
Nomor baru masuk kekontak Citra. Ia tanpa sengaja menyentuhnya, hingga Calling itu terhubung.
" Hallo sayang...Apa kau ingin putramu selamat? " kalau kau sayang pada Boy, segera datang ketempat yang akan kukirimkan alamatnya berikut " kata suara dari sebrang sana.
Muka Citra yang putih merona langsung berubah jadi pucat pasi, mendengar nyawa putranya dipertaruhkan. Tapi ia tak mau panik. Ia mencoba bersikap tenang agar musuh tak bisa mengukur kelemahannya.
" Jangan bermain- main tuan Aruna! aku takkan semudah itu kau bohongi. Aku pastikan putraku baik- baik saja dirumah. Kalaupun ia sedang bersamamu, kau pasti takkan bisa menyakitinya. " kata Citra begitu mengingat suara ditelfon itu.
" OMG...luar biasa! kau bahkan sudah kenal benar dengan suaraku sayang...Kau begitu cerdas rupanya, pantaslah kau bisa menaklukkan hati Gay
konglomerat itu hingga jatuh cinta padamu. " kata Aruna.
" Gey???Mengapa ia mengatakan suamiku yang rakus Bugis ketan atau Nagasari dibilang Gey ? " tanya batin Citra.
" Kalaupun ia mantan Gay yang taubat, ngak mungkin juga aku sampai kao melayaninya diranjang? Ada yang tidak beres dengan ucapan pria ini. Ia pasti pria pecundang yang Iri hati dengan kesuksesan suamiku sejak dulu.
" Kata batin Citra menimbang.
Saat telfon Boy tak menyambung, hati Citra kian cemas. Lalu dihubunginya tuan Kims, hatinya makin ciut, saat mendengar teriakan panik tuan Kims kala tahu boy tak dirumah. Rasanya roh Citra terbang keneraka saking takutnya memikirkan putranya kalau benar sudah ditangan musuh.
Kemudian ia menuju ruangan Rendra untuk mencari suaminya. Diperjalanan notifikasi pesan berbunyi, ia segera membukanya.
Aku memang takkan menyakiti putramu Citra! tapi itu jika kau patuh dan mau datang ke Gedung S dijalan Xno 21 Sekarang. Jangan melibatkan suamimu, atau siapapun, jika ingin putramu baik- baik saja.
Bunyi pesan itu membuat dada Citra kian bergemuruh. Hatinya sakit, membayangkan kesayangannya jadi taruhan oleh lelaki yang dianggap suaminya sahabat, ternyata musuh besar itu.
Begitu sampai diruangan suaminya, Citra langsung menangis dan memeluk suaminya.
" Lelaki itu menculik anak kita demi untuk membalasmu, ia mengiginkanku sebagai penebus Boy. Aku akan pergi sekarang...Kau jangan buat tindakan gegabah yang akan melukai anak kita. " kata Citra langsung.
Kemudian ia bergegas meninggalkan suaminya yang tercengang. Satu detik kemudian Rendra tersadar, ia lalu berlari dan mencekal tangan istrinya.
" Lelaki yang mana maksudmu? jangan pergi sembarangan! Aku mau kita fikirkan bersama dulu jalan terbaiknya sebelum bertindak. " kata Rendra kemudian.
" Aku takkan sempat berfikir, kalau anak kita taruhannya Ren. Aku takkan sanggup hidup tanpa dia! Aku tak mau siapapun melukainya, seujung kuku pun aku tak rela! " kata Citra penuh emosi.
" Ada apa nyonya? Boy diculik? " tanya Hans begitu datang mendengar persitegangan kedua suami istri itu.
" Iya Hans...Tapi Citra mau bertindak sendiri, aku tak mau mereka berdua malah terjebak.
" Boy itu anak Genius nyonya. Ia pasti mencari celah untuk lolos. Nyonya tenang dulu. Kita atur strategi. " kata Hans menenangkan Nyonya muda yang sedang kalut itu.
" Jangan menghalangiku juga Hans! aku takut terjadi sesuatu dengan putraku! Bagaimana aku bisa tenang. Aku seorang ibu Hans...Bagaimana aku tenang saat nyawa anakku terancam.
Aku tak kenal watak Aruna yang selalu mengatakan suamiku Gay." kata Citra mulai terisak, airmata mengalir deras dipipi mulusnya.
" Aruna? Dia yang menculik Boy! Astaga!...Apa yang diinginkannya, aku yang akan mengejarnya. " kata Rendra dengan pandangan berkilat- kilat menahan marah.
" Ya apa hubungan masa lalumu dengannya? " tanya Citra menarik kerah baju Rendra.
" Tak ada selain teman sekampus. Jawab Rendra jujur. Ia memang merasa tak pernah ada masalah dengan Pria itu.
.
Sementara digedung S. Gedung tua yang dijadikan Aruna sebagai markas rahasianya. Ia sedang bernegosiasi dengan anak kecil yang membuatnya
pusing tujuh keliling.
" Om tampan...Mengapa menculik anak sepertiku, kayaknya om ganteng salah sasaran. Apa untungnya menculikku. Mereka takkan datang menjemputku. Aku hanya anak angkat, makanya selalu ditinggal. Bukankah om tahu Dady Rendra impotant. Bagaimana ia bisa punya anak kandung?
" Om pasti kaya raya, tidak butuh uang tebusan bukan? Bahkan om malah bingung, uang om mau
" Lepaskan ikatannya! anak ini brisik sekali ! " perintah Aruna pada anak buahnya.
" Bagaimana anak ini bisa membaca semua isi otakku. Bahkan ia berani mengukur kekayaanku.
Mengapa ibunya belum datang juga. Padahal aku ingin segera menikmati komolekannya, menghancurkan Rendra dengan memiliki istri kesayangannya.
" Apa benar ia anak angkat? Tapi masuk akal juga ucapan anak kecil itu, bagaimana bisa Rendra yang terkenal bengkok bisa punya putra seperti ini. " kata batin Aruna.
" Apa om Ganteng pernah dengar resepsi pernikahan Mommy dan Dadyku? Ngak ada kan? Mereka bahkan tak mengumumkan pernikahan mereka. Apa om ganteng tak tahu kalau aku sudah ada juga sebelum mereka menikah? Aku anak antah berantah. Aku bukan putra Rendra. Kalau ia benar punya putra, ia pasti membanggakan dan mengumumkan diMedia bukan. Bukankah ia konglomerat papan atas di Nusantara? Bagaimana bisa media tak mengendus kehidupan pribadinya kalau ada yang istimewa. " Cerocos boy lagi.
" Lupakan rencana buruk om pada ibuku om. Ia seorang perempuan yang tersiksa tinggal seatap dengan pria dingin itu.
" Sebenarnya apa hubungan om dengan Dady Rendra yang Mandul itu? " tanya Boy buat Aruna kian pusing. Gimana tidak, semua isi benak Aruna sudah dikeluarkan habis oleh Boy.
" Apa kau mau membantu om mendapatkan ibumu? Om ingin membahagiakannya. " Kata Aruna menatap Bocah itu. Ia mencoba berdamai dengan Boy, karna pusing dengan ocehannya.
" Baiklah om...Tapi pinjam HPnya dulu, biar ibuku tak khawatir. " bisik Boy dikuping Aruna. Aruna yang bagai terhipnotis menurut saja. Membuat anak buah Aruna menggeleng tak mengerti jalan fikiran bos mereka.
Boy secepat kilat mengirim pesan pada kakek Kims, kemudian Momynya. Citra yang sedang bersiap- siap ingin berangkat untuk menjemput boy
menghentikan langkahnya saat mendengar notifikasi pesan. Ia segera membuka pesan itu dengan dada berdebar. Kemudian ia tersenyum, yang membuat Rendra dan Hans mengerutkan dahi.
" Bagaimana kabar boy???tanya mereka bersamaan.
" Boy berhasil bernegosiasi dengan Aruna, ia bahkan bisa mengirim pesan lewat ponsel Aruna. Pasukan Kakek akan segera menggerebek gedung tua itu. Ternyata kau benar Hans. Putraku bisa menemukan kelemahan pria itu.
" Itulah nyonya. Bahwa setiap orang perlu berfikir jernih dan bersikap tenang walau menghadapi masalah serumit apapun. " kata Hans.
" Kau benar Hans! tapi seorang ibu takkan bisa bersikap tenang, kalau itu menyangkut keselamatan anaknya." kata Citra kemudian.
" Benar nyonya...Nahda dirumah juga begitu, saat Airin demam sedikit saja, ia sudah panik setengah pingsan. " kata Han menceritakan istrinya, sembari tersenyum lega.
Seperempat jam Kemudian...Tengah asyik berbicara dengan bocil yang ia culik, tapi malah terbalik. Bocil ini yang malah sudah menculik hatinya Aruna. Terdengar suara berisik dari luar. Beberapa detik berikutnya pasukan khusus milik Tuan sipit sudah menyapu bersih anak buah Aruna, bagai Vacum cleaner menyerap debu. Tinggal Aruna yang tercengang. Ia baru sadar kalau Bocil didepannya telah menipunya terang- terangan.
Saat pasukan tuan Kims ingin menangkap Aruna. Boy berteriak.
" Stop! Jangan menangkapnya. Boy adalah temannya. Kami masih akan mau melanjutkan negosiasi kami. " kata Boy bagai seorang ketua mafia yang menghentikan aksi anak buahnya.
Mereka semua mematuhinya. Boy melompat ketegkuk Aruna.
" Aku lapar om ganteng...Ayo kita cari makan. Om harus bertanggung jawab karna sudah menculikku dan tidak memberiku makan. Ayo traktir aku diRestoran terfaforit dikawasan ini. " kata Boy bergelayut.
" Piggi back ride my Uncle! " Kata Boy Bagai si Kliwon, monyet sibuta dari gua Hantu, boy bergelayut senang dalam gendongan belakang Aruna.
Sedang Aruna aliyas sibuta dari gua hantu zaman now, bergerak patuh, namun bahagia dengan perlakuan bocil itu.Beberapa anggota pasukan khusus tuan Kims yang masih mengikuti gerak mereka hanya geleng- geleng kepala. Kemudian melaporkan kalau boy baik- baik saja. Begitu mudah Menculik hati penculiknya." fikir mereka.
Tuan Kims mengusap muka keriputnya, ia bersyukur kalau cicit kesayangannya baik- baik saja.
Bersambung....
💕💕⭐⭐💕💕⭐⭐⭐💞💞💞
Happy reading say...😀😀😀
Selamat liburan Akhir pekan. Jangan bosan kasih dukungan untuk karya kita ini ya say...Mampir terus, ajak teman juga buat mampir. Kasih like, fote , hadiah, komen dan tambahkan kecerita faforitmu.
Miss you Always from Autor. M....h