Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 22



Mr Kims tersenyum bahagia ketika misinya berhasil. Disimpannya surat kontrak itu baik- baik setelah mengirimkan salinannya kecucu kesayangannya.


Rendra yang mendapat kiriman surat itu melalui WA terkejut dengan apa yang barusan ia baca. " Bagaimana bisa semudah ini ia menandatangani kontrak seperti ini? Apa kakek melakukan sesuatu padanya? " tanya hatinya dengan fikiran berkecamuk.


Sedetik kemudian datang lagi notifikasi pesan. Ternyata masih dari sang kakek, yang isinya meminta Rendra untuk segera menyelesaikan urusan bisnisnya dinegri paman Sam itu, karna ada yang sedang merindukannya di Indonesia. Lalu ada stiker 😊.😊😊


Tapi Rendra tak dapat senyum balik karnanya, sebab ia sangat takut dengan apa yang dilakukan sang kakek, malah akan membuatnya jauh dari Citra. Ia tak ingin itu terjadi lagi, ia takkan bisa hidup tanpa anak dan kekasihnya itu nantinya. Satu langkah saja ia salah melangkah sijago silat itu akan membuatnya terjatuh karna serangannya sendiri.


Sebagai penguasa di dunia bisnis, ia mungkin bisa melakukan segala cara untuk mengurung Citra agar tak lepas darinya lagi dengan kekuasaan dan kekuatan. Tapi ia tak pernah menggunakan lagi kekuasaannya itu, tak lagi membanggakan uangnya, apalagi kekerasannya sejak mata dan hatinya terpaut dengan gadis tomboy yang sudah mengalahkan segala yang Rendra miliki. Ia merasa tak punya apapun sekarang lagi, kecuali keinginan yang besar untuk membahagiakan anak dan istrinya.


" Istri? Ya, kakek memang benar, walaupun cara yang digunakan kakek untukku dapat segera memiliki mereka mungkin salah, tapi menikahinya memang jalan yang terbaik," fikirnya.


" Mudah- mudahan dengan pernikahan yang diridhoi dan diberkahi oleh yang kuasa, lambat laut, Citra bisa menjadi miliknya lahir dan batin. Dan semoga baby mereka bisa membuat mereka semakin dekat." begitu pinta pria itu dalam doanya.


Teringat dengan baby-nya, Rendra tak tahan berlama- lama, ia ingin menyaksikan buah hatinya terlahir kedunia ini. Ia tak mau menjadi ayah yang buruk, ia ingin menjadi orang yang pertama dilihat oleh baby-nya saat ia pertama membuka mata didunia ini, bagaimanapun caranya, ia akan mendampingi Citra saat lahiran.



Akhir musim panas yang menggelisahkan bagi Rendra. Usai mengadakan meeting tetakhir disebuah hotel dikawasan Vacenvur, Rendra akan segera beranjak meninggalkan Kanada.


Satu Minggu berada dinegri paman Sam, bagi Ren bagai sebulan. Setiap detik ia bahkan tak bisa stop memikirkan mereka yang ia tinggalkan ditanah air.


" Sudahlah bos, usai ini kita tak akan tunda- tunda penerbangan balik, dan syukurnya cuaca cukup baik, ini mungkin pengaruh musim. " kata Hans menghibur tuannya.


" Ia Hans, aku tak sabar, apalagi setelah kakek membuat surat kontrak pernikahanku dengan Citra, aku makin gelisah memikirkannya. " kata Rendra seraya menekan Remot kontrol pendingin ruangan.


" Tapi bagaimana Gadis seteliti Citra bisa dengan mudah menanda tangani surat kontrak dengan perjanjian yang banyak merugikannya seperti ini. " tanya Hans dengan dahi mengerut, setelah membaca surat itu di Wa sang CEO.


" Tak usah kita pertanyakan lagi, apa kau tidak tahu kakek adalah mantan mafia, ia bisa mencari celah disetiap kelemahan baik kawan ataupun lawan.


Ini aku kira karna bawaan bayinya, yang membuat ia terkesan buru- buru, mungkin ada yang ia inginkan dari kakek. Hingga taksadar keinginannya


dijadikan kakek sebagai senjata untuk memaksanya. Untuk jelasnya kita tak tahu. Indonesia menunggu untuk kita tahu jawabannya.


" kata Rendra kemudian.


" Oke lah kalau begitu, yang penting Bos Rendra keep Spirit and Rileks, Rileks! " kata Hans seraya menarik nafas panjang. Yang diikuti oleh sang CEO.


Dimeeting terakhir ini, mereka membahas, upaya meningkatkan Harga CPO minyak kelapa sawit produksi perkebunan dan pabrik milik GNN group


dibelahan bumi barat itu. Usai mengadakan meeting yang melelahkan dengan puluhan distributor itu, Rendra benar- benar segera cabut dari negri asal momynya untuk balik ke Jakarta.


Sementara di Ibukota Citra sudah mules- mules dari sore. Tapi sebagai perempuan kuat ia hanya mendiamkan saja. Ia menahan rasa sakit dipinggangnya dengan terus melakukan kegiatan rumah sebagaimana biasanya. Adelia yang melihat Citra bolak- balik kamar mandi dengan wajah mengerut menahan sakit pinggang, tentu tidak mau tinggal diam. Ia selalu menemani Citra setiap kekamar mandi , ia takut terjadi apa- apa padanya saat dikamar mandi.


" Aku kira kau akan segera lahiran sayang. Kulihat ciri- ciri orang mau lahiran sudah ada padamu. Itu bukan mulas biasa. Aku panggilkan dokter ya. "Kata Adelia akan segera meraih ponselnya dikasur. Tapi langkah Adel terhalang, karna Citra menggelengkan kepala sebagai kode mencegahnya.


" Tapi aku takut ini sudah saatnya Citra, aku takut terlambat mengambil tindakan, yang menyebabkan kau dan babymu kenapa- kenapa. " kata Adelia dengan wajah khawatir.


" Kamu tenang saja Del, kan baru delapan bulan satu Minggu. Itupun babyku belum akan lahir, sebelum Stefi kembali dari Papua dan aku dikusuk dulu. " kata Citra segera berjalan pelan menuju tempat tidur.


" Sudah jam sembilan malam, aku akan segera tidur. Aku ngantuk. Apa Adel akan terus berdiri, atau masih mau main ketempat kakek. Kalau Citra lagi malas, capek dan ngantuk ni. " kata Citra seraya merebahkan diri ditempat tidur king size itu.


Ia membayangkan saat Stefi memijit betisnya, mengusap perutnya dan terakhir mendengarkan detak jantungnya. Hingga tak akhirnya ia benar- benar terlelap.


Tepat pukul Sebelas siang waktu , jet Rendra lepas landas dari Bandara, untuk kembali ketanah air.



Rendra segera menggolekkan tubuhnya diruang tidur pesawat itu. Sudah seminggu ini aku tak cukup tidur. Aku akan tidur sekarang Hans. Mudah mudahan perjalanan kita selamat." kata Ren pada Hans.


" Iya...tapi sekarang belum saatnya tidur. Biar kita bercerita dulu sambil ngopi, nanti habis jam dua belas, baru bos tidur. Ngak baik tidur jam segini. " kata Hans mengingatkan tuan muda yang sekarang sering lupa waktu. Kadang waktu tidur, Rendra malah sibuk bekerja atau bahkan begadang, uring- uringan seperti cacing kepanasan. Namanya juga orang yang sedang jatuh cinta, dan cintanya belum bisa tersampaikan, tentu sakit dan berat rasanya, bak kucing jantan yang sedang mengawan, kamana- mana bawaannya gelisah.


" Hey kampret! mengapa kau senyum- senyum sendiri, masih mengejekku. " Tanya Rendra sembari


melemparkan bantal kewajah Hans. Lemparannya


tepat sasaran.


" Dari pada dilpar pake bantal, mendingin dilempar pake cek bos, kalau bisa yang agak besar angkanya


Rupiah nya. " kata Hans kemudian.


" Habis kau keseringan ngejekin aku sekarang, ngak pake mulut, pake hati. Emang gaji dan bonus mu masih kurang? Sampe mintak dilempar pake cek.


Kau sih mau enaknya saja, sudah ketahuan ngejekin bos sendiri, malah minta hadiah.Untung hanya bantal, gimana kalau tadi kulempar dengan I phone ini. Pasti muka nakalmu itu bakal bonyot. " kata Rendra.


Tentu seorang Rendra takkan tega melempar asisten kesayangannya dengan benda yang membahayakan. Apalagi itu merugikan. Tentu ia takkan melakukannya. " kata Hans seraya tersenyum penuh kemenangan.


Sehabis melaksanakan ibadah, Rendra pun melanjutkan keinginannya untuk mendengkur.


Pukul 18: 10 malam Rendra sampai ditanah air. Setelah lebih dari 19 jam berkendara, dari belahan bumi bagian barat kebelahan bumi timur.


Sesampai ditanah air, ia segera menelfon asisten kakeknya untuk mengetahui keadaan Citra dan babynya.


" Gimana keadaan mereka ko? " tanyanya tak sabar begitu telfon tersambung.


" Gawat tuan muda, non Citra sudah sejak semalam kontraksi, tapi ia tak mau diperiksa. Katanya ia ingin bertemu dulu dengan Stefi sebelum diperiksa dokter, ia sudah pucat menahan sakit, sedangkan tuan Kims jantungnya mendadak kambuh karna memikirkan Citra.


" Kenapa tak ada yang menghubungiku! " Hardik Rendra panik.


" Sudah berkali- kali, tapi no tuan dan Hans ngak aktif. " Jelas Joko.


" Baiklah...aku akan segera kesana." kata Rendra kemudian setelah sadar Telfonnya dan Hans memang sengaja tak diaktifkan dipesawat.


!!!!??????????????!!!!


Sampai dikediaman Mr Kims , Rendra segera menuju kamar Citra. Sebelum sampai dipintu kamar Hans baru teringat kalau Rendra belum jadi Stefi. Ia segera menarik Rendra kembali dan membantunya untuk berdandan jadi Stefi.


Walau tampilannya tak sesempurna biasanya karna buru- buru, ia segera menuju kamar perempuan yang sudah sangat ia khawatirkan itu.


Didalam ada Adel, kakek Kims, dan Citra yang sedang mondar- mandir kekamar mandi.


Wajah tuan Kims tampak kuyu, nafasnya sesak, ia baru saja sadar setelah penanganan dokter, tapi ia tak mau jauh- jauh dari Citra. Bayangan kejadian puluhan tahun silam mengganggu fikirannya, ia tak mau itu terulang kembali. Bibirnya komat- Kamit memanjat doa, agar Citra segera mau diperiksa dokter.


Begitu Stefi sampai didepan pintu, mata bulat Citra langsung terbelalak.


" Stefi....Citra kangen..." rengeknya sembari berjalan menuju pintu. Adel cepat tanggap memeganginya, takut Citra terjatuh karna buru- buru.


" Ayo pijiti aku, tidurlah disisiku, babyku akan lahir besok subuh. Yang lain tak usah khawatir. " katanya seraya mengalungkan kedua tangannya dipinggang Rendra. Rendra yang jadi Stefi memeluknya beberapa menit. Setelah puas,kemudian ia mengangkatnya ketempat tidur. Dengan perasaan tenang dan bahagia Rendra memenuhi keinginan ibu dari anaknya itu.


Adel menggeleng- geleng, dan dengan terpaksa tidur disofa.


Sedangkan tuan Kims mengelus dadanya, memastikan kalau jantungnya masih tetap ditempatnya


Bersambung!


Jangan lupa... mampir terus tiap hari ya..


kasih like, fote and faforitkan karya kita ini.


Salam thank you dari penulis. M.....ah...