Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Capter 78



Akhir Minggu ini adalah hari jadi dimana dia menunjukkan padaku bahwa aku adalah perempuan yang ia pilih di hatinya. Akupun begitu, aku dengan beraninya menyatakan kalau dia adalah kekasihku.Walau pipiku bersemu merah menahan malu. Aku dengan kukuhnya meminta ia menatapku, mengulang pernyataan cintanya. Sekarang sudah lima tahun berlalu.Kujalani rasa sakit menahan rindu, tidak ada acara anniversary day ( hari jadian).Seperti yang pasangan lain lakukan.


Apa yang tidak ada padanya, jet pribadi terbaru bahkan ia bisa memilikinya sendiri, selain punya ayahnya, ia bahkan memiliki perusahaan komunikasi dan Aplikasi atas nama sendiri yang keuntungan pertahunnya tidak tanggung- tanggung. Apa susahnya terbang dari


AS ke Indonesia sekali setahun untuk orang bertemu. Tapi ia tidak melakukannya. Cowok KUTIS itu hanya mengirim selembar kertas yang bertuliskan tulisan tangannya sendiri, tidak ada puisi cinta didalamnya, hanya Pertanyaan - pertanyaan menjengkelkan


" Masihkah kau sanggup sayang?...Andai kau sudah tak sanggup, menyerahkan pada ayahmu, ia takkan kurang daftar pria muda yang pantas untukmu, tapi aku rasa takkan ada yang yang setampan diriku dan semenyebalkan aku, pasti mereka akan terlalu romantis untukmu, yang akan membuatmu cepat bosan padanya. Menurutku, kalau dirimu masih sanggup, bersabarlah... menunggu pria paling menyebalkan namun paling menggemaskan didunia.


Apa? Kau mulai marah membaca tulisanku? Oh jangan!!! Nanti wajah bulatmu menirus, pipi padatmu menggeriting,tidak mau bukan?


Bellaku... kalau aku pulang, dan sekarang ada didepanmu, kau pasti sudah merobek jantungku, mengorek- ngorek apa isinya, menanyakan sudah berapa orang gadis bule yang berani menggodaku, sebenarnya tidak kurang dari seratus dalam setahun, tapi tak ada yang bisa membuat mereka nyangkut di mataku, apalagi sampai kejantung, mungkin hanya satu saja bule berambut hitam yang berani mengacak jantungku, itupun kutinggalkan begitu saja, dan kubiarkan merana.Ha...ha... Untuk apa pula kutambah yang lainnya? Ah...tidak! aku tak punya waktu untuk wanita, setidaknya untuk saat ini !


Tenanglah.. Aku hanya merindukan dirimu saja...itulah sebabnya aku tak pulang, aku takut dengan rinduku, takut menghancurkan cintaku.


Apa? kau berniat mau kesini? tidak boleh!!! aku pasti takkan menerimanya, aku belum sanggup menikah hari ini, kalau kau memaksa datang, maka takkan bisa pulanglagi, aku pasti akan menikahimu diMasjid saja di Boston.


Menikah sederhana untuk putri pengusaha sepertimu? tidak mungkin sayang...lagian kau putri tunggal mereka, takkan sanggup Mommymu berpisah darimu. Maka dari itu, luruskan saja jidatmu. Merasa sanggup? sabarlah...kalau tidak? menyerahkan...Aku bukan pemaksa cinta.


Kau bukan pemaksa...tapi kau pembunuh... kau membunuh segala hasratku, anganku, khayalku, aku merana karnamu, " ringis batin Bella


Begitu selalu isi surat yang ia kirim tiap tahunnya. Surat? Ya surat!


Pemilik perusahaan Aflikasi dan komunikasi, hanya mengirim surat biasa pada kekasihnya? Ini memang terdengar konyol. Setiap kali Bella membaca surat yang dikirim tanpa direvisi kata- katanya itu, paling Bella hanya dapat ledekan dari papinya.


" Ya ampun Bella? hanya seperti ini yang kau dapat dari pria itu? Apa salahnya ia terbang kesini sekali setahun, hanya 22 Jam saja dengan pesawat biasa. Bahkan lebih cepat dengan jetnya, sambil tiduran saja ia bisa sampai dipelukanmu dengan segera. Apa yang kurang darinya, tapi sepertinya ia sengaja pelit padamu, apa gunanya ia mengikatmu dengan berlian termahal didunia, kalau untuk merayakan hari jadi kalian saja ia tak mau rugi. " kata William memanas- manasi hati putrinya.Menatap anak gadisnya dengan pandangan mengejek.


Lalu melihat Bella terdiam ia akan berkata lagi.


" Gimana? kau menyerah? sudah kepengen kayak Cindi? punya momongan? kalau sudah siap, ayah masih punya daftar untukmu! Ha....ha....


Rehan William akan tertawa lebar setelah


menuntaskan ucapannya.


" Menyebalkan!!!! Dasar para pria menyebalkan, Kau sama saja dengannya Papi!!!! Baiklah ...aku akan membalaskan dendam ku padanya melalui dirimu! Bella berlari mengejar ayahnya dengan niat mencakar ya. Tapi Bella kalah gesit, pria menyebalkan dirumahnya itu melompat dan berlari cepat sembunyi bagai kelinci


kecil lucu nan nakal. Begitu Bella ingin menangkapnya, pria itu sudah menghilang.


" Astaga...nanti malam aku akan mengganggumu dikamar istrimu, biar tidurmu tak tenang. Begitu ancaman Bella dengan kesalnya.


Sedang yang diancam, sudah bersembunyi dengan kameranya sembari menahan tawa.


Malam harinya, Bella mencari papinya.


" Mana papi mi? tanyanya pada sang mami yang bergelung sendiri dengan pintu kamar tak terkunci.


" Papimu sudah terbang jam lima sore tadi, ia ada perjalanan bisnis selama satu Minggu.


Bella sebenarnya heran, mengapa setiap hari jadinya dengan Boy selalu peristiwanya berulang, ketika ia mencari Willi sang papi untuk melampiaskan dendam dan kemarahannya, Kekasih halal maminya itu pasti telah pergi, dengan alasan perjalanan bisnis, sedang sang mami nampak happy - happy saja


ditinggal pergi suami, padahal kalau diwaktu lain ia akan mondar mandir seperti ayam betina yang kebelet nelur.


" Apa yang sedang direncanakan para pria menyebalkan dan apa yang disembunyikan ibu centil yang sekarang mendadak kalem ini ya? " tanya batin Bella


🌹🌹🌹🌹


Lima tahun sudah ia tersiksa dalam permainan rindu yang tak berujung.


Sudah setahun ini ia bekerja diperusahaan papinya, menjadi pegawai biasa, pria menyebalkan itu juga menyiksa Bella dengan menjadikannya karyawan biasa, alasannya karna Bella putri yang tak mau dijodohkan, maka ia harus bertahan dengan apapun yang papinya lakukan kalau tetap teguh menunggu Boy.


Bella cukup kuat, walau ia seorang putri, jadi karyawan biasa baginya tak masalah, ia bekerja secara profesional, tidak pernah ngeyel atau menuntut penghormatan sebagai anak pemilik perusahaan. Ia berusaha bekerja semaksimal mungkin, mencoba menerapkan semua ilmu bisnis yang ia pelajari dikampusnya. Bella telah menyelesaikan sarjananya setahun yang lalu.


Hari ini hari Minggu usai Zuhur, Bella sengaja berkunjung kerumah Cindi, untuk bermain dengan putra kembar sahabatnya itu. Ia terlalu pusing kalau harus mengingat hari jadinya dengan Bhalendra. Biasanya pagi- pagi pak pos


sudah mengantar surat kerumah diminggu -minggu hari jadian mereka. Tapi sepertinya tahun ini tak ada lagi.


" Hallo sayang....ante cantik datang nih...." kata Cindi mengejutkan Arfan dan Arfin.


Kedua anak itu langsung terlonjak, menghentikan permainan mobil- mobilannya, lalu berlari mengejar mamanya dan Bella. Bella menyambut mereka, menggendong mereka bergantian, sambil diloncat- loncatkan.


" Ante...kapan ante jadi kenalkan Om Boy pada kami? " tanya Arfan yang membuat Bella tertegun.


" Cindi!...apa kau gosipkan juga hubunganku dengannya pada anakmu yang masih Balita ini? Dasar Mak - Mak rempong ! masak anak kecil saja kau amot juga kawan bergosip ." Bella protes


sembari menepuk pundak sahabatnya.


" Siapa lagi kawanku bergosip? Kalau kugosipkan dengan Daddy mereka, nanti kau dijodohkan lagi dengan temannya yang lain, ntar aku kau amuk lagi kayak waktu itu. " Cindi terkekeh sembari mengenang ketika begitu marahnya Bella saat dijodohkan dengan anak konglomerat Asal Australia, teman suami Cindi.


" Hey...nyonya centil !!! Bukan berarti karna ayahku berhasil menjodohkanmu, kaupun berhak menjodohkanku bersama suamimu itu dengan teman kalian. Masalahnya berbeda ember bocor! kau minta jodoh karna kau jomblo akut, sedang aku punya kekasih." kata Bella sembari menarik kuping Cindi waktu itu.


" Adau ...Ampun Bella...ntar kupingku tanggal, kau bisa terpidana...rengek Cindi


minta ampun.


" Makanya jangan coba- coba memancing dikolam milik orang lain.


" Ye...ye...mulai sekarang Ngak lagi deh. Ampun seribu ampun...kau tahankan saja


hidup dengan menunggu cintamu yang tak tentu itu. Aku takkan lagi berani ikut campur. " kata Cindi masih tak lepas dari


sindiran.


Sedang Bella tersenyum puas, sudah membalas sahabatnya yang menurutnya kelewat resek sejak jadi istri pengusaha itu.


Iya ante antik...Kapan om Boy kembali ? tanya Arfin menimpali, memecah keheningan Bella dan Cindi yang sibuk mengingat masa lalu.


" Hhum...tenanglah sayang...sebentar lagi om ganteng pasti pulang..." katanya lirih, entah pada dirinya sendiri atau pada kedua putra kembar Cindi.


" Kami boleh melihatnya kan? " tanya Arfan dengan polosnya.


" Tentu sayang...Kalian boleh memeluknya. " jawab Bella asal. Sedang


ia menatap kosong ketaman disamping kolam renang Cindi.


" Holle...kami pasti akan memeluknya, kalau ante antik belakangan aja ya! " teriak para pria kecil itu.


Tatkala tangan- tangan mungil itu tak lagi bergelayut ditangan halus Bella, Bella melangkah maju ketaman dengan langkah gontai. Menatap mawar yang bermekaran.


Banyak kumbang yang bermain disekitar binga- bunga itu. Tiba- tiba saja hati Bella sendu, titik- titik bening mulai merembes dari bola matanya yang indah.


" Aku sudah menghalau seribu kumbang untuk menanti satu kumbang saja, tapi


sepertinya kumbang itu tak sadar kalau bunganya sudah mekar. Berapa lama lagi Boy? " gumamnya lirih.


Tiba- tiba saja rambut ditangan Bella berdiri.Tatkala benda lembut dan hangat menyentuh tengkuknya dari balik kerudung merah jingga yang ia pakai.


Berikutnya sepasang tangan kekar telah melingkar sempurna dipinggang bagian atas Bella


.


Hawa panas siang jelang sore itu berubah jadi dingin, ketika wajahnya dihadapkan pada seraut wajah tampan


yang memaksanya menautkan wajah mereka.


Dalam sedetik pria itu sudah membalikkan tubuh Bella.Wajah mereka bertemu, tanpa jarak, hanya penutup wajah Bella yang memisahkan kulit wajah mereka, sedang kening pria itu menghimpit kening Bella.


Pria itu menundukkan wajahnya untuk itu. Bella memejamkan matanya, taktahan beradu pandang.


Pria itu benar- benar bersamanya


tepat lima tahunan hari jadian mereka.


Bella mencubit pinggang lelaki itu. Ketika


pria itu mengaduh sembari mengeratkan kungkungannya penuh dendam. Bella percaya ini bukanlah mimpinya.