
Sen mengernyit ketika dua orang pegawai Sorum mendekat padanya. Ia menatap Joko kepala pelayan dengan bingung.
Kemudian salah seorang Sales mengulurkan kontak mobil pada Sen.
" Selamat tuan Sen! Toyota Land Cruiser ini sekarang menjadi milik anda, silahkan tanda tangani berkas ini untuk
Pengisian data surat - surat kendaraan, ini data sudah kami isi berdasarkan data yang diinput sekretariat pegawai rumah ini." ujar Salah seorang Sales sembari mengulurkan berkas.
Ketika Sen masih bingung, menatap mobil bergantian pada Joko, terdengar notifikasi pesan di HP Sen.
" Terima dan hadiahkan untuk istrimu, ini mobil cocok untuk keluargamu. Semoga bahagia!
" Tu- tuan? Apa hadiah makan siang paling lahap pernah serupa ini? " tanya Sen pada Joko hampir tak percaya, dengan mobil white seharga 2, 56 M itu
untuknya.
Ia memang dapat fasilitas mobil untuk dirinya PP dari rumah ke istana ini, tapi untuk dapat mobil sebagai hadiah lomba makan yang dikira hanya candaan, sungguh hal yang langka menurut Sen.
" Ini pantas untukmu Sen! Jangan ragu, hadiahkan untuk istrimu. " Ujar Joko sembari menepuk pundak Sen.
Sen tak dapat berucap lagi kecuali rasa syukur yang begitu dalam dihatinya.
" Entah aku bermimpi meraih bintang tadi malam, hingga dapat Rezki yang tak disangka seperti ini. Alhamdulillah... " Batin Sen bersorak riang.
" Ini mobil sesuai untuk badan nyonyamu yang lumayan." tukas Joko setelah kedua pengawai Sorum itu berlalu.
" Iya ya pak...Bos memang tahu saja yang
pas untuk istriku. Aku sungguh bersyukur
telah mengabdi dikeluarga ini. Mereka selalu tahu memperhatikan kesejahteraan kita sejak dari awal, bahkan kita lebih duluan naik haji gratis dari tuan sendiri.
" Iya Sen...langka ada Bos pengertian seperti tuan Rendra, walau tidak banyak berceramah, tapi ia menunjukkan langsung kepada kekuarga , karyawan dan pekerja yang membantunya bagaimana menjalani hidup sebaiknya sebagai seorang muslim.
" Iya pak Joko, Bahkan Bos mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan orang disekitarnya dulu, baru memikirkan dirinya.
" Buah tak jauh dari pohonnya nak Sen, Rendra punya ayah ibu yang baik, walau ibu dan ayahnya telah tiada saat ia masih bayi, tapi kebaikan mereka turun pada putranya, ditambah ia mendapatkan jodoh yang baik dan cantik pula, hingga langkah kebaikannya makin tetarah. " Ujar Joko.
Sen manggut- manggut. " Aku akan segera menyelesaikan urusan dapurku Pak, karna tak sabar membawa mobil baru ini pada istriku." Ucap senang Sen.
" Semoga mobil White itu membawa hoki bagimu nak." Ucap doa Joko.
Amiin...Semoga pak...Semoga setiap Rezki yang dianugerahkan pada kita dan keluarga Bos Rendra membawa berkah dan keselamatan. "
Pok Joko mengangguk sembari menepuk- nepuk pelan pundak Sen.
" Aku yang paling tua dan menjadi saksi sejak awal kelahiran Cucu tuan Besar Kims, kebahagiaanku tak pernah terlepas
dari keluarga ini. Kebahagiaan Rendra adalah kebahagiaanku juga, karna aku tak punya keturunan yang akan kusayangi sebab istriku terlambat menikah sepertiku." Curhat Joko.
" Itu sebabnya bapak bersedia melayani keluarga ini sampai turunan keempat?."
tanya Sen.
" Selain alasan itu, kebaikan keluarga ini yang membuatku betah, mereka tidak pernah menganggap pembantu sebagai pembantu, mereka menyayangi kita semua layaknya keluarga, mau cari kemana tuan seperti mereka? " Tanya balik Joko.
" Tidak berniat mencari lagi, bahkan ketika tuan menawarkan pindah kerestonya, aku malah memilih tetap dirumah ini, karna merasa lebih nyaman dan sudah serasi.
" Ya nak...Ternyata kita sama! " seru riang
Joko, hingga tanpa sadar, orang tua itu telah mengantar Sen kedapur.
" Astaga nak...padahal tadi sehabis memanggilmu, bapak berniat istirahat, Eh
" Tak apa pak.. Aku buatkan minuman saja sekalian, untuk menghantar bapak secepatnya istirahat, dan setelah bangun akan tambah bugar. " Ucap Sen segera membuatkan jus Kiwi untuk kepala pelayan itu.
Hari- hari dalam istana keluarga Rendra hanya diwarnai dengan canda tawa bahagia. Dalam kamus hidup Rendra tak ada istilah perbudakan, baginya yang ada
hanya berbagi kasih dan Saling membahagiakan.
Tanpa terasa, hari berganti, bulan berganti tahun, anak dan cucu sudah semakin besar, dari duduk jadi berdiri, dari berdiri hingga berlari. Hidup Momy dan Daddy ini semakin mesra tak berbatas dengan usia mereka.
Tahun keempat kelahiran Bahri dan Bahar, Bella, Boy, mommy dan Daddy, Adelia dan Arifin memutuskan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sesuai janji, Anjani menjadi ibu banyak anak yang paling bahagia sedunia, bahkan ketika tiga pasang pasangan bahagia ini sedang menunaikan ibadah haji, Anjani menyambut kelahiran babby baru lagi, anak lelaki Chalista dan Amer.
" Ya Tuhan...Pi...ternyata kita baru diberi banyak anak setelah jadi nenek kakek. " Ucap Syukur Anjani, setelah babby Boy dan Mommynya selamat dari proses kelahiran normal tersebut.
" Iya sayang...Sebenarnya apa yang diberikan Allah bagi manusia, tidak jauh dari apa yang ia minta. Jadi jangan pernah berkata apalagi meminta hal tidak baik, karna itu bisa dengan mudah diwujudkan Tuhan. " Balas Willi sembari memeluk pundak Anjani.
Sedang Amer yang sedang memberi makan istrinya hanya senyum- senyum mendengar celotehan mertua kakak ipar yang begitu asyiknya dengan putranya yang masih merah.
" Nenek...Kakek...Mom..." ujar Tiga balita yang baru datang dengan para susternya.
Tak lupa ketiganya bergiliran dengan antrian cantik mengecup pipi Anjani.
" Kakek kok ngak dicium Bahar, Bahri? dan putri kecilku Sonia mana cium untuk papi He, kok cuma mami. " Rungut Willi pada ketiga balita itu.
" Aik Pi..Nia dulu balu ponaan tecin." Ujar Sonia segera mengecup Willi sekilas saja, lalu secepatnya melompat dari kursi
penggapaian itu. Karna Willi merasa Sonia tadi kesusahan, maka iapun berjongkok untuk dapat Kisspi dari cucu - cucu dan putrinya.
" Ayo Nia ulang lagi, papi udah ngak tinggi lagi, ucapnya sembari menunjuk pipinya. Sonia segera mengecup papi masih sekilas, kemudian diikuti oleh Bahar dan Bahri, kalau mereka tentu lebih
ganas ciumannya mematok pipi kakek mereka. Sedang yang Anjani, Amer Chalis dan para suster, hanya tertawa geli melihat betapa manjanya Willi pada ketiga balita itu.
" Nia kok ngecupnya pelit sih nak.." rengek Willi.
" Memang gitu Nia ium papi? Sama Daddy juga itu, nak oleh cepelti pada
pala mommy. A Tan Tak Ita? " Tahya
Sonia sembari mendekati kakaknya, kemudian memanjat tempat tidur sang kakak, lalu mencium pipi Chalista
" Kalau mommy- mommy Balu iumnya gini." Kukuh Sonia kecil sembari mengkampanyekan pendapatnya.
"Oke de...Papi tak ngumpat lagi, karna Nia
sudah bilang, ium Daddy juga begitu, berarti sayang sama papi sama kayak Daddy kan? " Tanya Willi menuntut.
" Iya papi..jangan Ili ya...karna syulga hanya dibawah apak kaki ibu, kalau cayang ibu nomol satu, papi tak ucah cedih ya..." Ujarnya kemudian menyanyikan lagu sayang semua.
Satu catu adik sayang mami
Dua...adik cayang papi
Tiga - tiga sayang adik kakak
Satu dua tiga cayang semuanya.
Prok...prok semua bertepuk.
Sedang Sonia kecil tersenyum penuh percaya diri.
Tanpa terasa, penantian Mommy dan Daddy , ayah bunda, tak terasa bagi ketiga balita, karna mami Anjani bisa membuat mereka melupakan kesedihan mereka dengan ketulusan dan semangatnya yang tak pernah padam.