
Ditaman belakang, ditepi kolam renang.
Malam ini bulan nampak terang, menjelang purnama pertama esok malam.
Sepasang kekasih duduk santai Sun lounger ( kursi kolam), sembari memandang bayangan sang rembulan yang jatuh didalam kolam.
" Disini mommy mencegatku, ketika aku menyendiri memikirkanmu, mencoba meraba hatiku sendiri, tentang rasa yang kita punya. Baru aku mendapatkan jawaban yang sebenarnya, aku sudah harus mendapatkan tantangan, tantangan dari mommy untuk membayar perasaanku padamu." Kenang perempuan cantik yang memakai kerudung instan berwarna toska, senada dengan gaun muslimah yang ia kenakan.
" Sekarang tantangan adik sudah selesai! Adik sudah membayar mahal untuk pembuktian keseriusan kita. Kini giliran Abang. Untuk itulah Abang mengajakmu bertemu, untuk menanyakan apa yang Ita inginkan sebagai mahar, untuk menghalalkan hubungan kita. " Ujar Amer
sembari menatap kekasihnya.
Chalista terdiam, ia menarik nafas dalam- dalam, kemudian menatap Amer dengan lembut.
" Aku tidak meminta apapun sebagai mahar, bagi Ita mahar yang terbesar adalah kesetiaan bang Amer seumur hidup. Untuk berupa barang atau yang lain itu tergantung pada Abang. Apa yang
ikhlas Abang berikan untuk Ita." katanya pelan.
" Ngak boleh begitu dong sayang...Yang punya badan dan hati yang akan Abang pakai seumur hidup kan Chalista, jadi adik berhak meminta mahar berupa benda atau uang. " ucap Amer mantap.
Melihat Chalis masih diam, Amer kembali
berucap.
" Walau Abang bukan anak konglomerat seperti dirimu, tapi sekedar untuk memberikan mahar dan modal awal hidup sederhana setelah menikah, Abang
sudah menyiapkannya." Ucap Amer merendah.
Chalista tersenyum, timbul fikiran untuk menggoda kekasihnya.
" Bagaimana kalau aku tidak mau kehidupan yang sederhana? " tanyanya dengan seringai centil.
" Berarti Abang harus mencari yang mau.
" jawab Amer santai.
Krak...Hati Chalis langsung patah.
kayak kerupuk Palembang diremukkan.
Wajah gadis cantik itu berubah merah padam, dengan langkah besar ia bermaksud meninggalkan tempat itu.
Tapi kekasihnya waspada, sepertinya ia sudah memasang jerat yang tepat. Dengan satu sintakan, gadis itu jatuh kepangkuannya.
Chalista meronta ingin melepaskan diri. Tapi Amer sudah membacakan mantra Cinta, sembari mengusap bibir basah yang ingin marah itu dengan bibirnya sendiri. Amer tidak mengecupnya, hanya
nempel sekilas saja. Tapi cukup membuat gadisnya berhenti bernafas
Kemudian Amer mengeluarkan kotak kecil berbahan beledru warna biru dari kantong celananya.
Ketika sang kekasih masih ternganga menatap cincin bermata indah itu, Amer sudah menyelipkan kejemarinya.
" Pas! seru Amer bangga dengan kemampuannya mengukur jari manis kekasihnya hanya dengan satu kali saja dulu pernah menyentuhnya.
" Bang...Ini berlian yang indah...aku tak pernah mengira Abang sudah menyiapkannya. " ucap Chalis terbata.
" Tentu aku menyiapkannya cantik! karna aku seorang pria. Seorang pria mengikat seorang gadis, ya harus dengan cincin, tidak bisa dengan ludah saja, tidak dengan pakaian, apalagi dengan guna- guna.
" Dengan begini, Ita sudah resmi menjadi tunangan Abang, secara pribadi, maupun secara hukum adat nasional. " ujar Amer lagi.
" Kenapa tidak kemarin- kemarin, biar aku
pamerkan pada cowok - cowok kampus yang menggodaku. " protes Chalista.
" Agar Abang yakin Ita benar- benar mencintai Abang saja, buktinya tanpa ikatan adik tetap setia. " ucap Amer mantap.
" Sok tahu! Bagaimana Abang tahu, kalau kemarin- kemarin adik tak berkencan dengan orang lain. " sanggah Chalista.
" Ya tahu aja, karna cinta serba tahu. " ucap Amer sembari tersenyum misterius.
" Bohong! Mana ada pepatah begitu." sanggah Chalis.
" Sudah...Anggap saja Abang penyair baru, diterima kan? " tanya Amer santai.
" Kan sudah dipasangkan! jadi terpaksa diterima! " ujar Chalis sembari mencebikkan bibirnya.
Amer tak tahan menatap bibir itu, iapun akhirnya mencomotnya. Ketika mereka tenggelam dalam pagutan yang mendebarkan itu.
" Dasar Anak koala lumpur hidup!!!! Sudah dekat dengan hari H masih coba- coba hal berbahaya!!!Kurenjeng nih kuping kalian sampai ke Meja hijau! " Cerepet Adel sembari menarik kuping pasangan itu tanpa belas kasih.
" Plis...Onty...Ampui kami...Hukumannya disini saja, Onty aja Algojonya, kan baru dikit salahnya...Timpal Chalista.
" Dikit- dikit kata kalian! Kalau aku ngak keburu datang, bisa- bisa kalian buat anak dipinggir kolam ini! " Hardik Adelia.
" Bikin Anak??? Emang gampang ??? tanya mereka berdua serentak dan dengan tatapan lugu.
" Sok ngak tahu kalian! padahal tuh perbuatan kalian sudah menuju jalan kesitu! Sekarang aku memaafkan kalian, tapi hukumannya Push Up didepanku seratus untuk Amer, lima puluh untuk Chalis! ," titah Adel sembari membulatkan
matanya.
" Apa? Kok hukumannya ngak nyabung gitu? " protes pasangan itu serentak.
" Pilih push Up atau meja hijau! Disana kalian akan disidang, kalau sudah berurusan sama tuan Takur, jangan harap pernikahan kalian akhir Minggu ini tidak akan ditunda. " Ancam Adel.
" Mama !!! Jangan dong,....kami tak bisa nunggu lama lagi...." rengek Amer.
" Baiklah...pus up Cepat !!!..." ujar Adelia.
" Baiklah..." Ucap mereka lirih.
" Jangan loyo! Yang tegas!. Hardik Adelia.
Satu...Dua...tiga...Mereka mulai melakukan hukumannya sembari menghitung.
Adel mengawasi kedua mereka dengan berkacak pinggang. Seperti seorang komandan kompi yang sedang menghukum prajurit yang tidak disiplin.
Sampai wajah bulan Silangit nampak menjadi banyak bagi Chalista.
sebagai seorang pesilat, ia sering melakukan push up, sebelum latihan. Tapi itu paling hanya sampai sepuluh. Apalagi akhir- akhir ini ia banyak begadang urusan kuliahnya, membuat fisiknya tidak sekuat waktu SMA, hampir saja Chalista pingsan
dengan keringat bercucuran.
" Sudah! Tunggu bujang Bandot menyelesaikan hukumannya, baru kita sama- sama balik kedalam . " ujar Adelia sembari mengelap keringat Chalis dengan sapu tangannya.
" Dasar mama Bar- bar. Masak putra sendiri dibilang kambing jantan." Gerutu batin Amer.
" Mengapa tuh mata nyorot gitu sama mama! Ngak terima dibilang Bandot. Emang kamu kayak kambing jantan kebelet kawin kok! Pelotot Adelia tanpa merasa berdosa.
Sebenarnya ia sudah payah menahan tawanya. Karna ia sadar diri juga sikap nyosornya yang menurun pada putranya.
Namanya juga anak pisang, mana bisa jauh dari induknya. " Tapi aku ngak boleh lemah. Demi mengembalikan reputasi sebagai mantan Daddy palsu Boy. " batin Adelia.
" Sudah hitungan hukumannya, awas sampai curang! ancam Adel pada Amer.
" Kok gitu amat sih ma sama putra sendiri, ngak kasihan aku yang mandi keringat gini." rengek Amer yang memang lupa hitungannya kalau ada yang terlewat saking ngos- ngosan.
" Baru begitu saja dah Kao tenagamu, ya sudah! tapi jangan salahkan aku kalau ada hukuman tambahan dari tuan muda kalau ternyata ia tak puas dengan hukumanku! " Ucap Adelia sembari menunjuk kamera CCTV yang nemplok didinding ruang ganti menghadap kolam.
" Whatt??? Teriak kedua pecinta itu.
" Kenapa? kaget, ada kamera disini?" seringai Adelia.
" Kemarin ngak ada kok? timpal Chalista.
" Tanya saja sama abangmu! Kan Algojo dua diminta kesini melalui Chatt sama dia." Ujar Adel menggidikkan bahunya.
" Berarti kami ditonton dong sama Abang? " Amer menggaruk kepala dengan putus asa.
" Makanya siapkan semua hitungan hukumanmu, biar mama antar ke Mension kakak iparmu, ngak boleh kalian sama- sama lagi sebelum diantar sebagai pengantin dimalam nikah nanti! Ini mutlak keputusan mama, agar kalian selamat sampai hari H. " ujar Adelia.
" Baiklah mama." Ucap Amer lirih. Kemudian push up sepuluh kali lagi.
Abang benar- benar ya...Masak begitu Amer datang langsung pasang Camera dimana- mana. Dasar Abang Posesive,
ngak bisa lihat adeknya bermanja sama calon suami sendiri. " Geram Chalista didalam hati.
" Sudah mengatai abangmu dalam hati Ita! Orang melakukan ini juga demi kebaikanmu! " Ujar Boy yang tiba - tiba sudah datang ketempat itu.
Amer baru saja siap dan berdiri ketika mendengar suara itu. Ia tak berani menatap pada calon Abang iparnya tersebut.
Kemudian ia mendengar suara itu lagi.
" Makasih Onty! Hukuman Onty cukup memuaskan, jadi biarkan kasus ini sampai disini. Aku yang akan mengantar Amer sekarang." Ujar Boy yang membuat
Amer semakin tak karuan.
Oh My face....Mau dihadapkan kemana nimuka? Kalau nanti harus satu mobil dengan dia. " gidik hati Amer.