
Aroma karbol dari desinfektan direspon oleh syaraf penciuman Bella tatkala ia membuka matanya perlahan diruangan serba putih itu. Pusat syaraf Bella menyimpulkan kalau ia sedang dirumah sakit.
Ketika netranya menatap sekeliling, untuk memastikan dugaannya, ia menemukan tangan kirinya terpasang jarum impus yang menancap di pembuluh Vena dipergelangan ya.
Sedang tangan kanannya digenggam oleh pria yang memang tak ingin Bella kalau sampai pria itu tak ada disisinya, barusan ia memimpikan pria itu, kalau sampai pria itu ngak disisinya, pasti ia akan mencarinya.
" Kamu sudah....
" Untung dia ada disini, kalau ngak aku pasti marah." Cerocosnya memotong ucapan pria itu.
" Boy menggenggam tangan itu, sembari tersenyum, kemudian membawanya kebibirnya, mengecup punggung tangan Bella dengan lembut dan hangat, lalu berkata " Tentulah aku disini sayang...bagaimana aku bisa pergi, sedang istriku terbaring lemah tak sadarkan diri!
" Tadi aku bermimpi, kita sedang bercumbu, tapi kau malah pergi dan menggantungku, jadi aku kesal, ngak dimimpi ngak dinyata kau suka menggantungku, aku kesal! " Gerutu Bella terpengaruh dengan mimpinya.
" Aku disini sayang...tak akan menggantungmu, yang tergantung botol infus yang berisi cairan saline yang akan menggantikan cairan tubuhmu yang banyak terkuras akibat kebanyakan kerja.
Sudah bekerja siang, malam olahraga pula, dibilang capek masih merengek, eh malah nuduh cintanya masih digantung.
Gantung apa lagi, tiap direngek dikasih dengan senang hati. " Sungut Boy.
" Ih...suami siapa sih?...Bisa juga ternyata cemberut ya? Hi...hi..." Kikik Bella sembari mengapai dagu suaminya, lalu memainkan rambut dagunya.
" Boy menangkap tangan nakal itu, lalu membawanya berkelana kesetiap sisi jambang yang tersusun rapi membentuk garis yang eksotis dari dagu sampai dekat kupingnya.
" Lain kali kalau ngak mau digantung lama, mainkan ini." Bisiknya dengan seringai mesum.
Meski pipinya Bella sudah merah karna malu akibat seringai dan tatapan mesum suami, Bella tak ingin melepas tatapannya. " Berarti disitu satu lagi kelemahannya. Oke...siapa takut ! lebih banyak tahu, lebih bisa mengalahkan tuan ditempat tidur. " ujar Bella tak kalah mesum.
" Ini istri makin lama makin nantang aja..." Ucapnya lirih.
Detik berikutnya Boy menunduk, memberi hukuman pada bibir lancang yang sudah berani menyatakan perang dan ingin menang darinya itu.
Ciklek...Bunyi pintu yang terbuka akibat dorongan dari luar membangunkan mereka dari ciuman yang masih berhawa sedang itu.
"Mhem...Mf tuan muda...Sa...saya tak tahu ka..." Seseorang berseragam putih dengan canggung memutar tubuhnya berbalik membelakangi pintu.
" Tak...apa...Kami juga minta maaf... Ada apa suster? " tanya Boy santai seperti tak melakukan dosa apapun, sedang Bella hanya tersenyum.
" Anu...dokter memanggil tuan muda.." Jawab suster itu tak berani menoleh, hatinya benar - benar kacau, menyaksikan orang berciuman bibir disiang bolong ini. Tapi salahnya juga masuk ruang tanpa mengetuk.
" Baiklah...suster boleh pergi...Aku akan segera menemui dokter. " Ucap Boy faham perempuan itu malu, karna ia dan istrinya sudah membuat mata dan hati suster itu terkena polusi percumbuan mereka.
" Salah sendiri, masuk ruang rawat VIV ngak ngetuk dulu. Untung ngak lebih berat dari itu. " Celetuk batin Boy.
" Sayang...Ditinggal menemui dokter sebentar ngak galau kan? " tanya Boy bernada narsis.
" Pergilah...tapi jangan lama ya! Aku tak tahan bau karbol ini, kalau tidak dinetralisir dengan aroma tubuhmu." Ujar Bella membuat kenarsisan suaminya naik level.
" Tenang sayang...hanya sebentar, habis ini suami terwangi didunia akan memelukmu. " Ucapnya dengan seringai lebay level atas.
Setelah meremas jemari kanan istrinya, Boypun berjalan meninggalkan ruangan itu.
Melangkah tegap melewati lobi, menuju ruangan Dokter Obygen jebolan fakultas kedokteran ternama , kakak senior di SMK yang baru tahun ini bekerja dirumah sakit sang Daddy.
Tok...tok...tok...Ketukan dipintu membuat
perempuan cantik berambut pirang itu
meraba badannya, untuk memastikan pakaian yang ia kenakan masih rapi dan tak ada kancing yang terbuka.
Setelah merasa oke, ia tersenyum tipis.
" Masuklah...sudah ditunggu! " Ucapnya.
Boy mendorong pintu, melihat dokter cantik berambut pendek itu tersenyum, kekhawatiran Boy menyusut. Ia membalas senyum dokter cantik itu.
" Apa Boy hanya ditatapi dan disenyumin aja, tidak dipersilahkan dudukkah kak Leen? " tanyanya kemudian.
" Alah...Ia deh...Apa mentang- mentang sudah dapat yang dihati, kak Leen ngak boleh lagi melirikmu barang sekejap Boy? Apa sekarang kau sudah masuk dalam persatuan para SUTRI (Suami Takut Istri ) , He! " Seru Catleene.
" Ngak lah kak Leen...Tapi aku termasuk suami sayang Istri. " Ujar Boy penuh percaya diri.
" Sayang istri katamu? sampe istri kekurangan istirahat disayang- sayang sepanjang malam, siang dibawa bekerja pula. " Gerutu sang dokter.
" Kak Leen dokter atau mak- Mak cerewet sih? Kalau dokter, cepat jelaskan kondisi istriku, jangan menahanku lama - lama diruanganmu, hanya untuk mencuri pandang padaku. Nanti Daddynya Def cemburu baru tahu rasa! " Ujar Boy bernada geram, berisi narsis.
" Dasar tukang kilah kau Boy. Bilang saja kau takut kelamaan disini, Bellamu yang bakal cemberut. " tebak dokter Centil itu tak mau kalah.
" Iya lah...pokoknya kalau kita lama- lama
berduaan disini, kedua belah pihak sama tuh Cembernya. Yakin aku...Daddynya Def takkan kalah ngamuknya dengan Bella! - Boy.
" Iya...kalau sama orang dia biasa saja sih, tapi sama Boy dia lumayan..." Gumam Kak Leen.
" Lumayan apa? tanya Boy.
" Lumayan kejang- kejang saat kakak ngehayal gimana malam pengantin Boy didepan Dia. He...He...
" Dasar Centil gendeng!!! Ngapain juga ngebayangin malam pengantin orang didekat suami, pastilah ia marah, siapapun pasti begitu hei..." Sarkas Boy.
" He...He...Habis kakak penasaran sih...Tapi sekarang rasa penasaran kak Lee sudah terobati. Ternyata kamunya
Buas dan Top! " Ujar Lee yang memang sudah akrap dengan keluarga Boy.
" Soal calon adik baruku, kau kira aku malu kak? tidak lah...Aku malah senang,
Boy bukan Abang yang sempit hati. " Ujarnya mantap.
" Iya...Iya...! Syukurlah kalau begitu, anugrah itu makin lengkap untukmu Boy!
Catleene merapikan krah bajunya, lalu mengulurkan tangannya.
" Selamat Abang yang gagah dan baik hati...Bibit premium anda sudah tumbuh! Anda selain jadi Abang, akan menjadi ayah juga . " Ucap dokter itu sembari mendorong surat dalam amplop putih diatas meja kearah Boy, karna Boy tak menerima uluran tangannya.
" Sebenarnya kakak pengen nyalam sama meluk calon ayah ini, sebagai wujud ungkapan selamat tapi...." leene menggantung ucapannya.
" Tapi takut ditolak dan dikatai " Maaf Bu dokter..Saya tidak bersentuhan dengan perempuan!!! Itukan yang ente ingin katakan. " Lanjut Boy.
" Pasti itu nada penolakannya bukan? jadi daripada patah hati mending gigit jari. He...He..." kekeh kak Leen.
" Kan sama aja tuh kak...pemborosan kata! " sanggah Boy.
Kemudian Boy menatap kak Leen, menyunggingkan senyum kepada dokter itu.
" Aduh...manisnya calon Ayah baru ini.." Batin Catleene berdecak kagum, tanpa sadar ia menelan silivanya.
Boy semakin ingin menggodanya.
" Sebenarnya bisa sih kak, meluk pria tampan ini, tapi harus berani minta izin dan dilakukan didepan Daddy sama ontynya Def. Ngak berani kan? jadi jangan mimpi...He...He...
" Terima kasih dokter cantik...Sudah memastikan kabar gembira ini. Tenang saja...bonus anda akan segera ditransfer sama aisten saya. Jangan melongo! Kerja yang fokus! Jangan mikirin suami orang , peluk tu Daddynya Def erat- erat kalau dah dirumah ! Bibir tuh ditutup... Nanti kejatuhan
taik cicak. Uek... He...He... Bye..."
Boy berlalu meninggalkan dokter muda itu dengan langkah ringan dan tanpa beban setelah merampas surat itu dari meja dan menggenggamnya erat ditangannya. Setelah diluar iapun melipatnya dan mengantonginya.
" Is...mana ada cicak diruanganku yang sebersih ini. Dasar pria lebay! Tapi akunya juga sih, selalu penasaran sama Boy, padahal aku dari dulu tahu, ia pobia sentuhan cewek, tapi Bella bisa ya buat
pria itu jatuh cinta. Ternyata Bella obat pobianya. Betapa beruntungnya putri om William itu, dan sekarang sudah berisi pula, tentu cinta mereka akan semakin kuat. " Umpat Catleene setelah Boy pergi.
" Tapi tak apa deh...meski pelit Kasih sayang, Boy royal soal uang, Bonusku pasti tidak sedikit. " ucapnya lagi sembari
tersenyum.
Sesampai didepan ruangan rawat Bella. Terdengar suara riuh dari dalam.
" Ternyata mami sama papi sudah nyampe ya..." Boy segera menyalami kedua orang tua istrinya bergantian.
" Bella kenapa Boy? tanya Willi setelah menantunnya itu duduk disisi pembaringan sang putri.
Bella mengalihkan pandangannya dari Boy, karna suaminya begitu lama, ia sudah merasa lama menunggunya. Kalau mami sama papi tidak keburu datang, Bella pasti sudah berjalan mencari Boy.
" Kayaknya lagi marah nih Pi sama aku, kelamaan diruangan dokter muda yang cantik itu. " Ujar Boy memancing Bella untuk menghadapnya.
" Jadi lama lantaran asyik mengagumi wajah kakak dokter cantikmu itu! " Geram
Bella yang membuat papi Willi malah terkikik.
" Ponakanku itu memang cantik Bella, ia juga dokter yang pintar. Apa kabar baik yang disampaikannya sayang? " tanya Willi sembari menatap Boy setelah memuji Catleene yang membuat Bella makin geram.
" Papi dari dulu tak pernah dipihakku, selalu membela orang asing! " Umpat Bella.
" Mana ada aku membela orang asing, aku cuma lagi memuji ponakanku, emang
begitu adanya. " Sanggah Willi masih betah melihat wajah kesal putrinya.
Sedang mami Anjani hanya tersenyum, menyaksikan persiteruan ayah, anak dan menantu itu.
Bella merenggut dan memaksa ingin duduk sendiri. Boy membantu Bella dengan hati- hati, tak peduli Bella menolaknya. Boy mendudukkan Bella dipangkuannya. Boy meraih sesuatu dari
saku kemejanya.
" Kabar dari ponakan papi itu, katanya papi dan mami siap- siap untuk menimang cucu ! " Ucap Boy yang membuat kedua mertuanya terlonjak.
" Benarkah??? Seru mereka hampir bersamaan.
" Insya Allah..." Ucap Boy sembari menyodorkan surat itu.
William dengan tidak sabar membuka surat itu bersama Anjani. Setelah membacanya mereka saling peluk.
" Allhamdulillah....akhirnya impian kita
punya babby terujud juga. Oh senangnya!!! Seru mereka berdua yang membuat kedua pasangan muda itu mengerutkan dahi.
" Kalau bisa yang banyak ya Boy buat anaknya, biar bisa dibagi sama papi dan mami. " Ujar Wili tanpa sadar.
" Emang anak kucing? mau dibagi- bagi. Ingat...cucu! berapapun kami punya tentu punya kalian. Tapi cucu namanya, bukan anak! " Tegas Bella.
" Terserah kamilah mau anggapnya apa, yang penting kami senang. " Kukuh Anjani membela suaminya.
Sedang Boy hanya senyum- senyum sembari mengecup puncuk kepala istrinya.
" Sudahlah sayang...tak usah mencemburui kebahagian mereka, biarkan mereka berkembang sesuai fantasinya, berkembang biak tak mungkin lagi, kita yang akan menggantikannya. " bisik Boy.