
Tiga hari dirumah sakit, kemudian Citra dan baby Sonia akan dibawa pulang keIstana Keluarga Kims.
Selanjutnya Untuk kontrol, dokter sudah
sepakat dengan Rendra, bahwa dokterlah yang akan mendatangi pasien kerumah keluarga ini. Jadi Citra tak perlu bolak - balik rumah sakit lagi.
Citra dan Rendra duduk dikursi bagian belakang. Sedangkan Baby Sonia digendong oleh mami Anjani yang duduk bergandengan dengan William dibangku tengah. Sedang didepan Boy dan mobil disopiri oleh bang Patih, sopir William.
Hari ini memang yang jemput Citra dan Rendra adalah William dan Anjani. Mereka sangat gemas dengan putri kecil yang imut ini. Agar tidak terlalu kentara begitu merindukan baby Sonia, Willi sengaja mengajak Boy bersama. Dengan alasan hari ini dirumah keluarga besar ada acara lamaran kekeluargaan dari Adel untuk menjadikan Chalista menantunya.
" Kalau kita sudah punya cucu, apa kalian masih menyayangi baby Sonia? " Tanya Rendra terdengar hangat dikuping kedua
suami istri yang sibuk menikmati kecantikan putri kecil yang sedang tidur itu.
" Tentu masih sayang ! Kata Bella kan cucu tetap cucu! Tidak bisa dianggap anak! Sedang Sonia putri kecil kita, bagaimana kita akan beralih sayang." Ujar Wiliiam.
Ketika Rendra ingin membuka mulutnya lagi. Citra menempelkan jemarinya dibibir suaminya.
" Ya Sonia anak kita. Cucu memang lebih istimewa dari anak, karna begitu menikahkan anak- anak kita, yang ada difikiran kita adalah bakal menimang cucu, tidak terfikir akan menimang anak juga sebelum kedatangan cucu. " Ucap Citra lirih sembari tersenyum malu.
" Sudahlah mom...Jangan mempermasalahkan terus keberadaanku,
Nanti mami sama papi Wiliam membawaku kemensionnya, baru mommy sama Daddy nyesal! " Ucap Anjani mewakili baby Sonia.
" Kalau sudah selesai ASI ekslusif tak masalah juga kok Anjani. Kalau sekarang kita sama- sama aja dulu menjaga Sonia,
Sampai ia menyusu minimal satu tahun.
Siap itu baru boleh kasih susu formula.
Seperti kakak Chalista nyusunyakan satu tahun juga, karna keburu ada Raisa." Kenang Citra.
" Kalau Abang sampai dua tahun kan mom? timpal Boy yang sedari tadi diam.
" Iyalah...Kan Boy baru beradik setelah tiga tahun. Ngak ada masalah dengan ASI." jelas Citra.
" Kau dikasih susu formula juga ngak mau, yang maunya ASI saja, setelah setahun tambah makan. " Jelas Rendra.
" Berarti dari baby , Boymu ini sudah punya prinsip kan Daddy? tidak mau yang sembarangan. Segalanya harus yang asli, tidak suka barang tiruan. " Ujar Boy sembari tersenyum bangga.
" Iya...Kami tahu kau suka yang ori. Makanya Papi berusaha keras menjaga Bella untukmu. " timpal William.
" Dengan menjodohkannya dengan anak orang kaya dari benua tetangga? " tanya Boy sembari tersenyum sarkas.
" Kalau itu bukan aku yang punya kerja Boy.. Sumpah Bella yang minta temannya Windi dicarikan jodoh. Eh setelah dapat Windi, lelaki itu yang panjang akal ingin balas Budi, mencarikan jodoh untuk Bella. Kalau itu sumpah Papi tak ikut Campur! " Jelas William sembari menyilangkan jarinya.
" Iya papi...Boy tahu kok! hanya ingin menguji papi saja, sejauh mana sekarang
kemampuan papi dalam berdebat. Kiranya sekarang sudah jauh merosot, pantas kalah dari Bella.
" Kami mana akan pernah kalah dari anak, hanya mencoba mengalah saja agar tak ribut berkepanjangan. " timpal Anjani.
" Istrimu itu keras kepala Boy! Untung kami orang tua yang tak mudah patah hati, kalau ngak sudah merenggut hanya perkara cucu saja.
" Itu bawaan bayinya kok mi...Tolong maafkan istriku, agar kelahiran bayi kami lancar. " pinta Boy.
" Iya! pasti kami maafkan, kan sekarang sudah ada obatnya. " Ujar William sembari mengambil baby Sonia dari istrinya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai didepan pagar istana Itu. Penjaga keamanan membukakan gerbang. Lalu Patih melajukan mobil pelan menuju parkiran. Adelia sudah menyambut sahabatnya Citra didepan pintu.
******
Sementara Bayu dan Zahra, juga sudah siap menunggu kelahiran baby mereka.
Aulia menatap iri pada perut menantunya yang sudah membuncit itu.
" Kalian begitu mudah dapat anak, sedang mama ntah mengapa belum juga dikasih kesempatan oleh Tuhan punya anak. Andai mama dan papa tak diberi anak kandung oleh Allah, apa Zahra akan mau menjaga kami dihari tua? apa Zahra mau mengatakan kepada anak- anak kalian kalau kami nenek dan kakek kandung mereka? " tanya Aulia dengan tatapan memelas.
Zahra menggenggam tangan Aulia ibu mertuanya yang sebenarnya kalau dilihat dari fisik masih topcer itu. Tapi ternyata benar kata pepatah, jangan menilai buku dari Covernya, coba pelajari kedalamnya, baru boleh memberi komentar.
Aulia balas mengelus buncit menantu angkatnya. Hatinya tak begitu kecil lagi, setelah mendapat respon dari ibu dan babby itu.
Kalau mommy Citra dilimpahi kasih sayang dan anak yang banyak. Kasih sayangku tak terlalu penting. Sedang disini ada mama dan papa yang perlu perhatian lebih. Zahra janji, akan mencintai kalian sampai tua. Dan Zahra janji anak- anak kami akan hanya tahu, kalian adalah kakek dan nenek mereka
yang wajib mereka hormati dan sayangi sepanjang hidup. Lagian pada siapa lagi Zahra berbagi kasih ma? hanya kalian saja yang Zahra punya, jadi selagi Uda Bayu masih menginginkan Zahra, takkan pernah Zahra pergi dari keluarga ini. Hingga penghujung usia Zahra.
"Andai Bayu berani mempermainkan Zahra, maka kami akan melemparnya kelobang buaya! " Ujar Rafdo yang baru datang.
" Papa! " Seru mereka hampir bersamaan.
" Berarti lebih sayang menantu dari pada anak sendiri dong? " tanya Bayu yang baru turun dari ruang belajar. Ia sejak dari tadi sudah memantau perbincangan mama dan istrinya memalui Camera CCTV yang tersambung dengan leptopnya yang dipasang diruang keluarga itu.
" Kalau anak berani menyakiti memantu kesayangan kami, tentu kami akan lebih membela mantu ! ya kan pa? " ujar Aulia mendukung suaminya yang sekarang sudah duduk disisinya.
Sebentar berikutnya datang Sufi tergopoh - gopoh menghampiri mereka.
" Jangan buru- buru to buk..ntar jatuh pula. " nasehat Rafdo.
" Anu tuan..Tuan Rafdo pengen minum apa? " tanya bi Sufi setelah menunduk.
" Biar istriku saja yang mengambilkan minum untukku, aku juga baru saja minum. Bibi kedalam istirahat dulu, kan katanya Aulia masih sakit. " Ucap Rafdo lembut.
" Sudah sehat kok Tuan...kemarin sudah dipanggilkan dokter keluarga sama den Bayu. "
" Apa benar kamu yang sudah manggil dokter Bayu? " tanya Rafdo memastikan.
" Iyalah pa...Makanya jangan buru- buru buang putraku kelubang buaya demi mantu penganiayamu itu. Jelek- jelek begini, putramu ini punya perhatian lebih pada semua mahluk. " ujar Bayu.
" Ih...Coba dengar pa...hanya gara- gara dibangunin sholat subuh saja ia mengatakan aku menantu penganiaya! "
Terus saja aniaya dia Zahra...dari terpaksa ntar jadi kebiasaan baik. Kalau ngak mau bangun siram aja! " Ujar Rafdo sembari menatap putranya.
" Ngak cuma disiram kok pa...tapi dimandiin sampai menggigil, ngak pake air campur lagi. " Keluh Bayu.
He...He...Teruskan saja Zahra, papa mendukung kok! Agar anak ini tak malas lagi menunaikan kewajibannya. " - Rafdo.
Ih...segitunya sama anak..." keluh bayu yang disambut Kikik tawa orang tuanya.
**********
Sementara dirumah sakit Middlemore Selandia baru. Seorang ibu calon mama muda terpaksa melahirkan prematur dengan operasi Caesar, karna mengalami pendarahan diusia kandungannya yang masih tujuh bulanan.
" Gimana nih...pa? aku takut terjadi sesuatu dengan istri dan anakku. " Rengek Alfian begitu ruang operasi tertutup.
" Berdoa sajalah...mudah- mudahan dua- duanya dalam lindungan Allah, jangan khawatir, disini tindakan medisnya cepat dan terjamin steril. Paling anakmu kalau sudah lahir terpaksa diInqubator. Itupun takkan lama. Kalau dikota papa dipercaya kalau bayi usia tujuh bulan lebih matang umurnya dari delapan bulan.
Fakta atau mitos papa tak tahu juga, nanti setelah lahir boleh kau konsultasikan dengan dokter. Kalau papa sih seorang Duta, bukan seorang dokter. He...He..." kekeh sang papa.
" Papa masih saja bisa tertawa diatas kekhawatiran putramu... " Keluh Alfian.
" Sana sholat dan berdoa yang banyak! habis berdoa yang lama hatimu akan tenang. " timpal mama Elin.
Alfian melangkah dengan gontai menuju toilet. Berwudhu dan mencari tempat untuk sholat dan bermunajad.
Lama Alfian berdoa disujud terakhirnya. Setelah lama bermunajad. Alfi pun kembali menuju ruang operasi.
Baru saja ia sampai, pintu ruang operasi terbuka, disusul keluarnya dokter.
Alfian berlari menghampiri dokter itu.
" Congratulations on the birth your baby Girl Sir ( selamat atas kelahiran bayi perempuan anda tuan ) " kata dokter sembari tersenyum.
" Oh Thank you Mr. Doktor ( Terima kasih pak dokter )
Is My Wife safe Mr. Doktor? ( apakah istri saya selamat dokter? )" tanya Alfian.
" Yes...They both safe ( Ya mereka berdua selamat )
" Alhamdulillah....Ucapnya, kemudian Alfian bersujud syukur didepan ruang operasi itu.