
" Apa kau putra Rendra, sudah punya anakkah Dia ? Carlos tak tahan untuk tidak berbicara dengan bocah yang telah berani masuk kekawasannya dan memegangi alat bantu berjalannya. Ingin marah, tapi ia tak sanggup, begitu tatapan mata mereka beradu.
" Aku akan cerita banyak pada kakek, kalau kakek mau melepaskan ayahku. Kasihan ibuku, dia sedang hamil besar, ia tak biasa melahirkan tanpa didampingi suaminya.
Apa kakek tak pernah punya anak perempuan? Apa kakek tidak kasihan, jika sampai anak perempuan kakek terpisah dengan suaminya saat ia dalam keadaan susah menunggu hari? " tanya Boy bertubi- tubi, yang membuat pria tua itu terperangah. Ia teringat kembali pada Cania.
" Cania putriku, benarkah mata ini matamu ? tanya
batin Carlos. Terakhir ia bertemu dengan putri dan menantunya memang saat Cania sedang hamil besar. Ia meminta Cania semata wayangnya untuk
melahirkan di Mexsiko.
" My Husband ia Very busy now Dady. I Can't give birth Without my Husband. Please let me Come back. ( Suami saya sangat sibuk sekarang ayah, saya tidak bisa melahirkan tanpa suami saya.
Tolong biarkan saya kembali. " kata Cania saat itu.
Walau begitu berat dan terasa sakit akan berpisah dengan Cania. Carlos akhirnya membiarkan Cania dibawa kembali oleh Chen ketanah airnya.
Sekarang tiga puluh tahun sudah berlalu, sejak Cania meninggalkannya,Yang beberapa bulan berikutnya putrinya dikabarkan masuk dalam daftar
korban pesawat naas itu.
Tanpa terasa airmata Carlos menetes. Boy dengan beraninya kemudian bicara.
" Tolong tundukkan tubuh tinggi anda kakek, kumohon janganlah tetap sombong dengan berdiri seperti itu.
Carlos kemudian berjongkok, bagai terhipnotis, mau saja ia mengikuti perintah bocah lelaki bernama Cina, berwajah Barat itu.
Dengan lembut boy mengusap bulir yang mengalir dipipi putih nan keriput itu.
" Saya ingin kalau besar nanti setinggi anda kakek. Bisakah saya jadi tinggi dan setampan dirimu,
apabila saya minum susu?
Kata Momy, aku harus banyak minum susu, biar tinggi seperti Momy dan Dady. Tapi kayaknya aku ingin lebih tinggi lagi, seperti anda, makanya lebih giat latihan silat selain minum susu. " Celoteh Boy panjang lebar.
" Oh ya kakek...mungkin anda capek, bisakah kita cari kursi untuk duduk dan bercerita? Pinta Boy lagi. Kemudian tangan mungilnya menggamit tangan kiri pria bertongkat itu. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Carlos berdiri, kemudian mengikuti langkah kecil Bhalendra boy Chen.
" Disini lebih nyaman. " kata Boy sembari duduk dikursi ruang tunggu, lalu menepuk kursi disebelahnya. Sini kek, disebelah Boy. " katanya lembut.
" Anak ini...begitu mudahnya dia mengaturku. " kata tuan Carlos bicara dalam hatinya.
" Ada apa kakek? apakah kakek ingin marah? " tanya Boy kemudian, yang membuat Carlos kembali terkejut.
" Anak ini bahkan bisa membaca fikiranku. Anak yang tampan dan punya banyak kelebihan. " kata batin Carlos memuji Boy.
" Tak ada yang lebih hebat dari Allah wahai kakek...Kita mahluk ciptaannya tak punya ilmu melebihi setitik saja dari Ilmu yang Maha Kuasa,
sebagaimana tetesan air laut yang menitik dijari.
Setitik air dijari itulah ilmu manusia, sedangkan Yang kuasa sebanyak Air dilautan itu. " kata Boy lagi yang membuat Carlos kehabisan kata untuk
bicara, bocah kecil disampingnya benar- benar mematahkan Indra pengecapnya untuk bicara.
Saat Carlos masih terdiam, Boy menarik kedua tangan Carlos, kemudian mengecupnya.
Aku mohon tuan kakek...Apapun misimu, tolong lepaskan Dadyku, Momyku mungkin sekarang sedang susah memikirkan kami. Andaipun dirimu tak menganut agama apapun mungkin, tapi aku rasa kau punya hati kakek, jadi pada hatimu aku
bermohon, tolong lepaskan Dadyku, sebelum pasukan khusus tuan sipit itu menemukan tempat ini. Boy tak mau ada pertumpahan darah, jadi tolonglah biarkan Dadyku pulang.
" Kenapa kau masuk kesini dan menambah kekhawatiran ibumu, akukan hanya menculik ayahmu. " kata Carlos setelah berhasil membuka mulutnya lagi.
" Aku sengaja mengikuti Dadyku dengan memasuki
bagasi mobilnya. Tenanglah ia tak tahu sekarang kita bersama. Jadi aku mohon, tolong lepaskan mereka. " kata Boy lagi.
" Aku takkan melepaskannya Boy, andai ia bukan seperti yang ku inginkan, maka aku takkan membiarkan dia dan sekretarisnya hidup, ia pasti akan menuntutku, kalau aku biarkan ia bebas. " kata Tuan Carlos.
" Apa kau benar- benar tak punya hati, ada istri dan anak kedua orang itu yang gelisah menunggu suami dan ayah mereka kembali dengan selamat.
Mungkin kau benar- benar tak punya keturunan didunia ini ya? " tanya Boy memancing emosi pria itu.
" Apa kau bilang anak kecil? Kalau bukan karna pria
sipit itu dulu mengikat hati putriku dan membawanya dengan kehidupan naasnya, mungkin sekarang aku
Tapi ia lebih memilih pria gila bisnis itu, lalu membawa putriku mati karna urusan bisnisnya! " Bentak Carlos yang membuat Boy tersudut.
Walau ia kadang berlagak dewasa, tapi jiwa anak kecilnya tentu masih ada, Boy kemudian menangis Histeris.
Hu....hu....hu....Kau lelaki yang tak percaya takdir, hu....kau bahkan menyalahkan orang yang sudah tiada ,hu..... padahal mereka takkan mau mati semuda itu kalau bukan karna takdirnya. Hu...." kata Boy disela tangisnya.
" Ma...maafkan aku... Aku bukannya memarahimu, aku marah pada menantuku Boy...Diamlah ya...
Cup....cup...cup..." kata Carlos seraya mengusap kepala Boy dan menariknya ke pangkuannya.
" Kau bahkan menganggapmu masih bayi, padahal adikku sudah mau dua. " kata Boy mulai tenang.
Carlos mengusap kepala Boy dengan sayang, Boy menyeka air mata dan ingusnya dengan baju lelaki tua itu. Carlos hanya membiarkannya, tidak jijik sedikitpun dengan perbuatan jorok bocah kecil dalam pangkuannya.
Beberapa detik kemudian, terdengar ribut- ribut dari luar. Boy tersentak dari tidur sekilasnya, karna kenyamanan yang diberikan oleh bule tua itu.
" Apa kubilang...Mereka kayaknya sudah datang..Kau yang salah kakek, kau tak mendengarkan peringatanku, kau menganggapku
sepele, hanya karna aku masih kecil. " kata Boy kemudian.
" Sekarang selesaikan semuanya dengan jantan, hadapi mereka, jangan sampai ada pertumpahan darah! " perintah Boy, laksana seorang kaesar.
Ia lalu menggenggam tangan Carlos.
Belum sempat Carlos mencerna ucapan Boy. Kliniknya sudah diserang habis- habisan oleh ratusan pria berseragam dan memiliki senjata lengkap. Tak dapat dihindari, tembak menembak pun terjadi.
Dor....dor....Tiba- tiba suasana jadi mencekam.
Anak buah Carlos dengan mudah mereka lumpuhkan laku menyekapnya. Hanya beberapa detik saja, klinik itu sudah berantakan, tim medis berlarian karna ketakutan. Berikutnya mereka melepaskan Rendra dan Hans.
" Ayo cepat balik tuan muda...Istri anda sudah melahirkan, sedang bos besar sedang kritis. " kata
kepala pasukan itu.
" Apa? Ya Allah...semoga semua kembali membaik.
Tiba- tiba dada Rendra berdebar aneh, ia merasa ketakutan yang besar. Terbayang sang kakek yang
terbaring lemah. Iapun menarik Hans bergegas kembali.
Sesampainya didepan rumah, ia berlari menuju kamar rawat sang kakek. Pria tua kesayangannya kini terbaring lemah dengan peralatan medis terpasang disana- sini. Hati Rendra terasa sakit, entah mengapa, kali ini ia tak tahan melihat kakeknya yang tak berdaya.
" Ia Koma, sejak tahu anda diculik tuan. " kata Dokter.
" Maafkan Rendra kek...Rendra mohon kembalilah... Rendramu masih hidup, sehatlah lagi untukku dan anak- anakku.." katanya dengan berurai air mata. Tak ada Respon, Airmata Rendra k mengalir kian deras.
Dengan langkah gontai, ia memasuki kamar istrinya. Citra terlonjak saat melihat suaminya pulang dengan selamat, walaupun wajahnya kusut.
Rendra menatapi semua orang tercintanya bergantian. Kemudian memeluk istrinya.
" Sayang...Boy mana? " tanya Citra tiba- tiba teringat putranya.
" Memangnya ia tidak dirumah? " tanya Rendra bingung.
" Kata pak Joko, ia masuk kebagasi mobil hitam itu. " Jalas Citra yang membuat Rendra kian panik.
Bagaimana bisa ia pulang, sedang putranya entah dimana.
Apa kalian tak melihat Boy? " sela Adel masih tak percaya.
Bersambung...
Mat pagi say...Baru nongol nih...🙏🙏🙏
Semalam sibuk ngurus suami yang baru balik dari luar kota.
Jangan kapok nunggu ya say...ikuti terus cerita kita.
Jangan lupa dukung terus dengan Like, fote, komen, hadiah, dan tambahkan ke cerita Faforitnya
bagi yang baru mampir.