
Adelia membawa Citra ke Ke klinik Dr Ariyanto. Begitu sampai didepan klinik, Citra langsung protes.
" Kok dibawanya ke klinik sih Del, Citrakan mintanya kebidan aja, biar dites Urin saja. " Kata Citra seraya menahan langkah Adel.
" Ayolah...ngak usah segan periksa disini saja, sekalian USG biar jelas. Lagian dokternya Abang temanku. Orangnya baik, ora neko- neko- pokoknya.
Dengan ragu bercampur cemas, Citra mengikuti langkah Adel sahabat barunya. Adel dengan cekatan mengurus semuanya. Ternyata mereka juga tak perlu menunggu antrean lama, karna sebelumnya Adel sudah mengirim chat melalui WA
pada Dr Ariyanto.
Baru saja Citra ingin mengambil posisi ternyaman dalam duduknya, namanya sudah dipanggil. Dada Citra berdebar, jantungnya berdegup tak menentu. Saat kakinya ingin diangkat terasa berat. Ia kembali
dilanda kegugupan. " Entah mengapa, sejak pertama kali kenal dengan lelaki itu aku selalu dilanda gugup seperti ini, ini baru memikirkan kalau positif saja, aku kembali berkeringat dingin. " tanya batin Citra berkecamuk.
" Ibu Citra Hapsari! " Panggilan ketiga untuk namanya, namun ia masih belum juga sanggup melangkahkan kaki dan mengayunkan tangannya.
Sadar dengan keadaan temannya, Adel menarik tangan Citra, dan memapah tubuhnya menuju ruang Dokter Ariyanto.
" Hey...Adel..Selamat datang! Ada apa gerangan? Siapa yang mau periksa. Bukan kamu yang sudah kebobolan sama bosmu itukan? " tanya dokter Riyanto menatap Intens pada Citra.
" Ogah ah jawab pertanyaan dokter genit. Yang ditanya aku, matanya kebidadari disampingku.
He...He...He...." sang dokter terkekeh mendapat semprotan dari gadis manis teman SMK adiknya itu.
" Mata tu harus dikuliahin juga biar ngak jelalatan setiap lihat yang kinclong. " kata Adel lagi.
" Kalau yang kinclong dikota B sih bejibun Adel...Tapi temannya kamu ini beda dan punya nilai
plus. " kata Ariyanto, tentu hanya bisa ia ucapkan didalam hatinya.
" Hallo... jangan melamun tuan! ayo periksa temanku ini." kata Adel begitu melihat Dr muda itu masih terpaku menatap Citra.
" Ok...Silahkan berbaring nona. " katanya kemudian.
Setelah gadis yang nampak istimewa dalam pandangan sang dokter itu berbaring, dokter Obgyn itu segera mengoleskan Gel diperut rata dan indah milik citra. Ada rasa gugup dan takut saat mengoleskan Gel itu. Kemudian memasangkan alat diperut Citra.
" Aneh juga, sepanjang karirku, baru kali ini aku merasa cemas menyentuh perut orang. Siapakah gerangan pria istimewa yang memiliki bayi ini, yang
dengan menyentuh perut ibunya saja terasa ada yang melarang." tanya batin Ariyanto, kemudian memasangkan transduser diperut Citra.
" Coba lihat bayi anda nona, Usia kehamilan anda sudah 6 Minggu. Selamat nona! perkembangan baby anda terlihat sangat pesat." Jelas dokter Ariyanto.
Bub...Rasanya jantung Citra jatuh tergeletak dilantai. Sedetik Citra merasakan nyawanya melayang. Pandangannya buram, kepalanya berdenyut tak karuan.
" Tidak mungkin! bagaimana bisa? Ngak dokter! ini ngak mungkin Del.!
Aku ngak mau hamil! " Aku tak mau mengandung anak ini. Bagaimana bisa semudah itu. Hu...hu... Citra menangis histeris diruangan dokter Ariyanto, yang membuat dokter muda itu tercengang, ditatapnya Adel dengan tatapan selidik.
" Tolong tenangkan teman saya Mas Ari , ia shok dengan kehamilannya, lantaran ia sedang bermasalah dengan suaminya. " kata Adel menjelaskan.
" Masalah dalam sebuah hubungan itu pasti ada
nona. Tapi apapun masalah dalam rumah tangga, anak jangan sampai menjadi korban. Seharusnya
nona bersyukur diberikan kesempatan oleh Tuhan jadi ibu. Ada banyak perempuan yang kurang beruntung, meski program bayi tabung dengan cos yang tidak sedikit, tapi malah gagal. Ini diberi anak dengan mudah, nona malah mengeluh terlalu mudah. " kata dokter Riyanto seraya menyerahkan hasil USG tersebut pada Adel
" Kalian tidak akan mengerti..." saat ini aku merasa diriku sedang terpuruk dalam lubang yang sangat dalam, entah bagaimana caranya aku keluar dari
" Tenanglah mama...Boy akan bantu mama melepaskan mama dari jurang sedalam apapun.
Airmata Citra kembali bercucuran. Ia tak tahu apa yang akan perbuat lagi. Rasa takut dan malu mulai membayangi fikirannya yang kalut.
" Apa pak dokter kenal dokter yang bisa melakukan aborsi? " tanyanya Kemudian yang membuat mata Adel dan dokter Ari terbelalak.
" Saya fikir wajah cantik anda senada dengan hati anda yang baik nona. Tapi ternyata saya salah, wajah dan tubuh yang sempurna tidak menjamin
seorang wanita itu berhati yang bersih." kata dokter Ari sengaja menyinggung batin terdalam Citra.
" Anda takkan mengerti dokter, bagaimana saya akan membesarkan bayi ini tanpa ayahnya dokter.
Aku belum bersuami dokter, aku hamil karna suatu kesalahan. Ayah dari anak ini saja mungkin takkan tahu kalau janinnya tumbuh dirahimku. Yang dianggap Adel suamiku bukanlah suamiku. Ia hanya sahabat yang merencanakan meniduriku
dengan memberiku obat, tapi malah aku diculik dalam keadaan tidak sadar, hingga terjadilah semua ini. Aku bekerja, bagaimana aku bisa mengandung anak tanpa ayah ini dokter? " Cerita Citra tak mampu menahan aib ini didalam hatinya
" Jadi tolong tunjukkan saya tempat aborsi dikota ini dokter. " kata Citra memohon dengan memelas.
Hati dokter Ari tersentuh dengan cerita Citra, ia semula tak menyangka nasip pasien cantiknya semiris itu. Tapi sebagai dokter yang menjunjung tinggi nilai - nilai kemanusiaan yang tinggi, tentu ia tidak akan setuju dengan keinginan Citra.
Adel tak kalah prihatin setelah mendengar cerita Citra. Entah mengapa ia sudah sangat sayang pada Citra sejak pertama bertemu. Kini walau wanita cantik yang ada didepannya sedang mengandung anak yang bukan dari pernikahan Syah, tapi hati Adel malah makin sayang dan ingin menjaga dan membela Citra dan calon bayinya.
" Kamu tenang saja sayang...Dikantor akan aku jaga supaya posisimu aman. Jika ada yang bertanya, siapa ayah dari anak yang Citra kandung. Biar nanti aku jawab seperti cerita semula. Tenanglah...Semua akan baik- baik saja, Adel sayang sama Citra dan calon sidedek. " Jangan memikirkan soal membuang anak. Biarkan anak ini
lahir Cit, Jangan melanggar hak Allah Citra. Hanya Allah yang berhak atas nyawa mahluknya.
" Anak adalah anugrah terindah dalam hidup. Kalau memang tak ingin mengingat ayah baby itu lagi.
Andai Citra mau anaknya lahir dengan ada ayah, aku bersedia minikahi Citra, dan jadi ayah yang baik
untuk sikecil. " kata dokter Ariyanto tak kuasa menutupi keinginannya.
" Mas jangan ngaco! Emang mas kira. nikah itu soal gampang, semudah beli jengkol, terong sama cabe saat ini? " kata Adel seraya memelototi dokter muda itu.
" Ayo kita pulang Cit, lama- lama nanti kita disini, bisa-bisa yang diluar ngak dapat - dapat giliran berobat. Apalagi kalau dokternya kebelet pengen kawin ngeliat wajah mu. Ditariknya Citra keluar dari ruangan Dokter Ari.
" Tapi aku serius ngomong dari hati yang terdalam Del! " teriak dokter Arianto ketika mereka hampir menghilang dari pandangannya.
" Del...tapi Kitakan belum bayar. " kata Citra.
" Ya udah ngak usah difikirin, ntar aku tranfer kerekeningnya. Paling nanti pas istirahat dia akan catting aku. Tenang saja, urusan dengan dokter genit itu biar Adel yang ngurus. Pokoknya Citra harus tenang, jangan stres apalagi berniat buat aborsi lagi." kata Adel sembari menuntun langkah Citra dengan hati- hati.
" Pegangan yang erat ya. " katanya lagi saat Citra sudah duduk diboncengannya.
" Akusih ngak pa- apa kalau harus mati sekarang Del. " kata Citra yang membuat Adel tak jadi menghidupkan mesin motor metiknya.
" Kalau masih ngomong gitu Adel malas nih bawa motornya, biar Adel antar saja Citra balik keklinik, biar dicariin penghulu untuk menikahkan Citra sama dokter itu.
" Emang semudah itu main nikah- nikahin orang? " kata Citra tersenyum tipis.
" Gitu dong...senyum, biar baby-nya turut senang. " kata Adel kembali semangat menstarter motor meticnya.
Bersambung....
Baca terus kelanjutannya ya Cinta! Jangan lupa kasih sentuhan yang manis dengan ibu jari yang manis, buat mendukung karya ini.