Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 88



Ribuan orang berkumpul dan bergembira menikmati pesta Akbar peresmian pernikahan ini. Pesta tema kombinasi Room party dan Garden party yang diselenggarakan Oleh HN IO cukup sempurna membuat kelima pasang pengantin menjadi Raja dan Ratu semalam yang istimewa. Gelak tawa terdengar dimana- mana.


Lima pasang pengantin terhias senyum bahagia menyambut para tamu. Tak nampak perbedaan mana pasangan lama


dan pasangan baru jumpa disini. Yang ada hanyalah kemesraan yang terpancar dari wajah- wajah pengantin.


Saat khatam bersama digelar.Suara musik berhenti. Khatam bersama ini kalau dikampung- kampung daerah diadakan dipagi hari. Namun karna ini pesta modern, maka acara khatam bersama diadakan disore hari.


Sebagai acara penutupan pesta, Setelah


khatam semua kerabat pengantin dipanggil untuk berkumpul. Disinilah suasana tawa berubah jadi keharuan. Tatkala penyanyi kasidah menyanyikan lagu Ibu mafkanlah, Airmata tak dapat dibendung, bercucuran dipipi. Make up mahal mereka seakan tak mampu bertahan dari derasnya air bah keharuan acara sungkeman.


" Maafkan anakmu Mi.. Pi... ayah bunda. ..kami mohon doa dan restunya untuk menjalani hidup berumah tangga, Maafkan kenakalan kecil kami dulu, yang mungkin kadang pernah melukai hatimu. Hari ini adalah hari dimana kami akan kalian lepas bersama jodoh yang sudah ditakdirkan untuk kami. Semoga takdir ini mengikat Cinta kami kuat, dan kekuatan cinta bisa menangkal segala bentuk cobaan dan ujian berumah tangga, yang kata orang tidaklah semudah melafalkan kata.Tolong Ridhoi kami...karna Ridho orang tua adalah Ridho Tuhan Jua.Ya Allah...beri kokohlah jalinan cinta yang akan kami bina dengan berumah tangga... Sekali lagi maafkan kami ayah dan bunda...Hik...hik..." Bella tak mampu meneruskan kata- katanya, ketika diminta menyampaikan sepatah kata mewakili para pengantin. Detik berikutnya suasana menjadi haru dan biru. Fotografer terus mengabadikan setiap momen yang penting itu.


Malam hari, tersisa acara perjamuan diruangan dan persandingan pengantin dengan memakai gaun malam sebagai sentuhan make up yang terakhir.Setelah


berfhoto mesra dengan pasangan masing- masing dengan berbagai Gaya. Para pengantin wanita membuat ide untuk fhoto berlima. Demikian juga pengantin pria.


Usai fhoto bersama, Zahra mendekati Bella.


" Untuk pengamanan pesta kita cukup kuat la. Tadi sempat lho si Delon datang untuk mengacau, ia tak terima lho nikah sama Boy. Rupanya selama ini ia selalu mengintai Bella, tapi karna Bella berubah penampilan, Delon ragu. Tadi ia masih mengacau didepan pagar, tapi pasukan khusus Tuan muda sudah menuntaskannya.


" Pasukan khusus apa?Bella bingung tak mengerti.


" Jadi pengusaha itu tak mudah ternyata la. Disamping kemampuan berbisnis, Bella diri, ternyata mereka juga punya orang - orang terlatih yang memiliki tugas


untuk menjaga keamanan keluarga dan orang- orang tercinta, dari ancaman musuh yang kadang tak terduga. Dalam kerajaan bisnis sebesar yang om Rendra kelola, tak sedikit masalah yang meski dihadapi. Keluarga Kims ternyata punya pasukan rahasia. Boy pewaris pembina komunitas itu, setelah kepergian Almarhum uonya.Ia bahkan sudah terlibat dengan semua itu sejak berusia Lima tahun.


Bella termenung sejenak.Fikirannya melayang kedepan. Ia sudah selamat menjaga dirinya hingga hari ini, ia sudah dapat mewujudkan impiannya menjadi nyonya Boy. Tapi kedepannya masalah tidak akan berhenti disini, tangis


akan berganti dengan tawa, siang berganti malam. Diantara siang dan malam kadang ada hujan, kadang panas, badai,bahkan Gempa melanda bumi. Demikian juga hidup, pasti silih berganti.


"Semoga apapun yang terjadi dalam kehidupan dimasa mendatang, cinta kami kuat menjaga bahtera rumah tangga ini, berlayar menuju tanah Tepi." Batin Bella berharap.


Lamunan Bella tersentak. Tatkala kehangatan ia rasakan menyentuh pundaknya. Ia mendongak memeriksa pemilik tangan kokoh yang sudah melingkar dipundaknya." Boy?


" Ya aku...ada apa ? Awas berharap yang lainnya ya? " Katanya.


" Bukan...tadi aku lagi bicara dengan Zahra . " ujar Bella.


" Bingung dihari bahagia tak baik. " Boy menjentik hidung mancung Bella.


Bella menarik nafas untuk menetralisir suasana hatinya. Boy mengernyitkan dahinya. Kedua alis tebalnya menaut.


Lalu tangannya berpindah meremas jemari Bella. Kehangatan mengalir melalui sentuhannya. Pipi Bella yang tersentuh make up semakin menyala. Telinga dibalik kerudungnya merah. Bibirnya bergetar. Banyak kata dan tanya yang terlintas didada, namun tak sanggup ia ucapkan.


" Kenapa diam? Tidak bahagiakan? " tanya Boy membalikkan tubuh istrinya menghadapnya, meraih dagunya dengan tangan kanannya, sedang tangan satulagi


menekan tengkuknya. Memandangi istrinya sangat dekat, menyelami telaga beningnya. Mencari apa yang tersimpan didalamnya.


Bella kian gemetar, tapi hatinya bahagia.


Ia ingin menghancurkan bibir lancang itu yang sudah berani mempertanyakan ketidak bahagian padanya. Tapi mana Bella sanggup. Menatap mata itu saja membuat seluruh sendinya lemah.


" Mana semua? kok sudah sepi? " tanyanya mengalihkan pembicaraan.


" Semua sudah istirahat. Tinggal panitia saja yang berkemas. Bella terlalu banyak melamun. Boy jadi ragu. Menyesalkah?


Kali ini Bella benar- benar tak tahan lagi dengan ucapan suaminya. Entah dapat kekuatan dari mana, detik berikutnya ia membekap bibir berbisa itu, menggigitnya hingga bau darah menghentikannya. Bella tersadar, mengambil sapu tangannya untuk membersihkan luka dibibir Boy.


" Aku menyakitimu! Maaf..ucapnya lirih.


" Pandai sekali ya? sudah melukai mengobati. Tapi tak apa, aku suka. " bisik Boy ditelinga Bella. Kuping itu kembali merona. Untung ada kerudung, kalau tidak tentu Boy sudah melihat betapa telinga putihnya seperti udang dipanggang.


" Apa kita disini sampai pagi? ngak berniat masuk kamar? " tanya Boy yang membuat Bella kembali merasakan dadanya berkecamuk.


" Bimbing aku keatas, rasanya lemas sekali karna capek. " kilah Bella.


Boy tersenyum menggoda. " oke..perlu digendong?


Bella memberanikan diri. " kalau gendong


dikamar saja. Disini malu, masih ada orang.


Berarti dikamar boleh dong..oke..ayo kita kekamar. " katanya menarik lembut tubuh istrinya agar berdiri. Lalu membimbingnya berjalan menuju tangga. Bella menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.


Bella mulai membuka hiasan kerudungnya, berikut semua penutup kepalanya. Namun ketika ia ingin membuka resleting gaunnya, itu terasa macet, ia kesulitan. Boy baru saja selesai mandi dan masuk dengan berbalut handuk. Melihat Istrinya kesulitan, ia segera menghampirinya. Menggapai punggung Bella, lalu pelan membuka resliting itu. Ketika punggung putih Bella terpampang dimatanya. Ia tak kuasa menahan hasrat untuk tidak menyentuhnya. Ia menempelkan bibirnya dibawah tengkuk istrinya.


Bella merasakan kehangatan menjalar dari tengkuknya, membuat nafasnya kembali tak beraturan, dadanya bergemuruh.


" Jadi dibukain ngak? Bella belum Sholat." katanya setelah mengatur nafas.


" Astaga...Aku juga lupa...jadi batal dan terpaksa diulang Wuduknya. " ucap Boy sembari mengetuk jidatnya sendiri.


Bella terkikik. Hingga kecanggungannya berkurang.


" Ya udah...Wudhu lagi cepat, biar Bella nyusul mandi. Kan katanya mau jadi Imam yang baik. " tantang Bella.


" Oke..sayang...tiga menit cukup. " Boy segera menuju kamar mandi.


Sholat Isya diImami suami, kemudian dilanjutkan dengan shalat Sunnah. Hati Bella kian damai.


Setelah memanjatkan doa pada yang maha Pemilik langit dan bumi. Mereka saling pandang.


Detik berikutnya, Bella mengulurkan tangannya, dan bersimpuh dihadapan Bhalendranya.


Boy meraih tangan yang terulur itu, menggenggamnya erat, lalu memindahkannya ke pipinya, Menggesekkan tangan halus itu pada bekas cukuran jambangnya. Lalu mengecupnya beberapa kali.


" Sudah siap Zohir batin? " tanyanya sembari menatap Bella intens.


Bagai rusa kecil yang terperangkap Bella gemetaran. Ingin laripun takkan bisa, maka ia memutuskan berlari kepangkuan


Boy. Merebahkan kepalanya didada bidang Suaminya. Merasakan dan membandingkan debaran hatinya dengan


debaran yang ada disana. Boy perlahan membuka mukenanya. Lalu membelai rambut panjang dan berwarna hitam kecoklatan milik Bella sembari menekankan bibirnya dipuncuk kepala itu. lalu melafaskan doa.


" Allahumma Asaluka minkhoirihaa wa khoirima jabalthaa alaih wa Sharrima jabalta Alaih."


( Ya Allah...sesungguhnya aku mohon padamu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang engkau tentukan atas dirinya.)


" Amiin....


Sekarang Bella pasrah dalam dekapan suaminya. Toh ini juga kemauannya. Ketika Boy mengarahkannya ketempat tidur, Bella mengikutinya.


Ketika sudah dibawah Kungkungan Boy, Bella kembali bergetar. Seluruh tubuhnya panas dingin. " Dulu sebelum dapat hatiku rasanya tak takut menggodanya. Ini sudah jadi, kok malah gugup Begini? " Ringis batin Bella.


" Sayang...namanya juga belum halal, jadi banyak setannya. Ini sudah Syah, jadi setannya dah kabur, jadi besar takutnya. "


Boy membelai istrinya penuh sayang...Menghembuskan nafasnya dalam- dalam.


Bella terdiam sembari menyembunyikan wajahnya dibalik dada Bhalendranya.


" Gimana ? belum siap ya ?kalau begitu tidurlah dulu.Mungkin terlalu capek juga


habis acara. Tak apa kita lakukan bila Bella sudah tak gugup lagi. "Boy mengecup keningnya, berbaring santai disisi Bella, lalu menarik selimut kemudian memejamkan matanya.


Bella terkesiap, dadanya panas, ia mulai marah. Dengan kemarahannya Ia tak sadar menarik suaminya kasar kedalam dekapannya.


" Enak aja ,mau tidur santai, selesaikan dulu urusan ini. Baru boleh tidur! " katanya dengan nada emosi.Lalu Ia menggigit bahu Boy.


Boy tersenyum nakal setelah membuka matanya. " Kalau sudah siap jangan lupa baca doa. " Ujarnya. Lalu mulai menekan dagu istrinya, menatapnya sejenak, kemudian melabuhkan kecupan panas dibibirnya. Mereka saling mengesap,


Boy bagai singa lapar, melahap habis mulut istrinya, lalu turun ke leher jenjang Bella , meninggalkan jejak kepemilikan disana. Bella mendesah, Tangan Boy makin liar, Mereka bergetar bersama, karna ini yang pertama untuk mereka


, namun secara alamiah mereka saling berbagi lahan olahan. Dengan impian yang sama, menanam diladang Asmara.


Mereka kembali saling pandang sejenak.


lalu saling melucuti. Tubuh mereka memanas, tidak bisa dihentikan lagi.


Bella meraih tengkuk suaminya, tak mau kalah dengan permainannya.


" Tak menunggu bulan madu? " tanya Boy tatkala tubuh mereka sudah polos.Bella tidak menjawab. Hatinya makin panas, tanpa sadar, disentuhnya senjata rahasia


Suaminya. Boy tersenyum, sembari membantunya memainkannya. Hati Bella sungguh takut, tapi rasa kesal dan penasaran menggelapkan matanya.


" Sudah sampai disini, ia masih tanya begitu?" batin Bella kesal.


Boy tersenyum lalu melanjutkan kenakalannya.