Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 16



Malam semakin larut, sepi, tak ada yang terdengar selain suara jangkrik dan kodok. Sijangkrik tak hentinya bernyanyi riang, tak peduli kegelisahan hati ibu hamil yang sampai menjelang tengah malam ini, belum juga bisa memejamkan matanya.


Golek kanan golek kiri. Diusapnya lagi perutnya berkali- kali.


" Aduh...kenapa susah kali memejamkan mata. Padahal biasanya aku keduluan ngorok dari sicentil." tanya batinnya menerawang.


Demikian juga sang kodok, ia tak ada capeknya berdendang riang memanggil sang hujan.Sibuk dengan dendang cinta sahut menyahut.


Hewan ampibi pecinta hujan itu sepertinya tak sadar, kalau kebahagian mereka berbanding terbalik dengan gadis yang meringkuk ditempat tidur, sebentar- sebentar menatap gadis disampingnya, kemudian berganti menatap langit- langit kamar.


Hembusan angin dari ventilasi terasa dingin


sekali , menembus kulit daging dan sampai ketulang. Gigi Citra gemerutuk menahan hawa dingin yang menusuk tulang.


Tiba- tiba entah setan dari mana yang datang, hingga Citra teringat pada pria itu.


" Andai kejadiannya tak seburuk itu, aku mungkin akan tertarik dengan pria itu, hidup berumah tangga dengannya.


Tidur dalam pelukan pria setampan dan memiliki tubuh atletis seperti dia, mungkin takkan sedingin ini. " batin Citra mendamba belaian pria itu. Tatkala ia tersadar dari lamunannya kemudian ia mencak- mencak sendiri.


" Ini kepala sama hati kok akhir- akhir ini ngeselin kali ya. Kenapa juga pake mengingat pria lemah berhati serigala itu ! " Citra bicara sendiri seraya menepuk- nepuk jidatnya.


" Ngapain sih Tampan! ngak bisa bobok ya , Teringat Dady? " tanya Adel yang tak sengaja tersentak dari tidurnya karna pergerakan Bumil yang berisik itu. Diusapnya perut buncit Citra sejenak.


" Apa- apa an sih kamu Del, baru bangun langsung ngaco. " protes Citra memasang wajah cemberut.


" Cemumut berarti ia. Cie....Cie....Berarti ngak lama lagi Momy mu sendiri yang bakal cari Dadymu, tampan! Kamu tenang saja ya. Ntar lagi bakal ada yang bernyanyi dihatinya nih.


Hu.....hu.....hu....


Rindunya....Hatiku....Padamu sayang....


...Datang lah kau...melamarku...Jadikan aku permaisuri...oh kasihku..." tiba-tiba Adel menyanyikan lagu Yang sering ia dengar dulu di Sinema Indosiar, untuk menggoda bumil yang sudah membuat tidurnya terganggu.


" Stop! udah nyanyinya berisik, kayak kodok yang lagi pacaran saja kamu.


" Cie...cie...Berarti neng dari tadi ngintipin kodok yang lagi pacaran ya. Pantaslah ngak mau bobok, ngiri kali ye, makanya maafin tu ayahnya sidedek, biar bisa pacaran kayak kodok. He...He...He..." kekeh Adel sembari mempertemukan kedua tangannya, mempertemukan ujung- ujung jemari itu, membentuk adegan orang berciuman.


" Ngang siang, ngak malam, ngak pagi ngak sore, kamu orangnya paling senang godain orang ya. Udah tidur sana brisik! " kata Citra mendorong lembut tubuh Adel yang tadi dimepet- mepetin kebuncitnya.


" Akukan udah ngorok dari tadi neng...Nengnya yang brisik, gangguin mimpi orang yang lagi muah....muah....sama mas Arif." padahal inikan mimpi terindah, kalau dialam nyata ntar, baru tersentuh dikit dia pasti bilang. Udah dulu nambah dosanya, ntar kebanyakan jadi ngak ngebet pengen


nikahnya.


" Kalau sering- sering dapat yang haram, yang halal jadi ngak seru. " Ingat apa kata Buya, paling sambungnya itu kan kata Mas mu itu." sambung Citra.


" Kok tahu neng, berarti selain ngintipin kodok pacaran, si Eneng suka ngintipin Adel sama mas Arifin juga ya?" tuding Adel seraya mengedip- ngedipkan matanya pada Citra.


Citra terkekeh, tak tahan menahan geli melihat keunikan sahabatnya ini.


" Mana ada aku ngintip, orang dirimu sembarang pacaran, ngak ruangan bos, didapur kantorpun jadi.


Kamunya main nyosor aja, untung mas mu orangnya kadar imannya kuat, kalau ngak lebih duluan tuh situ buncit ketimbang ini. " kata Citra sembari menggelitik perut Adel. Adel langsung terpekik geli, hingga tak tak tahan ia berlari kekamar mandi.


" Tuh kan Boy Antymu digelitik aja ngak tahan. Kalau dapat pacar buaya pasti mudah tuh buat disambar, pantas dokter Ari pas periksa nyangkanya sampe segitu pada Ontymu Boy. " kata


Citra lagi sembari mengusap lembut perutnya. Si bayi merespon dengan gerakan imut, tepat saat Adel sudah melompat lagi keperaduan.


" Dia gerak- gerak ya Say...Kita bobok ya cayang..


kasihan Momy besok ngantuk dikantor.


" Sini Dady boboin. Cup....Cup....cup..." Adel mulai mengetuk- ngetuk lembut perut Citra, anehnya Citra langsung menguap.


"Uuah...uah...Citra menutup mulutnya yang menguap sebelum menyampaikan protesnya.


" Berhenti lah Del nyuruh anakku panggil Dady padamu, kan jelek kedengarannya, ntar disampein kodok atau cicak sama Mr Arif, bisa dicerai kau sebelum dikawinin. " Citra balik menggoda Adel sebelum memejamkan matanya.


" Makanya temuin Dady sebenarnya. Baru aku mengundurkan diri. " katanya Tah terdengar atau tidak oleh Citra , karna detik berikutnya sudah terdengar dengkuran halusnya.


Saat tengah hari tiba, Citra mulai mengantuk.


" Ngantuk ya? " tanya Rehan Asistennya.


" Iya Rey, semalam aku susah tidur. Apa kamu bisa melanjutkan nyusun dengan rapi file yang barusan dicetak, aku tak tahan ngantuk, ingin buat kopi sama istirahat sejenak. " kata Citra kemudian mematikan leptopnya.


" Tentu ibu cantik! aku akan segera bereskan sebelum istirahat, pokoknya perintah segera dilaksanakan. Rebes! " kata Rehan mulai menyusun


lembaran- lembaran file itu.


" Udah jangan lebay...kerja yang bagus. Kalau siap silahkan Break! " kata Citra sebelum berlalu.


" Okey bos . Dicopy." jawab Rehan masih dengan gaya alainya.


Citra sebenarnya sangat senang dengan promosi jabatannya. Siapa sih yang ngak ingin bekerja dengan jabatan yang lebih tinggi dan gaji yang fantastis serta fasilitas yang lengkap. Setiap manusia normal pasti memimpikan hal itu. Tapi memikirkan kalau ia harus dimutasi ke ibukota lagi, cukup membuat kepalanya berdenyut. Baru saja ia merasakan hidup nyaman dikota ini. Bisa bekerja, punya sahabat yang baik seperti Adel, walau tingkah Adel kadang ngeselin dan terkesan aneh, tapi , Citra suka banyak tersenyum ketika bersama dengan cewek centil ini.


Ia juga harus bermusyawarah dengan Rafdo sebelum memutuskan balik ke Ibukota. Karna walaupun malam naas yang menimpanya adalah


akibat kepicikan dan kecerobohan Rafdo, toh Citra sudah berusaha memaafkannya. Bagaimanapun juga Rafdo sudah memperjuangkan nasipnya, sampai - sampai ia rela jadi sopir Gubernur, demi menuruti keinginan sang paman yang Sekda dipropinsi Jawa B itu.


Asal Citra direkomendasikan bekerja dikantor dan punya kedudukan yang pantas, Rafdo rela kerja apapun, termasuk jadi supir pribadi orang nomor satu diPropinsi itu. Ia jadi sibuk dan jarang bisa bersama Citra, makanya ia meminta Adel teman sekantor Citra untuk menjaga Citra. Walau ia semula bohong, tapi bohongnya pun hanya untuk menyelamatkan reputasi sahabat yang ia cintai itu.


Sore hari, Rafdo menyempatkan diri untuk datang kekosan Citra, untuk membicarakan persoalan Citra, karna subuh tadi Citranya sudah mengirim pesan melalui WA tentang promosi dan mutasi kerja Citra.


" Aku sih berat kalau harus berpisah denganmu Cit.


Paman dan bibi sudah menahanku disini, mereka


memintaku jadi putra mereka. Bagaimana aku menemanimu kembali ke Ibu kota? " kata Rafdo tak kuasa menahan bulir- bulir bening yang tiba- tiba mengalir dari sudut matanya.


" Ya udah....jangan pake menangis segala yang akan memberatkan langkah Citra. Gua tahu Lo sayang and Cintrong sama Citra. Tapi ngak Lo aja yang patah hati didunia ini. Tu siAriyanto dokter kandungan Citra juga tergila- gila sama Citra. Sampai- sampai dah berkali- kali ia ngajak Citra nikah." Cerocos Adel pada Rafdo.


" Apa benar cerita Adel Cit? " tanya Rafdo bingung mendengar penuturan Adelia.


" Iya do, ia ngebet pengen nikahin aku karna tahu aku hamil tak bersuami. " jawab Citra jujur.


" Trus kamu nolak karna tak suka? " tanya Rafdo lagi.


" Bukan cuma itu, lagian dalam agama mana boleh menikahi wanita hamil sebelum bayinya lahir." kata Citra seraya mengalihkan tatapannya pada Adelia.


" Iya ngak boleh, kecuali sama yang punya baby, tupun ngak boleh hubungan sebelum baby lahir. " Jelas Adelia.


" Kamu tenang saja do, akukan sudah janji akan menjaga Citra, jadi aku yang akan mengantar Citra ke ibu kota, menungguinya sampai ia lahiran. " kata


Adel yang membuat Rafdo dan Citra tercengang.


" Ngak usah pada heran, pusing dan bingung, sudah izin kok sama mas ku." jelas Adel lagi.


" Sejauh itu? " tanya Citra.


" Iyalah...Kan aku sudah bilang aku Dadynya si Boy.


jadi aku punya kewajiban buat jagain Ibu dan Boynya sampai momynya balik sama Dady yang asli. " kata Adel yang membuat mata Rafdo terbelalak.


" Citra menepuk pundak Rafdo. " Ngak usah heran, Adel selalu ngomong gitu kok, jangan salah sangka, itu cuma panggilan sayang dan uniq yang sengaja ia buat untuk anakku.


" Aku kira.... " Rafdo akhirnya tersenyum geli.


" Ngak juga...tapi sintingnya kebangetan. " kata Citra.


Yang dikatain hanya melelet kedua orang didepannya. Keduanya hanya bisa tersenyum sembari geleng- geleng kepala.


Bersambung....


Mampir terus yuk....Jangan cuma mampir, kasih muah...muah..Suka- suka, lope- lope, komen- komen, Faforitkan cerita ne dan kasih fotenya juga untuk mendukung cerita kita.


Makasih sebelumnya.