
Malam itu Rendra menjaga anak dan istrinya. Hans mengantarkan leptop dan segala keperluan Ren untuk bekerja sembari mengurus sikecil. Seperti kata Adelia, kalau Dady sebenarnya sudah disisi, Bhalendra kecil tentu akan bahagia.
Sikecil memang susah tidur. Ia sepertinya jadi securty sekalian jadi pendamai buat Momy and dadynya.
Ia memang tidak tidur, Ia seperti memperhatikan Dadynya yang lagi bekerja. Tapi ia tak rewel, hanya saat popok basah saja ia merengek.
" Kok gelisah sayang..." tanya Rendra seraya mengangkat boy yang tampak mengerutkan mukanya.
" Hek...hek..." Rengek sitampan.
" Aduh pintar Dady...Sayang ...popoknya basah ya? pantas tampannya Dady gelisah ya, sayang...Okey Dad gantiin popoknya ya. Biar enak lagi mainnya. " kata Rendra seraya mencoba menggantikan popok dibuah hati.
Ini adalah kali pertama ia mempraktekkan pembelajaran ngurus baby yang ia pelajari dari Youtup. Ya sejak dua bulan belakangan, kalau ada waktu break sebentar saja, ia akan bukak Vidio mengurus baby.
Sitampan boy senyum senang, seolah mengerti semua yang diucapkan dan dilakukan Dadynya dengan penuh ketulusan. Setelah mengoleskan telon pada bagian- bagian alamat jagoan kecilnya, ia merapikan pakaian sikecil. Dilihatnya istrinya sudah tertidur, maka ia tak tega membangunkannya.
" Dady kasih susu formula aja ya sayang...biar mom tak diganggu dulu. " Kata Rendra kemudian meletakkan sikecil dekat ibunya. Lalu ia pergi untuk
menyiapkan susu.
Citra yang belum benar- benar terlelap, membelai
putranya, saat Ren sedang menyiapkan susu formula. Ketika Rendra sudah kembali,ia buru- buru
memejamkan matanya. Namun tangannya masih memeluk sikecil.
" Telaten juga sibrengsek merawat anak. Apa ia belajar untuk melakukan itu? " tanya batinnya.
" Sayang...ini mimik botolnya, minum yang banyak ya sayang..." kata Rendra seraya memasukkan kepala kompeng kemulut sikecil, tapi boy menolak dengan lidahnya. Kemudian tangan - tangan mungil yang bersarung itu menggapai kesamping, mulutnya diarahkan pada mommynya.
" Sayang ngk mau mimik Dady ya? pingin ASInya mom aja. Tapi mom masih tidur sayang..." kata Rendra sembari mengambil botol susu formula itu yang terjatuh disisi sikecil, kemudian ia membersihkan mulut dan dagu sikecil yang ketumpahan susu,saat ia menolaknya, sang Dady kalah cepat menangkapnya.
Mendapat sentuhan- sentuhan lembut tangan dibuah hati, Citra tak tahan melanjutkan pura- pura tidurnya. Ia membuka matanya perlahan, kemudian menatap sikecil,lalu beralih pada Dadynya.
Rendra yang ditatap tajam oleh istrinya lumayan kikuk. Ia menghembuskan nafasnya yang tiba -tiba asma dadakan.
" Bisakah tuan membalikkan wajah tuan, biar aku menyusukan anakku." kata Citra yang membuat hati Rendra menciut, bagai balon yang dilepas anginnya.
Sedetik Rendra terpaku, begitu jauh Gap yang dibuat istrinya antara mereka dari cara ia berucap.
" Baiklah...Tapi apa tidak perlu didudukkan dulu? " tanya Rendra.
Citra mencoba duduk sendiri, tapi ia belum cukup kuat." Ternyata baru sehari lahiran, tubuhku masih lemah. " fikir Citra.
Lalu tanpa izin Rendra segera membantu istrinya duduk.
" Bagaimanapun juga kau adalah istriku, walaupun hatimu tak senang, aku takkan berdosa membantumu. " kata Rendra sembari mendudukkan Citra, tak peduli ekspresi Citra yang enggan disentuhnya. Setelah mengatur posisi duduk istrinya dengan baik, ia menyerahkan sikecil
kepangkuan nya, kemudian ia berbalik, agar tak dapat melihat aktifitas ibu dan anak itu.
Rendra berfikir untuk memberikan roti dan susu pada istrinya setelah memberi minum bayi mereka.
Ia melangkah pergi membuatkan susu, dan mengambil roti dilemari pendingin.
Tepat saat boy usai menikmati Susu Gantung Momynya, Rendra tiba dikamar mereka, saat kancingnya belum tertutup. Citra panik bukan kepalang, saat mata Rendra mengekspos buah kuldi yang tiba dicitra lumayan kelebihan ukuran itu.
" Kau...sengaja ingin melihatnya ya! " kata Citra dengan tatapan penuh emosi.
" Ngak lah sayang...masak aku sengaja, aku hanya ingin memberimu ini, untuk menggantikan nutrisimu yang sudah diberikan pada sitampan." kata Rendra seraya meletakkan mapan itu dimeja.
Kemudian Rendra mengambil Boy dari Citra, dan meletakkannya ditempat tidur mungilnya. Lalu ia memberi istrinya susu, Citra yang memang haus dan lapar menerima dan meminumnya. Lalu muncul ide nakal dikepalanya untuk membalas Ren dra yang tadi sengaja memelototi pepaya kembarnya.
"Aku ingin makan sup ayam kampung, apa bisa diadakan ya. " kata Citra kemudian.
" Baiklah...Aku akan memesannya melalui Hans. " Jawab Rendra segera berlalu.
" Tapi aku inginnya masakan rumah." kata Citra yang membuat Rendra menghentikan langkahnya.
" Apa kau kira aku takkan bisa menjawab semua tantanganmu sayang...Untuk menggantikan waktu sudahmu delapan bulan lebih itu, aku akan lakukan untuk menyenangkanmu mulai sekarang. " kata Rendra dalam hatinya. Lalu kemudian ia melangkah mantap menuju dapur istana tuan Kims, kakeknya.
Pukul 22: 30. saat Rendra mesti membangunkan sikakek dan Joko asistennya. Untuk meminta mengambil dan memotong salah satu dari ayam peliharaan sang kakek ditaman belakang.
Joko melangkah keseok- Seok karna ngantuk saat harus kebelakang dengan Rendra. Kegaduhan membuncah kandang ayam itu, saat Joko mengambil satu dari lima ekor ayam berharga jutaan milik kakek Kims.
" Yang ini yang paling muda tuan, Bangkok ini masih bujang tanggung, sedang enak disup." kata Joko menunjukkan ayam itu pada tuan mudanya.
" Baiklah pak. Dipotong ya, bapak kan muslim, bisa memotong hewan dengan cara halalkan ? " tanya Rendra sembari menatap Joko.
" Tentu tuan muda. " jawab Joko mantap seraya melaksanakan tugas tak diduga itu.
Tepat pukul 00: 35, ditunjukkan jam dinding dikamar Citra, hidung Bagir Citra mencium aroma sedapnya SOP ayam. Ia segera membuka matanya, dan melihat Rendra berjalan menuju tempat tidurnya dengan membawa nampan berisi semangkok SOP ayam kampung requesannya dengan nasi dan sambal cabe ijo.
" Wah...kayaknya enak sekali. " kata Citra seraya menelan liurnya karna ngiler.
" Nih...makanlah, biar tubuhnya hangat. Mudah- mudahan enak. " kata Rendra.
" Citra mulai mencicipi sup itu.
" Aduh enaknya, apa kau membangunkan koki untuk memasaknya, rasanya enak sekali. " kata Citra makan dengan lahap. Rendra tak menjawab, ia hanya tersenyum pada Citra.
" Syukurlah, masakan ku sudah bisa menyaingi masakan koki rumah ini. " kata hati Rendra berbunga, apalagi melihat istrinya makan dengan lahap sampai minta nambah.
Adelia yang terbangun tengah malam itu juga tak tahan dengan aroma sup itu, ia mencarinya kedapur, perutnya berbunyi melihat paket lengkap sup itu. Ia mengambilnya semangkok dan lalu muncul rasa ingin mengintip kamar Citra.
" Kalau pintunya tak dikunci, aku kepo pingin lihat gimana mereka tidur. " gumam Adel bicara sendiri.
" Besok mas Arifin akan menjemputku balik ke B. Malam ini ngintip dulu ah..." katanya seraya berjalan sambil membawa mangkok supnya.
Ketika dijalan ia berpapasan dengan Zen koki salah satu koki rumah itu.
" Makasih ya dah masak sup sesedap ini tengah malam " kata Adel pada Zen.
" Aku hanya tukang bersihin ayam nona, itu asli masakan tuan muda Rendra." Habis bersihin aku bobok, ni baru terbangun karna bau sup itu. " kata Zen jujur.
Saat pintu kamar tak tertutup, Adel nyelonong masuk, pas Citra selesai makan.
" Beruntung sekali sih hidupmu sayang...punya suami paket lengkap. Tampan, kaya, jago masak." kata Adel seraya makan supnya sambil berjalan.
" Biasa aja lagi neng...walau seenak apapun makanannya, duduklah dulu baru makan! " kata Citra protes, sebenarnya ia tak suka Adel terlalu memuji Rendra.
" Adel ini...pake sigitunya muji pria itu, ntar ia kegeeran dan makin berani sama aku. "kata batinnya.
" Izinkanlah sahabatmu ini, berbuat seenakku malam ini, sebab esok Adelia akan balik. Dan kau pasti akan sangat kehilangan. " kata Adelia memamerkan senyum centilnya.
Rendra hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat tingkah makan Adelia.
Seminggu sudah Adel pergi, Citra memang sangat kehilangan, walau tiap malam gadis centil itu vidiocall dengannya dan putranya.
Siang Rendra bekerja, sedang malam menjaganya dan boy.Sungguh telaten pria itu merawat ia dan baby-nya, seharusnya Citra bersyukur, tapi tah mengapa ia masih belum bisa memaafkan Rendra.
Hari kesepuluh umur boy, Citra berencana membawa boy pergi dari rumah itu. Tapi setiap ia gendong mau pergi, putranya malah menangis histeris. Seolah ia tak mau dibawa pergi dari situ.
Citra mengalah, Ia mencoba untuk pergi sendiri.
Saat jam makan siang, saat para penjaga rumah sibuk makan siang, Citra menyelinap dari pintu samping. Ia membawa ransel ijazahnya dan Kartu Atmnya, dengan maksud untuk bisa bertahan hidup diluar.
Setelah berhasil keluar dari pagar istana itu, ia melangkah dengan ragu. Berjalan menyusuri jalan menuju jalan utama. Tapi baru kira- kira 200 meter ia berjalan, tubuhnya oyong, kepalanya pusing, pandangannya kabur, kemudian ia tak ingat apa- apa lagi.
Bersambung....
Mampir terus yuk...jangan lupa tinggalkan oleh- oleh like, fote and faforitkan yang banyak buat Boy.
Nantikan part berikutnya..Miss you selalu....❤️❤️❤️❤️