
" Kemana mommy kemarin? waktu aku pulang sekolah mommy tak ada, kutanya
para pelayan, katanya mommy pergi dengan dikawal. Apaan sih mommy
pergi - pergi pake rasia- rasiaan sekarang.? " kata seorang gadis remaja, bertubuh tinggi berwajah imut. Bibir merah mudanya mengerucut, tatkala bicara pada Momynya.
" Tuh bibir kakak dilengkungin dikit dong...senyum kalau ngomong sama orang, apalagi itu ibu kita.
Apa kakak tidak takut cantiknya terbang?
Apakah kakak tidak pernah membaca,
kalau bermuka masam itu berbahaya?"
Raisa berkata seraya menyentil bibir kakaknya yang dijeding- jedingin karna
kesal pada mommy mereka.
" Apaan sih kamu dek..Mana pernah kecantikan orang terbang, siapa pula yang bilang buncut itu berbahaya.
" Pakar kesehatan dan pakar Agama! Pokoknya ngak boleh sering bermuka masam, Rasulullah saja ditegur bermuka masam terhadap seorang yang buta yang datang padanya, baca QS Abasa Ayat 1 sampai 10, kakakkan pintar ngaji!
" Bermuka masam itu tak boleh! apalagi sampai bibirnya dibuncut- buncutin kayak gitu, seperti ayam kebelet berak, jelek, bauk! " Raisa mengibaskan tangannya, ekspresi wajahnya begitu bersemangat dan nampak lucu. Citra menutup mulutnya dengan mukena, takut tawanya mengganggu sikecil yang lagi tampak berapi- api menasehati kakaknya.
" Banyak yang diawali Bu yang berbahaya." katanya lagi.
" Contohnya apa UCIl? " tanya Calista?
Ucil adalah panggilan kesayangan sang kakak pada Raisa yang kepanjangannya
ustazah cilik. masih istilah baru, yang berlakunya hanya dikeluarga ini.
" Banyaklah...Seperti buncut bisa buat orang cepat tua, jika sering dilakukan akan berpengaruh pada syarafnya, syarafnya sering tegang, itu memicu penyakit kepala, sakit hati, jantung, bahaya besarnya stroke muda. ih...ngak takut neng?" jelas Raisa sembari bergidik ngeri.
Trus apa lanjutnya? tuntut Chalista lagi.
" Buncit juga berbahaya, sudah tidak menarik, berisiko Obesitas, darah tinggi, sama jantung juga.
" Bungkuk lebih bahaya lagi.
" Trus Bunting akan lebih bahaya lagi, apalagi kejadiannya sama anak sekolahan." Kata Raisa sembari tersenyum.
" Ngak ah...jangan sampelah bunting segala sedang sekolah, emang pergi sekolah cari apa? Jangan sampe deh kayak sindiran nenek Siti kuras, tetangga Zahra.
" Apa an tuh nenek Siti Kuras?
" Nenek Siti yang kurang Waras.
" Ya ampun kakak!... Masak yang kurang waras saja didengarin. Sedang yang waras saja banyak yang diabaikan!
" Tapi walau KURAS, ia perhatian Lo dek,ia juga tak mengganggu kakak.
ia kayaknya sengaja nyindir Zahra, pas Zahra terlambat pulang, waktu itu kakak dah capek nungguin Zahra didepan rumah sederhana hadiah dari mommy kita.
" Nenek itu bilang apa sama Zahra?
" Siang sekolah malam mengaji... pulang sekolah mencari laki...." nenek itu sampai berjoget menyanyikan lagu anehnya.
" Itu arti nya nenek itu menilai Zahra kurang baik kakak... ia mengatakan kalau Zahra orangnya suka berpura- pura, alasan sekolah tapi kemana - mana." kata
Raisa kemudian.
" Ngak ah...bukankah kita tidak boleh Suuzon UCIl? prores Calista, bibirnya melengkungkan senyum sinis pada siadik.
" Memang kita tak boleh Suuzon, tapi waspada itu penting kakak...Kalau orang gila aja bisa menyindir pedas tindakan tetangganya, berarti kakak juga kudu hati- hati. Tetap waspada walau sama teman sendiri.
Bukankah mommy kita saja dulu pernah dikhianati sahabatnya, jangan sampe kejadian serupa terjadi lagi, cukup satu kali orang buta kehilangan tongkatnya,
kalau sudah tahu tongkat itu penting, ia akan menyimpannya baik, lalu belajar mengenali tempatnya, hingga tongkat tak bisa dipermainkan orang.
" Ye....Ye....! Kakak bakal tetap waspede, walau itu sama siape! He...He..." Calista
cekikikan. Sedang Raisa hanya tersenyum manis.
Mommy juga tersenyum lebih manis lagi, Ia akhirnya jadi pendengar setia saja, untuk perbincangan penuh makna dari kedua putrinya, antara magrib dengan Isya.
Setidaknya Citra terselamatkan dari pertanyaan Chalista, yang sampai hari ini masih ngotot menjodohkan Zahra dengan abangnya.
Nampaknya putri kecilnya lebih bijak, palan- pelan ia menyurutkan impian sang kakak, memaksakan kehendak pada Abang mereka.
" Semoga Allah membimbing putra dan putri- putriku, menjadi pribadi yang lebih bijak mengambil hikmah dari setiap masalah.
Dan aku mohon ya Allah, selamat kan mereka disetiap langkahnya, jagalah
semua orang yang hamba kasihi, kemanapun mereka pergi, Engkau adalah sebaik - baik Penjaga...Amiin..." Batin Citra terselip Doa.
πΊπΊπΊπΊ
Sementara disisi lain.
Bella bergidik ngeri, membayangkan hanya dirinya saja ditempat ini, andai jemputannya tidak segera tiba.
Apa yang dapat ia lakukan. Malam- malam mesan ojek, itu sungguh berbahaya.
Kalau ia tahu akan begini, ia sudah pasti ikut tawaran Cindi, sahabatnya yang sekarang sudah punya sopir pribadi mobil pribadi, rumah pribadi, serta semua fasilitas pribadi lainnya.
Ya, sejak menikahi pria kaya asal Negri kangguru ( Syidney ) Australia, yang dikenalkan oleh Rehan Wiliam papi Bella.
Akhirnya papinya memenuhi permintaan Bella untuk menjadi Biro jodoh tak bersyarat untuk sahabatnya Cindi.
Cindi melangsungkan pernikahan mewah, sebulan yang lalu, setelah taarufan, dan menyelesaikan semua urusan selama tiga bulan.
Ditilik dari gelagat sahabatnya, gadis itu
sepertinya bahagia dengan pernikahannya. Cindi memang lebih tua tiga tahun dari Bella, hanya karna perekonomian orang tuanya, yang membuat Cindi terlambat sekolah,
jadi mereka satu kelas.
Dering Telfon berbunyi. Bella segera mengangkatnya.
" Maaf non, ban mobil kita bocor, bang Mamat masih dijalan S. " kata suara
diseberang telfon terdengar panik.
Deg...jantung Bella berdegup tak menentu.
" Aku takut bang...hari sudah malam.
Tapi baiklah...Aku Isya dulu dimasjid terdekat . Bang Mamat segera datang ya, nanti aku kirim lokasi Mesjidnya." kata Bella mulai melangkah menuju Mesjid.
" Baik non...Aku akan minta Fatih menjemput nona dengan mobil satunya. " kata Bang Mamat teringat putranya, yang
juga bekerja sebagai sopir Nyonya Anjani.
" Tidak...dengan Fatih tak mau..Bella segan, kami sama besar. Biar mobilnya minta diantar kelokasi bang Mamat sekarang saja. Ia yang mengurus mobil kita, lalu bang Mamat yang jemput Bella
pake mobil mami. " Bella berkata dengan nada perintah, dalam hal ini ia harus tegas.
" Baik non..Hati- hati ya! Semoga Fatih cepat tiba, begitu ia sudah tiba, bang Mamat langsung meluncur. " kata Bang Mamat disembarang telfon.
" Baiklah bang..." jawab Bella singkat sembari terus melangkah menyusuri trotoar.
" Alhamdulillah..." Gumamnya mengucap syukur, begitu sampai didepan Masjid.
Sekelompok preman lewat, mereka tampak menatap Bella dengan pandangan Sinis. Bella cepat- cepat berlari masuk kedalam Masjid.
Terdengar celotehan dari mulut para preman itu
" Ih..Siapa juga yang suka dengan perempuan yang berpenampilan begitu. Pasti wajahnya jelek ,makanya ia tutupi, hanya matanya saja yang indah, mirip mata Bellaku. Tapi itu
tidak mungkin. Wanita itu pasti orang lain, Bella tak mungkin berpenampilan seperti itu, Bella takkan menutup wajah cantiknya, itu rugi sekali " kata satu diantara preman yang sudah mabuk itu. Bella kenal suara itu. Pria resek yang suka menggodanya sejak dari SMP hingga mereka kebetulan masuk di SMA yang sama.
" Iya Bos...Cewek yang bos cari tak mungkin gadis itu. " kata yang satunya lagi.
Bella mengintip dari balik pintu, ternyata benar dugaan Bella. Pria yang dipanggil Bos itu adalah Delon. Bella masih melihat, ketika Delon dan anak buahnya masuk kedalam mobil, yang diparkir sembarangan dipinggir jalan. Sampai mobil itu meluncur dengan ugal- ugalan,
Bella masih memperhatikannya.
" Mengapa Delon mencariku dalam keadaan mabuk begitu? apa artinya semua ini? Terima kasih ya Allah...Kau telah menyelamatkanku melalui hijabku." batin Bella mengucap syukur.
Kemudian Bella masuk , menatap kesetiap sudut tempat ibadah itu , hanya beberapa orang wanita yang sedang duduk.Sedang dishaf pria, ada 9 orang dengan imam. Nampaknya mereka sejak magrib dimasjid itu, mereka sengaja menunggu waktu Isya dengan Zikir bersama.
Bella membuka penutup wajahnya.
Lalu cepat- cepat mencari tempat wudhu, karna Azan sudah dikumandangkan.
ππππͺπͺπͺ
Pukul Delapan waktu Amrik...Boy menilik jam tangan pemberian Bella Yang
melingkar dipergelangan tangan kirinya.
Ia telah menyesuaikan waktunya dengan waktu AS. Ia mulai memakai jam tangan hadiah Sweet Seventinnya itu, begitu ia sudah sampai di Amerika.
" Jam ini akan mengingatkanku, bahwa setiap detik itu berharga, aku tak boleh menyiakan waktu. Aku harus berusaha menuntaskan semuanya tepat waktu semoga usahaku mendapat restu dari yang Maha Kuasa. Perkenankan lah ya Allah...tolong jaga mereka semua yang kucinta disana, diIndonesia, Juga Negaraku...Amiin.." Doa Boy usai melaksanakan Duha, Doa yang tidak terlalu muluk, hanya memakai bahasa ibunya saja, namun maknanya tak terhingga, Tuhan pasti tahu maksudnya,
Bhalendra yakin akan hal itu.
Kemudian ia bersiap- siap, melanjutkan aktivitas
Studynya.
Tekan jempolnya yang...kasih support yang lebih, biar penulis lebih semangat, ini agak kurang fit sih, jadi moodnya perlu
ditambah, kalau perlu dengan kursi pijat, pake kopi juga ngak nolak. He....He...