Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 56



" Maafkan Calista mom " katanya seraya duduk bersimpuh disisi Citra yang baru selesai menutup ponselnya, sehabis mengirim pesan pada Adelia.


Citra menatap putrinya sejenak, kemudian mengelus kepalanya. lalu ia tersenyum sebagai tanda ia tak mengambil hati atas perkataan putrinya. " Sudahlah sayang...lain kali yang lebih manis lagi ya jadi anak perempuan. Momy tak menyalahkan itu, karna Momy dulu orangnya juga


bukan gadis yang lembut, bahkan Momy lebih keras dari Calis kalau bicara . " Kenangnya mengingat kembali masa kecil, remaja dan sikapnya menjelang dewasa.


" Momy bahkan tak bisa berkata sayang, sebelum ketemu dengan Dady. Tapi untuk Calista dan Raisa, Momy tak mau kalian seperti Momy, karna latar belakang kehidupan Momy jauh berbeda dengan kalian. Momy besar dalam kebencian dan prasangka yang tidak benar. Sedangkan kalian kalian dibesarkan dengan limpahan kasih sayang keluarga yang lengkap, Ada Momy, Dady, kakek, serta semua yang bekerja dirumah kita." kata Citra memberi pengertian yang lebih dalam pada Calista.


" Kalian punya keluarga yang lengkap, disayangi dan diperlakukan istimewa oleh kami semua. Sedangkan Momy hanya punya kakek saja, Momy


menjalani kehidupan yang keras, sulit dan kekurangan kasih sayang. Kalaupun Momy kasar


dan tomboy , itu sebanding dengan kerasnya kehidupan momy. Sedangkan Ita, apakah Ita pernah mengerjakan pekerjaan orang dewasa saat kecil? Adalah Ita merasa kurang perhatian?


Pernahkah Ita merasa hidup tak Adil? " tanyanya


mengingatkan putrinya agar lebih bersyukur.


Citra tanpa sadar menitikkan airmatanya. Membuat Calista makin merasa bersalah.


Diusapnya air mata sang Momy dengan kedua tangan halusnya. Lalu dipeluknya Citra seraya berkata. " Kami hidup dengan kasih yang lengkap, Momy dan Dady memperlakukan kami dengan Adil,


walau Abang yang paling menonjol, tapi Kami


diperlakukan sama, kami bisa jadi apa yang kami mau, bergaul dengan teman yang kami suka.


Tidak sewajarnya Calista bicara sembarangan, apalagi sama Momy, maafkan khilaf putrimu ya Mi.


" kata Calista kemudian.


" Momy tidak memasukkan sedikitpun kedalam hati gurauanmu sayang...Sudahlah, mana temanmu? kasihan ditinggal sendiri dikamar.


Kalau Zahra yang sembarangan itu wajar sayang...Hidupnya sulit, bahkan lebih dari Momy diwaktu kecil. Momy senang Ita perhatian sama dia, Itu tandanya Anak perempuan Momy orangnya


baik dan murah hati. Sekarang balik kekamarmu,


Ajak dia bersiap- siap, biar kita kesuatu tempat. " kata Citra kemudian.


Calista tersenyum bahagia, selain sudah dimaafkan Momynya, ia juga tidak disalahkan, membawa teman yatim piatunya itu kerumah, bahkan ia dapat pujian karnanya. Dengan berlari- lari kecil, ia kembali menanjak kelantai dua.


Calista menemukan temannya sedang asyik membaca buku cerita dongeng punya Calis. Ia buru- buru menutup bukunya dengan gemetar,


saat mendengar Chalis membuka pintu kamar itu.


" Ma...ma maaf dari pada bengong, kuambil bukumu, maaf aku sudah lancang. " kata Zahra dengan nada ketakutan.


" Sudah neng...nyantai aja kali, masak kepergok baca buku orang aja kayak ketangkap nyuri berlian. " kata Calista sembari menggelitik pinggang Zahra. Membuat gadis kecil itu terkikik geli.


Hingga rasa takutnya langsung hilang.


" Sekarang Ayo kita mandi, dan siap- siap berbelanja, setelah jemput sibungsu ke SD IT. " kata Calis sambil mengambil handuk baru dari lemari dan memberikan pada Zahra.


" Wah cantik, lembut dan wangi! " kata Zahra setelah mengecup handuk berwarna merah muda itu.


" Ya sudah pake aja, itu untukmu, besok boleh dibawa pulang kok, dijamin ORI, masih belum pernah dipake. " Jelas Calis.


" Aduh senangnya...makasih ya Ta..." kata Zahra riang, dengan senyum mengembang ia segera menuju kamar mandi Calista.


Setengah jam kemudian mereka sudah siap.


" Baik non, "Jawabnya singkat , kemudian mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


Melaju santai menuju rute yang telah ditetapkan sang nyonya rumah. Hening sejenak, sebelum terdengar dengkuran halus kedua gadis kecil itu.


Citra meraih kepala kedua anak perempuan itu. kemudian menyandarkannya dibahunya kiri dan kanan.


Hari sudah sore ketika mereka sampai dirumah kembali. Sambil menggandeng tiga putri, Citra berjalan memasuki rumah. Tiba - tiba telfonnya


berdering. Citra segera menyambungkan telfon dari Tuan suami.


Terdengar suara berat dari sisi seberang sana, Citra menahan nafas menunggu berita yang akan Rendra sampaikan. Ia bahkan tak berani bertanya, takut mengejar berita yang tidak enak didengar.


" Kami sudah bertemu dengan korban dirumah sakit sayang..Arif selamat, ia hanya mengalami luka ringan.Tapi seorang stafnya telah berpulang


kesisi yang kuasa. Setelah setengah hari dirawat dirumah sakit. " kata Rendra.


" Innalillah...Betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkannya Sayang...tolong temui mereka,


hibur mereka, dan berikan hak- hak mereka ya sayang..." kata Citra setelah mengusap dadanya yang terasa perih memikirkan nasip keluarga karyawan mereka itu.


" Jangan khawatir sayang...staf Arif yang ini sebatangkara, ia juga Kata Arif belum berkeluarga.


Tapi sayang tenanglah, Aku dan Boy akan mengurus semuanya dengan baik, setelah semuanya selesai, barulah kami pulang. Jaga diri, anak- anak, dan Ayah. Mungkin tiga hari ini kami masih disini. " kata Rendra dari sebrang sana.


" Tentu sayang...Kalian juga jaga diri, jangan lupa makan, shalat dan istirahat yang cukup. " kata Citra.


" Okay sayang... Apa masih ingin bicara dengan putramu? tanya Rendra kemudian.


" Sudahlah..kan ada Dadynya yang menjaganya disana, kalian lagi sibuk, Teruskan saja mengurus korban dengan baik. Kalian juga baik- baik disana dengan putramu itu. Kalau urusannya sudah selesai, cepatlah balik.


" Insya Allah..." Janji Rendra sebelum menutup telfonnya.


Di Bandung, Rendra dan Boy mengurus para korban beserta melakukan pertemuan dengan pihak keluarga.


Arif yang mengalami luka ringan saja, turut menemani Rendra untuk mengurus para korban kecelakaan proyek yang berada dibawah kepemimpinannya.


" Kalau saja aku tak sempat pingsan waktu itu, aku pasti akan melarang Adel menyampaikan berita ini pada Bos Rendra. Sehingga Kalian harus terbang kesini. " kata Arif sungkan saat sang pemilik perusahaan harus memasuki perkampungan untuk menemui keluarga korban.


" Ini sudah tanggung jawabku sebagai pimpinan Arif...Sebagai sahabat aku juga takkan membiarkan kau dalam masalah. Proyek ini memang sepenuhnya sudah kami berikan padamu Rif, tapi bagaimanapun juga istriku takkan membiarkan aku sampai lepas tangan, serta tak peduli dengan suami sahabatnya sekaligus mantan bosnya. " kata


Rendra.


" Ia om, Momy saja sampai kesedak saat Dady menyampaikan berita kemalangan yang menimpa om dan staf om. " kata Boy teringat kejadian pagi


kemarin.


" Ya Tuhan...Trus gimana? Apa Citra sekarang baik - baik saja? " tanya Arif cemas.


" Alhamdulillah setelah Dady memberikan pertolongan pertama, Momy bisa selamat " Jelas Boy membanggakan Ayahnya. Sedang sang Ayah


hanya tersenyum.


" Syukurlah...Untung Dadymu bertindak cepat. " kata Arif kemudian.


Kedua anak dan Ayah itu membalasnya dengan anggukan.


Bersambung.