
" Apa perasaanmu sudah mendingan Cit, apa kita sudah bisa melanjutkan pembicaraan. " Tanya Rafdo usai mereka mendirikan Sholat berjamaah di Mesjid itu.
" Apa menurutmu perasaanku sama seperti permen karet? yang setelah habis manisnya bisa dengan mudah diobah- obah bentuknya sesuai apa
yang orang mau? Apa sesudah hancur, menurutmu akan mudah bagi hatiku untuk menganggap semuanya Fine- fine aja? " Citra balik bertanya yang membuat Rafdo tertunduk mendapatkan pertanyaannya yang berbalik.
" Ternyata aku tak bisa mengingkari diriku Rafdo, ternyata aku hanyalah seorang wanita biasa, yang saat tak sadarkan diri telah menyatakan keinginannya melalui perbuatan, aku tidak bisa menolak pesona yang memabukkan saat dicumbu pria itu. Entah karna pengaruh obat yang kau berikan atau karna kelemahan ku sendiri, aku tak tahu Rafdo, aku bahkan memeluk tubuh pria itu dengan erat. Andai aku menolak, tentu pria itu takkan bisa merenggut kesucianku. " kenang Citra masih degan meneteskan airmata.
" Kau lihat Do....aku bahkan hanya bisa menangis, ternyata seorang Citra tak lebih dari seorang perempuan rapuh. " katanya lagi, saat Rafdo masih tertunduk diam, dalam rasa kesal, sesal dan cemburu dengan Cerita Citra.
" Apa? kau masih memikirkan rasa cemburumu, setelah perbuatanmu berhasil membuat hidupku tak berguna Raf ?" tanya Citra lagi yang membuat Rafdo tersentak kaget. Bahkan dalam keadaan kalut saja, Citra masih bisa membaca pikirannya.
Rafdo menghembuskan nafasnya berkali- kali, sebelum akhirnya ia membetanikan diri untuk berucap lagi.
" Sekali lagi maafkan aku Citra, kumohon...Kalau kau tak ingin melihat wajahku lagi, maka lenyapkanlah diriku. Aku akan membuat surat bunuh diriku, agarkau tak perlu berurusan dengan pihak yang berwajib setelah melenyapkan ku.
" Apa kau kira dengan melenyapkanmu, kesucianku
akan kembali Rafdo? Kalau semua itu bisa mengembalikan diriku seperti semula, maka aku pasti tidak akan segan- segan membunuhmu! " teriak Citra sambil menggerutukkan giginya menahan kesal, dan perih dihati.
" Lalu apa yang bisa kulakukan untuk menembus semua kesalahanku? Katakan Cit..Katakan saja, apapun itu akan aku lakukan. " Ucap Rafdo memohon dengan tatapan memelas.
Saat Citra masih terdiam, Rafdo melanjutkan maksudnya.
" Apa kau bersedia menikah denganku? " tanya Rafdo kemudian.
" Apa kau kira menikah itu perkara mudah? seperti lelucon. Apa kau kira dengan menikahiku, dosamu akan tertembus? Apa menurutmu dosamu tidak akan bertambah- tambah.
"Bagaimana kalau seandainya peristiwa semalam membuatku hamil? " tanya Citra bertubi-tubi. Kalau bukan dalam situasi begini, Rafdo pasti sudah memprotesnya, tapi untuk sekarang, tidak digebukin lagi, sudah cukup membuat Rafdo bersyukur, apalagi semua yang peristiwa yang dialami Citra, terjadi karna kebodohan dan kecerobohannya.
Seperti kata Citra, apapun yang ia lakukan takkan bisa mengembalikan semuanya. Tapi keinginan untuk menikahi Citra, datang dari hatinya yang paling dalam. Walau sudah begini keadaannya, Rafdo tetap memandang Citra sebagai perempuan impiannya. Memang ia sudah menyimpan perasaannya pada Citra, sejak 3,5 tahun yang lalu, saat pertama berkenalan dengan gadis tomboy itu didepan kampus Up.
" Aku tak ada keinginan untuk menikah Raf, apalagi hanya karna diriku yang sudah tak suci lagi. Biarlah aku akan pergi dari ibu kota ini. Karna bagiku, ibukota hanya memberikan luka dan kehancuran bagiku. Coba kau bayangkan. Setelah beberapa hari aku disini, bukannya dapat kerja. Aku malah mendapatkan kehancuran ku.
Dari sudut sepasang mata indah milik Citra, butiran bening kembali menetes. Rafdo mengumpulkan keberanian untuk mengusapnya.
" Zaman sekarang...tidak satu dua gadis yang tidak suci lagi. Bahkan ada diantara mereka yang dengan gampangnya menyerahkan kesuciannya pada pria yang mereka anggap kekasih. Ini bukan akhir segalanya wahai sahabatku. Kumohon bertahan dan bangkitlah..." Pinta Rafdo dengan segenap perasaannya, ia menyusun jarinya yang sepuluh, dan berlutut didepan Citra.
" Jika dengan meninggalkan ibukota bisa membuatmu lebih tenang, aku akan ikut denganmu kemanapun itu, dengan kau bersedia atau tidak menikah denganku. " Ucap Rafdo lagi.
" Apa kau kira aku ingin pergi denganmu? Apa bagiku tidak cukup puas dengan kau yang menghianatiku? Ingatlah Rafdo, aku ingin pergi sekaligus jauh dari sahabat penghianat sepertimu.
" kata Citra penuh penekanan.
" Terserah kau mau bilang apa, pokoknya kemanapun Citra pergi, Rafdo akan ikut. Terkecuali kalau..." karna ragu Rafdo menggantung ucapannya.
" Kecuali apa? tanya Citra menatap bola mata Rafdo dengan tajam. Rafdo kelimpungan mendapatkan tatapan membunuh dari sahabat sekaligus gadis impiannya.
" Kacuali ka...kalau Citra memutuskan untuk menikah dengan pria itu." jawab Rafdo gugup.
" Stop membicarakan pria itu! Aku berniat meninggalkan kota ini, untuk melupakan pria itu.
" Baiklah...Ayo kita kekota B, disana ada pamanku, ia seorang pegawai tinggi dikantor Gubernur. Nanti kita bisa cari lowongan dengan bantuannya. " usul Rafdo.
" Bagaimana dengan pekerjaan barumu disini? " tanya Citra setelah bisa sedikit berdamai dengan hatinya.
" Apapun akan aku tinggalkan, asal Citra masih
memberi kesempatan untuk Rafdo, bisa menjaga Citra. Walau pada dasarnya, Rafdo tak pernah berhasil menjaga Citra. Bahkan berkali- kali, Citralah yang sudah menyelamatkan nyawa Rafdo.
" kata pria itu dengan tulus.
" Baiklah...Kita lihat saja nanti, Citra akan kasih Rafdo satu kesempatan lagi jadi sahabat Citra, tapi kalau masih ada penghianatan, jangan salahkan kalau Citra akan benar- benar membuang Rafdo kesungai yang banyak buayanya. " Ujar Citra dengan menyunggingkan seulas senyuman tipis.
" Tersenyumlah Cit...Dunia belum berakhir. " kata Rafdo.
" Siapa yang bilang dunia sudah kiamat? hanya hidupku saja yang hampir kiamat. " Citra terkekeh tawanya itu masih terdengar sumbang.
&
Saat Rendra mendapat kabar dari Hans sekretarisnya tentang Citra yang sudah tak dapat ditemui lagi setelah mereka lelah mencari. Bahkan tempat penginapannya sudah kosong. Rendra kian panik, rasa bersalah yang begitu besar menguasai seluruh jiwanya.
" Bagaimana perasaanmu sekarang? mengapa kau pergi meninggalkanku Citra Hapsari? mengapa tak ada pembalasan darimu, setelah apa yang kubuat padamu semalam. Aku bahkan lebih berharap kau menamparku, menghukum ku, dari pada kau meninggalkanku dengan beban dosa yang tak tau bagaimana caraku menembusnya. " batin Rendra berkecamuk.
" Kemanakah dirimu Citraku? aku mohon kembalilah." Gumamnya sambil melajukan mobil mewahnya, menembus derasnya hujan dipagi buta itu.
" Bagaimana kalau ia hamil? Bagaimana nasib anakku, andai aku tak bisa menemukannya?
" Tidak Rendra, kau tak boleh berputus asa, cari gadismu sampai kemanapun juga, walau itu keujung dunia kau harus bisa menemukannya.
kata batin Rendra. Dia sadar kalau Citra adalah cinta pertamanya, mengingat kenangan semalam, hati Rendra berdetak kencang.
" Aku jatuh Cinta untuk yang pertama kalinya pada seorang perempuan , tapi mengapa semua jadi sekacau ini?
" Awas kau pelayan yang sudah berani mencampur minumanku! Kau sudah berani mempermainkan nasibku dengan perbuatan isengmu.
Aku Rendra Pratama, pewaris kerajaan bisnis Mr Kims GNN Group, tuan yang kejam yang sangat setia pada Cinta pertamanya, pasti akan membalas semua perbuatanmu, kalau sampai aku tak bisa menemukan Citraku. " kata Rendra mengepalkan tinjunya, mengerem mendadak, lalu ia memukulkan
kepalanya di stir, kemudian tertunduk dan menangis lama disana.
Karna ia menunduk, ia tak bisa melihat , saat Rafdo dan Citra melintas menuju sebuah Mesjid.