Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 52



" Aku sudah sampai dipuncak pencapaianku, hampir semua harapanku sudah menjadi kenyataan.Nikmat yang mana lagi yang bisa kudustakan?


Sudah tiba saatnya untukku kembali.


Aku mohon jangan meratapiku, aku akan pergi dalam bahagia. Bersyukur atas kasih sayang yang selama ini kudapatkan dan terima kasih untuk semua ." kata tuan Kims saat keluarga sedang berkumpul malam Jumat , sehabis pengajian rutin dirumahnya.


Saat Boy ingin protes. Buru - buru Kim menutup mulut Boy dengan jari telunjuknya. Siapapun didunia ini pasti akan kembali sayang...Ingatlah cerita Guru itu, Rasul saja kembali diusianya yang masih 63 tahun, begitu tugasnya selesai, sesuai dengan isi Surat Almaidah ayat 3 itu. Ayat itu diturunkan saat Rasul haji Wada' . Haji apa artinya sayang? " tanya Kim mencairkan suasana.


" Haji penghabisan uo! Kemudian Boy menyebutkan bunyi dan terjemahan ayat tersebut dengan lancar. Hasil belajar mengaji dari kakeknya Dokter Rinto.


" Tuh kan anak uo pintar! " kata tuan Kims. Walau uo tak bisa melakukan haji penghabisan karna terhalang Corona. Anggaplah malam ini pengajian terakhir buat uo, mudah- mudahan Allah memberikan pahala yang setimpal." kata tuan Kims


lagi, suaranya lancar, nafasnya juga tak sesak lagi.


Kalau dari segi medis, sekarang ia dalam kondisi stabil. Doanya diaminkan oleh semua.


Kemudian hening kembali.


Semua yang ada diruangan itu diam, tatkala Ayah tuo dari sang Cicit sibuk menjelaskan kepastian perpisahan pada cicit kesayangannya. Termasuk sang Guru pengajian Rutin yang malam ini segaja diminta tuan Kims menginap diistananya, hanya mengangguk- angguk balam.


Boy sayang...


" Ya uo." jawab Boy.


" Uo lahir Tahun 1938. Berapa umur Uo sekarang?


" 83 Uo. " jawab Boy cepat.


" Berapa lebihnya usia Uo dari Nabi? " tanya tuan Kims lagi.


" 20 Tahun Uo. " kata boy lebih cepat lagi.


" Pintar!...Berarti, andaipun Uo kembali, uo sudah memakai dunia ini 20 tahun lebih lama dari usia nabi, untuk bisa memberi nama untuk seorang Bhalendra Boy Chen Hapsar, melihat adik- adiknya lahir. Dan terakhir bisa berkumpul dan bercanda bersama dengan Uo Carlos, dari ujung Bumi.


Bukankah itu pantas untuk disyukuri tuan Guru?


" kata Mr Kims seraya menatap sang Guru dan semua anggota keluarganya bergantian.


Lalu ia tersenyum manis, saat tatapan matanya beradu dengan Citra, Citra yang lagi menyusukan Raisa dibalik kerudung tipisnya, tak tahan untuk tidak meneteskan airmata.


" Mengapa Momy nangis? " tanya Calista yang kejatuhan airmata sang Momy, ia lagi asyik mempermainkan adik kecilnya yang lagi mimik.


Maklum ia Kurang SGM ( Susu Gantung Momy ) Karna sang Dady keburu nanam bibit unggul baru.


He...He...


Karna Momy belum menjawab, Calista kemudian berbisik dikupingnya. Yang terpaksa membuat Citra mencari alasan.


" Adik terlalu keras gigit mimik Momy. " makanya airmata Momy terjatuh. Momy ngak nangis kok sayang...hanya kesakitan bisik Citra balik. Kemudian Calista kecil manggut- manggut.


" Adik angan akal, jangan igit Momy kita..." katanya seraya mencubit halus tangan Raisa.


" Nih cubitan sayang buat sibandel. " katanya lagi.


" Adik ngak sengaja sayang..." kata Citra


" Ngak sakit kok mi, kan ubit sayang..." kata Calista lagi,mungkin apa yang ia katakan benar, soalnya adiknya tetap fokus dengan mimiknya.


Setelah kembali dikamar, saat anak- anak sudah pada bobok. Citra menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.


Rendra menghampiri istrinya, lalu menarik bantalnya, dan menemukan sicantik berurai aimata.


" Sayang...Kau masih menangis? nanti kepalamu sakit. Sejak dari tadi kulihat kau tak hentinya menangis. " kata Rendra.


" Apa tak boleh aku menangis sayang? bukankah kau tahu, setelah kuburan kakekku kutinggalkan dipadang, lalu merantau kesini, Mengalami banyak peristiwa. Tuhan mengantarku kerumah ini, saatku merasa tak punya siapapun lagi orangtua didunia ini, kemudian aku bertemu dengan tuan Sipit itu, Ia menerimaku jadi cucunya, lalu mengurus semua urusanku, ia juga yang mempertemukan aku dengan Ayahku. Kalau ia menyampaikan pesan perpisahan, apa kau kira aku tak pantas terluka? " tanya Citra.


" Menangis lah sayang...Tapi kakek kan baik- baik saja, untuk apa khawatir. Soal kematian kan memang selalu itu yang ia bahas. " kata Rendra mencoba tidak memikirkan ucapan sang kakek.


" Memang selalu begitu ia bicara, tapi untuk malam ini berbeda sayang...Aku tak tahan mendengarnya. " Curhat Citra seraya menyusup dibalik ketiak suaminya. Seperti seorang yang sedang mencari payung, kala hujan lebat turun tiba- tiba.


Rendra kemudian merengkuh istrinya makin erat.


Sebenarnya jiwanyapun rapuh, mendengar perkataan sang kakek, tapi ia mencoba menyembunyikannya, takut orang- orang tercintanya kian lemah.


" Sudah- sudah...Ayo bobok...Jangan sampai kepalanya sakit. Masih belum berhenti nangisnya, ntar aku buka puasa lho. " kata Rendra mengancam tuan putri yang sudah melumuri lengan piyamanya dengan airmata dan air hidungnya itu.


Istri.


" Makanya jangan nangis lagi. Masih nangis Awas! kubongkar porom pisangnya nih. " Ancam Rendra lagi, yang membuat Citra balas menggelitik pinggang suaminya.


" Adaw....Adaw...Ampun jejadian, ngak lagi deh makan nasi sama gulai pakis! " kata Rendra sembari menangkap kedua tangan nakal istrinya.


" Udah bobok! jangan nakal nanti diperkosa sama kolor ijo mau? " tanyanya tersenyum nakal.


Citra terpaksa memejamkan matanya, takut bentengnya diserang tentara bergajah.


Malam itu, tuan Kim, minta dImamkan oleh Guru besar yang baru saja menamatkan Doktornya di Universitas O Sudan itu.


" Tolong imamkan aku Shalat Isya dan bantu aku tahajjud nanti pak Ustadz. Seumur hidup aku tak pernah jadi imam untuk istriku karma sibuk dan ditambah tak pandai. " kata Mr Kims terkekeh sembari mengenang masa mudanya.


" Hidup seperti sekolah tuan Kims. Bagaimanapun proses berlangsung. Tetap saja tes terakhir yang utama untuk dimasukkan ke Ijazah" kata tuan Guru sembari tersenyum.


" Mudah- mudahan tes terakhirku nilainya baik ya Guru. " kata tuan Kims tersenyum lagi.


" Ayo kita berWudhu. " kata Tuan Guru.


Kemudian Joko dengan cekatan membawa tuannya menuju kamar mandi. Sang guru memperhatikan Wudhunya tuan Kims.


" Bagus! untuk wudhu tuan sudah baik. Tak ada yang kurang. " kata pak Ustadz kondang itu.


Pukul tiga dinihari mereka sholat bersama. Semua aman- aman saja, tuan Kims nampak sehat. Merekapun terus bercerita sampai jam lima pagi,


Kemudian Tuan Guru mengimani Sholat subuh bersama dirumah itu. Lumayan banyak jemaahnya.


Mulai dari keluarga, pengawal, tukang kebun, pelayan dan para koki Sholat bersama Subuh ini diMusholla istana Tuan Kims.


Shubuh yang nampak . Semua memakai peci dan baju Koko. Sedang perpuan memakai mukena putih bersih. Mereka tunduk dan Sujud mengikuti Imam. Namun disujud yang terakhir, seseorang tak bangun lagi dari Sujudnya. Saat semua telah selesai salam, barulah mereka tersadar.


" Astagfirullah! " kakek! teriak Citra melihat kakek Kims tak bangun- bangun. Semua terkejut dengan teriakan nona rumah itu. Semua mata terpana,


saat Citra berlari menuju tempat shalat kakeknya.


Tuan guru langsung menuju tempat sujud tuan Kims. Lalu membantu Citra mengangkat tubuh lelaki Mr Kims.


" Innalillah hi wa Inna ilaihi Rojiun..." Nampaknya tuan Kims telah kembali pada yang kuasa. Mohon semua bersabar. Sesuai permintaannya , jangan ada yang meratapinya. " kata Pak Ustad setelah memeriksa denyut nadi mantan King of business itu.


Tak dapat dihindari, suasana pagi dirumah besar itu haru biru. Citra terkulai lemah, saat dokter memeriksa dan memastikan bahwa sang kakek telah kembali. Ia tak meratap, tapi airmata seakan tak pernah habis bercucuran, bagai mata air yang mengalir.


" Sudah sayang...Kalau kita lemah, nanti anak- anak


makin lemah. Kita siap- siap saja menyelenggarakan kakek. Nanti kakek bakal disholatkan di Mesjid. Hari ini hari besar. Jumat berkah, Kakek kita orang beruntung. " bisik Rendra menghibur istrinya, sekaligus dirinya sendiri.


Sedangkan Boy, mengaji disisi sang uo, suaranya nyaris tak jelas, karna bercampur ingus dan airmata. Tapi ia tidak histeris, sepertinya ia mengerti semua pesan perpisahan dari uo tercintanya semalam.


Citra mengusap airmatanya. Walau masih pagi, para pelayat sudah berdatangan. Puluhan mobil berdatangan, Para wartawan juga mulai berdatangan, ingin mengambil gambar terakhir


tuan besar itu. Entah dari siapa bocornya.


Yang jelasnya seperti pepatah Minang, kabar baik baimboan, kabar buruk baambauan.


Bersambung...


😭😭😭


Mat pagi semua...Up kita kali ini edisi perpisahan.


Tapi bukan berarti semua pergi ya. Tetap setia


baca ya say...walau tuan telah pulang..


Yang namanya hidup, ada yang datang dan ada yang pulang. Yang penting siap- siap aja menghadapi Ujian terakhir. Semoga semua lolos.


Dan jangan lupa kasih dukungan yang banyak


sama karya kita ini, dengan cara kasih like, fote, komen dan Faforitkan bagi yang baru mampir, biar dapat notifikasi Upnya.


Salam sayang selalu buat pembaca semua.💕💕💕