Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 79



" Ka...ka...Kau? tanya Bella pendek setelah berhasil dengan susah payah membuka mulutnya yang kaku.


" Ya...Aku datang...Bhalendramu...datang


menjemputmu, sekaligus menyampaikan


berita penting untukmu.


" Tapi sepertinya aku berubah fikiran, kau sekarang nampak bandel, kau bahkan berani bertandang kerumah orang. Apa yang terjadi? mengapa kau berani melupakan hari dimana aku mengikatmu Bella? Apa karna bosan menunggu kau sudah berubah fikiran? Kalau begitu baiklah...aku akan kembali. Dirumah ada calon mertuaku yang sudah mengatur perjodohanku bersama mommy dan Daddyku.


" Aku mencarimu dirumahmu, tapi kau bertandang kerumah orang lain. Berarti kau tiada mengingatku lagi sekarang. "


" Kalau seperti itu adanya, akupun takkan menolak perjodohanku. Cinta menjelang pernikahan mungkin banyak dosa dan khilafnya, tapi cinta setelah menikah, jika datang lebih indah." Boy berkata dengan entengnya, membuat wajah Bella memerah menahan amarah, dibalik penutup wajahnya.


Bella tak tahan, bibirnya tak bisa berucap, pria ini telah mematahkan lidahnya, hatinya, merontokkan jantungnya.


Air mata Bella mengalir bagai hujan.Berikut ingusnya berkeluaran, membasahi penutup wajahnya.


" Bisa- bisanya ia menerima perjodohan, setelah banyak perjodohan yang kutolak untuknya. Dasar pria menyebalkan, berani sekali lagi kau berucap, maka Bella akan merobek mulutmu." rutuk batin Bella menahan sakit.


Boy menatap Bella yang bersimbah airmata. Lalu ia menggendong Bella dengan entengnya.


" Ayo pulang! tak baik kutinggalkan kau sendiri disini, menangis- nangis dirumah orang. Dasar gadis cengeng! kau tak pernah berubah, selalu cengeng." cerocos Boy. Bella menyembunyikan wajahnya dibalik kemeja pria itu, menghapuskan ingusnya yang sudah memberatkan penutup wajahnya pada kemeja mahal milik cowok itu.


Sedangkan dibaik pintu, tiga pasang mata mengintai kepergian mereka, Boy mengedipkan matanya meminta izin.


Ketika ibu dan kedua anaknya mengacungkan jempol mereka. Boypun melanjutkan langkahnya membawa Bella.


" Selain masih cengeng...kau tetap juga jorok seperti dulu." kata Boy lagi.


" Terus saja ! terus saja kau bongkar seluruh isi hatimu Boy.Aku tak peduli kau bilang akan menikah, tapi aku tahu, hatimu milikku.Bahkan kau tidak lupa kalau aku suka menghapuskan igusku kebajumu." Batin Bella terlonjak.


Boy mendudukkan Bella dimobil, kemudian duduk disisinya.


" Jalan bang Mamat! " perintahnya yang membuat Bella terbelalak.


" Dasar pria pelit!!! Kemana mobilmu? " tanya Bella setelah menyadari kalau Boy membawanya kedalam mobilnya sendiri.


" Bukankah kau senang menculikku dengan bang Mamat. Sekarang bang Mamat mengkhianatimu. Aku yang menculikmu dengan menggunakan sopir dan mobilmu sendiri." Boy berkata seraya menarik Bella kepangkuannya. Mendekapnya hingga tak lagi bisa berkata- kata.


" Kalau aku bawa mobil sendiri, bang Mamat akan menganggur sayang...Lagian aku hanya ingin berkencan denganmu ditemani bang Mamat saja, biar bang Mamat bisa menjaga kita. Aku tak mau kerinduanku, membuatku menghancurkanmu. Sedang sebentar lagi aku akan menikah dengan jodohku. " kata Boy sembari menempelkan bibirnya dikepala Bella.


Bella berontak dan menggigit bahu Boy.


" Kalau kau bicara tentang pernikahanmu lagi, aku akan menggigiti seluruh tubuhmu sampai berdarah. Aku tak mau menangis lagi. Cukup sudah lima tahun aku menangis menunggumu. Kalau kau berani menikahi gadis lain, maka aku akan membunuhmu dihari persandingan mu. " Bella berkata sembari menggerutukkan giginya.


" Bang Mamat ! Cobalah dengar betapa


sadisnya ucapan majikanmu, apa ia akan bertanggung jawab dengan perkataannya? Sanggupkah ia membunuhku dihari persandinganku?


Kita lihat saja nanti, apa yang bisa ia lakukan. " kata Boy kemudian.


Katika Bella ingin bicara lagi, boy sudah menutup mulutnya dengan jemarikanannya.Sedang jemari kirinya, sibuk membuka pengikat Cadar Bella.


" Ini sudah jorok, banyak ingusnya, dibuka


saja. " katanya enteng. Setelah berhasil membukanya. Iapun meraba setiap sisi wajah kekasihnya itu. Bella kemudian diam, tak mau berfikir lagi. Dadanya berdebar tak menentu, merasakan debaran dada kekasihnya yang bergemuruh. Juga bendera perang boy yang menancap dipertengahan pinggang Bella.


"I...I.. Inilah sebabnya sayang...mengapa aku tak bisa pulang selama lima tahun ini." Kau sudah tahu kan jawabannya? bisiknya dikuping Bella.


Bella terdiam menikmati debaran hatinya. Ia tidak lagi berfikir tentang apapun. Ia memejamkan matanya, sembari menyatukan tangannya dengan kekasihnya. Untuk saat ini, hanya itu yang


bisa ia lakukan, ia tak seperti waktu dulu lagi, ia takkan berani merayu Boy untuk menatapnya, karna ia sendiripun takut akan konsekwensinya.


" Bella pasrah pada takdir dan jodoh kita


Bhalendra...hanya satu yang Bella tahu, kau tidak mengalami hal seperti ini dengan gadis manapun didunia ini. Hanya ada Bella disini..." Bella menyentuh dada Boy yang getarannya menghadirkan nada yang tak dapat disembunyikan dari Indra pendengaran Bella.


Bang Mamat menghela nafas berat, ia tak lupa curi pandang melalui spion mobil.


" Lima tahun bukan waktu yang singkat, mereka melepas rindu masih dengan cara yang sama, berpangku dalam pengawasanku. Boy pencuri kecil kami. Sebentar lagi kau akan melepas masa lajangmu, tidak terasa waktu berlalu. Sedang aku masih seperti dulu, selalu jadi penonton setiap tingkah nakalmu.


Tuan...Cicit kesayanganmu sudah dewasa! Ia jauh lebih mempesona dari Cucumu. " pasti dialam sana kau bahagia


Setelah ada hujan lebat pasti ada pelangi


Kau telah tiada, tapi pelangimu sekarang ada dihadapanku. " Mamat berucap dalam hatinya, sembari mengingat mantan tuannya.


Sedang sepasang anak manusia itu sudah terlarut dalam mimpi mereka.


Begitu sampai didepan Mension Bella. Bang Mamat bingung bagaimana membangunkan kedua orang itu.


" Bangaimana caranya ini? aku takut para orang tua melihat mereka yang tertidur mepet begini. " gerutu Mamat ketika mereka sudah sampai diparkiran mension Bella.


Bella tersintak mendengar gerutuan Mamat.Matanya membulat melihat mobil Rendra ada disamping mobil mereka. Ia buru- buru keluar dari mobil. Mengutip cadarnya dengan gugup, lalu memakai nya.


" Tolong bangunkan Dia bang...aku duluan masuk...Ada Uncle Rendra didalam, Bella malu." kata Bella.


" Baik non...Non masuk saja duluan, bang Mamat aja gugup. " ucap bang Mamat sembari mengusap rambut Boy.


" Nak....Bangunlah...ia sudah masuk duluan. "


" Aku sudah terbangun dari tadi paman...Hanya saja aku ingin mengintip reaksi gadis ku, ternyata ia masih takut dan malu kalau sudah berurusan dengan Daddy. Kalau sama mommy ia manja sekali.


" Itu wajar lah nak...perempuan berbudi mana yang tak segan sama ayah mertua.


" Iyalah...Aku tahu walau darahnya Eropa,


hatinya tetaplah asli Jawa.


Bella berjalan menunduk, melewati dua lelaki yang sedang asyik berbincang. Entah apa yang sedang mereka mufakatkan. Kalau urusan bisnis, tak biasanya dibahas dirumah.


" Sayang...Sini Salami Uncle Rendra dulu, baru bergabung kedalam dengan para nyonya. " kata Willi papi Bella. Membuat


sang putri tertunduk malu, lalu berbalik.


Bella menyalami Rendra dengan tangan dingin bergetar.


Rendra tersenyum. Sembari menyilangkan kedua tangannya.


" Masuklah sayang...Urusanmu hanya dengan para mommy." kata Rendra membuat Bella lega.


" Ba...baiklah Uncle...Bella masuk dulu." katanya bergetar.


Rendra mengangguk.


Setelah Bella menghilang dari pandangan


mereka. Rendra lalu menepuk pundak Wiilli sembari duduk makin dekat padanya. " Kau tak berperasaan sih Will, maksa Bella menghadapku Kau lihat betapa canggungnya putrimu.


Berarti selama ini kau suka mempermainkannya ya? Kau sama saja dengan putraku, suka membuat Bella kalang kabut. Emang tak tahu belas kasih! " Umpat Rendra.


Sedang Willi terkikik geli.


"Aku tak sama denganmu tuan... aku mencintai dengan kasar, tidak sepertimu yang menjadikan istrimu Dewi.


" Iyalah...Perempuan memang untuk dikasihi, bukan untuk dikasari. " ucap Rendra bangga.


" Ya sudah...terserah bagaimana cara kita para pria mencinta. Yang penting kita


pria- pria yang setia, itu lebih dari cukup." kata Willi. Kemudian mereka sama- sama


tertawa.


Semantara Bella menemukan para mommy sedang duduk santai bersandar ditempat tidur Bella.


" Sayang... kau kembali? Sini duduk disisi kami! " panggil Citra. Lalu Bella mengucap salam.Setelah salamnya dijawab, ia melempar tubuhnya diantara kedua mommy itu.


" Apa yang ia lakukan? sampai matamu sembab begini? tanya Citra seraya melepas cadar Bella. Meraih dagu Bella dan menatapnya lekat. Sedang Anjani hanya tersenyum memandangi kemesraan Bella dengan Citra.


" Tidak ada momm...Mom kan tahu kalah Bella cengeng kalau berhadapan dengan mahluk menyebalkan itu." kata Bella membenamkan kepalanya dipundak sang Mommy.


" Maaf...pria muda itu kadang keterlaluan. Ayo sayang bersihkan dirimu, habis Ashar kita bicara. " bisik Citra. Bella berdiri dengan berdebar,


kemudian ia segera kekamar mandi.