
Usai meeting Rendra membawa Hans untuk bersantai di sebuah Cafe Resto dikawasan
Jakarta Selatan , ia sengaja ingin berbicara tenang empat mata dengan sekretaris sekaligus Asisten pribadinya itu. Ia melihat Hans terlihat sangat bahagia dan bersemangat. " Apa ini ada hubungannya dengan pesta pernikahannya? tebak Rendra.
Hans memang sudah punya tunangan, walau itu karna dijodohkan oleh Almarhum ayahnya. Gadis yatim piatu yang diangkat keluarga Hans menjadi Adik Hans, sebelum ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya dua tahun yang lalu, sang ayah meminta Hans untuk menjaga adik angkatnya itu dengan cara menjadikannya calon pendamping hidup. Sekarang gadis itu tinggal bersama diIbukota juga, menyelesaikan Studinya di Universitas Yarsi Jakarta.
Hening sejenak. Beberapa detik berikutnya pesanan diantar oleh waitres, Rendra menatap Hans. Ia melihat Hans selera sekali makannya dan senyum manis selalu mengembang dari bibirnya.
Rendra menatap Hans dengan teliti, mencoba mencari arti senyum yang ditunjukkan oleh pria pendiam yang selama ini bekerja dengannya.
" Apa pernikahanmu akan dipercepat Hans, sudah jadi kekasihmu wisuda? " tanya Rendra langsung tak sanggup menutupi kepenasarannya.
" Tentu bos...Nahda akan sudah dapat menyelesaikan SI kebidanannya Desember nanti.
Aku pasti akan memenuhi janjiku pada Almarhum, jika Nahda tidak memiliki pilihan lain.Tapi andai ia jatuh cinta pada lelaki lain yang lebih pantas. Maka aku takkan memaksanya.
Tapi aku kayaknya aku senang bukan karna itu bos." Jelas Hans sembari tersenyum lagi. Nampak gigi putihnya yang tersusun rapi memperindah senyuman itu.
" Lantas kenapa ? " tanya Rendra makin penasaran.
" Aku bahagia karna berhasil menemukan posisi nona muda barusan, sekitar 15 menit sebelum kita meeting. " jawab Hans girang.
" Maksudmu Dia ? Citraku? tanya Rendra seraya memegangi pundak Hans saking senangnya ia tanpa segara meremas kerah baju Hans.
" Aduh bos...lepaskan dong..." ntar ada yang nganggab kita pasangan ngk benar. " bisik Hans.
Rendra segera menarik tangannya dari Hans, lalu mengatur nafas dan posisi duduknya.
" Dimana dia Hans, ayo kita menjemputnya. " kata Rendra tak sabar ingin bertemu dan berlutut dikaki gadis yang sudah ia nodai tanpa sengaja itu.
Ayolah Hans, aku sanggup menerima hukuman apapun darinya, asal ia mau memaafkanku dan hidup denganku. " kata Rendra dalam perasaan bahagia, sedih, bersalah yang bercampur aduk.
" Tenanglah bos, ia akan segera datang bulan depan, ia adalah orang yang dipromosikan oleh Mr. Arifin, yang akan bos tempatkan menjadi wakil direktur diperusahaan konveksi. " jawab Hans santai.
" Benarkah???
" Ya dia benar Citra." Jawab Hans
" Apa benar ia mengandung seperti perkiraan dokter Rinto? " tanya Rendra.
" Benar bos, ia sedang hamil menjelang bulan keenam. " jelas Hans lagi.
" Urus penerbangan ke kota B Hans! aku takkan sabar menunggu sampai bulan depan. Aku ingin segera melihat kondisi kekasih dan calon babyku. " kata Rendra mulai berdiri untuk meninggalkan kafe Resto itu.
" Kekasih? bos bahkan menyebut Citra sebagai kekasihnya? " Hans menyembunyikan senyumnya
dengan mengalihkan wajah kelain arah agar ekspresinya tak terbaca oleh tuan muda
yang sedang merindu itu.
" Urus pembayarannya. Aku tunggu dimobil! Perintahnya seraya memberikan kartu Black Cart miliknya pada Hans. Makanannya dan minumannya tak sempat ia cicipi.
Rendra tak sabar menunggu Hans, setiap sebentar ia Melijat jam tangannya, dan memandang kepelataran parkir sembari menarik nafas panjang. Hingga ketika Hans tiba dimobil Bugatti Divvo milik Sang tuan muda, ia mendapatkan sang tuan muda
dengan wajah kesal.
" Kok bisa lama Hans? " tanyanya dengan dahi mengerut.
" Biasa aja lagi tuan, aku minta dibungkus kan ini, buat diberikan nanti kalau ada gelandangan yang membutuhkan makanan ini, kan belum bos sentuh sama sekali. " jelas Hans yang kemudian membuat Rendra hanya bisa manggut- manggut.
" Benar juga Apa yang dilakukan Hans, ngak baik mubazirin makanan, aku yang tak sabaran ngak kepikiran, padahal itu ngak baik bagi calon anakku. " kata batin Rendra.
Hans menatap kekaca spion mobil itu, untuk memeriksa raut wajah sang CEO yang sedang berkecamuk.
" Sebaiknya tenang dulu bos, kita cari strategi untuk pertemuan kalian supaya lebih terkesan ngak instan. Kami mau tuan muda dan nona muda jangan sampai terlibat pertengkaran yang akan berpengaruh pada calon anak kalian. " kata Hans mencoba memberi masukan.
" Aku tahu kalau melihatku disana, apalagi tahu aku
CEO perusahaan tempatnya bekerja, aku tahu ia takkan mau. dimutasi. Tapi apa kau fikir aku akan tahan menunggu sampai sebulan? Tidak Han!
Cancel semua jadwal meeting, kita segera kesana,
dengan si Speedy Amoy" katanya menyebutkan nama kesayangan untuk jet pribadinya.
" aku takkan mengganggu mereka dulu, aku hanya ingin melihat mereka dan memastikan mereka sehat dan baik- baik saja. " Kata Rendra kemudian.
" Baiklah bos, akan segera ku urus keberangkatan kita kesana." jawab Hans senang melihat bosnya
yang tampak kian menunjukkan sikap bijaknya.
Karna dorongan yang kuat dari Adelia, akhirnya perasaan berat hati yang dirasakan Citra untuk meninggalkan kota yang telah membuat hatinya sedikit lebih nyaman ini berangsur ringan.
Tepat pada waktu yang dijanjikan, iapun berangkat menuju ibu kota dengan ditemani Adel. Sebagai orang yang lumayan baru dalam kehidupan Citra, Adel cukup berkontribusi untuk membuat hari- hari Citra tak terlalu menyakitkan.
Ocehannya, keusilannya seakan penawar hati Citra tatkala ia merasa sakit saat terkenang kejadian pahit yang membuatnya mengandung diluar pernikahan. Seperti yang ia katakan bahwa ia akan menggantikan posisi Dady bagi baby-nya Citra.
Ia benar- benar memperhatikan Citra dan calon baby-nya. Bahkan hari ini, ia rela meninggalkan tunangannya untuk menjaga sahabatnya itu.
Agar Citra dan Baby mereka lebih nyaman, Rendra sengaja mengirim Speedy Amoy, untuk menjemput Citra dan Adelia agar lebih nyaman.
Tatkala mereka sampai di bandara,
dengan diantar Mr Arifin. Citra dan Adelia terpekik takjup, mereka tidak pernah mengira bakal terbang dengan pesawat yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari Vidio dan gambar.
" Kok bos besar sebaik ini ya mas sampai jemput pake jet segala? " tanya Adel bingung bercampur senang.
" Ya sudah jangan banyak komen, naik saja. Jaga diri baik- baik, jangan nakal dan kecentilan disana." kata Arifin sembari mengedipkan sebelah matanya.
Adel tak mengerti makna kedipan itu, tapi setidaknya ia mulai diam, kemudian menuntun Citra masuk kedalam pesawat yang hanya bisa dimiliki oleh para konglomerat paling top dinegri ini. Begitu mereka sampai didalam mereka langsung disambut oleh dua pramugara tampan.
Kedua perempuan itu tak berkedip setelah dalam
pesawat. Apalagi ketika pramugara menunjukkan kamar tidur mewah dengan fasilitas yang Wow. Adel langsung lompat kekasur empuk itu.
" Enak ya jadi orang kaya. " katanya pada Citra?
" Kaya harta ngak kaya hati apa enaknya?" jawab Citra seraya merebahkan tubuh lelahnya dikasur. Sepuluh menit kemudian ia sudah terlelap.
" Dasar...Baru mau cerita dan ngehayal seru- seru, tuh Mak labu sudah ngorok. " umpat Adelia.
Dulu Randra sengaja mengutamakan lelaki yang bekerja dengannya. Tapi sekarang ia mulai merasa tak nyaman dengan pramugara tampannya. Takut Citra melirik mereka.
" Apa tidak bisa dicarikan pramugari untuk penerbangan itu Hans? " tanyanya seraya protes pada Hans.
" Tak bisa bos, waktunya mepet, semua sudah ada jadwal terbangnya." jawab Hans memberi alasan.
" Aduh...ni orang kok posesive amat, lagian siapa sih yang tertarik sama wanita hamil? " batin Hans menyerocos.
" Kan cuma perutnya sama pinggangnya saja yang berubah Hans, yang lain tetap oke. " kata Rendra seperti dapat membaca fikiran Hans. Hans hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
" Lainkali kalau bawa nona, kita Carikan pramugari. ngak pramugara. " katanya kemudian.