Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 31



Seorang ibu sesungguhnya takkan pernah bisa tertidur dengan nyenyak. Demikian juga dengan Citra. Walaupun Boy kecil tidak rewel. Tapi ikatan ibu dan anak sudah nyata terasa bagi Citra Hapsari.


Putranya yang asyik bermain, dan Rendra yang sibuk bekerja dengan leptopnya kalau sedang tidak mengurus mereka.


" Sebenarnya tak ada yang kurang dengan pria itu. Ia bisa jadi ayah yang istimewa bagi buah hatinya, hingga untuk mimik saja harus sang Dady yang menyodorkannya agar boy mau mimik dengan tenang. Ia juga mampu jadi suami siaga saat Citra dalam keadaan darurat. Bahkan tanpa lelah ia masih nampak bersemangat mengerjakan berkas untuk proyek- proyek besar perusahaannya.Sedang sang putra sepertinya semangat sekali memperhatikan ayahnya yang sedang berkerja. " Citra berfikir tentang kedua lelaki


yang sekarang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu, mau atau tak mau ia mengakuinya.


" Apa tak ada lelahmu siang malam bekerja? Bukankah Tuhan memberikan waktu siang untuk bekerja dan waktu malam untuk istirahat. " kata Citra dengan nada diplomatis. Tapi walau terdengar formal dan diplomatis, cukup membuat senyum tipis Rendra tak dapat dielakkan.


" Setidaknya sekarang sudah nampak perhatiannya


padaku, walau itu seperti perhatian seorang teman biasa. Setidaknya tidak menganggapnya musuh saja, sudah merupakan perkembangan baik bagi Rendra.


Ia kemudian menutup leptopnya dan segera berbaring disisi Citra walau masih berbatas bantal. Sedang boy disisi kiri momynya. Dan tatkala pagi tiba, bantal pembatas itu sudah terbang kebawah. Yang membuat citra kesal, ia selalu menemukan dirinya tergelung dipelukan suami yang dibencinya.


" Hatiku masih membencinya, tapi mengapa ragaku begitu nyaman dalam dekapannya. Memalukan sekali! sampai kapan aku akan bertahan untuk tetap membencinya? " kata Citra dalam curhatnya lewat telfon pada Adelia.


" Untuk apa dipertahankan kebenciannya neng...Mending buang saja kelaut. Kalau sudah nyaman ya lanjutin aja, ngapa pake menolak diri sendiri. Cek ile...yang udah mulai Bucin... " kata Adel seraya melelet sahabatnya itu melalui layar I pad nya.


" Ih...Bucin apaan? ngak ada! masih benci kok. " kata Citra.


" Benci terus neng...Benar- benar Cintrong! Ntar lagi mom mu akan benar- benar Cinta sama dadymu kayaknya boy.


Celup....ba..." kata Adel pada Boy sekalian momnya. Yang disambut tawa lucu Boy.


" Lihat tuh Boy saja setuju dan senang. Kamunya aja yang baperan. Benci dan busuk hati saja dipelihara.


Iya...Iya...Tampan. Senang kan punya Dady asli. Momymu itu pake membohongi diri sendiri, ntar Dadynya ditaksir sama model cantik baru tahu rasa! " kata Adelia yang membuat wajah boy mengerut ingin menangis.


" Cup....Cup...Cup...Dady palsu mintak ampun deh cayang...Ngak lagi deh ngomong gitu.


Makanya yang pintar buat mom and Dadymu makin dekat dan lengket kayak permen karet ya cayang...Biar momy ngak baper kali ditinggal nikah sama Dady palsu. " kata Adel pada Boy.


" Udah....udah lanjut kerja! Lama- lama nelfon, ngomong yang ngak benar terus sama putraku. " kata Citra memasang emot marah.


" Cek ki le...yang sudah jadi nyonya Pemilik perusahaan, sudah berani sok nyuruh karyawan kerja ya neng???" kata Adel pura- pura ngbek.


" Ya udah...Aku kerja dulu...dari pada ntar dikasih SP sama nyonya besar. Oh ya jangan lupa jaga kesehatan kalian bertiga. Dan jangan lupa


tanggal 02 bulan November harus terbang ke B untuk menghadiri pesta nikahan aku. " kata Adel


kembali kewajah cerianya.


" Ya iya...masih lama kali neng! Awas nyosor duluan. Ntar ngak dikasih kado, kalau sampai you


ngak bisa nahan diri. " kata Citra.


" Iya deh...kan kujaga baik- baik demi kado istimewa dari nyonya Penguasa. " Kata Adel masih


dengan gaya lebay akutnya.


" Jaga diri demi kado, demi Iman dong! " kata Citra.


" Up to you Cantik! Yang penting pernikahanku harus dihadiri oleh King, Quin and Prince Busines


in the Country.


" Lebay! biasa aja kali, aku ini bukan siapa- siapa. Kami hanyalah sahabat yang pernah bergantung hidup dengan Adeliya Rahma Wati. Itu faktanya. Selebihnya hanya Tuhan yang tahu. " kata Citra seraya menutup telfon.


" Kau memang keras sayang...tapi kau seorang wanita yang rendah hati, sederhana, jauh dari kata materialistis. Sudah seharusnya ia bersyukur menemukan gadis suci sepertimu, kalaupun ia harus berjuang keras untuk merebut hatimu. " kata hati Adelia setelah Citra menutup telfon.


Diusia Bhalendra tiga bulan. Hubungan Citra dan Rendra makin dekat. Bagaimana tidak? Punya Boy sudah tampan yang punya banyak kepandaian. Ia sekarang sudah pandai tertawa bersuara, bisa duduk sendiri. Kenal perasaan kedua orang tuanya.


Ia akan menunjukkan reaksi sedih kalau mereka sedang marahan, juga sebaliknya.


Saat boy duduk sendiri, hati kedua orang tuanya bahagia.


" Coba lihat sayang.. anak kita bisa duduk sendiri, padahal usianya masih tiga bulan. " kata Rendra bangga pada putranya.


" Iya ya. Bahkan ia sangat fokus sekali saat bermain Fazel warna. Boy memang sangat menyenangkan. Tubuhnya putih dan montok. Wajahnya sangat tampan. Ia tak suka rewel, ia


Lebih senang lagi kalau bermain dengan kakek Kims, apalagi main ditemani Momy dan Dady yang tampak mulai akur.


Malam ini, Rendra ingin menyampaikan rencana keberangkatannya ke Autralia Minggu ini.


" Sayang...Jaga kakek dan putra kita selama aku pergi ya. Jangan coba lari lagi dariku.Meski keujung duniapun, aku pasti menemukanmu " Kata Ren mulai percaya diri.


" Pergi kemana? " tanya Citra kecewa, karna ia sudah mulai biasa dekat dengan suaminya itu.


" Aku dan Hans akan ke Sydney selama kurang lebih seminggu untuk urusan Investasi sekalian mencari mesin tekstil disana. Sudah perlu rasanya pergantian mesin diPabrik kita. " kata Rendra menjelaskan tujuan perjalanan mereka pada sang istri.


" Apa tidak bisa Hans saja yang lakukan. Ingat dua Minggu lagi pestanya Adel. Bukankah kau akan ikut dengan kami menghadiri pestanya dikota B? " tanya Citra dengan tatapan memohon.


" Ngak bisa sayang...tapi itu hanya seminggu saja. Doakan saja perjalanannya lancar.


Setelah itu, tentu kita akan pergi bersama ke kota B, sekalian meninjau perusahaan kita yang disana. Pun aku mau melihat tempat dirimu dan Boy dulu berjuang saat boy baru- baru di didalam sini. " kata Rendra seraya menyentuh perut istrinya yang sudah kembali rata dan seksi.


" Itu adalah hal yang sangat berat bagiku. Kalau saja Adel terlambat beberapa detik saja,aku yang kalut sudah menggugurkan anak kita. " kenang Citra.


" Kita? Hati Rendra terlonjak girang mendengar istrinya mengatakan Kita untuk mereka. Ia makin berani menyentuh istrinya lebih gencar lagi.


" Maafkan aku sayang...tapi aku berharap kita bisa


mengambil hikmah dari apa yang sudah kita alami.


Hikmahnya sekarang, kita punya boy yang pintar dan tampan. " kata Rendra seraya mengecup putranya. Boy tertawa senang lalu menunjuk momynya. Kemudian ia sembunyikan wajahnya dibalik selimut.


" Apa sih sayang...Mommy juga dicium ya, biar boy sembunyi? begitu? " tebak Rendra mengartikan permintaan putranya. Boy keluar dari balik selimut. Trus menunjuk keluar.


" Ada apa sayang?" Rendra segera menggendong sang putra keluar. Bertepatan sekali tuan Kims datang dengan Joko. Boy langsung menunjuk sang kakek tuanya.


Mr Kims memang sengaja keluar dari kamarnya malam ini, karna Ingin mengintip keadaan cucu menantu dan cicitnya. Ia senang sekali melihat boy mengembangkan tangannya ingin bersamanya.


Bawa kekamar kakek. Biar malam ini dia bersama dengan kakek. Kalau minta susu nanti kami kembalikan dengan Joko. " Kata tuan Kims. Rendra


terpaksa menyetujui permintaan sikakek dan sikecil.


" Udah sana bulan madu! " kata sang kakek mengusir Rendra yang masih duduk ditempat tidurnya.


" Kakek...Rengek Rendra malu menatap Joko dan para pelayan orang tua itu yang ada disana.


" Dasar kakek resek! ngak bisa jaga mulut sedikitpun. " kata Rendra bersesungut saat meninggalkan ruangan itu.


Sampai dikamar ia disambut oleh istrinya dengan senyum termanisnya. Kemana boy? " tanyanya.


" Sama pacar tuamu itu! " kata Rendra yang masih kesal habis dipermalukan sang kakek.


" Kok bersesungut gitu? Berantem lagi sama kekasihku itu. " kata Citra menggoda Rendra.


" Benar dugaanku, kau lebih suka dengannya ketimbang aku. " kata Rendra seraya menangkap mulut istrinya yang mulutnya tak kalah resek dengan kakek itu.


" A...apa an sih? " tanya Citra dengan nafas ngos- ngosan saat berhasil keluar mengambil nafas, dari Kungkungan bibir Rendra.


" Habis mulutmu tak punya sopan santun kayak kakek. " kata Renda mulai berpindah keleher jenjang istrinya. Turun dan terus turun, sampai kepusat kota. Mereka sudah sama- sama polos. Siap untuk terbang bersama elang kesayangan Rendra.


" A...apa boleh? " tanya Rendra parau saat ia sudah tiba dipusat kota.


" Citra tak menjawab, tapi ia mengeratkan dekapannya, menggigit lembut kuping suaminya.


Begitu lampu hijau menyala. Rendra langsung jalan. Dari kecepatan lambat, sedang hingga kecepatan tinggi. Sampai mereka berdua terdampar dipulau terindah.


Bersambung....


Ekstra Part khusus buat keterlambatan Up semalam.


Salam manis buat yang mampir, kalau mampir jangan lupa mampir lagi. Dukung terus karya ini ya.


Kasih boom like, fote ,komen and faforitkan.


.