Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 74




Jelang Sore.


setelah lelah setengah hari melaksanakan pembelajaran online berbasis Zoom meeting dikamar.


Dua anak gadis tersandar lemah dipinggir Tempat tidur.


" Aku sudah capek belajar online Bel, saking bosannya maka aku nebeng kesini, ingin rasanya secepatnya merasakan PTM ( Pambelajaran Tatap Muka ). Ketemu sama senior dan cowok - cowok tampan dikampus." Kata seorang gadis manis dengan rambut sebahu berkeluh kesah pada gadis cantik yang merupakan nona rumah yang ada disampingnya.


" Bel...la...Bisik gadis itu sembari mencongkel kuping Bella yang tidak menggubris ucapannya.


" Ih Geli tauk! " teriak Bella.


" Makanya jangan ngelamun aje neng!


" Habis kecapean neng!, Lo Khan ngeluhnya kecapean. Bukankah begitu? " tanya Bella menatap jenaka sahabatnya.


" Ngak cuma itu kok, yang barusan aku bilang. Cindi memasang wajah cemberut.


" Apa kamu kira karna Bella lagi menerawang jauh sampai dibelahan bumi berikutnya, memorinya tidak menyimpan apa ucapan mu?" tantang Bella.


" Trus tadi aku bilang apa? " tanya Cindi kembali kewajah ceria.


" Kamu mau ngampus bukan buat cari Ilmu, tapi buat cari cowok tampan." Jawab Bella, membuat Cindi tersenyum kecut.


" Cari ilmu so pasti, cari cowok tampan dan tajir juga ngak mungkir. Habis yang


paling topkan sudah keduluan sama kawan seiring. " Cindi tersenyum cengegesan.


" Jadi kamu juga sama? ternyata suka juga sama Bhalendraku?. " tanya Bella dengan Alis menaut.


" Siapa sih yang ngak suka sama Cowok terkeren di SMK kami sih La. Tapi aku ngak kayak orang Elsi. Aku mah orangnya sadar diri. Ngak mungkin bagiku saingan sama gadis cantik putri konglomerat sepertimu. Lagian ogah juga aku, andai aku kaya-raya dan secantik dirimu, aku juga ngak bakal berani menjalin hubungan dan menaruh harapan tanpa status kayak kamu." Jawab Cindi paket lengkap dengan pandangan pribadinya.


" Siapa bilang hubunganku tanpa status?


Bella tersenyum manis sembari membayangkan wajah Boy.


" Sekarang pasti ia sudah selesai Shalat subuh." Bella kembali tersenyum memikirkan Boy.


" Sadar neng...Kekasihmu telah jauh.


Ia sudah terbang ke Cambrige AS. Sejauh itu ruang dan jarak yang memisahkan kalian. Belahan bumi sebaliknya, disana tidak akan kurang cewek cantik, apa yang ia berikan padamu, agarkau bisa bertahan menunggunya? . " Tanya Cindi seraya menakuti sahabatnya Bella.


" Apaan sih kamu Cin, sahabat atau musuh? Kayak anggota geng Cantik


yang lain yang sekarang memusuhiku karna dia? " tanya Bella seraya menatap Cindi dengan teliti.


" Selamanya akan jadi sahabat Bella. Karna Cindi sadar setelah B adalah C,


dan yakin pasti ada C yang lain atau D untuk Cindi tanpa harus berebut B." katanya dengan senyum lebar.


Bella membalas dengan tawa." jadi kamu suka Dealer...eh...bukan.. maksudnya Delon atau Calvin? " tanyanya setelah menuntaskan tawanya dan berfikir sejenak.


" Terserah siapa jodohku, yang penting ngak yang jauh dimata dekat dihati kayak kamu. Aku sih maunya punya cowok, dekat dimata, mepet diraga.


" Dasar cewek mesum! Berarti Cindi kebelet kawin nih ceritanya? " tanya Bella


dengan mata terbelalak.


" Ialah...kalau aku ketemu sama CEO muda belia, tampan mempesona apa salahnya? langsung saja, buat apa lama


- lama dan mesti menanggung rindu tak berujung kayak kamu. " Cindi terkikik setelah menyindir Bella.


" Aku yakin padanya Cindi, aku juga percaya dengan diriku. Hanya ada dia dihatiku.


Setelah senja itu, kutahu diapun begitu. Ia memang tidak memberikan yang berbeda padaku, tapi Bella yakin ia telah memberikan seluruh hatinya.


" Kau ingat kan kita ricuh dipesta Sweet Seventinnya Boy, karna semua kami ditolak sama Boy malam itu.


sampai saat kalian pesta tamatan, kuminta Bang Mamat menjemputnya, dengan alasan aku sakit. Kami bertemu dipantai Ancol. " curhat Bella.


" Trus Lo dicium, trus ditiduri? " tanya Cindi bersemangat. Bella langsung menghadiahkan cubitan panas dipinggang Cindi.


" Ini anak Fiktor ( Fikiran Kotor )terus kayaknya. Emang kudu cepat dikawinin kayaknya! " tuduh Bella.


" Trus apa dong? mengapa Bella seyakin itu menjalin hubungan jarak jauh. Kalau aku jadi Bella memang mending nikah dan terbang bersama kesana. "


" Bella itu putri tunggal neng...Bella masih ingin menikmati masa- masa muda bersama orang tua. Lagian siapa coba yang pengen nikah muda?


" Aku.." jawab Cindi jujur.


Berarti Cindi kayak mami Bella tempo dulu. Bertemu pria tampan dan mapan langsung tancap gas kawin dan punya anak. Kalau kebelet mending jujur Cin,


soal calonnya ntar minta cariin sama mami dan papiku. " kata Bella enteng.


" Ngak kayak itu juga kali neng! " aku sih inginnya proses yang alami, bukan dijodohkan. " kata Cindi kemudian.


Azan magrib, memutus pembicaraan yang tak berarti antara dua sahabat itu.


Mereka terdiam saling pandang, lalu bergiliran mengambil wudhu.


🌺🌺🌺🌺


Malam ini Cindi sengaja menginap dirumah Bella. Ia ingin menyalurkan jiwa kepo tingkat tingginya,


Cindi masih belum puas dengan jawaban Bella , tentang apa yang sudah diberikan Boy sampai ia begitu yakin menunggu pria yang jelas- jelas didepan mata saja banyak yang menaksir, apalagi harus berpisah sejauh itu. Cindi saja ngeri membayangkan kalau ia menjadi Bella.


" Pasti Cindi tak mau pulang diantar bang Mamat, karna ada apanya nih." kata Bella usai mereka menunaikan Isya.


" Jadi ceritanya kamu mengusirku paksa nih? Oke deh aku pulang sekarang...." canda Cindi.


" Ya udah..beranjak sana jalan kaki...Biar ntar ketemu CEO yang lagi mabok, sekalian biar kamu ditidurin, trus dihamilin. Kan ceritanya Cindi pengen begituan." Balas Bella menggoda.


" Kamu sadis amat sih neng, ngatain teman semanis dan seayu ini buat jadi korban pelecehan lelaki tak sadarkan diri. Kalau boleh minta ampun sama Allah, biar hidup sederhana sama bang Fatih aja, ketimbang harus jadi korban kolor ijo berjas." Cindi berkata seraya cekikikan.


" Tak nyambung sekali nona! Yang namanya kolor ijo ya tak berbaju lah, apalagi pakek jas." protes Bella, iapun tak kuasa untuk tidak tertawa.


" Suka - suka aku dong, yang bikin istilah kan aku, yang terzolimi dengan ucapan Bella kan aku juga.


" Ya sudah...ntar tengah malam Bella doain biar Cindi dapat Jodoh CEO dingin yang akhirnya Bucin." kata Bella kemudian.


" Terserah deh...Yang penting doanya yang baik- baik, jangan yang serem- serem kayak yang tadi, oh ya gimana


dengan pertanyaan ku yang tadi? " tanya Cindi menuntut.


" Pertanyaan yang mana manis? " tanya Bella berpura - pura lupa.


" Pasti ada yang sudah Boy kasih sama Bella? Ulang Cindi.


Ada jawab Bella sembari berjalan menuju


lemari. Ia lalu membawa sebuah kotak dan membukanya didepan Cindi.


Mata Cindi terbelalak menatap isi kotak itu yang begitu aneh menurut Cindi.


" Apa arti semua itu? " tanya Cindi bingung.


" Karna Kau bukan kekasihnya, maka kau takkan mengerti makna terdalam dari semua ini." Bella tersenyum sembari mengingat Boy. Pipi Bella sampai merona merah, karna ia merasa saat ini Boynya berada disisinya. Melangkah berdua disisi sungai Charles.


Di Sisi Bumi belahan barat, matahari pagi mulai naik. Boy memang sedang berdiri di tepi sungai Charles depan asrama MIT Boston, AS.


" Semoga dirimu bisa menjaga Shalatmu,


wajahmu, jemarimu dan makanmu wahai


sayangku...Maka, Insya Allah, Allah akan menjaga dirimu untukku. Kalau diriku tak usah dirimu khawatir, dalam kisah keturunan Daddyku, hanya ada satu cinta saja dalam hidup." Boy bergumam sembari menatap Kedasar sungai, dalam pandangannya, ia sedang menatap kedasar jiwa Bella kekasihnya.