji liburan sambil kerja, makanya Hanna ikut, biar kalau ditinggal suami kita bisa saling menjaga." Ucap Hanna.
" Hhum...Iya deh...Aku cuma kira hari pertama mereka masih ingin mengajak kita santai berjalan- jalan sambil gandeng- gandengan dipantai. Lusanya baru kalau mau kerja. " Bella mengerdikkan bahunya.
Boy menatap Bella, merasa ada yang aneh dengan istrinya. " Sayang...kok tiba- tiba kayak Daddy kamunya? " tanya Boy.
" Maksudnya? Bella mengernyitkan dahinya tak mengerti.
" Possesive gitu? Kerjaan aja dicemburuin! He...He...jangan - jangan ketularan nih. " Boy merasa lucu dengan tingkah baru istrinya.
Pembicaraan terhenti secara refleks, ketika pesanan mereka datang. Bella Menelan silivanya melihat waitress
menyusun menu dimeja.
" Silahkan dinikmati hidangannya tuan dan nyonya..Tabik." kata pelayan pria itu sembari menunduk.
" Makasih Bli..." jawab Boy. Pelayan itu kembali menunduk lalu berlalu.
Doble date itu makan dengan hening. Bella nampak lahap sekali. Ia sampai menghadap dinding, karna ia membuka
cadarnya untuk makan. Boy yang melihat istrinya yang begitu selera makan, membantunya menambah porsi piringnya, ketika piring itu sudah hampir kosong. " Makanlah yang banyak, biar tenaganya cukup. " bisiknya sembari mengusap bibir Bella yang belepotan sambal seaputnya dengan bibirnya sendiri.
Hafis dan Hanna yang melihat kebucinan pasangan didepan mereka, hanya senyum- senyum dikulum.
Usai makan malam, mereka berjalan menyusuri pantai menuju villa yang tidak jauh dari RBR.
" Yang...besok kita kewarung ikan bakar ya, Bella pengen makan ikan bakar kayaknya nih. " Gumam Bella ketika mereka berjalan berpasangan menyisiri pantai.
" Oke, apapun akan diusahakan untuk memenuhi selera para nyonya! " Timpal Hafis.
" Iya Fis...rasanya Bella pengen makan aja sejak kemarin. " Ujar Bella dengan tatapan berbinar.
" Itu tanda hati lagi senang Bel..." Hanna nimrung.
" Namanya dalam masa pertumbuhan, secara waktu ditinggal ke USA kan nona cantik ini banyak dietnya Fis...Sekarang sudah dekat yang dihati, dietnya ngak nahan lagi. " Boy kembali dengan kenarsisannya.
" Iya...Iya.. Ngaku! siapa juga yang senang ditinggal bertahun- tahun tanpa pernah dikunjungi sekalipun, 6 kali puasa Enam kali lebaran, ditinggal hanya dengan dikunjungi surat jelek yang isinya ngak pernah diralat. " Curhat Bella sembari mengerucutkan bibir dibalik cadarnya. Tentu saja Hafis tak tahu, sedang Boy sudah berfikir licik dihatinya.
" Awas tu bibir, ntar dikamar, untung ditutup cadarnya, kalau ngak Hafis pasti ileran ngeliatnya. " Batin Boy
Tanpa terasa mereka sudah tiba didepan Villa. Senyum keempatnya kembali merekah.
" Sampai jumpa besok pagi la! " seru Hanna.
" Oke..na...Besok kalau para tuan sibuk berbisnis. Kita buat acara makan- makan berdua! " Seru Bella kemudian.
Mendengar kata makan- makan, Hanna tersenyum geli.
" Nih nyonya Bos makan aja yang difikirim." Ucap Hanna hanya bisa ia ungkapakan dihati saja, kalau dinyatakan langsung, takut sinyonya muda cemberut pula.
Sesampai dikamar, Bella segera membersihkan diri, wudhu, lalu disusul Boy. Habis ibadah dan ganti baju Bella segera menggulung dirinya dalam selimut ditempat tidur, sembari memejamkan matanya
Boy masuk dalam selimut, menatap Istrinya sejenak, lalu memberikan kecupan dikeningnya.
" Have A nice Sleep Baby!..( mat Bobok yang ). Bella tidak menjawab, hanya merapatkan diri pada suaminya dengan mata masih terpejam. Boy tersenyum, mengusap puncuk kepala sang istri, kemudian mencoba menutup matanya, walau sebenarnya dihatinya masih ingin menggeluti istrinya, melihat Bella yang nampak ingin tidur, iapun tidak mengganggunya lagi. Toh dia sudah miliknya, biarkan ia istirahat agar ia sehat
dan bersemangat untuk waktu berikutnya.
Sementara dikamarnya, Hafis dan Hanna tak mau tidur dulu sebelum melakukan olahraga malamnya.
Cup...Sebuah kecupan hangat dibibir Hanna mengawali pergulatan mereka.
" Kira- kira Bos langsung tidur ngak bang? " tanya Hanna sekedar menetralisir gejolak didadanya akibat sentuhan suami
yang sudah turun keleher.
Hu...Ah..." ngak tahu.., yang tahu yang ini, coba lihat mau tidur dia apa ngak?" tanya Hafis sembari menarik tangan istrinya menuju menara dipusat kota.
" Kalau ini sih namanya Burung Colibri bang......Colibri burung kecik
makannya banyak, dan sering makan. Kayak Bella barusan. He...He..." Kekeh Hanna.
" Benarkah?...Baiklah... Colibri kecil pengen makan dulu... " Bisik Hafis menghentikan tawa istrinya. Detik berikutnya, pakaian mereka berhamburan bak diterbangkan angin kemudian suara - suara Ambigu dan gempa kecil memecah keheningan malam dikamar mereka.
Hafis dan Hana memutuskan untuk tidur lewat tengah malam. Setelah melakukan pergulatan selama tiga jam lebih. Memang Colibri kecil doyan makan, sedang pemiliknya senang pula memberi makan colibrinya, tanpa pelit, apalagi merasa letih. Sepertinya pemilik Colibri
💓💓💓💓
Sementara dikamarnya .
Bella baru terbangun dari tidurnya. Ia keluar pelan- pelan dari dekapan Boy, kekamar mandi untuk pipis lalu gosok gigi. Bella teringat pada sesuatu, ia kemudian mencari kelemari fasilitas Villa mereka. Ligeria merah menyala pemberian Mommy Citra yang tadi ia selipkan dilipatan baju sebelum berangkat.Tanpa ragu ia mengganti piyamanya dengan itu, lalu seperti penyusup, ia menyelinap lagi kedalam selimut.
Menatap suami beberapa detik, meraba hidung mancungnya, pipi putihnya, Bibir Tipis berwarna merah yang tampak segar, yang dikelilingi oleh bulu- bulu hitam diatas bibir, membentuk garis eksotis dengan tautan rambut dagu Aliyas jenggotnya yang sesuai.
Bella meneguk silivanya, menyaksikan pandangan indah tepat 3 Cm didepan matanya. Dengan dada berdegup tak karuan, Bella menunduk lebih dalam lagi,
mendaratkan sebuah kecupan dibibir itu.
" ...Ahh...******* Boy terdengar tatkala merasakan benda kenyal terasa hangat dibibirnya. Detik berikutnya Boy terbangun, matanya terbuka lebar, menatap perempuan Cantik dengan ligeria merah menyala yang ia kenakan.
Tanpa banyak bicara, Boy menangkap tubuh indah Bella dan menaikkannya keatasnya.
" Sayang... menggoda suami tengah malam?" Tanya Boy dengan berbisik.
Bella tersenyum...Pipinya memerah karna malu, tampak makin indah dibawah sorotan lampu tidur.
Cup...Sebuah kecupan hangat mendarat dibibir menantang Bella. Tangan kiri menarik dagu, dengan tangan kanan menahan tengkuk, untuk menciptakan Ciuman yang lebih dalam lagi.
Setelah Bella terbatuk karna Oksigen yang menipis, barulah Boy menurunkan kecupannya.
Mendarat dileher jenjangnya, kemudian turun menyaksikan sepasang benda kenyal yang menggantung dan menyembul setengahnya dibalik ligeria merah menyala yang membuat kulit putihnya makin berbinar Dimata Boy, Sepasang bukit kembar itupun makin terlihat menggoda.
Boy menggigit tali ligeria itu dan melorotkannya melewati lengan putih bersih itu, sampai pada ujung jarinya hingga lolos. Untuk yang sebelahnya, Bella sendiri yang melorotkannya.
Boy menatap bekas kiss mart yang semalam belum hilang dari leher istrinya.
Ia tak niat melakukan lagi.
Ia menurunkan Stempelnya pada dua gundukan itu. Mengesap puncuknya, dan memberikan banyak stempel disekelilingnya. Membuat pemilik bukit kembar itu menggigil dan melenguh.
Sayang...Ah...Bella memberontak mengambil kendali. Sekarang ia yang berada diatas suami. Menghujani Boy dengan kecupan, dari setiap sisi wajahnya, turun keleher, menggebrak piyama tidur suami dengan menyintaknya hingga kancingnya bertaburan. Boy tersenyum melihat peningkatan kenakalan istrinya. Lalu membantunya melucuti pakaian sendiri.
Bella tak terkendali diatasnya, melalab setiap jengkal tubuh Boy. Membuat Boy menggesekkan kakinya ketempat tidur karna taktahan akibat pertualangan istri menjelajahi setiap inci tubuhnya.
Menara dipusat kota sudah makin menjulang tinggi, dengan ujungnya yang sudah lembab karna titikan hujan cinta.
" Sayang...Ayolah...Desahnya merengek tak tahan lagi. Lalu Boy Membaca doa yang diikuti istrinya. Detik berikutnya. Menara dipusat kota tak terlihat lagi. Telah tenggelam kedalam dasar bumi. Gempa kecil menelannya, meratakannya dengan pusat gempa.
" Sayang...Bella tak kuat diatas. " bisiknya malu- malu karna baru beberapa goyangan saja ia sudah ngos- ngosan.
Tak perlu jawaban. Hanya dengan satu gerakan saja Boy sudah menukar posisi, tanpa melepaskan penyatuannya.
Mengambil kendali dan memacu dengan kecepatan tinggi.
" Sa...Sayang...Ah....Faster Ah..!...Faster!...Bella mencengkram tengkuk Boy, Menjepit bokongnya lebih rapat, karna ia tak tahan akan meleleh.
Bella menghempaskan nafasnya melambungkan hasratnya dan meleleh
bersama hempasan nafasnya
Walau keduluan sang istri beberapa detik bagi Boy tak mengurangi keindahannya.
Ketika Boy masih bersembunyi diceruk leher istri setelah menumpahkan hasratnya pula. Bella yang duluan mengecup puncak kepala Boy . " Makasih sayang...Dirimu sungguh gagah, Bella keduluan melebur , ngak apakan? tanyanya kemudian.
Boy mengangkat kepalanya, mengecup semua sisi wajahnya sebagai jawaban untuknya.
" Besok kita Cari Cottage ya...Bella pengen bercinta dipondok kayu itu. Gimana gitu rasanya bercinta dilantai kayu? Seru kali ya.. Ada goncangannya. He...He..." Kekeh Bella menertawakan khayalan nakalnya.
" Baiklah... besok dipondok kayu. Tapi ni rajawali kayaknya menukik lagi karna tak dikeluarkan dari sarangnya. Kasih makan lagi ya. " Bisiknya ,ia sabar menunggu pondok kayu!" Bisiknya kemudian mematuk makanannya lagi. Bellapun hanya pasrah tatkala sang suami masih betah merengkuh indah dirinya kembali.
Subuh itu , Boy telah mandi duluan. Bella antara bangun dan tidur berjalan menuju kamar mandi. Melihat istri yang mengantuk. Boy mengaturnya dibathup, memandikan istrinya dengan air hangat.
Kemudian membalut tubuhnya dengan handuk.
" Yang...Wuduklah...Biar shalat dan kalau masih ngantuk boleh golek lagi." Ucap Boy lirih. Bella melakukan dengan baik,walau masih dengan terkantuk- kantuk.
Habis Subuh, Bella masih dengan bermukena masuk lagi kedalam selimutnya. Sebagai suami cepat tanggap, Boy membantu melepaskan mukenanya, menaikkan selimut sampai diketiaknya. Kemudian ia menyelamatkan pakaian ibadah Bella dengan menggantungnya digantungkan hunger di lemari.
Bella terbangun ketika jam dinding dikamar itu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Boy!...Boy...panggilnya karna tak menemukan sosoknya dikamar itu.
" Aw....Hanna!...Apa kita sudah ditinggalkan?" teriaknya ketika kebetulan melihat Hanna yang baru muncul dikamarnya.
Hanna sampai menutup kupingnya, takut
tercemar suara Lima oktaf Bella.
Setelah mengatur nafas, Hanna baru membuka mulutnya.
" Iya Bella...Mereka berangkat jam 07 : 30. Tak tega membangunkan Bella yang nampaknya sangat kelelahan, Bos memintaku tinggal dan berjaga dipintu.
" Sekarang Ayo kita sarapan, ini sudah telat. " Ajak Hanna. Bella menggosok matanya.
" Baiklah...Aku beberes dulu..." Ucapnya lirih.
Bersambung...