Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 75



Bella lalu mengembangkan jemari tangan


kirinya didepan Cindi. Memamerkan Cincin berlian yang Boy selipkan setelah magrip, ketika mobil mereka sudah berjalan meninggalkan mesjid Istiglal.


" OMG...Betapa indah cincin yang ada dijari manismu. Permata nya...AW...


aku bergetar memandangnya. Apa itu yang ia berikan. " tanya Cindi tak kuasa untuk tidak menyentuh cincin permata yang paling indah yang melingkar dijari manis Bella.


Ia menarik tangan Bella, karna Bella buru- buru menyembunyikan jarinya diatas pahanya, dengan membalikkan punggung tangannya dan mengepalkan tangannya.


Walau hanya Cindi, Bella tak membiarkan


jemarinya disentuh.


" Sayang...Jaga jemari ini agar tiada yang berani menyentuhnya." Ucapnya dengan sangat posesif, sembari menggenggam tangan Bella dan mengecupnya lembut.


Dingin seluruh tubuh Bella kala itu.


Lalu Boy membalikkan tubuh Bella membelakanginya, mengecup tengkuknya sekali lagi. Bella rasanya ingin tenggelam jauh, lebih jauh dan dalam lagi kedasar jiwa dan raga kekasihnya itu. Lalu Boy mengacak rambut Bella , dan berbisik dikupingnya


" Mulai besok kalau keluar rumah berhijab dan bercadarlah...sebab sejak saat ini, Boy takkan mengizinkan orang lain melihat rambut hitammu, hidung mancungmu, serta bibir ini, bibir yang aku saja tak berani menatapnya lama. " Boy mengatakannya dengan suara yang bergetar,Meletakkan jemarinya dibibir Bella, Bella hanya memejamkan matanya,


menahan getaran jiwanya yang bergelora. Yang kasihan bang Mamat, Ia sampai bekali- kali menarik nafas, menyaksikan adegan setengah dewasa dari balik spion mobil.


Boy memang tidak Memandang Bella, namun bagai seorang yang tuna Netra, ia meraba seluruh sisi wajah dan leher Bella.


" Berjanjilah sayangku..bahwa kau akan menjaga Shalatmu, makanmu." Bisiknya lagi. Walau Bella kurang mengerti,ia hanya mengangguk patuh, Bella sungguh tak kuasa membantah raja dihatinya, karna esok lelaki ini takkan ada lagi disampingnya, takkan lagi bisa ia duduk dipangkuannya semanja ini. Bella pasrah andai Bhalendra meminta nyawanya, ia siap menyerahkannya.


Esok hari, ketika Bella membuka pintu kamarnya, didepan pintu sudah ada kotak itu. Kotak yang isinya membuat orang yang tak merasakan cinta seperti Cindi, takkan faham maknanya.


Bella paham semuanya. Karna ia mencintai dengan hati.


Mukena yang ia berikan agar Bella menjaga sholat nya.


Kerudung dan cadar yang ia kasih, agar agar Bella menjaga tubuh dan wajahnya.


Kotak makan dan minum yang ia sertakan agar Bella siapkan bekalnya kemanapun ia pergi, dengan begitu Bella akan menjaga makanan dan minumannya.


Boy tak mau Bella makan dan minum serta jajan sembarangan yang akan membuat orang punya kesempatan mencampur makanan dan minumannya.


Yang nantinya membuat kekasihnya terjebak dalam niat buruk manusia yang kadang tak terduga.


Boy ingin Bella waspada, Agar Tuhanpun bersedia menjaga Bella dari segala kemungkinan yang akan terjadi, tatkala Boy jauh darinya nya.


Ya.. ..Bila kita tak Memandang pemberian Boy tersebut dengan hati, tentulah akan menilai semuanya berat dan berlebihan. Tapi semua yang ia berikan pada Bella membuat Bella yang mencintainya tersanjung.


" Sejak hari ini diriku telah resmi jadi tunanganmu, dengan menyematkan cincin ini dijemariku kau telah mengikat hati dan cintaku. Akupun akan menjaga diri dan cintaku untukmu. " batin Bella berjanji, tidak dimuka Boy, tapi Bella yakin Boy mendengar janjinya, meski jarak dan ruang memisahkan mereka.


" Dengan semua benda yang kau berikan, kau sudah menuntutku untuk menjadi calon makmum masa depan bagimu, makmum yang bisa menjaga dirinya, agamanya,raganya,makananku dan anak- anak kita kelak. Aku tidak kau ajarkan seni bela diri secara zahir seperti Zahra dan adikmu, tapi kau telah mengajarkanku seni jaga diri secara batin." Bella tersenyum, senyumnya sangat manis dan menggemaskan menurut Cindi, pipinya sampai kemerah- merahan.


Ia memegang tengkuknya sendiri, kemudian mengecup cincin berlian termahal yang melingkar dijari manisnya.


Cindi hanya sedikit paham, ia mengira cincin berlian itulah yang membuat Bella begitu bahagia. Tapi sebenarnya bukanlah sekedar itu. Perhatian kecil yang mengandung makna mendalam itulah yang begitu membuat Bella semakin Yakin, kalau Bhalendra benar - benar telah memilihnya sebagai calon makmum masa depannya, bukan Elsi bukan pula Zahra.


Kotak besar itu Sengaja sudah Boy Tarok


dibagasi mobil Bella.Entah kapan Boy bekerja sama dengan bang Mamat untuk itu, Bella tak peduli, yang Bella tahu, Boy telah memberikan yang terbaik. Kecupan terbaik yang akan membuat Bella takkan bisa berhenti merindukan lelaki muda yang menyebut dirinya sebagai pria paling mempesona zaman Now itu.


🌺🌺🌺


Tatkala Bella berjalan pertama kalinya dengan penampilan barunya, semua memandangnya aneh, namun Bella tak peduli, ia hanya peduli terhadap janji hatinya, pada Allah dan kekasihnya.


" Tak usah risih dengan tatapan orang non, yang penting, tubuh terjaga, aurat terpelihara. " Begitu bang Mamat selalu


berkata, setiap mereka bepergian ke kampus Universitas, tempat Bella


melanjutkan studi profesionalnya, yang sudah mulai menerapkan PTM.


Juga ketika mereka kepusat perbelanjaan, atau pusat


perawatan kecantikan, ataupun kebugaran.


Bahkan papinya sendiri Tuan Rehan Wiliam, memandang sinis, pertama sekali melihat Bella memakai hijab, sampai kepada bercadar segala.


" Keterlaluan sekali putranya Rendra menuntutmu Bella, walau mereka lebih kaya dari kita, tapi bukan berarti ia bisa


mengekangmu seberat ini, kalau kau mau, Papi akan Carikan lelaki muda terkaya didunia untukmu, agar kau tak perlu memakai pakaian seperti itu. " kata Wili mencak- mencak, menganggap putrinya keberatan dengan apa yang ia pakai.


" Tidak Papi ...Ia tak pernah memaksakan


kemungkinan pandangan jahat, pria yang mungkin tak bisa menahan Sahwat, karna menatap pemberian Allah yang maha sempurna untukku. Aku hanya hendak belajar bersyukur, dengan menjaga nikmat yang begitu besar bagiku ini. Jangan pernah berniat menjodohkan putrimu dengan siapa Ayah, karna putrimu sudah memilih calon imamnya sendiri. " Kata Bella sembari memamerkan Cincin berlian yang melingkar dijemarinya.


Willi memeriksanya, lalu berkata" ini Berlian termahal didunia, mungkin Bhalendramu memesan khusus benda berharga ini untukmu. " Katanya sembari manggut- manggut.


" Bella tersenyum bangga. Kalau memang papi punya kolega, pria muda kaya dan terhormat lainnya, bisakah papi mengatur perkenalannya dengan temanku Cindi? Aku ingin temanku yang


satu- satunya tersisa itu, merasakan hidup yang jaya seperti kita." pinta Bella enteng, membuat sang ayah menggeleng- gelengkan kepalanya.


" Apa kau kira ayahmu ini petugas biro jodoh Bella? apa menurutmu tidak begitu banyak urusan perusahaanku? " tanyanya sembari mengacak kerudung putrinya.


" Papi...Kau begitu tega, membuat Bella terpaksa merapikannya lagi, sedang tadi sudah begitu lama putrimu ini memasang


kerudung ini supaya nampak baik. " protes Bella.


Willi terkekeh melihat pandangan kesal putri cantiknya.


" Mungkin tindakanmu benar menutup sebagian wajahmu dengan cadar itu, kalau tidak, pasti papi sudah melihat mulut runcingmu yang mengerucut, karna


kesal dengan perbuatan ayah." katanya kemudian ia kembali terkekeh.


Bella merapikan kerudungnya dengan becermin dikaca besar yang dipasang mami diruang Rapat keluarga. Setelah ia selesai, tawa papinya juga berhenti.


" Walau Papi bukan petugas biro jodoh, berbuat sedikit demi mengangkat harkat


dan kesejahteraan temanku, adalah amal yang akan membawamu mencapai martabat yang tinggi pula disisi Allah.


Apa anda tidak tertarik tuan, dengan jabatan yang tinggi disisi Allah kelak?" tanyanya berlagak formal. Willi kembali


datang ingin mengacak kerudung Bella karna gemas, tapi Bella sudah waspada.


Ia berlari dengan segera. Membuat sang ayah terpaksa mengalah.


" Aku takkan membiarkan sembarang orang menyentuhku. " kata Bella berlagak diplomatis.


" ini anak perempuan benar - benar ya? masak papi sendiri dianggap orang lain?


Belum menikah saja kau sudah belagu, apalagi nanti bila kau sudah menjadi milik pria muda tertampan di dunia itu, apa kau benar- bener melupakan papi ya?


" Tergantung papi sih, kalau papi masih berani menantang cinta dan keputusanku


tentang cintaku, aku akan benar- benar melupakanmu. " kata Bella tegas.


Membuat tuan Rehan Wiliam angkat bahu dengan kekerasan hati putri semata


wayangnya.


" Kau beruntung anak muda! Gadis itu begitu teguh menjaga cintanya. " kata Rehan wiliam pada seseorang disebrang telfonnya.


" Thank you uncle! ( makasih paman )


Jaga Bella ku walau kadang tingkahnya mengesalkan mu. " jawab suara dari sebrang.


Pastilah kujaga anak muda ! karna ia adalah permata satu- satunya yang kupunya. " jawab Wili.


" Kau juga harus menjaga hatimu anak muda, kalau sampai kau membuat hatinya patah, maka aku takkan segan mematahkan batang lehermu didepan Dadymu. " kata Rehan lagi.


" Insya Allah itu takkan pernah terjadi Uncle. " ucap lelaki muda itu kemudian.


Lalu Willi mengucapkan salam, kemudian menutup telfon.


" Siapa yang kau telfon Pi? " tanya Anjani saat memergoki Wiliam selesai telfonan dengan seseorang.


" Sudahlah jangan cemburu! aku baru saja bicara dengan calon menantuku. " Jawab Willi dengan tatapan penuh misteri. Membuat Anjani agak ragu dengan perkiraannya. Hingga wajahnya mengerut.


" Bereskan wajah keriting mu, besok perbanyaklah perawatan dan senyum yang lebih, agar suamimu tidak memikirkan yang lainnya. " kata Willi.


Anjani mencubit pinggang suaminya karna kesal bercampur gemas.


" Aduh...sakit ! Daripada menganiaya suamimu seperti ini, akan lebih baik pijiti


punggungku ini, itu akan membuat pintu syurgamu akan terbuka lebar. " kata Wili menirukan perkataan Bella. Lalu ia membuka bajunya, berbaring telungkup ditempat tidur.


Anjani tersenyum lebar, ia salah pengertian dengan kata Syurga yang Wili sebutkan, maka ia melakukan pijitan yang mengelikan. Hingga tak urung, pengantin Usang itu akhirnya menikmati Honeymoon mereka berulang kali dimalam ini.


Ya Ampun....Tua - tua lengkuas, makin tua makin Ganas. He...He...