Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 81



Seorang gadis berjalan menyusuri gang menuju rumahnya. Gadis cantik itu mengeluarkan hijab sarung dari tas sandangnya. " Aku takut chalista sudah menunggu didepan rumahku lagi, kalau aku kedapatan datang tanpa berhijab, ia akan curiga lagi. " kata gadis itu berbicara sendiri sembari membenarkan hijabnya.


" Hhem...aku tidak curiga lagi Zahra...karna aku sudah melihatnya sendiri. Aku heran, untuk alasan apa kau mempermainkan tutup kepalamu, kalau belum siap berhijab waktu itu, kenapa kau lakukan. Apa hanya untuk membuat aku terkagum padamu? Hingga aku bersikukuh menjodohkanmu terus dengan abangku. Tidak Zahra...aku memang sangat menyayangimu sebagai sahabat, tapi setelah melihat semua ini, aku sadar rasa sayangku takkan cukup, untuk membuat abangku bahagia, kami lahir dari orang tua yang sama. Tapi hari ini aku insyaf, bahwa dalam segala hal pandangan abangku jauh lebih hebat dari diriku. Sudahlah...aku terlalu banyak berceramah, nanti kau muak pula. Ini pakaian stelan dengan hijab harga jutaan khusus kupesan untukmu untuk menyambut abangku." katanya nya penuh penekanan.


"Tapi baiklah walau aku menyesal membelikannya setelah melihat keadaanmu sebenarnya, pakailah


saja, untuk sekali saja agar tak mubazir.


Mommyku tidak menyukai tindakan mubazir. Nih...Nanti malam abangku memilih calon istri, kalau kau merasa masih pantas datanglah, tapi jangan berharap lebih dariku, aku mulai menyerah sejak hari ini. Abangku sendiri yang menentukan pilihannya." Cerocos Calista panjang lebar. Gadis jelita yang beranjak dewasa itu, tak lagi memperlihatkan wajah manisnya, batinnya terlanjur kecewa melihat apa yang ada didepan matanya.


Setelah melempar kantong paket itu ke Zahra, Calistapun berlalu. Sedang didepan gang, Sopir, pengawal dan mobilnya sudah stanbay menunggu.


Begitu nona cantik mereka datang, merekapun menyambutnya dan bersiap untuk meluncur, tanpa merasa perlu berkomentar apalagi melihat raut wajah yang tiada dapat ditebak itu.


Zahra menatap kepergian Calista dengan melongo, setelah dapat cerepetan sepanjang tol Jagorawi . Bibirnya seakan terkunci, ia tak mampu menyangkal semua umpatan Calis padanya, karna gadis itu telah memergokinya.


Setelah mobil Calista menghilang dari pandangannya, barulah Zahra tersadar. Ia lalu mengutip kantong berisi paket dari Calis, lalu berjalan gontai menuju teras rumahnya.


Sesampai dirumah, dengan tak sabar membuka isi paket itu. Gamis indah berwarna jingga. Tiba - tiba hati Zahra sendu.


" Begitu penuh kasihnya dirimu Lis, kau bahkan menyiapkan semua ini untukku. Tapi maaf aku sudah menyiakan harapanmu. Entah ini baik atau tidak bagiku, dengan tindakanku, tapi biarlah semua ini nyata dipandanganmu, aku sudah cukup tersiksa dengan sandiwara ku. Aku tak pantas untuk kakakmu, seberapa besarpun kau berusaha untuk membuatku layak. Aku hanyalah gadis biasa, yang melabuhkan cintanya dimana


saja. Aku tak cukup kuat menunggu kakakmu selama ini Lis, aku sudah menyerahkan diriku pada pria yang mungkin sepadan denganku. "


Maaf...seribu kali maafkan aku sahabatku... " Gumamnya lirih, sembari mendekap gamis indah yang diberikan Chalista untuknya, tanpa terasa bulir bening menetes di pipinya.


Zahra terkenang ketika malam syukuran tujuh belasan Boy. Lima tahun yang lalu.


Setelah ia menerima surat penolakan dari Boy, hatinya yang hancur makin berkeping- keping, ketika telinganya tak sengaja menangkap percakapan intens antara seorang ibu dengan anak perempuan muda mempesona sebaya dan sepadan dengan Boy, baik wajah dan penampilannya.


" Sangat Cantik, putih bersih dan seksi" batin Zahra menilai dengan jujur.


Zahra mengendap- endap untuk dapat mengintip mereka lebih dekat lagi.


" Apa menurutmu begitu Bella? Kau pasti merasa, bagaimana putraku memperlakukanmu sejak remaja. Aku tau ia bukan pria yang romantis. Tapi terhadapmu kurasa ia berbeda. Percayalah...tanya pada hatimu sendiri nak...apa yang kau inginkan. " kata mommy muda yang sangat dikagumi Zahra itu pada gadis yang ada didekapannya. Mereka tampak akrab dan saling mengasihi, membuat Zahra kian patah hati.


Airmata Zahra yang bercucuran kian menganak sungai, mendapatkan kenyataan yang baru saja ia lihat dan dengar. Setelah menyaksikan kemesraan


gadis itu dengan calon mommy mertuanya. Sampai mommy mertua mengantarnya kemobilnya, mobil mewah keluaran terkini. Walau Zahra anak yatim


piatu, sejak kenal Calista dan keluarganya, ia menjadi banyak tahu tentang jenis barang- barang yang harganya membuatnya Zahra takut sendiri. Dan mobil gadis yang dipanggil Bella itu menunjukkan kalau ia merupakan golongan atas.


" Gadis itu beruntung...mereka sepadan,


aku hanyalah figuran,kalau memaksakan diri diantara Ciklet( Cinta kelas Elit) ini.. "gumamnya lirih sebelum meninggalkan Istana Calista dengan kaki gontai.


Belum beberapa langkah ia pergi. Sebuah mobil berhenti didepannya. Dari dalamnya keluar seorang lelaki muda sebaya boy." Ayo masuk kemobilku, aku temannya Boy, sedang kau adalah teman adiknya, tak baik membiarkan tamu adik temanku jalan sendiri. Sudikah kau naik ke mobilku nona manis? " tanya pria itu sopan. Zahra yang lagi kalut dan patah hati menatap pria itu lama. Sebelum memutuskan untuk mengikutinya.


" Namaku Bayu Arjuna Rafdo...Usiaku Tujuh belas tahun dua bulan dua hari seperempat malam." kata pria itu, setelah berhasil membawa Zahra kedalam mobilnya. Aku tak tahu siapa ayah dan ibuku, tapi aku diangkat oleh pejabat kaya jadi putranya.


Aku enjoy dan bahagia, ayahku seorang pria patah hati yang bersemangat. Lucu bukan? " karna patah hatinya dari gadisnya yang sudah menjadi istri pengusaha kaya, ia mengangkat ku dari panti Asuhan di Kota B, memberikan namanya padaku. Membawaku dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang.


Zahra terpana menatap pria yang duduk didepan tongkat bulat mobilnya.


Pria itu dengan tiada malunya menjelaskan semua latar belakang hidupnya pada perempuan muda yang baru ia kenal.


Sebelum menghidupkan mesin, ia kembali berucap, karna gadis disampingnya masih terdiam.


" Mungkin keberuntungan keduaku bakal menyusul malam ini nona...mudah- mudahan karna kepatah hatianmu, kau juga mau mengangkat ku jadi kekasihmu,


setelah mendapat penolakan dari sahabatku. He...He...manis- manis kau cengeng juga! " kata Bayu dengan beraninya mengusap sisa bekas airmata Zahra.


" Manis sekali Nona! " senyummu sungguh manis. " puji Bayu spontan tatkala melihat senyum Zahra.


" Namaku Zahra , aku memiliki latar belakang yang sama denganmu. Bawa aku kemanapun malam ini, hatiku terlampau kalut, aku pasti akan memberimu hadiah besar, kalau kau bisa menghiburku malam ini. " kata Zahra mengulurkan tangannya.


" Deal? " Bayu menangkap tangan Zahra


bersemangat.


" Deal..." jawab Zahra lirih.


" Baiklah manis...jangan sampai kau menyesal telah mengangkat ku sebagai


kekasih Asuh. " katanya enteng dan terdengar Sableng. Kemudian Bayu terkikik, setelah mengacak rambut Zahra.


Lalu ia melajukan mobilnya, mengabaikan Zahra yang bersesungut.


" Pria ganteng yang sableng..Mudah- mudahan aku tak menyesal." batin Zahra berkata sembari mengintip sisi samping pria yang memegang kemudi.


Ya...Lima tahun sudah Zahra menyembunyikan hubungannya dari Calista. Zahra berpacaran dengan Bayu, sejakalam itu.


Hubungan yang sudah sangat dekat itu membuat Zahra semakin sadar. Ia tak pantas untuk seorang tuan muda Bhalendra.


Ia meletakkan stelan muslimah itu diatas tepat tidurnya. Lalu ia menatap wajahnya


dicermin.


" Aku memang tak layak lagi untukmu


Idolaku. Tapi kau tetaplah idolaku. Aku akan menghadiri acaramu, walau bukan untuk memenangkannya, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menyaksikan siapa gadis beruntung yang akan kau bawa kehadapan penghulu. " Gumamnya lirih, dengan ekspresi wajah yang masih sedih.


Zahra memang sudah memilih kekasih. Bahkan sudah menyerahkan dirinya menjadi milik Bayu dalam perjalanan antara kota J dan B, walau mereka belum menikah.


" Kau tetaplah pria yang istimewa dihatiku, walau hanya sebatas idola." batin Zahra.


🌺🌺🌺🌺


Sementara, seorang dara bermata indah


sedang memeriksa penampilannya didepan cermin besar, ruang tamu rumahnya. Dengan dada berdebar ia merapikan penutup wajahnya.


" Sayang...aku sudah siap...semoga langkah gemetar ini mendapat restu dari Illahi... " batinnya sembari tersenyum, tatkala ia mulai menginjakkan kaki kanannya diatas mobilnya.


" Gugup ya Sayang? " tanya papinya.


" Jangan ditanya Pi...pastilah...namanya juga jelang ujian, semua pasti nervous lah. " timpal Anjani. Sedang Bella hanya mengangguk.


" Bismillah ...." Bang Mamat berseru sebelum meluncur.


" Bismillah..." kata ketiga orang itu pula bersamaan.


Tekan jempolnya Say...sudah lama juga nih ngak minta- minta dibawah, dikasih Amin, belum dikasih diamanin dulu.He...he...maksudnya bukan yang lain say...Like, fote, hadiah sama faforitnya dari pembaca.


Yang baru datang salam jumpa dengan karya ini. Yang sudah biasa salam setia, yang udah kemana- mana semoga balik kejanda lama.He...he...maksudnya came back ke karya kita ni.


Maaf late Up lagi nih kayaknya. Tapi begitulah hidup, kadang sedang kita bersemangat, cobaan datang


bagai Bayu ( badai ) yang merontokkan dedaunan. Ketika orang- orang terdekat kita ditimpa musibah, tak dapat dipungkiri, kitapun akan terbawa suasana, bagai malam tak luput dari kegelapan. Bagai daun kering yang takbisa menolak sapuan angin yang menerpanya .