
Menjelang pernikahan, seorang anak perawan, juga lelaki perjaka, memiliki pesona dua kali lipat dari semula. Hingga tidak jarang kisah Rahwana, terjadi juga dizaman modern ini. Jika cinta dan jodoh tidak saling bertemu, maka disinilah puncak kekandasan sebuah harapan yang teramat menyakitkan.
Chalista tak mau semua itu terjadi dengan dirinya, ia sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengan orang luar, menjelang akad diselenggarakan .
Empat malam lagi rencana pernikahan mereka. Tiap malam ada saja tamu yang datang untuk bertemu dengan
Chalista. Rendra sampai terfikir seribu kali dengan kemujuran Amer yang sudah berhasil merebut hati putrinya.
Malam ini, seorang lelaki dengan wajah termanis yang pernah Rendra lihat datang hanya untuk menemui Chalista.
Pria itu datang dengan mengendarai mobil Ferari.
Ketika lelaki muda dengan wajah manis dan tinggi 175 Cm itu memperkenalkan diri sebagai Alfiano Rehan.
Dari senyumnya saja Rendra sudah tahu kalau lelaki muda itu adalah putra pengusaha Rehan Mark Levi, pengusaha muda sebaya dengannya.
Pria itu hanya bisa melihat Chatista dari kejauhan, sembari Curhat dengan Rendra.
" Kasihku tak sampai Om...Bahkan putri om tak mau berjumpa denganku untuk yang terakhir, sebelum ia menjadi milik orang. " Keluh Alfin dengan wajah sendu.
" Apalah daya Om nak...Om hanya seorang Ayah, tak bisa om memaksa kalau yang punya badan sendiri memilih begitu, walau hati om sebenarnya ingin yang lain, jika putri ingin itu, Om hanya bisa mengangguk saja, tugas orang tua hanya mengingatkan, yang memutuskan masa depan masing- masing anak tetaplah diri mereka sendiri." Ujar Rendra sembari menepuk- nepuk pelan pundak Alfin.
Alfiano tersenyum pahit, setelah menyeruput teh hangat yang disajikan bibi, Alfian pamit untuk kembali.
" Jangan memutus hubungan denganku anak muda hanya karna satu putriku, karna putriku masih ada dua lagi yang tak kalah pesonanya. " kata Rendra yang membuat langkah pria itu terhenti.
Ketika pria itu berbalik, Entah ini rencana Tuhan, atau memang kebetulan, lewatlah Raisa yang mau mengantar adik kecilnya menuju kamar sang mommy.
" Ini putri kedua dan ketiga Om! " Seru Rendra dengan bangga.
Raisa menghentikan langkahnya dengan spontan sembari menatap sang Daddy dengan Alis mengernyit.
Belum sempat Raisa protes, Rendra sudah bicara lagi.
" Tapi masih perlu menunggu. Jadi intinya, nak Alfin tak boleh terlihat lemah begitu, Melangkahkan dengan pasti sebab masih banyak bunga yang menanti. " Ujar Rendra menasehati, sebab ia tak ingin lelaki itu kembali dengan wajah sedihnya.
Alfin melangkah mendekati Raisa. Namun diluar dugaan, ia malah meraih dagu baby Sonia yang tersenyum padanya.
" Sepertinya Om benar! Kita tidak boleh putus hubungan, aku suka putri om yang paling kecil, aku akan menunggu sampai waktunya tiba." Kata Alfin terdengar konyol.
" Ha...ha...Anak muda...ternyata selain berwajah manis kau juga lucu. " Ujar Rendra merasa geli.
" Terlalu pandai putramu membalasku Rehan..." batin Randra.
" Siapa namanya dik? tanya Alfian sembari menatap Raisa sekilas. Sonia Rendra Hapsar. " Jawab Raisa gamblang.
" Ia sangat imut dan lucu, sepertinya dia tidak akan tumbuh tinggi besar seperti kedua kakaknya." Alfin menilai setelah menyentuh lengan sikecil.
Kemudian, Alfin mengulurkan tangannya untuk mengambil babby Sonia.
Raisa menyerahkan Adiknya pada sang Daddy.
" Raisa kedalam dulu ya Daddy! " Ujarnya pada Rendra sembari mengangguk pada Alfin.
Alfin yang sudah mengambil alih menggendong Sonia dari tangan Daddynya, hanya tersenyum tipis. Perhatiannya sepenuhnya pada babby Sonia.
Alfin menimang Sonia selama setengah jam, senyum indah yang memamerkan deretan gigi putihnya, tak pernah lekang.
Rendra memandangi lelaki muda itu dengan kagum.
Sedang babby Girl itu terlihat sangat senang.
" Syukurlah anak muda, hanya dengan anak kecil saja, senyummu sudah kembali. Orang seperti ini pantas jadi menantu pilihan, tidak perlu minuman dan wanita liar tempat melampiaskan kedukaan." Kagum hati Rendra terbawa senang.
Jam dinding berdenting sebelas kali, Alfiano menatap benda itu sekilas.
Alfin mengembalikan Sonia kepangkuan Daddynya.
" Alfin pulang dulu om...Alfin akhirnya bahagia malam ini. Sepertinya Alfin akan menunda pernikahan sampai dua puluh tahun lagi. " Ucap Alfin dengan wajah serius.
" He...He...Itu tidak mungkin sayang...
Besok- besok kau pasti menemukan jodoh yang pantas, yang penting jangan sedih lagi. " Balas Rendra.
" Alfin tidak akan mencari yang lain lagi, cukup Sonia ditunggu besar. " Ucap pria itu sembari melangkah.
Rendra membuat pesan untuk Om Joko.
Jokopun datang, untuk mengantar tuan muda Alfin keluar rumah.
Setelah Alfin dan Joko jauh dari pandangan, Rendra menelfon seseorang.
" Ikuti kemana pria itu membawa patah hatinya. " perintah Rendra ditelfon.
" Baik Bos! Segera dilaksanakan." Balas seseorang dari sebrang.
Sementara,
Raisa menunaikan Isya berjamaah dengan diImami sang kakek dimusholla minimalis kamar Rinto.
Setelah berdoa, iapun pamit kembali keatas. Ia masih tidur dikamar Chalis sesuai janjinya.
" Kakak ngak mau menemui pria itu ya, sepertinya cinta kakak cukup tangguh pada bang Amer, teman kuliah sendiripun
tak Sudi ditemui. Bang Amer cukup beruntung , kakak bisa jaga mata jaga hati demi dia. " puji Raisa.
Chalista hanya tersenyum sembari membelai rambut Raisa.
Raisa terlelap dalam belaian sang kakak.
Sampai telfon genggamnya mendapat banyak notifikasi pesan, Raisa tak tahu." Seorang penggemar rahasia tengah mengintaimu dek, tapi kakak tahu kau takkan mudah ditaklukkan, paling nanti kalau kuliahmu selesai kau lebih memilih dijodohkan ketimbang pacaran. " Gumam
Chalista sembari menyelimuti adiknya.
Detik berikutnya I phone Chalista yang bunyi. Disana ada nama Beni.
Dreet...dreet..HP Chalis kembali bunyi. Setelah dilongok, ternyata Jabri. Chalis menyingkirkan telfonnya kenakas, kemudian segera beranjak ketempat tidur dengan wajah cemberut.
Hingga ketika Amer yang nelfon, ia sudah tak peduli dengan Benda pipih itu lagi.
Setelah capek mengulang panggilan, namun tak disambungkan, Amerpun memutuskan untuk tidur juga.
****
Pagi harinya, Rendra mengumpulkan semua anggota keluarga, usai sarapan.
" Apa Ita sudah mantap menjadikan Amer
sebagai Imam dan ayah dari anak- anakmu? " tanya sang Ayah didepan sidang keluarga, membuat muka
Chalista merah menahan malu dan marah.
" Dad- Kenapa tanyanya begitu? Bu...bukankah waktunya sudah ditentukan, dan disepakati?" tanya Chalis terbata.
Bukannya menjawab malah Rendra menanya lagi. " Sudah yakin tidak akan menyesal dikemudian hari? " tantangnya.
" Tidak akan! " Jawab Chalis mantap berbaur kemarahan.
" Kalau siap, obah sikap! Jangan suka bermuka merah dan gampang mengambil kesimpulan seperti selama ini! " Kata Rendra yang membuat semua menarik nafas lega.
" Kirain ia mau ngerecokin, ngak nyangka
cuma Frank mental putrinya ! Dasar pria lebay." Batin Adelia.
Akhirnya pernikahan yang diimpikan oleh pasangan yang dari bayi sudah dijodohkan oleh dua sahabat itupun terjadi juga, walau ada sebagian kecil orang yang bersedih, itulah kisah hidup.
Tidak selamanya yang cocok untuk kita, baik bagi orang lain.
Pernikahan dilangsungkan malam hari , yang dilanjutkan dengan acara Aqiqahan Bahar, Bahri dan babby Sonia pagi harinya.
Rendra tetap saja menggodok acara anak dan cucunya. Tapi untuk resepsi pernikahan, Chalista dan Amer diadakan diballroom hotel.
Raisa melepas perasaan tersembunyi nya pada Amer dengan Ikhlas. Seorang pria muda tampan sekarang dengan setia mengekori Raisa kemana pergi dalam acara pesta, tak membiarkan gadis itu sedikitpun berwajah mayun.
Boy tersenyum melihat adiknya tak lagi
sedih. Ia tak mencegah pria itu, tapi tetap
memantau perkembangannya.
Pesta berlangsung sangat meriah. Tamu berdatangan dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negara.
Doa pengantin berbagai kata, teruntuk Chalista dan Amer, semoga diIjabah oleh yang Maha Kuasa.
" Selamat pengantin baru! Semoga
bahagia sampai tujuh turunan! " Seru lebai Mila pada kedua pengantin yang sedari tadi tiada hentinya mengumbar senyum.
" Makasih cantik! Semoga segera menyusul kami! " begitu jawaban paduan suara pasangan pengantin itu.
Chalis lalu memeluk Mila, " makasih udah jadi teman yang baik yang selalu setia membantuku saat aku dalam kesulitan yang...Walau Mila adalah sahabat paling pamrih dan hobby malak, tanpamu Chalis
tidak akan bisa melewati segalanya. Sekali lagi thank ya sobat.! " Ucap Chalis dalam pelukan konconya itu.
" Sudah lebih dari kasih kok Cin...Kan semuanya ngak ada yang gratis! He..He...Kekeh Mila.
Antrian salaman langsung macet seketika.
" Walaupun berbayar, tapi serfis anda memuaskan! He...He..." Balas Chalista.
Kemudian kedua sahabat itu cekikikan.
" Ih...Baru kali ini aku lihat pengantin yang
ngak ada malu- malunya ngakak dipelaminan. " Timpal seorang wanita cantik datang dengan membawa babby Boy mungil.
" Zahra!!! " Kamu datang!!! Teriak Chalista
girang.
" Ialah...Bahkan kalau perutku sedang gembungpun aku pasti datang kepestamu Chalis! Apalagi ini sudah keluar! " Seru Zahra tak kalah sengit, hingga babby Boynya terkejut dan langsung mengoek.
Oek...Oek..Uha...uha....Tangis bayi itu menggema berantam dengan suara musik.
Kemudian tangan kedua pengantin itu terulur untuk mengambil babby Boy itu.
Seakan mengerti kalau sedang berhadapan dengan raja dan ratu sehari, bayi mungil itu menghentikan tangisnya, mengerjabkan sepasang mata lucunya menatap Chalis dan Amer secara bergantian.
" Anak pintar! Tadi suara bundanya kekencangan ya? Maklum sayang...bundamukan biasa menghalau Pipit disawah, sejak menikah. Cup...Cup...Ganteng Onty siapa nama? " Ucap Chalis menimang baby itu.
" Namaku Bayan Onty!.. Cepatlah buatkan anak perempuan untuk calonku ya..." Ujar Zahra menyeringai menatap kedua pengantin.
Chalis langsung mencubit pinggang Zahra, sembari menunduk malu.
" Kalau begini baru namanya pengantin baru, ada malu- malunya.
Kalau yang tadi kayaknya orang lagi rayain Anniversary yang kesekian. " Ucap Zahra, yang membuat kedua pengantin itu membelalakkan matanya, sadar Zahra meledek mereka.
Tiga musim percintaan turunan Kims sudah terlewati. Akankah ada musim keempat? Entahlah... Dibumi hanya ada Empat musim, kalau sampe Ada lima, Autornya pasti sudah pindah dimensi.
He...He...
Seperti biasa Autor selalu telat Senin.
Tapi tetap kasih like
dan beri apa yang masih ada ya...