
Boy memandang Dadynya curiga, saat Rendra menggantung ucapannya.
" Perempuan yang mana Dady? Jangan menyembunyikan apapun dari putramu sendiri."
Katanya.
" Tidak sayang...Dadymu hanya salah kira. " kata Citra membantu suaminya.
Boy menatap kedua orang tuanya bergantian. Merasa ada yang disembunyikan oleh mereka. Ia pun menarik Alden keluar dari ruangan itu.
" Aku akan mencari sendiri apa yang mereka sembunyikan dariku. Jika om masih ada waktu, boleh temani aku, jika tidak, Ayo balik. " kata Boy tegas.
" Untuk hari ini, om bebas tugas terkecuali untuk ponakan yang baik ini. " kata Alden berusaha membuat Boy tersenyum, tak lupa ia menyentuh dagu Boy, ketika mengatakan itu.
" Makasih om...Mereka mungkin berfikir aku masih terlalu muda untuk mengetahui sebuah rahasia yang mereka sembunyikan. " kata Boy mencurahkan isi hatinya.
" Bukan begitu sayang...Mungkin mereka tak ingin Boy jadi kefikiran tentang suatu masalah yang bisa
mengganggu semangat Boy. Orang tua selalu begitu sayang...Mereka takkan mau melibatkan anak- anak dalam persoalan yang rumit. Mereka selalu khawatir akan berpengaruh pada perkembangan buah hati mereka. " kata Alden memberi pembekalan pada anak sahabat yang ia sayangi itu.
" Entahlah om...Kita lihat aja nanti kata Boy sebelum menghubungi seseorang, dengan Smart phonnya.
" Bagaimana? Apa perempuan yang sudah mencoba membunuh Momyku sudah bapak temukan? " katanya pada seseorang diseberang telfon.
" Sesuai perintah Bos. Wanita itu sudah kami serahkan kekantor polisi beserta bukti kesalahannya, ia bukan pembunuh profesional Bos, ia melakukan itu karna dendam dan cemburu. " Jelas Jhon ditelfon.
" Baiklah tugas kalian untuk sementara selesai. Aku akan mengunjungi
perempuan itu sekarang". kata Boy.
" Kita ke Bekasi Om. " Kata Boy singkat.
" Rebes Bos tampan! " Jawab Alden, semberi menghidupkan mesin.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^°°°
Sudah malam sekali ketika mereka balik dari LP
yang berada dijalan Muh. Kahfi itu.
Alden melajukan mobil dengan pelan, sambil memperhatikan wajah Boy yang berubah drastis sejak berbicara dengan Jessy. Bagaimana Tidak begitu? Perempuan sinting itu hampir meludahi
wajah Boy. Lalu menghinanya habis- habisan.
Kalau tidak sedang di LP, Alden tidak akan segan- s gan menghancurkan mulut busuk wanita itu.
Tapi apa mau diperbuat, perempuan itu sedang dalam pengawasan polisi dan dijaga ketat.
Boy termenung didalam mobil. Terbayang kata- kata perempuan yang sudah melakukan percobaan
pembunuhan pada Momynya itu. Jiwanya terpukul
mendengar pernyataan tentang dirinya dari perempuan itu. Kepala Boy berdongak ketika ucapan wanita itu menggema dikupingnya, menusuk ulu hatinya.
" Apa? Kau tak lebih dari anak haram! Kalau bukan karna pertolonganku yang sudah mencampur minuman ayahmu yang Banci itu, pasti sampai hari ini kau belum lahir. Ayahmu kejam !
Ia sudah menghukumku dan membuangku dari tanah air hanya karna kesalahan itu saja, setelah itu, ia malah bersenang - senang menikmati hasil karyaku .
" Kenapa kau nampak terkejut? apa selama ini kau tak tahu identitasmu yang sesungguhnya, He! " kata Jessy seraya menyemburkan ludahnya kemuka remaja tampan itu. Boy bergetar menahan sakit atas penghinaan itu. Alden menariknya pergi dan membawanya segera pulang.
Alden menghentikan mobilnya dipinggir. Ia tak tega
melihat Boy termenung dengan Fikiran sekacau itu. Ia hendak menenangkan remaja itu. Walau ragu apa yang pantas ia ucapkan pada Boy. Tapi Alden tetap bicara.
" Sudahlah sayang...Jangan memikirkan ucapan perempuan sinting itu. Jangan sampai Boy berubah hanya karna omongan wanita yang dengki dengan kebahagiaan orang tuamu. " kata Alden sambil menepuk- nepuk pundak Boy.
" Wanita itu benar Om...Aku hanyalah anak haram...
Aku takkan masuk Syurga. Bagaimanapun hebatnya aku, aku tetap saja anak yang dilahirkan diluar pernikahan. Bagaimana aku tidak kefikiran Om. Om dengar sendiri apa yang perempuan itu katakan, kalau bukan karna ia yang mencampur minuman Dadyku, mungkin aku takkan pernah ada didunia ini, dan Momy sama Dady takkan pernah bersatu. " kata Boy kemudian.
" Momymu masih sakit Boy...Jangan membuat hatinya sakit, nanti berpengaruh terhadap kesembuhan lukanya. Boy harus kuat dan bersikap biasa saja terhadap semua ini. Apa Boy tak sayang
" Aku sangat sayang pada Momyku om. " Jawab Boy.
" Kalau sayang, jangan buat ia sedih. Masalah Syurga dan neraka, itu urusan Tuhan. Kita manusia hanya menjalankan kewajiban kita sebaik mungkin.
Orang yang Ikhlas, takkan memikirkan Syurga untuk menilai ibadahnya. Tapi Mencintai Tuhannya
dengan sepenuh hati, tanpa memikirkan dimana Allah akan menempatkan. Alden mengerutkan dahinya, anak ini memang diluar jangkawan..bisa- bisanya ia memikirkan sorga dan neraka ketika mendapatkan jati dirinya, Alden sampai berkeringat
memikirkan kata yang tepat untuk Boy. Ia terdiam sejenak, sambil menarik nafas.
" Beribadah lah pada Tuhan karna kita mencintainya sayang...Jangan memikirkan Syurga atau nerakanya. Jangan memikirkan bagaimana Tuhan menciptakanmu, dan membalasmu, tapi berfikirlah bagaimana Meningkatkan Cintamu pada Yang maha Kuasa." kata Alden mencoba lagi memberi pengertian pada Boy.
" Seperti Om mencintai Momy? " tanya Boy yang membuat Alden tersentak. Kemudian ia tersenyum
malu.
" Anggaplah seperti itu. Intinya jangan patah semangat dan berfikir buruk tentang dirimu. Justru
dalam hal ini, ayah ibumu tak bersalah. Dosa terbesarnya ada pada mantan pelayan bar itu.
" Jelas Alden.
" Tapi Dady sudah menghukumnya, membuangnya jauh, hingga begitu kembali ia sakit hati melihat kebahagiaan mereka. Tidak seharusnya Dady begitu, sampai membuang perempuan itu. " kata Boy terbayang kembali penghinaan yang dilontarkan oleh Jessy dengan penuh kemarahan didalam sel.
" Sudah sepantasnya Dadymu menghukumnya, tidak sepantasnya ia melakukan keisengan sebesar itu pada seorang CEO , sedang mereka tak ada urusan pribadi. Dadymu seorang yang Bijak Boy, ia sudah meletakkan sesuatu pada tempatnya.
" Didalam hidup ini, sebaik apapun suatu keputusan, tetap akan ada pro dan Kontra.
Jangan sampai patah semangat ya sayang...
Ingatkah sabda Rasul : Bahwa setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci. Jadi Boy harus tanamkan dalam hati, bahwa tak ada yang disebut anak seperti yang dikatakan Jessy itu. " Jelas Alden panjang lebar seraya mengusap kepala Boy, lalu membawa remaja galau itu kedalam dekapannya.
" Makasih Om...om sudah menyelamatkan Momyku dan juga hatiku hari ini. " kata Boy seraya membenamkan kepalanya didada bidang Al.
Sedikit beban batinnya berkurang.
" Jangan terpengaruh dengan ucapan orang sayang...Tetaplah menjaga kasih sayangmu pada orang tuamu. Ingatlah bahwa mereka sudah memberikan yang terbaik untukmu, takkan ada niat
buruk, andaipun ada yang tak Boy ketahui, itu mereka lakukan hanya untuk membuatmu nyaman.
Jangan sampai berburuk sangka pada mereka ya!
mereka adalah orang yang baik. " kata Alden lagi.
Boy tak menjawabnya,, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah melihat Boy mulai tenang, Alden kembali menghidupkan mobilnya.
" Kita kerumah dulu ya Om...Aku mau memeriksa berkas pernikahan Momy dan Dady. " katanya .
Alden angkat bahu. Ia tak tahu lagi mau bicara apa,
kemudian ia mengangguk. Lalu dengan patuh mengikuti keinginan Boy. Ia menjalankan mobilnya menuju Istana Almarhum Kims yang sekarang menjadi milik Rendra.
Sementara dirumah sakit, Rendra gelisah menunggu kedatangan putranya. Ia takut pertemuannya dengan mantan Waitres itu akan menyakiti hati putranya. Rendra benar- benar khawatir, Boy akan merasa kecewa kalau
Jessy sempat membeberkan masa lalu mereka.
" Duduklah disini sayang...Kenapa kau mondar- mandir seperti itu. " kata Citra memanggil Rendra.
" Aku takut Boy kecewa dengan dirinya sayang..
Bagaimana kita akan mengobati perasaannya.
" Entah sayang...Kita hanya bisa berbicara baik- baik. Dan tak lupa berdoa untuk itu. " kata Citra.
Tanpa terasa airmatanya menetes.
Bersambung....