
Subuh itu, Bella merasakan seluruh tubuhnya remuk. Setelah beberapa kali meregagkan ototnya, barulah ia beringsut menuju pinggir tempat tidur King size itu. Baru saja bergerak sedikit, sepasang tangan kokoh sudah melingkar dipinggang kecilnya.
" Sudah bangun yang? " tanya Bella masih dengan suara asli bangun tidur,
menyamarkan keterkejutannya.
Bukannya dapat jawaban, ia malah dapat kecupan. Pipi Bella kembali merona, sedikit kurang percaya diri, takut ilernya kemana- mana, Bella meraba bekas kecupan Boy dipipinya.
" Ilernya wangi kok...Jangan gerogi gitu! " ucap Boy sebelum memindahkan ciumannya ketengkuk Bella.
" Yang...Kan dah mau subuh
" Rengek Bella mencoba melepaskan diri.
" Iya...Ayo kita mandi berdua! " ucap Boy menggoda Bella. Wajah Bella kembali merona. Ia tak bisa membayangkan kalau sampai harus berbagi tempat dibathup dengan suami nakalnya itu.
" Hey...Cantik...Apa yang dirimu fikirkan?
Maksudku bukan begitu. Boy hanya akan
memandikanmu, biar cepat selesai. Waktu Subuh sudah mepet. " Ucap Boy sembari menyentil hidung istrinya.
Bella kembali tersipu, ia sudah salah sangka, mengingat betapa kuat dan tak kenal lelahnya sang suami semalaman.
Boy menuntun Bella dengan hati- hati, bak seorang ayah yang sedang melatih putri kecilnya nya belajar berjalan.
Baru didepan pintu kamar mandi mewah itu. Boy kembali berbisik. " Habis Jamaah subuh, kita berjamaah dikasur lagi ya..
"Ya Ampun...Boy...Boy...Bisa pingsan nih aku. Tak ada lelahnya sepertinya ini tuan suami. " Batin Bella.
Tenanglah sayang...Nanti Boy akan memberikan pijit refleksi. Habis itu akan Boy mintakan puding terbaik untuk sarapan pagi. Tenang saja, inikan paket bulan madu. Yang penting sarapanya yang itu dulu. " katanya Enteng.
Bella hanya bisa geleng- geleng kepala.
Ketika mereka siap Subuh berjamaah, suaminya benar- benar menuntutnya untuk berjamaah ditempat tidur. Ia tak dapat menolak, karna iapun terhanyut oleh setiap sentuhan dan pesona pria perkasa kepunyaannya.
Dikota B.
Zahra baru saja selesai mandi. Ketika ia sedang mengeringkan rambutnya.
Bayu menjebak tubuhnya dalam dekapannya yang hangat.
Zahra tersentak dan reflek mencubit Bayu. " Hey Uda..Bukan nya langsung pergi mandi, malah Uda membatalkan wudhuku. " protesnya dengan wajah cemberut.
" Sory...Uda lupa...Habis istri pagi- pagi sudah wangi sih, tak ada lagi bekas ngorok dan Iler semalam. " ucap Bayu.
" Dicaci terus... dinikmati tak mau berhenti!."
Seru Zahra dengan ekspresi cemberut.
Bayu memberi kecupan hangat dibibir yang merungut itu.
" Nah biar ngak tanggung batal Wudhunya. Bisiknya setelah membuat bibir Zahra membengkak karna pagutannya yang liar dan ganas.
" Ya Sudah...Jangan mengganggu lagi, ntar subuh habis! " Zahra lalu menarik kerah piyama Bayu, lalu menyeretnya kekamar mandi. Menghidupkan shower, untuk mengguyur Bayu.
" Santri yang malas enaknya diginiin sama ustadznya. Sekarang patuhi istri. Jangan mengulur waktu shalat! " Cerotongnya sembari membuka piyama Bayu lalu menggosok tubuh Bayu dengan spon gosok yang sudah dibaluri sabun cair.
" Walau istriku sadis, tapi ternyata enak juga dimandiin. Teringat saat dimandiin papa kala Balita. Sekarang yang mandiin putri cantik yang ileran. Rasanya hidupku makin lengkap saja, kayak punya ibu tiri juga ada." Celutuk Bayu.
" Iyalah...Aku mau belajar jadi ibu, dengan memanjakanmu dulu. Kan belum pernah merasakan punya ibu kayak Chalista sahabatku. Jadi perlu belajar dulu. " Jelas Zahra.
" Ini mah bukan cuma manjain, tapi nyiksa juga. Iw....Iw...Ia..." Bayu menggigil.
" Zahra dengan sigap membungkus tubuh suaminya dengan handuk.
" Sekarang cepat wudu, Siap itu baru aku wudu balik. " ucap Zahra serupa perintah.
Bayu memandang Zahra dengan tatapan memelas, dengan bibir memucat karna dingin.
" Nanti kalau sudah terbiasa mandi pagi dengan air dingin, rasanya takkan seburuk ini lagi Uda cayang... " Zahra tersenyum menghibur Bayu. Senyum manisnya membangkitkan hawa panas didada Bayu.
" Baiklah...Uda akan berlatih dengan giat. Yang penting habis jamaah ada hadiahnya. Hangatkan lagi badan ini, Zahra harus bertanggung jawab atas kedinginan ini.- tuntut Bayu.
" Baiklah...Aku takkan mau! " Ucap Zahra.
" Baiklah...Maksudnya aku takkan manolak Sayang.... " Bisik Zahra merayu Bayu.
"Begitu dong...Pokoknya keadilan harus ditegakkan dengan benar dinegara kita. " Ucap Bayu mengendorkan cekalannya.
Dengan perlahan Bayu melepaskan kungkungannya. Berbalik dan mengambil
Wudhu.
🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍
Semantara Alfian dengan Anum sudah di NZ Ibukota negri K itu.
Pasangan ini cukup mudah dalam beradaptasi. Pada dasarnya mereka adalah pasangan yang DDM ( Diam- Diam Menggemaskan. Hanum yang pandai memasak dan pintar menari dengan mudah mengambil hati suami dan mertua perempuannya. Hanya dalam beberapa Minggu saja, ia sudah bisa menjadi menantu sekaligus putri bagi Elin . Malah Elin malah banyak curi waktu belajar memasak dan menari dari Anum.
" Mommy Sih...Ngambil waktu kencan beratku dengan istri. Inikan masih masa- masa pengantin baru kami. Eh mommy sudah menyita waktu istriku dengan banyak alasan. " regek Alfian saat tak menemukan istri dikamar, malah sibuk mengurus mertua yang belajar membuat masakan Padang di dapur.
" Tenanglah Fian...Ini sudah mau siap randangnya. Kami sudah cukup lama didapur. Lumayan buat istrimu bau keringat. " Elin tersenyum centil melihat putra tunggalnya yang cemberut, lalu dengan langkah gontai kembali kekamar.
" Kamu juga Sih sayang...Terus saja menculik menantu dari putramu, bukannya kasihan, malah kau tersenyum penuh ejekan. Kayak saingan saja memperebutkan mantu. " Terdengar cerocosan panjang dari pintu masuk kedapur.
" Sayang...Sudah datang ya?...Lihat nih...Elin sudah bisa masakan khas daerahmu. Ayo sini insip- incip! " Seru Elin Bangga sembari menarik suaminya kedalam, mengaturnya duduk dikursi makan. Mengambil beberapa sendok dari wajan dan memindahkan kepiring.
" Nih...incip ya." Katanya riang.
" Oh ya mom...Kayaknya matangnya sudah sempurna. Anum kejar suami cemberut dulu ya.." Pamit Anum.
" Ya udah...goyang sana...Gumam Elin genit.
" Anum berbalik, penasaran dengan gumaman ibu mertua.
Elin mengibaskan tangannya. " Ngak ada...maksud mommy mandi sana, biar ngak bau sambal didekat SiCember! " seru Elina.
Anum lalu tersenyum, dan dengan berlari- lari kecil ia menyusul suaminya kekamar.
Mendapatkan suami yang sedang Asyik telefonan. Anum memelankan langkahnya. Mengintip dibalik pintu, seperti seorang pencuri yang sedang bersiap- siap mengincar mangsanya.
Anum berdiri dibalik pintu, sembari menaikkan kedua tangannya seperti Antena. Siap mendengar pembicaraan suami.
" Ha...ha...Jadi istrimu sampai memandikanmu pagi- pagi? Kau merasa tersiksa? Kasihan!.Cik...Cik...Cik..." Alfian terkekeh, kemudian bertanya dan mengejek juga.
Anum makin penasaran, hingga tak sadar ia melangkah maju. Dengan posisi tangan masih seperti semula.
" Entah apa jawaban disebrang sana. Anum tak mendengar jelas. Dengan kesal
ia semakin mendekat.
" Kalau aku sih dapat istri yang kelewat dicinta sama ibuku, sampai udah malam begini saja, ia masih sibuk berkencan didapur dengan ibu. " Alfian curhat, sembari memperlihatkan wajah cemberutnya.
" O....Ternyata suamiku bicara dengan teman sesama pengantin pria dipernikahan masal kami." Batin Anum lega. Tanpa sadar ia menghembuskan nafas beratnya.
" Anum... nyapain berdiri kayak antena disitu! " Alfian terkejut mendengar hempasan nafas kasar sang istri.
Eh...ngak...Aku cuma masih latihan nari.! " Kilah Anum lalu iapun menggoyangkan badan dan jari- jarinya. Anum menyanyikan lagu goyang dua jari.
Ayo kita goyang dua jari...
Biar kita Happy kita goyang sampai pagi.
" Oke! Siapa takut! " Alfian pun menirukan lenggok istrinya, sembari mengiring istri dengan licik kebilik mandi mereka.
Setelah sampai didepan pintu kamar mandi. " Barusan Abang dapat ide dengan telfonan Ama Bayu. Bayu dimandiin istrinya pagi- pagi. Kalau Kita mandi berdua sambil goyang dua jari ya " Seringainya licik dikuping Anum.
Ketika Anum ingin protes ia telah menutup mulutnya dengan Bibirnya.
Cup..." kecupan panas mendarat dibibir Anum, mencicipi bibirnya yang masih tersisa bekas sambal rendang sapi buatannya dan mommy Elina.
Niat hati ingin menutupi pengintipannya dengan bernyanyi dan menari. Eh, malah ia diminta goyang sampai pagi benaran. Dan itu dimulai dari kamar mandi.
" Ya Ampun...Busyet...Kecebur kekolam buatan sendiri".Gerutu Anum dalam hati.Tatkala habis makan malampun ia masih dituntut untuk meneruskan goyang sampai paginya.
Malam itu Alfian benar- benar membalaskan kecemburuannya pada sang Mommy yang sudah beberapa hari menyibukkan istrinya, hingga melupakannya.